Love In High School

Love In High School
Pergi Dari Rumah



"Aishhh ....dasar manusia menjengkelkan, awas kau beraninya menurunkan aku seperti ini, aishh aku tidak akan melepaskanmu lain kali Akira!" Teriak Sela sangat kencang dengan mata terbelalak begitu lebar dan kedua tangan yang dia kepalkan dengan kuat saat itu.


Dia begitu emosi dan tidak bisa melakukan apapun lagi karena mau bagaimana pun nyatanya Akira tetap saja pergi dari sana dan Sela tetap harus pulang dengan berjalan kaki, sampai dia tiba di rumah sang nenek tiba-tiba saja sudah ada nyonya Choi di rumah neneknya tersebut, dia di sambut oleh sang ibu dengan sangat baik sedangkan Sela benar-benar sudah sangat malas untuk menghadapi basa-basi dari sang ibu seperti itu.


"Aahh ..Sela akhirnya kamu sudah pulang sayang, ayo duduk kemari." Ucap ibunya yang saat itu duduk di sofa ruang tengah rumah neneknya.


Melihat keberadaan sang ibu di tempat itu tentu saja membuat Sela merasa sangat tidak senang, dia sudah terlanjur kecewanya dan jika seseorang sudah merasa kecewa akan sulit mengembangkan semua kembali ke tempat semula dan bisa saja akan terus berubah selamanya.


"CK....aku muak melihat wajahnya, dia baru pulang setelah sekian lama," gerutu Sela saat itu.


Dia tidak menanggapi sapaan dari sang ibu sedikitpun dan dia lebih memilik untuk pergi langsung ke kamarnya saat itu, namun sang ibu menahan tangannya begitu pula dengan sang nenek yang kali ini lebih membela Sela sebab dia sudah tahu apa yang dilakukan oleh nyonya Choi kepada Sela selama ini.


"Nek aku mau ke kamar disini ada bau yang tidak enak." Ujar Sela sambil segera pergi hendak berjalan menuju tangga.


"Sela tunggu! Apa kamu pikir sikapmu ini pantas di berikan kepadaku, aku ini ibumu Sela! Aku orang yang sudah melahirkan kamu dengan menaruhkan nyawaku dan menderita sakit yang tidak tara saat itu, dan sekarang kau malah memperlakukan aku seperti ini!" Ucap nyonya Choi dengan nada bicaranya yang cukup tinggi.


Sela menderanya hanya tersenyum kecil dan dia langsung berbalik dan melepaskan pegangan nyonya Choi dari tangannya itu dengan cepat, dia sudah tidak bisa lagi menerima semua ini dari ibunya, sebab sang ibu selalu tidak sadar atas kesalahan yang dia buat sendiri selama ini, dan hanya terus saja melihat kesalahan pada diri Sela sendiri.


"Haha...kau sangat lucu nyonya Choi, menyalahkan seorang anak yang bahkan tidak meminta untuk dilahirkan olehmu, dan untuk apa kamu datang kemari bukankah kau terlalu sibuk di kantormu itu?" Balas Sela dengan sorot mata yang sinis.


"Kau...beraninya kamu bicara seperti itu kepada ibumu, Sela aku datang kemari untuk menjemputmu dan mau membawamu kembali ke rumah, kau sudah berjanji untuk tinggal denganku sejak saat itu, lalu kenapa kamu mengingkari janji yang kamu buat sendiri? Ayo cepat kamu harus kembali sekarang juga!" Bentak nyonya Choi sambil langsung menyeret tangan Sela lagi.


Nyonya Choi menarik tangan Sela dengan kuat dia terus berusaha menari Sela dengan sekuat tenaganya meski Sela terus saja berontak dan menahan dirinya sendiri agar tidak sampai tertarik oleh nyonya Choi saat itu, tapi sayangnya nyonya Choi yang terlihat sudah jengkel dan dipenuhi oleh emosi dia kehilangan kesadarannya saat itu sampai melayangkan tangannya kepada Sela dan memberikan dia sebuah tamparan yang cukup kencang.


"Sela apa yang kamu mau hah! Ayo cepat eughh...kau...apa kau tidak mau ikut dengan cara begitu baiklah jangan salahkan aku ketika aku akan berbuat kasar padamu Sela!" Bentak nyonya Choi lagi.


"Nyonya Choi kau tidak perlu mengancam aku dengan hal semacam itu, bahkan saat ini saja kau tengah memperlakukan aku dengan cara yang kasar, begitulah kau yang tidak pernah sadar dengan kesalahan dirimu sendiri kau buta dalam memandang dirimu sendiri nyonya Choi!" Balas Sela dengan tatapan wajah dingin dan datar.


Nyonya Choi yang tidak terima dengan jawaban dari Sela dan dia merasa sudah sangat naik pitam kala itu sehingga ketika mendengar hal tersebut nyonya Choi sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi dia langsung saja melayangkan tamparan pada Sela cukup keras.


"Plak....." Suara tamparan dari nyonya Choi dengan suara deru nafasnya yang tiada henti saat itu.


Bukan hanya Sela yang kaget mendapatkan tamparan seperti itu untuk pertama kalinya dari nyonya Choi tetapi sang nenek yang melihat hal tersebut dia juga kaget terbelalak dengan mulut yang terbuka lebar, neneknya pun langsung saja datang menghampiri mereka berdua dan menghempaskan tangan nyonya Choi yang menahan tangan Sela, dia juga menjauhkan Sela dari nyonya Choi secepatnya sambil memeriksa pipi Sela yang memerah saat itu.


"Astaga ....Choi apa yang kamu lakukan, dia adalah putrimu! Seburuk apapun dia kau tidak berhak untuk menamparnya karena kau juga sama sekali tidak mengurus dia dengan baik!" Bentak sang nenek kepada nyonya Choi saat itu.


Sela begitu sakit dia tidak menyangka bahwa ibunya bisa sampai ditahap ini kepadanya, menampar dia dengan kasar dan keras, hingga pipinya terasa perih seperti ini, Sela tidak bisa diam saja ketika dianterus di perlakukan buruk oleh ibu kandungnya sendiri dan sayangnya meski sudah melakukan hal itu nyonya Choi masih belum sadar dia masih saja membentak Sela saat itu.


"Bu ..tolong jangan membelanya terus seperti itu, aku adalah ibunya aku berhak untuk mendidik dia dengan cara apapun sesuai dengan keinginanku, dia tidak akan pernah berubah jika terus diperlakukan manja seperti itu olehmu, dan aku tidak akan mengijinkan anak ini tinggal di rumahmu!" Ucap nyonya Choi kepada neneknya Sela saat itu.


"Apa urusanmu melarangku, ini rumahku kau sama sekali tidak berhak untuk mengatur apapun disini! Bentak sang nenek melawannya.


Sela sudah sangat malah mendapatkan semua hal seperti ini, dia tidak ingin melihat sang nenek yang ikut di bentak dan berdebat dengan ibunya terus menerus seperti itu, sehingga Sela memutuskan agar dirinya saja yang pergi dari sana supaya mereka berdua bisa berhenti berdebat seperti itu dihadapannya dan hanya membuat dia semakin terluka dari waktu ke waktu.


"Cukup nyonya Choi, jika kau tidak ingin aku tinggal disini, baiklah aku akan pergi, nek tolong jangan halangi aku lagi nenek juga tidak perlu mencemaskan aku untuk apapun aku akan baik-baik saja dan aku bisa tinggal sendiri." Ucap Sela sambil memegangi kedua tangan sang nenek dengan lembut saat itu.


Dia segera berlari dengan sekuat tenaganya pergi ke kamar dan mengemasi semua pakaian miliknya dengan cepat, sang nenek yang melihat itu dia sudah mengerti dan mengenal dengan baik bagaimana sifat dari cucuknya tersebut sehingga ketika mendengar ucapan Sela yang hendak pergi dari rumahnya, sang nenek begitu takut dia langsung mengejar Sela ke kamarnya saat itu juga.


"Sela...Sela tolong jangan begini sayang, kamu bisa tinggal saja dengan nenek meski harus selamanya kau tinggal lah disini dan temani nenek, tolong jangan pergi sayang, nenek sayang menyayangimu." Ucap sang nenek kepada Sela dan berusaha untuk menahannya dengan kuat.


Sayangnya Sela sudah tidak bisa di tahan lagi keputusan dia untuk pergi dari tempat ini sudah sangat bulan, dia bukan tipe orang yang akan menarik kembali ucapannya jadi jelas sekali Sela tidak akan berhenti meski sang nenek terus menahannya dengan kuat seperti itu.


"Maafkan aku nenek, kau tahu bagai aku dengan sangat baik aku tidak akan merubah keputusanku, dan kau jangan khawatir aku akan tetap datang mengunjungimu dalam beberapa waktu nanti, tapi jika dia tidak ada disini, aku pergi ya nenek jaga kesehatanmu dan teruslah ceria jangan menjadi menyedihkan seperti nyonya Choi itu, aku pergi ya nek." Ucap Sela sambil memeluk sang nenek saat itu.


Neneknya benar-benar tidak bisa menahan kesedihan lagi dan dia hanya bisa terus menangis sambil menggelengkan kepala dengan kuat, sang nenek sudah tidak bisa menahannya lagi karena dia juga sudah tidak sanggup mengeluarkan suara lagi kepadanya, hanya bisa terus menangis dan menggelengkan kepalanya dengan kuat.


Berharap agar Sela bisa mengubah keputusannya tersebut, tapi tetap saja semua itu salah juga tidak berhasil karena Sela tetap pergi dengan cepat dari sana dan sang nenek mengejarnya namun nyonya Choi menahan tubuh yang nenek dengan kuat.


"Sela jangan pergi Sela!" Teriak sang nenek kepada Sela saat itu.


"Bu sudah cukup jangan menangisi dan menahan anak tidak berbakti seperti dia, biarkan dia pergi, aku yakin dia tidak akan sanggup tinggal di luar terlalu lama dia pasti akan datang kembali lagi ke rumah ini ataupun padaku karena membutuhkan biaya untuk hidup," ucap nyonya Choi yang hanya ditanggapi sebuah tatapan sinis dengan ujung matanya saat itu.


"CK....jangan terlalu percaya diri kau nyonya Choi. Aku tidak akan melakukannya kita lihat saja nanti!" Balas Sela lalu segera pergi dari sana.


Selain itu terasa perih dan sakit di pipinya namun luka di hatinya jauh lebih menyakitkan yang dia rasakan saat ini.


"Dia memang sudah bukan ibuku lagi, sejak kepergian ayah dia sudah sangat banyak berubah, aku tidak bisa dengannya lagi, mungkin sekarang sudah waktunya aku meninggalkan dia dan tidak bisa terus diinjak seperti itu olehnya, semoga dia cepat menyadari kesalahannya," gerutu Sela sambil terus berjalan dan mencari kosan yang bisa dia tinggali untuk sementara waktu saat itu.


Sayangnya sudah hampir malam berlalu tapi Sela belum juga mendapatkan kosan yang dia inginkan semua tempat sudah penuh saat itu dan dia sudah sangat lelah, terus duduk beristirahat di halte bus sambil memijat kakinya sendiri yang teramat pegal kalan itu sampai dia tidak sengaja menjatuhkan sesuatu dari kantung seragam sekolah nya saat itu.


"Ehhh ..kertas apa ini?" Gerutu Sela sambil dengan cepat memungut selembar kertas kecil tersebut.


Dan saat memeriksanya Sela baru ingat itu adalah kartu nama Jeromi paman Vivi yang pernah membantunya, karena melihat nama dia, Sela langsung saja mendapatkan sebuah ide yang cemerlang dia menyalakan ponselnya lagi dan mulai menghubungi tuan Jeromi tersebut menggunakan ponselnya, dia meminta bantuan kepada tuan Jeromi saat itu.


"Hallo apa benar ini dengan tuan Jeromi?" Ucap Sela dengan sedikit ragu.


"Iya...siapa ini?" Balas Jeromi yang terdengar tegas saat itu.


"Ohh ..aku Sela apa kau masih ingat denganku, aku orang yang pernah kau tolong dan menolongmu sebelumnya," balas Sela kepadanya saat itu juga.


"Oh..Sela iya aku ingat, ada apa Sela?" Tanya Jeromi kepadanya.


sela pun mulai mengatakan bahwa dia membutuhkan bantuannya dan meminta tuan Jeromi itu untuk menjemput dia di alamat yang dia berikan lalu dengan cepat Sela menutup panggilannya lagi karena dia rasa mengatakan secara langsung itu akan lebih baik dan sopan dibandingkan membicarakannya di telpon saja.


Tuan Jeromi juga sudah menyetujuinya dan dia akan segera pergi untuk menjemput Sela ke tempat tersebut, Sela sudah merasa tenang sekarang karena dia pikir tuan Jeromi itu tidak akan mungkin menolaknya, dia juga tidak bisa ikut tinggal di rumah Kiko ataupun Anet karena jika dia tinggal disana sudah pasti mereka berdua akan banyak bertanya mengenai masalahnya termasuk ibunya yah akan mengetahui dimana dia tinggal nantinya.


Maka dari itu sebisa mungkin Sela tidak ingin memberi tahukan siapapun tentang permasalahan keluarganya yang begitu rumit sejak dulu ini, sehingga dia memutuskan untuk menyelesaikan semuanya sendiri dan tidak melibatkan kedua sahabatnya lagi, Sela rasa selama ini dia sudah terlalu banyak merepotkan kedua sahabatnya itu dan membuat merasa berada dalam kesulitan akibat dirinya.


"Maafkan aku Anet, Kiko, aku bukan tidak mengakui kalian hanya saja aku tidak bisa menyeret kalian dalam masalah pribadiku seperti ini," gerutu Sela saat itu.


Sela duduk seorang diri di halte bus hingga beberapa saat berlalu akhirnya Jeromi tiba disana dan dia segera datang menghampiri Sela saat itu dan Sela menahannya agar dia tidak datang menemuinya.


"Aahhh..Kamu tidak usah terburu-buru seperti itu, aku hanya akan merepotkanku saja memintamu kesini," ucap Sela padanya.


"Tidak masalah ayo masuk dulu kita bicarakan di dalam mobil saja," ucap Jeromi kepadanya.


Dengan cepat Sela langsung mengangguk dan dia di bukakan pintu oleh Jeromi saat itu juga, Sela sedikit merasa tidak enak karena dia yang akan merepotkan Jeromi tetapi saat itu terus saja Jeromi bersikap baik dan sopan padanya, padahal sebelumnya Sela sudah bicara kasar dan cukup keras kepala dalam menghadapinya beberapa hari yang lalu ketika dia mau bersikap baik membantu dia ke rumah sakit mengobati lukanya.


Sela pun mulai mengungkapkan niatnya itu kepada Jeromi tepat ketika Jeromi mulai melajukan mobilnya tersebut.


"Eumm...itu..tuan.." ucap Sela membuat Jeromi tertawa kecil karena dia tidak terbiasa di panggil tuan oleh anak SMA sepertinya.


"Ahaha....Sela jika kamu canggung panggil aku kakak saja jangan seperti itu rasanya agak beda dan kaku," balas Jeromi kepadanya.


"O...oo..ohhh...baiklah, begini kak aku sedang butuh tempat tinggal saat ini, kau lihat kan sebelumnya aku membawa koper, aku di usir oleh ibuku sendiri tidak tahu lagi kemana aku harus pergi, bahkan aku tidak bisa tinggal di rumah nenekku ataupun di rumah kedua sahabatku jadi aku datang menghubungimu aku ingin kamu membantuku, siapa tahu kami memiliki tempat yang tidak di pakai aku ingin menggunakannya sementara sampai menemukan kosan yang cocok dan pekerjaan patuh waktu nantinya," ucap Sela mengungkapkannya.


Jeromi hanya tersenyum lebar dia sudah tahu apa yang akan dilakukan olehnya untuk menolong Sela saat ini, sebab mau bagaimana pun Sela sudah pernah menolong adik sepupunya Vivi, jadi Jeromi merasa dia juga harus berbalas budi dengan Sela dan dia pikir ini adalah kesempatan yang bagus, di tambah Vivi juga sangat menyukainya.


"Sela kamu tidak perlu khawatir tentang masalah tempat tinggal, kamu bisa tinggal di rumahku, disana ada Vivi juga, dia pasti sangat senang melihatmu sebab akhir-akhir ini dia juga sering menyebut namamu sambil mengigau, mungkin dia sangat merindukanmu Sela." Balas Jeromi membuat Sela cukup kaget.


"AA...aaa..apa? Tinggal di rumahmu? Apa itu tidak terlalu merepotkan untukmu, aku merasa tidak enak dan tidak nyaman jika kamu sebaik ini, aku jadi merasa bersalah kepadamu kak karena sudah bersikap kasar sebelumnya, maafkan aku," ucap Sela yang mulai merasa malu atas perbuatannya sendiri pada Jeromi beberapa hari yang lalu.


"Tidak masalah aku tahu kamu tidak bermaksud melakukan itu," balas Jeromi yang baik dan penyabar itu.


Dia pun segera pergi ke kediaman Jeromi dan sesampainya disana, Jeromi segera mempersilahkan Sela untuk masuk ke rumahnya, melihat-lihat hingga dia bertemu dengan Vivi yang terlihat tengah menonton serial kartu di depan televisi seorang diri, Jeromi pun memanggilnya.


"Vivi lihatlah siapa yang aku bawa pulang," ucap Jeromi membuat Vivi segera menengok ke arahnya.


Vivi terlihat begitu bahagia dan antusias menyambut kedatangan Sela saat itu, dia bahkan sampai berlari dengan cepat dan melompat pada pelukan Sela sambil berteriak memanggil namanya dengan sangat keras.


"Ah? Kak Sela...Aahhhhhh," ucap Vivi membuat Sela sedikit kaget juga.


Dia yang tidak memiliki persiapan dan aba-aba tentu saja sangat kaget ketika Vivi loncat pada pelukannya dan mau tidak mau Sela harus menangkapnya namun bukan menangkapnya dengan benar Sela justru malah hampir terjatuh ke belakang tapi untungnya dengan cepat Jeromi menahan punggung Sela denganncepat dan membenarkan posisinya kembali tegak sehingga Sela bisa tenang sekarang ini.


"Aaahhh.....huh.. terimakasih kak," ucap Sela tersenyum kecil mengucapkan terimakasih kepadanya.