
Sela semakin saja merasa lebih heran lagi karena dia sudah memanggil ibunya dengan sebutan seperti itu sejak ayahnya meninggal dan ibunya menikah lagi dengan tuan Wen, dia rasa semenjak ibunya bekerja dan tidak mengurusi dia lagi, itu sudah menunjukkan bahwa ibunya bukan lagi ibu dia sepenuhnya sehingga Sela memanggilnya nyonya Choi sebab dia tidak pernah merasa bahwa dia sangat dekat dengan ibunya tersebut.
Dia hanya menatap dengan heran kepada nyonya Choi dan segera membalas ucapannya dengan cepat.
"Ehhhh ..ada apa denganmu, aku kan sudah memanggilmu seperti itu sejak, lama kemana pula sekarang harus di ganti, apa salahnya memanggil dengan sebutan itu, memangnya kau keberatan?" Balas Sela berbicara sangat santai kepada ibunya sendiri.
Melihat Sela yang bicara terlampau santai kepadanya seperti tidak menghormati dirinya sebagai seorang ibu dari Sel, nyonya Choi tentu saja marah dan sangat kesal kepadanya saat itu sehingga dia langsung saja membentak Sela dan hampir saja hendak mengucapkan kalimat yang kasar kepadanya.
"Sela....kau ini benar-benar anak yang tidak...." Ucap nyonya Choi langsung di tahan.
Untung saja saat itu dengan cepat tuan Wen menahan istrinya tersebut sambil menahan tangannya di waktu yang tepat saat itu sehingga nyonya Choi tidak sempat mengucapkan kalimat yang kasar kepada Sela saat itu.
"Ehh...sudah...sudah...kalian ini ibu dan anak malah ribut seperti ini di depan makanan, itu tidak baik, ayo cepat duduk saja dan nikmati makanannya" ucap tuan Wen kepada istrinya nyonya Choi juga kepada Sela saat itu.
Karena mendengar ucapan dari suaminya akhirnya nyonya Choi bisa menjadi lebih tenang dan dia pun mulai menarik nafas dengan dalam lalu segera menghembuskan ya perlahan untuk menenangkan dirinya saat itu sambil terus menatap ke arah Sela yang saat itu juga duduk di hadapannya.
"Huuuhh....baiklah Sela sebenarnya ibu sengaja membuat semua kejutan ini untukmu, dan kau harus memakan masakan ibu tanpa alasan apapun, apa kau mengerti?" Ucapnya memberitahu Sela sambil mengambilkan nasi dan lauk pada mangkuknya saat itu.
Sela hanya menatap ke arah ibunya dengan tatapan bingung dan semakin heran sekali, dia sama sekali tidak mengerti dengan sikap ibunya tiba-tiba saja menjadi sangat aneh seperti ini baginya, sebab sebelumnya dia sama sekali tidak pernah bersikap seperti ini apalagi mengambilkan makanan untuknya dan memasak banyak makanan untuknya.
"Nyonya Choi ada apa denganmu sebenarnya? Kenapa kau memberikan semua ini kepadaku, bukankah biasanya kau sibuk di kantormu ketika di jam sekarang, kau juga tuan Wen kenapa kau sudah ada di rumah pada jam segini, memangnya kau tidak ada pekerjaan lagi di kantormu?" Tanya Sela dengan menaikkan kedua alisnya dengan heran.
Terlihat nyonya Choi kembali tersulut emosi dengan ucapan Sela dan dia benar-benar sangat marah saat itu, dia merasa sangat kesal namun untungnya tuan Wen dengan cepat memegangi tangan sang istri dengan cepat untuk meredakan emosinya tersebut dan nyonya Choi akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas kasar lagi juga memijat keningnya yang terasa sangat pusing saat itu.
"Huuuhh....kenapa aku harus memiliki putri yang sifatnya sepertimu Sela...kau benar-benar sangat kurang ajar kepada ayah dan ibumu sendiri kali ini" ucap nyonya Choi kepada Sela.
"Maafkan aku nyonya Choi tapi aku hanya bertanya saja, habisnya semua ini sangat aneh untukku, bukankah kamu juga merasa aneh dengan dirimu sendiri" balas Sela lagi.
Nyonya Choi sudah benar-benar pasrah dia tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi Sela saat itu, hingga tuan Wen lagi yang berbicara dengan Sela untuk mewakilkan ibunya saat itu, sebab hanya tuan Wen yang bisa bersabar dengan Sela disaat dia terus saja seperti itu.
"Sela dengarkan penjelasan dariku dan ibumu dahulu, ibumu membuat semua ini khusus untukmu bahkan dia rela untuk izin dari kantornya meski mendapatkan banyak sekali masalah karena itu, semuanya dia lakukan hanya untuk membuat semua masakan ini dan menyambut kamu pulang dari sekolah karena ibumu mendapatkan kabar dari wali kelasku bahwa kamu sudah mau sekolah dengan baik sampai menjadi asisten salah satu siswa yang akan mengikuti olimpiade, ibumu sangat senang ketika mendengar semua itu, makanya dia langsung pulang dan membuat semua ini untukmu, tolong kamu menghargai usahanya" ucap tuan Wen saat itu menjelaskan semuanya kepada Sela.
Seketika Sela langsung saja memebalalakkan matanya dengan sangat lebar saking kagetnya mendengar kabar tersebut sebab dia sama sekali tidak menduga bahwa kabar itu akan sampai dengan cepat ke telinga kedua orangtuanya di hari yang sama juga.
"AA..a..apa? Jadi ibu guru Yuni, benar-benar sudah memberitahu kalian berdua?" Ucap Sela menanyakannya lagi dengan wajah yang kaget dan terperangah lebar,
"Iya...Sela, kenapa kau terlihat se kaget itu, memangnya kau tidak ingin memberitahu aku sebagai ibumu hah" balas nyonya Choi saat itu.
"Haahhhh....astaga...aku harus bagaimana sekarang, musnahlah semua harapanku untuk menghindari dari bencana ini huhu" ucap Sela yang langsung saja duduk bersandar dengan lemas dan wajahnya terlihat sangat aneh saat itu.
Nyonya Choi dan ayah sambungnya tuan Wen hanya bisa saling tatap satu sama lain karena merasa sangat heran dengan sikap Sela saat itu.
"Ada apa denganmu, kenapa kau terlihat sedih, bukankah ini hal yang bagus sekali untukmu? Ini adalah kesempatan emas Sela" ucap nyonya Choi kepadanya,
"Ini memang bagus, tapi kau sama sekali tidak tahu bukan, siswa yang harus aku dampingi itu seperti apa? Aaahh dia lebih menyeramkan dari pada harimau di kebun binatang" balas Sela sambil terus saja terlihat sangat kacau saat itu.
Sela masih belum bisa menghadapi kenyataan bahwa dia harus terus mendampingi seorang Akira yang membuatnya selalu jengkel di setiap waktu, di tambah karakter Akira yang selalu sulit diajak bicara juga merasa kepala membuat Sela semakin membenci dia dan sama sekali tidak menyukai dia dalam segi apapun yang dia miliki.
mendengar ucapan dari Sela nyonya Choi dan tuan Wen langsung saja kaget membelalakkan matanya dan mereka pikir siswa itu sangat jahat juga bukan siswa yang baik sehingga nyonya Choi langsung saja membelalakkan matanya dengan sangat lebar.
"Wahhh...siswa seperti apa dia sampai bisa membuat putriku yang pemberani ini sampai selesai ini, apa dia memang sangat menyeramkan?" Ucap nyonya Choi merasa sangat penasaran dengan siswa tersebut.
"Dia tidak menyeramkan tapi dia sangat menjengkelkan aaaghhhh aku tidak memiliki nafsu makan lagi karena membahas manusia menyebalkan itu" ucap Sela sambil tertunduk benar-benar kehilangan seluruh energi di dalam tubuhnya saat itu.
Nyonya Choi pun segera menyuruhnya untuk makan dahulu dan mengesampingkan masalah siswa yang membuat Sela pusing tersebut karena dia ingin hari ini tetap menjadi hari yang sangat berkesan dan menyenangkan untuknya karena dia ingin terus merayakan keberhasilan putrinya tersebut untuk pertama kalinya semenjak kepergian suami pertamanya dan kini bisa belajar dengan benar, juga putrinya yang akan segera pergi ke universitas sebentar lagi.
"Aahhh...sudahlah lupakan saja masalah siswa itu, kau lebih baik makan saja oke, ibu sudah memberikanmu makanan jangan kau anggukan saja seperti itu, ayo makan, ibu sangat senang sekali mendengar kau bisa menjadi asisten untuk olimpiade matematika, aaahh nenekmu juga pasti akan sangat bangga dengan pencapaianmu ini" ucap nyonya Choi yang sangat antusias sekali dengan hal tersebut.
Sela juga hanya bisa menghembuskan nafas yang lesu lalu dia langsung saja melepaskan nafasnya dengan kasar dan berat, dia tidak tahu lagi harus berbuat seperti apa dan hanya bisa terus menikmati makanannya dengan wajah yang datar juga sangat kusut sekali karena tidak bisa menerima semua kenyataan yang harus dia lakukan saat ini.
Dia sangat membenci Akira sejak awal dan dia tidak bisa menerima semuanya terlebih pakaian olahraga kesayangannya yang sudah di pakai oleh Akira, Sela selalu merasa hidupnya di sekolah menjadi sangat hancur dan berantakan sejak munculnya Akira di kelasnya tersebut, dia lebih banyak mengalami kesulitan di bandingkan sebelumnya itulah yang membuatnya merasa sangat kesal sekali.
Bahkan saat makan bersama kedua orangtuanya saja dia masih terus merasa sangat kesal dan memegangi sendok di tangannya dengan sangat kuat bahkan sampai mengetuk sendok itu dengan keras penuh emosi.
"Huh....aku akan mengalahkan dia, nyonya Choi tuan Wen... Lihat saja nanti aku akan benar-benar lulus dan tidak mau lagi berhubungan dengan manusia menjengkelkan sepertinya, aku berjanji kepada kalian saat ini" ucap Sela dengan matanya yang membulat dengan sangat lebar juga tangannya yang dia kepalkan dengan kuat.
Nyonya Choi dan tuan Wen yang mendengar Sela berjanji seperti itu di hadapan mereka tentu saja itu membuat mereka sangat senang sekali sebab hal seperti itulah yang sudah mereka tunggu selama ini, mereka sudah menunggu dalam waktu yang sangat lama agar Sela mau berubah menjadi lebih baik dan mau belajar dengan benar dami report dan kelulusannya.
Karena mereka berdua juga ingin Sela bisa di terima di universitas yang layak untuknya juga universitas yang terjamin kebagusannya, sehingga nyonya Choi langsung terperangah dan sangat senang ketika mendengar Sela berjanji dengan wajah penuh keseriusan dan sungguh-sungguh seperti itu di hadapannya secara langsung.
"Wahhh ..Sela apakah ini benar-benar kau, aaahhh ibu sangat bangga kepadamu, ibu akan selalu mendukungmu sayang ibu sangat senang sekali kau mau belajar dengan serius seperti ini, dan ibu mendukungmu untuk mengalahkan siswa itu, ayo kalahkan dia dengan kepandaian otakmu yang sudah aku turunkan sejak lahir!" Ucap nyonya Choi kepada Sela saat itu dengan tersenyum sangat lebar.
"Eum...aku berjanji kepadamu nyonya Choi...aku Sela yang akan lulus dengan nilai bagus di atas KKM dan masuk ke universitas manapun yang aku inginkan!" Ucap Sela sambil mengacungkan sendok yang dia gunakan untuk makan penuh semangat saat itu.
Nyonya Choi juga langsung mengikuti tingkahnya dengan mengacungkan sendoknya juga.
"Iya ..ibu percaya denganmu!" Ucap nyonya Choi saat itu.
Sedangkan disisi lain tuan Wen sama sekali tidak ikut campur dengan hal itu dan dia hanya terlihat makan dengan fokus sendiri sehingga membuat Sela dan nyonya Choi langsung saja menatap ke arahnya secara bersamaan dengan tatapan yang cukup aneh dan begitu tajam saat itu.
Dia sama sekali tidak mengerti bahwa saat itu Sela dan nyonya Choi menunggu dirinya sampai dia mengacungkan sendok makannya namun yang ada bukannya ikut dengan apa yang mereka berdua lakukan, tuan Wen ini malah bertanya kebingungan dengan wajah tanpa dosa dan sangat polos seperti itu.
Hal tersebut membuat Sela dan nyonya Choi langsung menghembuskan nafas dengan kasar dan mereka langsung saja kembali fokus dengan makanan mereka masing-masing.
Sedangkan nyonya Choi justru membalas tuan Wen dengan perkataan yang sangat dingin dan datar karena dia merasa sedikit kesal sebab tuan Wen sama sekali tidak peka dengan situasi yang terjadi saat itu.
"Huuh ..tidak ada, sudah kau makan saja yang banyak, aahhh benar-benar kau ini tidak bisa mendukung putrimu sendiri" ucap nyonya Choi saat itu.
Nyonya Choi mungkin sangat kecewa kepada suaminya tuan Wen saat itu karena gagal di ajak bekerja sama untuk merayakan semua janji Selanya saat itu, tetapi memang dasar tuan Choi sendiri tidak mengerti maksud yang di sampaikan dari tatapan wajah nyonya Choi sehingga memang tidak sampai pada pemikirannya itu.
Sela hanya tersenyum lebar menahan tawa karena dia melihat wajah tuan Wen yang benar-benar sangat lucu baginya saat itu sebab dia benar-benar sama sekali tidak mengerti dengan maksud yang di sampaikan oleh ibunya sendiri.
Sampai tidak lama setelah selesai menikmati makanan bersama mereka berdua seperti biasa harus kembali pergi ke perusahaan mereka dan Sela memang sudah terbiasa dengan hal itu, dia juga memutuskan untuk tinggal di rumah ibunya untuk hari ini juga dia sudah menghubungi sang nenek bahwa dia tidak akan pulang hari ini.
Ibunya merasa sangat senang karena Sela bisa tinggal di rumah itu bersamanya walaupun mereka hanya akan bertemu ketika Sela sudah tertidur dan ketikan sarapan pagi saja, tetapi sudah lebih dari cukup untuknya, bisa melihat Sela setiap hari saja sudah bisa membuatnya merasa sangat senang.
Sehingga nyonya Choi bisa pergi ke kantornya dengan perasaan yang senang dan berbunga-bunga begitu juga dengan suaminya tuan Wen yang tidak kalah senang ketika mendengar putri sambungnya sudah mau tinggal satu atap bersamanya.
"Benarkah? Apa kamu sungguh akan tinggal disini malam ini?" Tanya nyonya Choi lagi yang seakan tidak bisa mempercayai semua itu.
"Iya...kenapa kau terlihat seperti itu sih, biasa saja jangan lebay" ucap Sela kepada ibunya itu,
"Aahhh Sela ibunya sangat senang sekali, terimakasih banyak Sela akhirnya kamu benar-benar seperti Sela yang aku asuh saat kecil" ucap nyonya Choi yang langsung saja memeluk Sela dengan erat.
Sela benar-benar merasa sangat tidak nyaman ketika dia harus menerima pelukan yang sangat erat seperti itu dari ibunya sendiri, karena itu sudah sangat lama sekali dari terakhir kali dia menerima pelukan seperti itu, sehingga dia langsung berontak dan meminta nyonya Choi untuk segera melepaskan pelukan seperti itu darinya.
"Aaa..AA..ahhhhh nyonya Choi lepaskan aku aahh aku sudah bukan anak kecil lagi jangan memelukku seerat itu nyonya Choi" ucap Sela berusaha melepaskan ibunya tersebut.
"Tuan...Wen tolong tarik dia lepaskan aku nyonya Choi!" tambah Sela yang terus berusaha melepaskan diri dari pelukan ibunya sendiri yang terlalu erat hingga dia hampir kesulitan bernafas.
Untunglah masih ada tuan Wen disana yang bisa langsung menolong Sela untuk melepaskan ibunya tersebut agar tidak terus memeluk Sela dengan sangat erat sampai Sela sendiri merasa kesulitan untuk bernafas.
"Sayang ..sudah sayang kita akan terlambat jika kau terus memeluk putrimu, dia juga akan mati jika kau memeluknya seperti itu" ucap tua Wen sambil segera menarik nyonya Choi dengan sekuat tenaganya.
Sampai akhirnya nyonya Choi mau melepaskan Sela dan terus saja tersenyum lebar merasa sangat senang saat itu.
"Ahahah...aku sangat senang sekali dan ini sungguh terlampau senang, kalau begitu Selaku yang manis tinggal lah yang baik disini ibu akan pulang lebih awal malam ini, dan menyiapkan lagi makan malam untukmu, aahhh ibu sangat senang sekali" ucap nyonya Choi sambil menyentuh kepala Sela dengan lembut saat itu.
Sela yang menerima hal tersebut dia langsung saja diam termenung dan wajahnya tidak menampakkan ekspresi apapun, dia hanya menatap dengan lekat ke arah ibunya yang terus tersenyum lebar kepadanya dan ditarik oleh tuan Wen hingga masuk ke dalam mobil dan ibunya masih terus saja melihat ke arah dia sambil membuka jendela mobilnya saat itu dan melambaikan tangan kepadanya hingga mobilnya tersebut keluar dari halaman rumah dan tidak terpandang lagi oleh matanya.
Sedangkan Sela masih saja berdiri mematung di depan pintu masuk rumahnya tersebut sambil tidak lama tangannya mulai terangkat dan dia menyentuh bagian atas kepalanya yang di elus oleh ibunya barusan.
Dia berusaha merasakan kembali sebuah kenangan di masa kecil dimana kedua orangtuanya selalu mengelus kepala dia seperti itu ketika dia mendapatkan suatu hal yang bagus atau pencapaian yang bagus di dalam hidupnya, dan kini setelah sekian lama dia baru bisa merasakannya lagi hingga dia langsung tertunduk dengan lesu dan tanpa sadar air mata mengalir turun dari pelupuk matanya begitu saja ketika dia mengingat momen haru jalan itu.
Dimana ayahnya masih hidup dan selalu mengajak dia berolahraga setiap akhir pekan ke taman bermain, dia selalu bebas untuk menggunakan apapun di taman bermain dia bisa berlari sekencang yang dia bisa, ayahnya selalu memberikan dia banyak kebebasan namun ayahnya juga melindungi dia dari belakang secara diam-diam dan sangat siaga.
Di saat dia berlari sangat kencang dan hampir terjatuh ayah ya selalu muncul tepat pada waktunya dan menahan tubuhnya hingga dia tidak terjatuh, saat dia bisa melampaui batas larian ayahnya selalu mengelus kepala dia dan memberikan pujian untuknya.
Sesuatu yang sederhana namun tidak semua orang bisa merasakan kasih sayang yang kecil dan manis itu, dulu dia adalah salah satu orang beruntung itu yang bisa merasakan hal manis dan sangat menyenangkan seperti itu tetapi kini dia sudah kehilangan semuanya dia tidak bisa merasakannya lagi bahkan dia tidak bisa berlari setiap akhir pekan seperti yang selalu dia lakukan dengan sang ayah ketika dia masih hidup kala itu.
Ibunya selalu mengekang dia dan melarang dia untuk mengejar mimpinya agar bisa menjadi atlet lari jarak jauh bak seperti sang ayah, ibunya memiliki trauma yang cukup berat mengenai ayahnya yang harus mengalami kecelakaan besar akibat jatuh saat berlari dan mengalami banyak insiden lainnya dalam perlombaan yang dia ikuti, tetapi hal itu sama sekali tidak membuat seorang Sela takut untuk menjadi seperti ayahnya, namun semua itu justru malah membuat dia menjadi semakin yakin dan berani untuk menjadi seperti ayahnya.
"Hiks ..hiks..hiks... Ayah.... Aku rindu kamu ayah" batin Sela dengan wajahnya yang terlihat begitu pilu sambil tertunduk terisak menangis saat itu.
Dia benar-benar merasa sangat merindukan ayahnya dan sebelumnya dia sama sekali tidak pernah menangis selama ini, tetapi kali ini dia justru malah menangis terisak dan terlihat begitu menyedihkan seperti itu.
Dia segera pergi kembali masuk ke dalam rumahnya dan mulai kembali memupuk semangat di dalam dirinya untuk segera belajar, pergi ke kamarnya menaruh tas di ranjang dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama dia memilih untuk kabur dari rumah ibunya itu dan tinggal di rumah sang nenek, ini adalah pertama kalinya dia bisa kembali menginjakkan kaki di kamar ini lagi.
Semua suasana dan susunan benda yang ada di dalam kamar tersebut terlihat masih tersusun dengan sangat rapih dan semuanya sama persis seperti terakhir kali dia meninggalkannya, tidak ada yang berbeda sedikit pun dan itu membuat Sela merasa sangat senang di buatnya.
Dia langsung merebahkan dirinya sejenak di ranjang dan melihat ke arah langit-langit kamarnya yang sudah sangat dia rindukan ini.
"Huaaa.....kamar ini selalu menjadi tempat ternyaman untukku, aahh sangat menyenangkan bisa tidur disini lagi" ucap Sela sambil terus saja mengelus ranjang empuk dan halusnya tersebut.
"Ohhh...ranjang kesayanganku....guling lembut yang menemani aku tidur dan semua benda kesukaanku di dalam kamar ini aku sangat merindukan kalian semua" ucap Sela tersenyum sendiri.
Sampai dia melihat ke arah jendela kesayangannya, dia langsung pergi untuk membukakan tirainya tersebut dan disaat yang bersamaan, ketika dia membuka tirai jendelanya tidak sengaja itu langsung berhadapan ke arah kamar Akira dimana saat itu terlihat Akira juga tengah membuka kaca jendela kamarnya sama dengan apa yang dilakukan oleh Sela hingga tentu saja mereka saling bertemu dan menatap satu sama lain saat itu.
"KAU?" teriak mereka berdua sangat kencang dengan wajah kaget satu sama lain.
Dan Sela langsung saja membelalakkan matanya menatap penuh kebencian kepada Akira, sedangkan Akira juga tidak mau kalah, dia terus membalas tatapan tajam itu lebih tajam daripada Sela sendiri.
"Aishh...sangat menyebalkan sekali kenapa kau harus berada di sebrang ka....." Ucap Sela yang menggerutu dengan kesal namun belum selesai dia bicara Akira sudah langsung menutup jendela kamarnya lagi dengan cepat bahkan dia menutup tirainya juga seakan bahwa dia tidak ingin mendengar perkataan dari Sela sedikitpun saat itu.
Sela sendiri merasa sangat kesal mihatnya karena dia terkesan seperti di abaikan olehnya dan ucapan darinya di potong oleh tingkahnya begitu saja.