
Disaat Akira tengah menatap Sela seperti itu dan terus memikirkan hal aneh yang dia rasakan tiba-tiba saja Sela menggerutu kesal karena ada tulisan Akira yang sulit dia baca saat itu, karena Akira menulisnya terlalu rapih dan sangat bagus.
"Aishh... Bocah aneh apa yang kau tulis disini aku tidak bisa membacanya, tulisan macam apa ini aneh sekali" ucap Sela dengan wajahnya yang terlihat agak kesal dan jengkel,
"Itu bukan tulisan, tapi itu rumus yang di tulis guru di depan, lihat saja sendiri" balas Akira sambil menunjuk ke depan papan tulis dimana memang itu adalah sebuah rumus.
Sela menatap ke sana dan melihatnya secara langsung, lalu dia sekarang mulai merasa malu karena tidak mengerti hal kecil seperti itu sama sekali, tapi karena dia tidak bisa menerima rasa malu itu dia pun langsung saja tetap menyalahkan Akira dan tulisannya.
"Aahhh... Sama saja mau menulis semuanya terlu bagus dan rapih aku tidak suka orang sepertimu, mah terlalu pintar untuk duduk di sampingku!" Ucap Sela yang masih keras kepala dengan dirinya sendiri.
Hingga guru selesai mengajar Sela sudah kehilangan separuh dari energi dalam tubuhnya, padahal dia hanya mencatat saja, tidak mengisi soal yang guru berikan bahkan dia juga tidak mendengarkan apa yang tengah guru terangkan di depan, dia hanya fokus sendiri dengan catatan di mejanya dan berharap bisa mempelajarinya pelajaran itu nanti dengan Anet.
Sebab baginya belajar mendengarkan penjelasan guru di dalam kelas itu sangat membosankan sekali dan dia benar-benar merasa mengantuk kali ini, di tambah semalaman dia juga menghabiskan seluruh waktunya untuk mencatat dan itu hampir membuat tangannya patah.
Sehingga saat guru keluar dari kelas dia langsung saja menjatuhkan kepalanya ke atas meja begitu saja dan langsung memejamkan matanya untuk beristirahat, sedangkan Anet dan Kiko yang saat itu sudah berdiri di hadapan Sela untuk melancarkan rencana mereka membuat Sela betah di kelas mereka heran sebab Sela sama sekali tidak keluar dari kursinya itu.
"Ehh.... Aneh kenapa Sela tidak keluar dan pergi ke kantin, biasanya jam segini dia sangat kelaparan dan akan kabur dari kelas sebab pelajaran selanjutnya adalah bagian pak guru Joy" ujar Kiko dengan heran,
"Aku juga tidak tahu, jangan menanyakan padaku, tapi biarkan saja itu, dia lebih baik seperti itu agar kita tidak perlu repot-repot untuk menahan dia" balas Anet menanggapi dengan senyuman yang senang.
Dia senang melihat sahabatnya Sela sudah sedikit berubah kali ini walaupun hanya sedikit saja, dan Sela tetap menjadi putri tidur di kelas itu, Anet segera menarik tangan Kiko yang saat itu hampir saja menyentuh Sela dan akan membuatkan dia terbangun.
Seketika semua anak-anak di kelas itu menatap tajam kepada Kiko karena dia hampir saja membangunkan macan yang tengah tertidur dengan lelap.
"Heh, apa yang kau lakukan apa kau mau membangunkan Sela yah?" Ucap Anet yang untung saja berhasil menahan tangan Kiko dengan cepat,
"Apa? Aku hanya ingin melihat buku catatan Sela, lihatlah dia menulis catatan sedari tadi, apakah ini tidak aneh? Kenapa dia tiba-tiba menjadi rajin seperti ini?" Tanya Kiko masih sangat heran karena melihat perubahan Sela secara tiba-tiba.
"Sudahlah biarkan saja dia begitu sebaiknya kita pergi membeli makanan untuknya, dia akan lapar ketika bangun nanti, dan kita tidak bisa membiarkan dia meninggalkan kelas, ayo cepat" ucap Anet sambil menarik tangan Kiko secepatnya meninggalkan kelas tersebut.
Disisi lain Akira masih saja memperhatikan wajah Sela yang tertidur menghadap ke arahnya dengan mulut setengah terbuka dan tangannya menimpah buku catatan milik Akira saat itu.
"Apa dia benar-benar wanita itu atau bukan? Tapi di lihat dari caranya menjalani hidup, dia sama sekali tidak seperti gadis kecil yang menolongku, tidak mungkin gadis kecil yang baik hati sangat galak sepertinya" gerutu Akira pelan.
Dia pun segera bangkit dan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku saat itu.
"Ehh... Akira kebetulan sekali ibu bertemu denganmu, ayo ikut ibu ke ruang guru, ada hal penting yang akan ibu bicarakan denganmu" ucap ibu guru Yuni saat itu.
Akira hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang hingga sampai di ruang guru tepat di mejanya yang bersampingan dengan meja pak guru Joy juga meja pak guru Roy.
Ibu Yuni langsung mempersilahkan Akira untuk duduk di depan mejanya saat itu dan dia mulai memberitahukan kepada Akira tentang sebuah perlombaan olimpiade matematika yang harus di ikuti oleh perwakilan tiap sekolah tahun ini dan ibu Yuni merasa dari sekian banyaknya murid di sekolah ini hanya Akira yang dia pikir paling cocok mengikuti olimpiade matematika tersebut dan ada satu siswi lain juga yang akan melakukannya nanti.
"Ada apa ibu memanggil saya?" Tanya Akira dengan wajahnya yang datar,
"Begini Akira saat ibu sudah mengajar kamu beberapa hari ini, ibu rasa kamu adalah siswa paling pandai dan berbakat di bidang matematika dan seluruh pelajaran lainnya sehingga ibu ingin mendaftar kamu untuk mengikuti olimpiade matematika yang di selenggarakan orang salah satu universitas ternama di kota ini, jika sekolah kita bisa membawa penghargaan itu dan jika ibu bisa mengirimkan perwakilan dari anak didik ibu itu akan menaikkan rating sekolah kita juga untuk ibu dan kamu di sekolah ini, bagaimana apakah kamu mau mengikutinya?" Ujar ibu guru Yuni memberi tahu dan mulai menanyakan kesanggupan dari Akira sendiri,
Sayangnya Akira sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, dan dia tidak pernah mau terlihat menonjol dari yang lainnya, dia hanya ingin bersekolah, memiliki teman dan menikmati masa sekolahnya seperti anak-anak lain pada umumnya, hanya itu saja yang dia harapkan.
Sehingga dia langsung saja menolak tawaran dari ibu Yuni saat itu juga bahkan tanpa berpikir panjang lagi.
"Tidak... Saya tidak ingin mengikuti lomba seperti itu, anda bisa membawa perwakilan siswa lain di kelas, tapi tidak dengan saya, permisi" balas Akira sambil segera pergi dari ruang guru begitu saja.
Bahkan dia mengabaikan pak guru Joy dan pak guru Roy yang ada di samping meja ibu guru Yuni dan memperhatikan gerak gerik dia sedari tadi.
Ibu Yuni juga terperangah kaget mendapatkan penolakan yang sangat singkat dari muridnya sendiri yang selalu dia banggakan kepada guru-guru yang lainnya karena Akira memiliki otak yang jenius saat belajar di kelas bersamanya ataupun dengan guru yang lain, bahkan kedatangan Akira ke kelasnya bisa sedikit meredakan omongan pedas dari para guru lain yang menyinggung masalah Sela.
"Hah... A...apa yang terjadi dengan anak itu, argghh... Untung saja dia jenius kelas jika bukan aku sudah membentaknya dan memberikan dia hukuman yang setimpal!" Teriak ibu Yuni meluapkan emosinya ketika Akira sudah pergi.
Pak guru Joy tertawa melihat itu begitu juga dengan pak guru Roy yang berusaha menahan tawanya hingga mulai menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya yang lain.
"Ahahaha... Bu Yuni ternyata kau bisa di tolak juga yah oleh seorang murid, bahkan dia adalah murid pindahan yang baru masuk beberapa hari, ahaha.... Kau sangat menyedihkan sekali ibu Yuni" ucap pak guru Joy tertawa dengan puas meledeki ibu guru Yuni saat itu.
Hal tersebut membuat ibu guru Yuni semakin kesal dan dia hanya bisa menggerutu seorang diri melampiaskan emosi di dalam dirinya dan semakin memperkuat tekad di dalam dirinya untuk tetap membujuk Akira sampai dia mau mengikuti olimpiade matematika tersebut.
"Lihat saja nanti aku akan membuat Akira menerima tawaran dariku!" Ucap ibu Yuni dengan penuh percaya diri,
"Bu silahkan saja kau berjuang, tapi saya rasa Akira tidak akan mudah tergoyahkan, apalagi dengan tawaran seperti itu, dia bukan anak yang ambis seperti kebanyakan orang pintar lainnya, dia berbeda ibu Yuni, jangan lupakan itu ahahah" balas pak guru Joy memberitahunya lagi.