Love In High School

Love In High School
Mengejar Akira



Setelah mendengar itu secara langsung dari pak guru Joy Sela sangat senang sekali dan rasanya dia ingin tertawa dengan puas dan lebar saat itu namun sayangnya dia harus dengan cepat menahan tawa dalam dirinya agar tidak terlalu terlihat senang secara terang-terangan di hadapan pak guru Joya karena mau bagaimanapun pun dia juga masih merasa takut jika pak guru Joy akan berubah pikiran setelah dia sudah berusaha susah payah untuk membuat pak guru Joy melepaskan dirinya dari semua penjajahan yang sangat merepotkan itu.


"Ekmm... Baiklah terimakasih pak guru Joy jika begitu aku harus segera kembali ke kelas karena jam pelajaran olah raga kesayanganku akan segera di mulai, permisi" ucap Sela sambil menunduk dan pak guru Joy langsung saja mengisinya dengan kasar dan kesal.


"Aish... Sudah sana kalian pergi dasar merepotkan sekali!" Bentak pak guru Joy sambil terus membentaknya dengan keras.


Dia pun segera pergi dari ruangan itu dan langsung bertemu dengan Anet juga Kiko yang sudah menunggu Sela di luar ruangan guru tersebut.


"Sela wah ..wah kau memang benar-benar sialan, bagaimana kau bisa mengancam seorang pak guru Joy seperti itu, kau sangat berani sekali Sela" ucap Kiko sambil menatap kagum kepadanya,


"Haha... Tentu saja aku ini kan Sela hanya pakaian saja yang berubah dalam diriku jati diriku masih Sela yang pemberani dan kuat, tidak ada siapapun yang bisa menindas aku apalagi memperlakukan aku dengan banyak hukuman seperti itu, aahh dia sangat membuat aku kesal sepanjang hari karena terus memberikan aku banyak pertanyaan padahal aku sudah berusaha untuk menjadi murid yang baik di kelasnya, maka rasakanlah balasan itu dariku" balas Sela sambil berkacak pinggang dan merasa bangga sendiri dengan keberaniannya saat itu.


Anet pun langsung saja menarik tangan Sela dan mengajaknya untuk segera pergi mengganti pakaian dengan pakaian olahraga karena anak-anak yang lain sudah menggantinya sejak tadi, Sela pergi ke ruang ganti dan dia memakai pakaian olahraga kesayangannya yang sudah cukup lama tidak dia kenakan sebab kini setiap hari dia harus selalu memakai pakaian seragam sekolah sesuai hari dengan rok pendek yang menyebalkan untuknya.


"Aahhhh .. aku merasa sangat bahagia dan bebas ketika memakai pakaian olahraga yang sangat aku cintai ini" ucap Sela sambil keluar dari ruang ganti dan bertemu dengan Anet saat itu,


"Sudahlah Sela kamu ini memang benar-benar sangat mencintai olahraga, ayo kita ke kelas sebelum mereka pergi ke lapangan" ucap Anet sambil menggandeng tangan Sela dengan cepat.


Sela langsung mengangguk patuh dan dia segera saja pergi ke kelas, terlihat ada Kiko yang melambaikan tangan kepada mereka berdua disaat mereka berdua baru saja hendak masuk ke dalam kelas, Sela pun pergi menghampiri Kiko dan mereka mulai berkumpul ria seperti biasa.


Sampai tidak sengaja Sela melirik ke arah Akira yang saat itu tengah terus mengobrak ngabrik isi tasnya sendiri, hal tersebut tentu saja membuat Sela sedikit terganggu karena dia duduk di sampingnya, sedangkan Anet dan Kiko sibuk bercanda satu sama lain, Sela pun berbalik menatap ke arah Akira yang mengeluarkan semua isi dari tasnya tersebut dan terlihat ada banyak buku milik Akira di atas meja saat itu.


"Ehhh....ada apa denganmu kenapa kau mengeluarkan semua barang dari tasmu? Apakah kau gila yah?" Tanya Sela dengan kesal karena mejanya penuh dengan barang milik Akira,


"A...aku....aku lupa membawa pakaian olahraganya" ucap Akira yang terlihat sangat stress dan frustasi hanya karena dia lupa tidak membawa pakaian olahraganya.


Sela menatap dengan tercengang dan langsung saja tertawa cukup keras karena merasa aneh melihat ada manusia yang panik keterlaluan secara berlebihan seperti itu hanya karena dia lupa dengan pakaian olahraga miliknya yang tidak terbawa ke sekolah.


"APA? Ahahah... Kau hanya lupa tidak membawa pakaian olahragamu kenapa kau harus sepanik itu, santai saja pak guru Roy adalah guru yang baik dan dia bisa memahamimu jika kau melupakannya, lagi pula itu hal biasa banyak siswa lain yang juga sering lupa membawa pakaian olahraganya" balas Sela bersikap santai.


Namun sayangnya itu bertolak belakang dengan sikap Akira sebab dengan jelas Akira bukanlah orang seperti Sela, dia adalah seorang pria yang memang selalu harus perfeksionis dalam segala hal dan dia memang memiliki sifat ambis sehingga dia selalu merasa frustasi dan kesal ketika ketika dirinya melakukan sebuah kesalahan meskipun itu hanyalah hal sepele dimata orang lain, namun di matanya itu adalah sebuah kesalahan yang fatal.


Sehingga ketika mendengar ucapan dari Sela barusan yang sangat menyepelekan masalahnya tersebut, tentu saja Akira sangat kesal dia menggebrak menjadi dengan keras dan langsung memasukkan kembali semua barang-barang miliknya ke dalam kelas lalu pergi dari sana secepatnya, sedangkan Sela yang mendapatkan perlakuan seperti itu dia hanya bisa membelalakkan matanya dengan lebar dan kaget.


Dia merasa sangat heran dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada Akira saat itu, sebab Akira terlihat sangat marah dan menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam dan kesal sekali.


"Brak.... Kau tidak akan tahu apapun!" Ucap Akira dengan sinis sambil menggebrak meja membuat Sela sangat kaget.


Bahkan bukan hanya Sela yang kaget semua orang yang ada di dalam kelas tersebut juga menatap dengan heran dan kaget melihat ke arah Akira yang saat itu keluar dari kelas dalam keadaan tertunduk dan kedua tangannya yang mengepal dengan kuat menahan emosi.


Anet dan Kiko juga tersentak kaget dan mereka yang tadinya tengah bercanda ria satu sama lain menjadi langsung menghentikan tingkah mereka dan bertanya-tanya kepada Sela tentang Akira yang keluar dari kelas dengan perasaan marah di saat jam masuk sudah hampir tiba saat itu.


"Ehh... Sela ada apa dengannya, apa kau yang membuat Akira marah sampai seperti itu?" Tanya Kiko kepada Sela dengan penasaran,


"A..aku...mana tahu, dia terlihat mencari pakaian olahraganya dan aku hanya bisa kalau itu hal biasa dan dia tidak perlu mencemaskan masalah itu, tapi dia malah berbicara sinis dan menggebrak meja lalu pergi begitu saja, apakah aku salah?" Balas Sela yang masih merasa heran dan kebingungan,


Anet yang mendengar itu dia membelalakkan matanya dengan lebar dan langsung memberitahu Sela bahwa Akira memang bukan orang normal seperti mereka semua dimana Akira memang memiliki sedikit masalah dan perbedaan dengan mental juga penyakit OCD sejak kecil juga memiliki sifat OCPD (Obsessive compulsive personality disorder) dimana seseorang dengan gangguan seperti itu memang memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu atau apapun dalam hidupnya dengan sempurna dia ingin mengendalikan hidupnya secara sempurna dalam segala aspek dan hal.


Maka dari itu jika mendapatkan sebuah kesalahan dan suatu hal yang tidak sesuai dengan kehendak yang dia inginkan seharusnya, maka dia Kana terlihat resah dan marah, juga terlihat stres sama dengan apa yang terjadi kepada Akira saat itu.


"Sela kau salah dia berbeda dengan kita semua, aku pernah dengan bahwa Akira memiki gangguan mental OCD dan dia memilik karakter OCPD dia tidak sama seperti kita kamu harus memahaminya karakter dia memang seperti itu, ayo cepat kejar dia sekarang Sela!" Ucap Anet yang mengerti tentang semua penyakit itu.


"Ta...tapi Anet kenapa aku harus mengejarnya, aku tidak salah aku tidak tahu apapun, hey... Kenapa kau mendorong tubuhku?" Tanya Sela yang menolak karena dia tidak mengerti apapun,


"Sela kau akan menyesal jika tidak mengejarnya, cepat kajar dia dan tahan dia, nanti aku akan menjelaskan kepadamu semuanya" ucap Anet sambil mendorong tubuh Sela keluar dari kelas.


Bahkan Anet di bantu oleh Bimo untuk menutup pintu kelasnya saat itu dan tidak mengijinkan Sela untuk masuk ke dalam kelas sebelum dia membawa Akira kembali ke kelas tersebut, bahkan bukan hanya Sela saja yang kaget dan takut ketika mengetahui hal itu tetapi anak-anak yang lain juga akan sama kaget dan takutnya karena semua siswa di kelas tersebut sudah mengetahui tentang penyakit gangguan mental yang di derita oleh Akira sebab ibu guru Yuni yang memberitahu mereka semua disaat Sela kabur dari kelas saat itu, sehingga wajar saja jika Sela tidak mengetahui mengenai hal tersebut.


Sela yang tidak di izinkan masuk ke dalam kelas dia merasa sangat kesal dan terpaksa harus pergi untuk mencari Akira, walau sebenarnya saat itu dia merasa sangat kesal dan benci kepadanya.


"Aish .... Dasar Akira sialan, aahhh ini gara-gara dia kenapa aku yang harus repot seperti ini, aishh" gerutu Sela di luar kelas sambil berkacak pinggang dan merasa sangat kesal.


"Sela cepat pergi cari dia sampai ketemu!" Teriak Anet dan Kiko yang terus mengusir Sela dengan keras,


"Aahh.... Iya iya kalian ini selalu saja mendesak aku aaahhh" gerutu Sela langsung berjalan pergi dari sana dengan cepat.


Sela terpaksa pergi mengejar Akira dan dia pergi mencari Akira ke ruang ganti namun tidak menemukannya hingga Sela sudah mencari Akira ke segala tempat di sekolah itu namun dia juga masih tidak bisa menemukannya sampai Sela merasa sangat kesal dan emosi sebab tidak kunjung menemukan Akira sedangkan waktu jam pelajaran olahraga sudah hampir akan di mulai saat itu.


"Aishh... Kemana perginya bocah sialan itu sih, aku harus mencari dia secepatnya sebelum jam olahraga di mulai aaahh sangat menyebalkan sekali, Akira dimana kau!" Teriak Sela terus berjalan mencari Akira.


Sampai ketika dia pergi ke dekat lapangan dia tidak sengaja melihat Akira duduk di tribun sekolah seorang diri dengan menatap lurus ke lapangan dan pandangannya yang terlihat tertunduk ke bawah.


Saat itu Sela menatapnya dengan heran dan bingung dia sama sekali tidak bisa mengetahui bagaimana ekspresi Akira saat itu, sehingga Sela segera berjalan mendekatinya dan mulai berdiri di samping Akira yang tertunduk dengan lesu saat itu.


"Hey... Akira kau kenapa duduk disini sendirian jam olahraga akan segera dimulai kita haru kumpul di kelas secepatnya, ayo kita kembali, aku minta maaf karena sudah menyepekan hal tersebut aku tidak tahu kau kenapa sangat sensitif dengan hal semacam itu tapi aku hanya minta maaf karena aku mungkin salah kepadamu" ucap Sela terus bicara sendiri.


Sedangkan Akira yang mendengar semua ucapan Sela dia perlahan mulai mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Sela.


Wajah Akira terlihat datar dan dia menatap Sela dengan tatapan yang lekat hingga membuat Sela sedikit salah tingkah mendapatkan tatapan seperti itu darinya.


"Ke..ke..kenapa kau malah menatap aku seperti itu, aku sudah meminta maaf kepadamu... Ayo kita kembali ke kelas" tambah Sela bicara lagi kepadanya dan kembali mengajak Akira untuk segera ke kelas bersama dengannya saat itu.


Sayangnya Akira tidak membalas apapun kepadanya karena Akira merasa sangat kesal dan masih tidak menyukai Sela saat itu, dia hanya memalingkan pandangannya ke depan dan mengabaukan Sela sampai hal tersebut membuat Sela merasa sangat jengkel dengan tingkahnya itu.


"Hah... Dia malah mengabaikan ucapanku? Aishh... Berani sekali bocah ini mengabaikan aku" batin Sela merasa kesal.


Saat itu dia ingin sekali rasanya bisa menghajar Akira dengan kedua tangannya sendiri namun dia tidak bisa melakukan itu untuk membujuk Akira agar mau kembali ke kelas bersamanya sehingga Sela menarik nafas panjang untuk menahan emosi di dalam dirinya dan dia langsung saja duduk di samping Akira dan berusaha untuk kembali bicara secara baik-baik kepadanya.


"Huuuhh.... Akira apakah kau tahu bagaimana hidupku selama ini? Dan apakah kau tidak penasaran mengapa aku menjadi anak nakal seperti ini? Aku adalah seorang gadis kecil dan manis juga sangat ceria ketika aku masih kecil, aku mendapatkan banyak kasih sayang dari kedua orangtuaku, tapi sayangnya ayahku meninggalkan aku lebih dulu dan ibuku malah menikah lagi, aku tinggal bersama nenek dan aku hidup sangat berantakan, tapi aku tidak perduli dengan semua itu, selama aku bisa memilik teman yang baik dan selalu mendukung aku, itu sudah cukup untukku, itulah kenapa aku merasa masalahmu yang mulupakan pakaian olahraga milikmu adalah hal sepel untukku, karena aku sudah sering melakukannya" ucap Sela berbicara sendiri kepada Akira.


"Kenapa kau membicarakan dirimu kepadaku, aku sama sekali tidak perduli dengan itu" balas Akira yang akhirnya mau bicara kepada Sela.


Mendengar ucapan itu dari Akira Sela langsung tersenyum kecil kepadanya dan entah kenapa Sela juga tidak tahu mengapa dirinya harus tersenyum saat melihat wajah datar milik Akira.


"Hmmm.. kau tidak perduli karena kau bukan aku, jadi seharusnya kau mengerti dan memaafkan aku kenapa aku juga tidak perduli dengan pakaian olahragamu yang tertinggal itu, jadi kau tidak perlu malah dan kesal seperti itu kepadaku bukan?" Balas Sela menjelaskan maksudnya,


"Tapi aku tidak marah dan kesal padamu dasar bodoh!" Balas Akira yang membuat Sela terperangah kaget.


Sela membelalakkan matanya dengan lebar menatap ke arah Akira saat itu, awalnya dia pikir Akira seperti itu karena kesal dan marah kepadanya, karena itulah dia mencoba membujuk Akira dan meminta maaf kepadanya, namun setelah mengetahui jika ternyata Akira sendiri bukan marah kepadanya, Sela tentu saja sangat kaget dan dia merasa tertipu dengan kelakuan kedua sahabatnya yang sudah memaksa dia untuk pergi mencari Akira.