
Sela terus menatap dengan wajah yang penuh kebingungan, dia sama sekali tidak tahu kemana perginya Akira saat itu, sebab ketika dia berbalik untuk melihat Akira rupanya Akira sudah tidak berada disana, dan dia terus menggerutu kesal dengan wajah kelimpungan mencari keberadaan Akira saat itu.
"Aishh...dimana dia, kenapa tidak ada siapapun, aaahh dia pasti meninggalkan aku sendiri, aishh...awas saja kau Akira!" Gerutu Sela merasa sangat kesal dan dia berteriak cukup kencang melampiaskan emosinya.
Sela langsung saja pergi berjalan dengan cepat dan dia terus menghentakkan kedua kakinya dengan kesal di penuhi dengan emosi yang menggebu saat itu, dia pergi ke perpustakaan seorang diri dan terus mencari keberadaan Akira disana, hingga tidak lama akhirnya dia berhasil menemukan Akira yang saat itu terlihat tengah duduk membaca sebuah buku di kursi perpustakaan.
"Ahh... Itu dia menusia menyebalkan yang sangat sialan, dan membawa kesialan untukku dalam setiap saat, ahh aku sangat ingin menghajar dia dengan kedua tanganku saat ini, huaa... seandainya aku bisa melakukan semua itu" gerutu Sela sambil segera berjalan menghampirinya dengan penuh emosi.
Sela berjalan dengan nafas yang menderu sangat kencang dan terus saja langsung menggebrak meja di depan Akira sangat kencang tanpi sayangnya itu sama sekali tidak membuat Akira kaget atau terganggu sebab Akira sebelumnya sudah mengetahui keberadaan Sela disana, tatapi justru malah guru penjaga perpustakaan yang kaget mendengar gebrakan meja dari Sela saat itu.
Sehingga dia langsung saja mendapatkan bentakkan dari sang guru penjaga perpustakaan sangat kencang, lebih kencang dan menakutkan di bandingkan gebrakan meja yang Sela buat sebelumnya dan itu langsung saja membuat Sela merasa takut juga segera meminta maaf secepatnya.
"Brak.....kau" bentak Sela menggebrak meja dan tidak selesai bicara karena guru penjaga perpustakaan sudah lebih dulu memotong ucapannya dengan sangat kencang saat itu.
"Siapa yang berani menggebrak meja di perpustakaan! Keluar kau dari sini!" Teriak sang guru penjaga dengan sangat kencang dan begitu menggelegar.
Sela yang mendengar itu dia merasa sangat takut dan merinding ngeri di buatnya, dia sekarang merasa sangat cemas dan takut di ketahui oleh guru penjaga itu bahwa sebenarnya dialah yang menggebrak meja sekencang itu.
Namun dengan cepat Akira menarik tangan Sela dan membuatnya duduk di samping Akira hingga Akira memberikan buku yang tengah dia baca kepada Sela lalu dia mulai mengambil buku lain secara acak dari rak yang ada di belakangnya, sehingga ketika sang guru pengawas tiba disana, dia sama sekali tidak mencurigai Akira dan Sela, karena mereka terlihat seperti tengah membaca buku dengan serius.
Apalagi buku yang di baca oleh Sela adalah buku latihan olimpiade matematika milik Akira sehingga sang guru penjaga tidak mungkin akan mencurigai siswa yang bajar mata pelajaran paling sulit melakukan hal yang di larang di perpustakaan tersebut, dan guru penjaga itu pun dengan cepat kembali lagi ke tempat pengawasannya sedangkan Sela baru saja bisa merasa tenang setelah guru penjaga itu pergi.
"Huuhh...hampir saja aku akan menjadi kepiting rebus oleh guru penjaga aahhh....tadi itu benar-benar membuat jantungku hampir copot" ucap Sela sambil mengelus dadanya berusaha untuk menenangkan diri sendiri.
Akira langsung menaruh bukunya dan dia langsung menatap menghadap lurus ke arah Sela serta memberikan tatapan lekat yang tajam dengan wajah tanpa ekspresi kepadanya saat itu.
"Kau harus menurut padaku atau aku akan memberitahu guru penjaga perpus bahwa kau yang baru saja membuat kekacauan disini" ujar Akira mengancam Sela begitu saja.
"Aishh... apa-apaan kau ini, aku baru saja tiba kau sudah mengancamku seperti itu, apa kau gila ya?" Ucap Sela merasa sangat kesal dan tidak terima.
Dia langsung membentak Akira karena tidak akan pernah mau menuruti apapun ucapan dan perintah dari Akira karena pantang sekali bagi seorang Sela yang di takutkan oleh semua siswa di kelasnya harus menuruti ucapan dari seorang anak baru seperti Akira ini, sebab dia sama sekali tidak ingin merendahkan sedikitpun harga dirinya kepada orang seperti Akira yang sangat menyebalkan sekali baginya.
"Baiklah jika kau tidak menyetujui itu, maka aku bisa dengan mudah mengadukannya pada guru penjaga saat ini juga, sebaiknya kau bersiap-siap mendapatkan hukuman dan mungkin kabar ini akan sampai pada ibu guru Yuni" ucap Akira yang dengan sengaja menakut-nakuti Sela dengan ucapannya saat itu.
Akira juga segera bangkit berdiri dari kursinya dan hampir saja hendak pergi menghampiri guru penjaga yang berada di ruang masuk saat itu, dengan cepat Sela langsung menarik tangan Akira dan membuat Akira kembali langsung terduduk saat itu juga.
Sela juga terpaksa harus menyetujui ucapan dari Akira karena tidak ada hal lain lagi yang bisa dia lakukan selain dari menyetujui permintaan atau jika tidak maka nasibnya benar-benar akan hancur dia akan benar-benar mendapatkan hukuman yang sangat berat karena membuat keributan di perpustakaan yang sudah jelas semua itu di larang ketika berada di perusahaan, jangankan menggebrak meja sekencang tadi, berbicara terlalu keras dan membawa makanan saja itu sudah di larang namun Sela malah membuat kesalahan yang sangat fatal sekali, itu sudah pasti bisa membuat dia langsung di tendang dari sekolah ini.
Walau sangat kesal dan sangat membenci Akira dia tetap harus menyetujui hal itu dengan hati yang berat dan sangat tidak terima.
"Huuh....baiklah aku akan menyetujui mu, aku akan melakukan apapun yang kau minta padaku, asalkan kau harus menyumpal mulut lemesmu itu, jangan sampai kau mengadukannya kepada guru penjaga, jika sampai kau mengingkari janjimu, maka aku tidak akan segan untuk menghajarmu, awas saja kau!" Ucap Sela yang memperingati Akira.
Sedangkan Akira sendiri tetap saja terlihat santai dan dia hanya mengangguk pelan dalam menanggapi ucapan dari Sela, karena baginya kini dia tidak perlu mengancam Sela lagi dengan video yang dia miliki sebelumnya sebab hal ini bisa lebih mudah di lakukan untuk mengancam Sela.
"Baiklah kau bisa mempercayaiku karena aku bukan orang sepertimu" balas Akira dengan santai membuat Sela semakin kesal.
Sebenarnya apa yang dikatakan Sela barusan pada Akira memang benar, Akira jenius da dia sangat pandai, dia juga kaya bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan dengan begitu mudah, namun sejak dulu dia selalu dianggap sebagai orang yang aneh hanya karena dia tidak suka banyak bicara atau bergaul dengan banyak orang yang selalu tidak rapih atau selalu memakai pakaian kotor, apalagi jika bermain hal-hal yang membuat dia harus menyentuh benda tidak bersih, itu sering membuat dia merasa sangat terganggu karena penyakit gangguan mental yang dia miliki.
Meski penyakitnya masih bisa di sembuhkan tetapi sampai saat ini, dia masih belum tahu bagaimana cara efektif agar bisa sembuh dari penyakit yang sangat mengganggu dan membuat dia harus membatasi kehidupannya sendiri apalagi cara dia berinteraksi dengan orang lain.
Bahkan Akira tidak senang bersalaman atau bersentuhan dengan orang lain karena dia selalu merasa cemas dan khawatir jika tangan orang lain tidak bersih atau bekas memegang sesuatu yang menjijikan, lalu itu akan menempel pada tangannya dan membuat dia menjadi terinfeksi bakteri dari orang lain, sehingga Akira selalu saja menghindar dari hal tersebut yang selalu dia pikir berbahaya tersebut.
Padahal bagi orang lain bersalaman adalah hal yang umum dan sudah biasa di lakukan banyak orang, mereka sama sekali tidak ada yang keberatan untuk tos atau berpegangan tangan secara bergantian dengan orang lain, namun itu justru menjadi hal yang paling tidak ingin di lakukan oleh seorang Akira dan dia selalu cemas dengan hal tersebut.
Dan ketika dia mendengar Sela berkata dia tidak memiliki teman sepertinya, Akira mulai teringat dengan sosok Sela di masa kecil, dan dia sekarang bisa mengingat Sela dengan jelas mulai dari memperhatikan tas hijau kecil yang selalu dia bawa kemana-mana juga cara Sela bicara dan sebuah tanda di tangannya barusan, dengan semua itu Akira sudah sangat yakin dan dia menyadari bahwa Sela gadis kecil yang menolong dia di taman bermain bertahun-tahun yang lalu ketika dia masih kecil.
Gadis kecil yang sangat ceria dan memberikan semangat kepadanya ketika dia terus saja di hindari dan dianggap aneh oleh banyak orang, gadis kecil yang hanya menjadi satu-satunya teman baginya, tapi mereka terpaksa harus berpisah sebab Akira yang harus menempuh pendidikan di luar negeri saat itu.
Dan ada satu hal yang selalu membuat Akira menyesal sejak dia kecil hingga sebesar sekarang, yakni rasa sesak karena dia tidak pernah berpamitan kepada gadis kecilnya itu dahulu, dia merasa kesal dan marah pada ibunya karena membuat dia harus pindah dan melanjutkan sekolah di luar negeri, sehingga dia melupakan sosok gadis kecil yang selalu menemaninya, Akira pergi ke luar negeri tanpa memberitahu Sela saat mereka kecil.
Sedangkan Sela selalu menunggu kehadiran Akira di taman bermain sama seperti yang biasa dia lakukan setiap kali akhir pekan, namun sayangnya di saat itu Akira tidak datang, dan di waktu yang sama Sela kehilangan ayahnya itu yang membuat Sela merasa sangat kesal dan dia mulai melupakan sosok sahabat kecil terbaiknya yang tidak lain adalah Akira.
Hingga ketika dewasa seperti saat ini, Sela sama sekali tidak menyadari bahwa Akira yang ada di hadapannya, adalah orang yang sama dengan nama yang sama yang pernah mengisi hidupnya dengan sangat hangat ketika dia kecil dulu.
Sedangkan Akira, dia sudah bisa mengingat Sela dan dia sudah mencari Sela sejak lama, selalu mengirim email pada Sela namun tidak pernah mendapatkan balasan darinya sebab Sela memang sudah tidak memakai email itu lagi, dia benar-benar menghapus dan melupakan semuanya yang berhubungan dengan Akira tapi dia tidak benar-benar membuang semua itu, termasuk semua kenangan dan benda-benda berharga yang pernah Akira berikan kepada Sela saat kecil.
Termasuk tanda sebuah gelang yang di pakai oleh Sela di tangannya, gelang hitam dengan ukiran kayu bertanda huruf S dan A yang menyatu di dalamnya, itu adalah gelang buatan Akira sendiri dan dia tahu tidak akan ada orang yang membuat gelang seperti itu, sebab dia membuatnya menggunakan tangan mungilnya ketika dia kecil.
Kini ketika bertemu lagi dengan Sela, sebenarnya Akira ingin memberitahu dia bahwa dirinya adalah sahabat masa kecil Sela, Akira yang dulu pernah dia kenal dengan sebutan Kira, ya itu adalah nama panggilan pendek yang di buat hanya oleh Sela sebab dulu Sela selalu kesulitan menyebutkan nama orang lebih dari empat huruf, apalagi nama Akira memiliki akses Jepang, jadi sulit untuk Sela mengingatnya.
Sampai dia menciptakan sebutan Kita untuk setiap kali memanggil nama Akira pada masa itu, Akira terus memandang wajah Sela dengan termenung memikirkan semua kenangan masa kecilnya dengan Sela, sedangkan Sela sendiri terlihat heran dan kebingungan karena melihat Akira tersenyum kecil menatap dengan tidak fokus kepadanya saat itu.
"Aku yakin sekarang dia adalah gadis kecil yang menemaniku saat aku kecil, gelang itu tidak mungkin di miliki orang lain, kecuali jika gadis tersebut membuangnya dan di temukan oleh manusia keras kepala ini" batin Akira ketika dia terus memperhatikan gelang yang ada di tangan kanan Sela saat itu.
"Aishh ..ada apa dengan manusia aneh ini, apa dia sudah gila ya?" Gerutu Sela merasa sangat heran saat itu,
"Heh...Akira apa kau gila, hey.. sadarkan kau ini kenapa sih, benar-benar sangat aneh dan membuat orang kebingungan saja" ucap Sela sambil melambaikan tangan di depan wajah Akira untuk menyadarkannya.
Sampai akhirnya usaha yang di lakukan oleh Sela tidak sia-sia sebab dengan cepat Akira langsung tersadar saat itu juga, dia mulai segera memalingkan pandangannya dan mengedipkan matanya beberapa kali untuk menetralkan dirinya sendiri.
"Aahh....kau...cepat pergi ambilkan aku buku latihan matematika tingkat akhir" ucap Akira yang langsung memerintah Sela agar dia tidak ketahuan oleh Sela bahwa dirinya tengah tidak fokus saat itu.
Sela hanya mengerutkan kedua alisnya dengan heran dan kebingungan, tapi walau begitu Sela tetap pergi untuk mengambilkan buku yang di minta oleh Akira saat itu, walaupun dia sedikit kesal dan masih menggerutu pada Akira.
"CK...baiklah, tunggu kau disini, dasar aneh sekejap melamun sekejam sinis dan sekejap memerintahku begini, aishh... bagaimana bisa aku malah terjebak dengan ancaman orang aneh dan menjengkelkan sepertinya" gerutu Sela sambil berjalan pergi mencari buku tersebut.
Sela terus saja mengelilingi rak yang satu dengan yang lainnya beberapa kali karena perpustakaan itu sangat besar sampai akhirnya setelah dia sedikit mengeluarkan usahanya serta ketelitian matanya dia pun berhasil menemukan buku yang cukup sulit untuk di temukan itu, dia mengambilnya dengan cepat dan segera memberikannya kepada Akira dengan wajah yang sangat kesal.