Love In High School

Love In High School
Mendapatkan Contekan



Dan saat itu Sela sungguh mengeluarkan semua kekesalan di dalam diriku secara nyata Sela memang benar-benar marah besar terhadapnya sehingga Sela langsung pergi dari sana dengan cepat, karena Sela merasa seperti di kecewakan dan di bohongi olehnya.


Sela sangat kesal dan dia berniat untuk pergi saat itu namun niatnya itu dia urungkan sendiri karena dia masih belum bisa menyelesaikan tugas sekolahnya dia pun alhasil tidak pergi dari kelas meski dia sangat muak dengan Akira yang ada di sampingnya hanya memasang wajah tanpa rasa bersalah sedikitpun kepadanya.


"Aishh.... Kau benar-benar sangat menyebalkan!" Bentak Sela sambil langsung mengambil buku tugasnya dan dia menggeser kursinya dengan cepat sedikit menjauh dari Akira.


Dia mulai kembali berusaha untuk mengisi semua soal tugas rumahnya perlahan, namun tetap saja meski dia sudah membaca pertanyaannya beberapa kali dan terus di ulangi tidak ada satu pun pertanyaan di dalam buku itu yang benar-benar bisa dia jawab, bahkan suatu kemungkinan saja tidak muncul dalam kepalanya saat itu, hingga hal tersebut membuat Sela sangat frustasi.


"Aarrkkhh.... Kenapa sih pak guru Joy malah memberikan tugas se sulit ini? Aishh aku tidak bisa mengisinya sama sekali huaaaa bagaimana ini" gerutu Sela uring-uringan sangat keras.


Selain dia memang kesal dengan tugas yang sulit dia jawab, tapi dia berteriak sekeras itu melakukannya dengan sengaja agar bisa mengganggu Akira yang memang selalu tidak suka dengan kebisingan, sampai tidak lama tiba-tiba saja Akira menatap ke arahnya dengan tatapan yang dingin lalu menyodorkan buku miliknya kepada Sela membuat seorang Sela membuka matanya lebar dengan cepat.


Bahkan Sela yang kebingungan dengan menaikkan kedua alisnya, dia langsung saja bertanya kepada Akira dengan nada bicara yang cukup keras.


"Ehh....apa ini, kenapa kau memberikan bukumu kepadaku?" Tanya Sela dengan heran dan kebingungan saat itu,


"Ambil kau bisa melihat jawaban dariku, semua jawabannya pasti akan sama guru tidak akan tahu jika kau mencontek dariku" balas dia begitu saja.


Sela sangat kaget bahkan dia sampai menutup mulutnya yang terbuka sangat lebar sambil segera meraih bukinyang di berikan oleh Akira secara perlahan saat itu.


Diam merasa sangat kaget dan heran ketika melihat Akira yang tiba-tiba saja memberikan dia buku tugasnya seperti itu secara suka rela dan secara tiba-tiba, padahal Sela tahu sendiri dengan jelas bagaimana seorang Akira bersikap kepada orang lain, bahkan dia tidak pernah mengijinkan siapapun untuk sedikit dekat saja dengannya.


Setiap anak yang berniat meminjam bukunya dia selalu menolak dengan cara yang kasar atau bahkan dia lebih rela merusak bukunya sendiri agar tidak di pinjam oleh orang lain, tapi kali ini seorang Akira yang kasar, pendiam dan sangat sulit diajak bekerjasama tiba-tiba saja memberikan bukunya dengan suka rela begitu saja kepada Sela, tentu hal itu membuat Sela sangat kaget dan menatap dengan kedua matanya yang terbuka lebar dan keheranan.


Bahkan karena masih merasa ragu dan bingung Sela kembali bertanya dan mendekatkan bangkunya ke samping Akira saat itu untuk memastikan.


"Apa dia kesurupan atau kenapa? dia sungguh mau memberikan aku contekan semudah ini?" batin Sela merasa sangat tidak percaya saat itu.


"Hey... Akira apakah kau sungguh ingin memberikan semua jawaban soalmu padaku? Apa aku perlu memberikan sebuah imbalan untukmu? Atau kau punya sesuatu keinginan yang kau mau dariku? Hey.... Lihatlah kemari" ucap Sela kepada Akira sambil memegangi sebelah pipinya karena Akira saat itu sulit sekali untuk melirik ke arahnya,


Akira yang merasakan pipinya di sentuh oleh tangan Sela dia juga merasa sangat kaget dan hanya bisa menatap Sela dengan sama kaget dan bingungnya sampai dia langsung saja menyuruh Sela untuk menurunkan tangannya.


"Lepaskan tanganmu dari wajahku!" Ucap Akira dengan wajahnya yang datar dan dingin.


Meski wajahnya saat itu terlihat dingin, datar dan serius sekali tetapi sesungguhnya di dalam hati kecilnya tersebut Akira justru merasa tidak karuan dan sangat salah tingkah di buatnya, sedangkan Sela masih saja berusaha untuk menanyakan mengenai buku Akira yang di pinjamkan kepadanya saat itu.


"Akira apa aku sungguh boleh mencontek, aku akan mencontek kali ini saja kok aku janji, apa aku sudah boleh menyalinnya sekarang?" Tanya Sela yang terus saja bertanya membuat Akira sangat kesal dan jengkel mendengar suaranya tersebut,


"Sudah salin secepatnya sebelum ada anak lain yang melihat atau aku akan merobek catatan itu!" Bentak Akira yang sangat jengkel dan dia langsung kembali memakai headset di telinganya tersebut.


Sela tersentak sedikit kaget melihat Akira yang membentak dia sekeras itu, sehingga dia pun langsung mengangguk patuh dan terburu-buru untuk segera menyalin jawaban dari buku Akira secepatnya.


"Hehe... Iya...iya kau sensitif sekali sih, tapi terimakasih atas jawabannya yah hehe" balas Sela yang kesenangan.


Dia segera menyalin semua jawaban yang ada di buku tugas milik Akira dan langsung saja menyelesaikan semua soal yang ada di buku tugasnya dengan cepat hingga setelah selesai Sela langsung memberikan kembali buku Akira ke sampingnya dimana Akira saat itu terlihat tengah membaca buku dengan sangat serius dan Sela tidak ingin mengganggu dia apalagi membuatnya marah seperti sebelumnya.


"Ini terimakasih atas bantuanmu, Akira aku akan membalasmu nanti" balas Sela sambil berbicara dengan pelan dan tersenyum cerah.


Dia merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa beristirahat sebab sudah menyelesaikan semua tugasnya tersebut, hingga ketika Kiko dan Anet tiba di kelas setelah beberapa siswa lain juga hadir, Sela terus saja tersenyum bahkan menyambut kedua sahabatnya tersebut yang baru tiba di kelas setelah dia.


"Hallo Anet...Kiko" ucap Sela menyapa mereka berdua begitu saja.


Anet dan Kiko sangat kaget ketika melihat Sela sudah berada di dalam kelas pada waktu sepagi itu sehingga saat pertama kali masuk ke dalam kelas Anet dan Kiko langsung saja berjalan cepat menghampiri Sela dan bertanya kepadanya dengan wajah yang kaget tidak karuan.


"Wahh ... Sela bagaimana bisa kau sudah ada di kelas sepagi ini, biasanya jam segini kau masih diluar atau masih tidur di rumahmu, bagaimana kau bisa kesini, kapan kau tiba ke kelas?" Tanya Kiko yang sangat bertele-tele dan dia sangat penasaran kepada Sela saat itu.


Bukan hanya Kiko tetapi Anet juga menatap penuh keheranan kepada Sela, sedangkan Sela sendiri hanya tersenyum puas dengan perubahan yang sudah dia buat hari ini apalagi ketika dia akan melihat teman-temannya kaget saat dia bisa menyelesaikan semua tugas dari pak guru Joy yang sangat sulit itu.


Karena biasanya dia selalu terlihat cukup berantakan, tidak memakai kaus kaki atau terkadang kaus kaki yang tertukar dan pendek sebelah, namun kali ini untuk pertama kalinya Sela berhasil memakai kaus kaki dengan pasangan yang benar dan tinggi yang sama, juga sepatunya yang berhasil dia ikat cukup kuat bahkan seragamnya juga terlihat rapih tidak berantakan dan kusut seperti biasanya.


Rambutnya juga di kucir sangat rapih itu membuat Anet sangat senang dan Kiko begitu kaget melihatnya.


"Aaaahhh... Sela akhirnya kau sudah berubah aku sangat senang melihat perubahan dirimu, semoga kau bisa terus menjadi persi dirimu yang lebih baik lagi kedepannya aku akan selalu mendukungmu, dan rambutmu biarkan aku saja yang menjadi penata gawa rambutmu aku senang sekali memegangi rambut lembutmu itu" ucap Anet sambil segera menatap rambut Sela lebih baik lagi.


Kiko terus menatap Sela tanpa berkedip dari atas hingga bawah membuat Sela merasa tersanjung dengan hal itu.


"Prok....prok...prok....wahhh Sela kau benar-benar berubah dan terlihat lebih feminim sekarang, kau hebat sekali Sela aku semakin kagum denganmu" ucap Kiko yang juga mendukungnya.


Melihat Kiko yang bahkan bertepuk tangan untuknya dia semakin saja besar kepala dan sangat bangga pada dirinya terlebih disaat Anet selesai menata rambutnya lebih bagus dan lebih rapih dengan di kepang dua di belakang dan terlihat cukup modis juga cocok sekali untuk rambut Sela yang panjang hanya sebahu saat itu.


"Wahh.... sela penataan rambutmu keren sekali, Anet memang sangat berbakat untuk menjadi penata rambut, iya kan Sela" ujar Kiko yang langsung di anggukkan oleh Sela.


Bahkan Sela langsung saja menunjukkan dua jempol tangannya disaat Anet memberikan cermin untuk Sela melihat bentuk tatapan rambutnya yang baru.


"Bagus sekali wahh..... Kau memang sangat keren sahabatku yang cantik hehe" ucap Sela sambil memeluk Anet saat itu.


"Hey....hey ...sudah kalian menjadi lebay, itu kan hanya rambut lagi pula memeng Anet kesayanganku ini sudah berbakat sejak kecil, tidak seperti kau yang selalu grasak grusuk tidak jelas" balas Kiko sambil menarik Anet dari pelukan Sela.


Perkara Kiko memang ada benarnya, tapi hal tersebut tetap saja membuat Sela sangat kesal dan geram hingga dia tidak bisa menahan kekesalannya tersebut, alhasil Sela langsung bangkit berdiri dan dia menepuk kepala Kiko cukup keras saat itu di depan semua orang dengan cepat.


"Aishh... Dasar kau rasakan saja ini, peletak...berani sekali kau mengatai aku seperti itu dasar manusia konyol kau!" Ujar Sela dengan kesal dan menepuk kepala Kiko sekuat tenaganya.


Kiko langsung meringis kesakitan memegangi kepalanya tersebut dan terus menggerutu kesal pada Sela.


"Aaaawww....ahh... Sela kau kasar sekali, aahh Anet ini sakit sekali, kepalaku akan terluka coba kau periksa Anet" ucap Kiko yang terus meringis dan meminta perhatian kepada Anet.


Mereka memang selalu saja seperti itu, dan membuat Sela muak juga kesal saat melihatnya, dia langsung saja merotasikan kedua bola matanya itu saat melihat Anet dan Kiko terus bersikap lebay dalam memeriksa kepalanya tersebut.


"Atutututu.....Kiko mana yang sakit, apa disini?" Tanya Anet yang juga sama saja dengan Kiko.


Sela segera duduk kembali dan dia menahan dagunya dengan tangan diatas meja sambil memalingkan pandangan dari dua sejoli yang sangat lebay tersebut, dia menatap Akira yang masih saja membaca buku dengan serius sampai Sela mulai bertanya kepadanya saat itu.


"Hey... Akira apa sih yang sedang kau baca, kenapa kau terlihat selalu serius ketika kau membaca, kenapa kau selalu seperti itu apa kau tidak kesal terus diam begitu?" Ucap Sela sambil menghembuskan nafas cukup keras saat itu,


Akira sama sekali tidak menjawabnya dan hanya menatap sesaat dengan tatapan aneh kepada Sela yang membuat Sela cukup kaget juga kebingungan menanggapinya sehingga dia langsung saja memperbaiki cara duduknya dan menatap ke depan dengan tegak untuk menghindari tatapan dari Akira yang cukup menyeramkan baginya saat itu.


"Ohhh... Tatapan macam apa itu, aaahh aku salah bicara yah" ucap Sela pelan sambil segera bangkit duduk dengan tegak.


Hingga tidak lama pak guru Joy masuk ke dalam kelas dan dia langsung saja menyuruh Sela untuk melakukan tugasnya mengumpulkan semua tugas para murid dan menyimpannya di kantor saat itu juga, sedangkan pak guru Joy terlihat tersenyum cukup puas karena untuk pertama kalinya Sela mau mendengarkan perintah dia tanpa banyak bertanya atau membantah sedikitpun.


"Sela... Wahhh ternyata kau hadir juga kali ini, bagus jika kau benar-benar berubah teruslah seperti itu, dan sekarang kumpulkan buku tugas anak-anak lalu simpan di mejaku, kita tidak akan belajar denganku hari ini karena pajaran olahraga akan segera di mulai semoga kalian menikmati hari ini. Terimakasih" ucap pak guru Joy yang ternyata berhalangan untuk mengajar hari ini.


"Baik pak" balas Sela dengan patuh dan dia langsung bangkit berdiri mengambil semua buku tugas milik teman-teman sekelasnya saat itu.


Namun hal yang membuat mereka semua takut adalah, Sela mengumpulkan semua buku milik teman sekelasnya dengan cara yang cukup kasar dan sedikit menakutkan hingga membuat para teman di kelas langsung mengumpulkan tugas mereka dengan cepat kepada Sela.


"Hey... Mana tugasmu ayo cepat berikan padaku, jangan membuat aku emosi atau mejamu yang akan aku hancurkan!" Ucap Sela sambil membelototkan matanya kepada salah satu teman yang lama saat mengambil buku tugas di dalam ranselnya saat itu,


"Aishh... Kau lama sekali, mana lagi apakah semuanya sudah mengumpulkan?" Teriak Sela di depan kelas saat itu,


Seketika semua anak menjawabnya dengan patuh dan Sela kini hanya tinggal mengirimkan buku itu ke ruang guru tepatnya menaruh di meja milik pak guru Joy.