Love In High School

Love In High School
Mengagetkan Ibu Guru Yuni



"Hah? Apa yang baru saja aku rasakan apa jantungku benar-benar berdebar karena anak itu memelukku? Wahh... sepertinya aku benar-benar menyukai Akira, aishh...memalukan sekali pasti pipiku merona, aku harus mencari cermin," ucap Sela yang menjadi panik tidak karuan sendiri.


Kebetulan saat itu dia melihat ibu guru Yuni yang duduk di ruang tunggu tengah memperbaiki make up nya dan dia mengeluarkan cermin dari tas nya sehingga dengan cepat Sela langsung pergi merampas cermin yang tengah di gunakan oleh ibu guru Yuni saat itu.


"Bu aku pinjam dulu cerminmu ya, sebentar saja ini hanya sebentar kok," ucap Sela terus merampas cermin itu dan menggunakannya sendiri.


Membuat ibu guru Yuni menatap kesal dan emosi kepadanya sampai hari membuat ibu guru Yuni membentak Sela dan terus saja mereka saling berebut cermin seperti itu hingga pada akhirnya tetaplah ibu guru Yuni yang memenangkannya sebab itu memang cermin miliknya namun kini mereka menjadi tidak akur dan saling menjaga jarak satu sama lain.


"Eughhh..Sela kembalikan, ibu cermin ibu kenapa kamu berani sekali merebut milik gurumu sendiri apa kamu ini berandalan ya?" Ucap ibu guru Yuni saat itu.


"Nah itu ibu tahu jadi aku tidak perlu menjelaskannya lagi denganmu bukan, sudah aku hanya pinjam sebentar saja kok Bu," ucap Sela dengan santainya yang semakin membuat ibu guru Yuni emosi kepadanya dan semakin tidak ingin meminjamkan cermin itu kepadanya.


"Aishh...tidak bisa! Sebentar lagi akan banyak sekali dosen yang berjalan memeriksa kemari ibu harus memperbaiki riasan di wajah ibu, kemarikan cerminnya, kau ini masih anak SMA sudah sibuk berebut cermin dengan gurumu pula, apa kamu tidak malu hah, kenapa juga kau kemari bukannya belajar untuk besok ujian akhir kau malah ikut kemari, kau mau tidak lulus ujian ya?" Ucap ibu guru Yuni yang terus saja merambat membicarakan hal lainnya saat itu.


"Aaahhh..ya sudah ini nih aku kembalikan, jangan mengganggu aku lagi, aku sudah belajar Bu kau tidak perlu mencemaskan atau menyepelekan aku lagi, aku belajar dengan kekasihku yang jenius itu tentu aku akan lulus ujian," balasku kepada ibu guru Yuni dengan penuh kepercayaan diri.


Ibu guru Yuni lang membelalak matanya dengan sangat lebar dia begitu kaget dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Sela yang membicarakan bahwa dia belajar dengan kekasihnya.


"Apa? Ahahaha...memangnya siapa kekasihmu itu, apa dia sepandai Akira ahaha..palingan juga kekasihmu Kiko atau kalau tidak pria yang gemuk di pojokan itu kan yang selalu kamu mintai makanannya," ucap ibu guru Yuni terus malah menertawakan Sela yang membuat Sela sangat tidak terima dengan hal itu.


"Eeehh...siapa bilang Kiko dan si gemuk itu hanya temanku saja aku melindungi mereka dari maraknya para pembully di sekolah kita, aku tidak menyukai mereka dan mereka juga takut denganku, tidak mungkin aku berpacaran dengan mereka, ibu itu buta ya?" Ucap Sela membalasnya dengan menatap tajam dan sinis.


"Hei...hei..beraninya kau bicara seperti itu pada gurumu sendiri, apa kau lupa aku ini siapa hah, aku wali kelasku selama tiga tahun Sela Marsela!" Ucap ibu guru Yuni semakin menatap tajam pada Sela saat itu.


"Memangnya kenapa jika ibu wali kelasku, hanya wali kelas kan bukan orangtuaku," balas Sela lagi yang membuat ibu guru Yuni semakin jengkel.


Ibu guru Yuni yang tadinya hendak membenarkan riasan di wajahnya, kini dia sudah kehilangan mood untuk melakukan itu dan sudah tidak bisa berdandan lagi karena Sela terus saja membuat dia tidak bisa melakukannya sebab terus menjawab ucapan dari ibu guru Yuni meski, sang ibu guru sudah memberikan dia balasan yang lebih tajam dalam ucapan bahkan ibu guru Yuni sudah mengingatkan Sela bahwa dirinya adalah wali kelas Sela bukan orang sebaya ataupun musuhnya.


Tetapi begitulah Sela dia hanya akan menghormati orang-orang yang menghormati dirinya juga, selain itu tidak perduli meski lebih tua darinya atau lebih pintar dan lebih kaya darinya Sela tetap akan berani melawannya sekalipun itu seorang ibu guru Yuni yang merupakan wali kelasnya sendiri, dan selalu memberikan dia tugas yang sangat menyusahkan dirinya.


Ibu guru Yuni segera bergeser untuk menjauh dari Sela karena dia tidak ingin duduk berdekatan dengan Sela yang hanya bisa mengganggu dirinya yang mulai fokus menatap ke depan dari balik kaca jendela transparan yang ada disana, ibu guru Yuni terus saja menatap dengan dekat dan lekat karena dia mencemaskan Akira, walaupun Akira sangat jenius namun tetap saja ibu guru Yuni merasa deg degan selama lomba itu berjalan.


Sedangkan Sela yang tidak senang karena ibu guru Yuni terlihat jelas menjauhi dirinya dia justru semakin menguji kesabaran ibu guru Yuni dan ikut berdiri di sampingnya sambil sengaja mendekatkan diri pada ibu guru Yuni dan berbicara pelan menyemangati Akira saat itu.


"Ck..kenapa aku bisa memiliki ibu guru seperti dia ini, haha...aku punya ide yang bagus untuk mengagetkannya, aku yakin ibu guru Yuni tidak akan menduga hal ini haha," gerutu Sela sambil tersenyum kecil menatap pada ibu guru Yuni dari samping saat itu.


"Ya tuhan mudahkanlah kekasihku untuk mengisi soal di sana, semoga dia terus tenang dan bisa merasakan dukungan yang begitu kuat yang aku berikan untuknya, ohhh kesayanganku." Ucap Sela sedikit di perbesar sengaja agar ibu guru Yuni bisa mendengar ucapannya tersebut, sedangkan dia masih pura-pura berdoa saat itu.


Dan terus melakukannya berkali-kali sampai membuat ibu guru Yuni habis kesabaran dan dia langsung sana menarik Sela sambil membalikkan badannya saat itu.


"Huuhh...Sela kau ini kenapa sih, memangnya yang mana diantara banyaknya peserta lomba di dalam yang merupakan pacarmu itu, sampai kau bela belain datang kemari dan terus mendoakan dia dengan lebay seperti itu, mana ayo tunjukkan pada ibu," ucap ibu guru Yuni kepada Sela saat itu.


Sela tersenyum kecil dan dia sudah merasa rencananya untuk mengagetkan ibu guru Yuni sudah akan berhasil sekarang dia pun mulai memasang wajah polosnya dan terus saja tersenyum lebar sok malu malu di hadapan ibu guru Yuni untuk mengatakannya padahal dia sengaja melakukan semua itu hanya untuk membuat ibu guru Yuni jengkel dan kaget sekaligus kesal dengan dia saat itu.


"Ekm....ehehe..itu loh Bu, kesayangan aku yang ada disana, dia duduk di barisan paling depan jajaran ke tiga dari sini," ucap Sela menunjuk kepada Akira saat itu.


Namun ibu guru Yuni justru malah menduga Sela menunjuk ke arah pria yang berkacamata dimana dia duduk di samping Akira saat itu, sehingga membuat Sela tidak habis ukir mengapa ibu guru Yuni bisa menduga pria berkacamata bulat itu sebagai orang yang dia maksudkan, padahal.saat itu Sela merasa dia sudah memberikan petunjuk yang sangat jelas kepadanya namun ibu guru Yuni tetap saja salah mengira.


"Ohhh..si kacamata bulat itu ya? Ahahah...dia mah akan kalah dengan Akira kau tidak usah mendoakannya lagi sudah pasti akan kalah sejak awal ibu sudah bisa melihat wajah kesusahannya untuk mengisi soal disana," ucap ibu guru Yuni membuat Sela terperangah kaget dan dia kembali menoleh ke arah pria itu lagi.


"Hah? Bu maksudku bukan dia kenapa kau bisa berpikir orang yang aku maksudkan adalah pria konyol dengan kacamata itu?" Tanya Sela degannya.


"Ya tentu saja kan kamu sendiri yang bilang pria kesayanganmu itu yang duduk di bangku paling depan jajaran ke tiga dari sini, ya kalau jajaran ke tiga memang pria itu kan, coba kau itu saja sendiri," ucap ibu guru Yuni kepada Sela.


Sela terperangah dan dia mulai menghitung jajarannya lagi barulah dia merasa bodoh dengan dirinya sendiri yang sudah salah mengira dan menghitung jajaran mejanya saat itu, sehingga pantas saja ibu guru Yuni malah salah mengira dan rencana dia untuk mengagetkan ibu guru Yuni benar-benar sudah gagal total sampai membuat Sela hanya bisa pasrah dengan menepuk jidatnya pelan karena ibu guru Yuni sudah salah mengira saat itu.


Sampai dia terus saja menggoda Sela dengan pria berkacamata bulat tersebut dan terus membuat Sela sangat kesal, tapi meski Sela sudah mengatakan kepada ibu guru Yuni bahwa pria yang dia maksudkan bukanlah orang itu, tetap saja ibu guru Yuni tidak mempercayai dia dan malah mengatakan bahwa Sela tidak perlu malu dengan dirinya untuk memperkenalkan dia dengan pria tersebut.


"Aduh...sial kenapa aku bisa salah menghitung sih, konyol sekali," gerutu Sela saat itu sambil kembali duduk saja di tempat tunggu saat itu.


"Ahaha..Sela ada apa denganmu wajahmu itu semakin jelek saja di murung seperti itu, sudah tenang saja pacarmu tidak akan kenapa-kenapa kok meski dia tidak akan memenangkan lombanya ini, setidaknya sudah bisa masuk ke tahap ini saja itu artinya dia memang pintar tapi tetap tidak secerdas Akiraku ahahaha...sabar ya Sela," ucap ibu guru Yuni sambil menepuk pundak Sela pelan dan dia kembali menatap ke dalam kelasnya.


"Huuhh....bisa bisanya ibu guru Yuni malah terus menganggap pacarku adalah pria berkacamata bulat itu, aishhh konyol sekali sih," gerutu Sela lagi yang sudah benar-benar tidak habis pikir juga kehilangan banyak energi dan tidak mau menjelaskannya lagi.


Karena dia pikir akan percuma saja jika dia menjelaskan kepada ibu guru Yuni bahwa Akira lah kekasih dia, sebab suda bisa di pastikan bahwa ibu guru Yuni tidak akan mempercayai dia, mungkin yang ada ibu guru Yuni justru akan semakin menertawakan dia dengan sangat puas karena akan mengira Sela meng halu atau hanya berkhayal saja dengan hal tersebut.


Sampai tidak lama kemudian akhirnya waktu lomba habis, satu persatu orang yang ada di dalam keluar dan kebetulan sekali Akira keluar berturutan dengan pria yang memakai kacamata sebelumnya yang dianggap oleh ibu guru Yuni sebagai kekasihku saat itu.


Disaat aku tersenyum dan hendak menghampiri Akira ibu guru Yuni malah menahan tangan pria berkacamata itu dan malah berteriak memanggil aku sambil mengatakan pacarku sudah keluar padahal aku memang ingin menghampiri Akira saat itu yang ada di samping pria berkacamata bukan benar-benar ingin menghampiri pria yang sama sekali tidak aku kenali itu.


Aku santai saja karena tahu ibu guru Yunilah yang akan malu karena ulahnya tersebut yang tidak mendengarkan aku sebelumnya.


"Aishh..kenapa ibu guru Yuni malah menahan pria itu sih, apa dia gila ya, aahhh mana ada Akira lagi, jangan sampai Akira akan salah paham gara-gara ibu guru Yuni." Gerutu Sela sambil berjalan menghampirinya saat itu.


Hingga setelah berada di hadapan ibu guru Yuni dan dengan Akira juga pria itu, aku langsung saja tersenyum kepada pria berkacamata tersebut dan meminta maaf kepada sambil menyuruh ibu guru Yuni untuk melepaskan genggaman tangannya pada pria tersebut.


"Ahah...maaf ya maafkan aku, ibu guruku ini memang agar sedikit tidak waras, Bu lepaskan tanganmu ini, sampai kapan kau akan menahan murid orang lain!" Ucap Sela dengan memelototi ibu guru Yuni saat itu.


Akira hanya menatap tajam dan dia tidak senang karena Sela memegangi tangan pria lain di hadapannya saat itu apalagi tidak hanya memegangi tangannya Sela juga melemparkan senyum kepada pria itu dan meminta maaf dengan ramah kepadanya sehingga membuat Akira merasa semakin kesal saat itu.


Sedangkan ibu guru Yuni menatap dengan penuh keheranan dan mengerutkan kedua alisnya disaat Sela menyuruh pria berkacamata itu untuk pergi dan meminta maaf kepadanya. Apalagi saat Sela dengan beraninya mengatakan pada pria itu bahwa ibu guru Yuni tidak waras.


"Hei..kalau kalian mau berkompetisi setidaknya bawa guru yang waras jangan menghabiskan waktu orang lain dengan ke gilaannya!" Ucap pria berkacamata itu yang membuat Sela terperangah kaget karena tidak menduga pria itu akan membalas ucapannya dengan kalimat yang tajam menusuk seperti itu.


Selain itu Sela juga menahan tawa karena melihat wajah ibu guru Yuni yang sudah merah padam menahan emosi kepadanya.


Hingga setengah pria itu pergi ibu guru Yuni langsung memarahi Sela dan membentaknya dengan keras begitu pula dengan Akira yang ikut campur dan malah ikutan memberikan bentakkan kepada Sela karena dia merasa cemburu padanya.


"Aishh...dasar kacamata bulat sialan itu, heh Sela beraninya kamu mengatai ibu gila kepada orang lain, apa kamu sudah bisa hidup dengan damai di sekolah ya!" Bentak ibu guru Yuni kepadanya.


"Bukan begitu Bu, tapi kau memang mirip orang tidak waras karena malah mengatakan pria itu kekasihku, aku kan sudah bilang kekasihku bukan pria itu kau salah orang tapi kau tidak mau mendengarkan aku, jadi begitulah resikonya, sudah untung juga aku melepaskanmu," balas Sela menjelaskannya.


Ibu guru Yuni tetap saja tidak terima dan dia hendak marah lagi, namun di timpal oleh Akira yang ikut marah kepada Sela.


"Kenapa kau malah memegangi tangan pria lain di hadapanku dan kenapa ibu guru Yuni bisa mengira pria konyol tadi sebagai pacarmu, kau adalah milikku kau pacarku kenapa kau harus mengakui orang lain sebagai pacarmu disaat kau sudah punya pacar di hadapanmu!" Bentak Akira yang keceplosan di hadapan ibu guru Yuni saat itu.


Sela hanya menatap bisa saja dan meminta maaf kepada Akira saat itu sekaligus menjelaskan semuanya sedangkan ibu guru Yuni yang mendengar penuturan kata dari Akira secara langsung dia langsung terbelalak lebar dengan mulut yang juga menganga lalu dia tutup dengan kedua tangannya saat itu juga, ibu guru Yuni bahkan tidak sanggup untuk berkata-kata lagi sebab dia masih sangat syok mendengar semua kebenaran yang sangat di luar nalar baginya.


Apalagi saat melihat bagaimana Sela memperlakukan Akira dengan membenarkan rambutnya dan memegangi tangannya sambil meminta maaf kepada di hadapan sang wali kelas tanpa rasa malu sedikitpun saat itu.


"Akira aku minta maaf, tapi tadi itu hanyalah kesalah pahaman antara ibu guru Yuni dengan ucapanku sebelumnya, aku salah menghitung jajaran meja tempat kau duduk dan ibu guru Yuni malah mengira pria itu yang merupakan pacarku padahal aku sudah bilang berkali-kali kepadanya bahwa dia bukan pacarku, tapi aku tidak mengatakan padanya kalau kau pacaran karena aku takut dia tidak akan mempercayai ku tapi aku rasa sekarang ibu guru Yuni akan mempercayainya karena kamu sendiri yang mengatakan itu di depannya hehe," balas Sela sambil tersenyum ke ar pada Akira dan mereka berdua langsung menoleh pada ibu guru Yuni yang masih terbelalak dengan lebar melihat kelakuan dua muridnya ini.


"HAH? haha...aishh kenapa kalian berpacaran dihadapan guru kalian sendiri hah! Kalian akan aku hukum, berdiri dengan satu kaki disini sampai pengumuman juara di keluarkan!" Bentak ibu guru Yuni saat itu kepada Sela dan Akira karena sangat marah.


Akira langsung menghentikan ibu guru Yuni dan meminta maaf kepadanya karena dia tidak ingin Sela harus kembali merasakan rasanya mendapatkan hukuman lagi dari gurunya sebab itu sudah terlalu sering di dapatkan oleh Sela jauh sebelum dia hadir di sampingnya.


"Bu tunggu, aku yakin aku akan menang karena aku sudah mengisi semua soalnya dengan hitungan yang benar menurutku, jadi tolong jangan menghukum Sela lagi, dia sudah terlalu sering anda hukum, aku sanggup bahkan jika harus terus berdiri di sini sampai besok karena aku tahu hasil seleksinya akan di keluarkan besok bukan hari ini," ucap Akira membuat ibu guru Yuni semakin jengkel di buatnya.


"Aishhh....ya sudahlah kalian pulanglah aku juga akan pulang awas saja jika sampai kalian kesiangan ke sekolah besok, terutama kau Sela jika sampai kamu tidak mendapatkan nilai di atas KKM ibu akan mengetuk kepalamu itu sampai benjol sekalian!" Bentak ibu guru Yuni yang pada akhirnya melepaskan mereka berdua walau memberikan peringatan dahulu kepada Sela dan melempar ancaman kepadanya saat itu.


Ibu guru Yuni terus menggerutu kesal sambil berjalan pergi dan masuk ke dalam mobil yang di fasilitas oleh sekolah begitu saja, dia mungkin masih sangat syok dan begitu marah karena tidak menduga Sela dan Akira benar-benar menjadi pasangan kekasih di belakangnya.


Padahal sebelumnya ibu guru Yuni tahu dengan jelas bahwa Sela adalah anak brandalan di kelas dan Akira sangat tidak menyukai Sela sejak awal masuk ke dalam sekolah ini, namun nyatanya tetap saja mereka kini malah menjadi pasangan kekasih yang membuat kepala ibu guru Yuni terasa mau pecah melihat tingkah dua anak muda tersebut.


"Aishh ....dasar anak muda jaman sekarang sangat menjengkelkan, membuat pusing kepala, aaahhh...kenapa bisa, anak paling pandai dan jenius seperti Akira malah menyukai gadis bar-bar seperti anak itu, membuat kepalaku sakit saja melihatnya...huaaa..sayang sekali Akira malah memilih wanita menyebalkan seperti Sela aishh...aku masih belum bisa menerima kebenaran ini," gerutu ibu guru Yuni sambil terus saja penuh emosi dan dia membanting pintu mobilnya dengan kencang.


Sela dan Akira hanya tertawa saja melihat tingkah ibu guru Yuni yang cukup konyol di mata mereka saat itu, sedangkan setelah ibu guru Yuni sudah pergi Sela mulai membawa Akira ke parkiran dan dia mulai mengatakan pada Akira bahwa dia membawa sepeda dia tanpa izin, sampai mematahkan kunci sepedanya.


Tapi untungnya Akira sama sekali tidak marah kepada Sela justru dia malah mengajak Sela untuk berjalan-jalan dengannya saat itu juga.


"Akira maafkan aku kunci sepedanya aku rusak karena sebelumnya aku terburu-buru untuk pergi kemari, apa kau akan marah denganku?" Ucap Sela mengatakannya dengan jujur.


"Tidak untuk apa aku marah jika kamu sudah mengatakannya dengan jujur, aku naik aku akan membawamu berjalan-jalan di sekitar sini," ucap Akira kepada Sela saat itu.


Sela mengangguk dengan senang dan dia sudah tidak merasa cemas lagi tentang sepeda Akira, Sela duduk di belakang dan dia mulai berani untuk berpegangan kepada Akira saat itu, tidak lagi memegangi ujung bajunya saat di bonceng oleh Akira seperti sebelumnya, kini Sela sudah bisa memeluk pinggang Akira dengan erat saat dia berboncengan dengannya.


Pergi berjalan-jalan dan menikmati hembusan angin yang menerpa mereka, sembari pergi menjajaki makanan yang ada di pinggir jalan di sekitar sana, Sela yang selalu senang makan dia membeli banyak sekali jenis makanan yang menurutnya cukup aneh dan belum pernah coba, bahkan dia juga memaksa Akira untuk ikut mencoba makanan yang dia makan juga saat itu.


Padahal sebelumnya Akira adalah tipe pria yang sangat pemilih karena penyakit yang dia miliki tetapi sejak bertemu dengan Sela dia sama sekali tidak bisa menolak apapun yang diminta oleh Sela, dia selalu bisa melakukan apapun jika itu tentang Sela dan dengan Sela.


Seakan penyakit kelainan yang dia miliki itu sudah benar-benar hilang jika dia berada di samping Sela, dan terus saja merasa sangat bahagia bahkan dia yang sehariannya hanya memasang wajah datar dan tidak memiliki ekspresi juga selalu menutup kepalanya dengan topi ataupun Ciput, kini dia melepaskannya dan menunjukkan wajahnya dengan percaya diri, dia juga terus memasang senyum yang sangat lebar pada Sela.


"Ahaha...ayo makan, bagaimana apa kau suka ini enak tahu, enak kan?" Ucap Sela menyuapi Akira dengan sate yang dia beli sebelumnya.


"Eumm...enak, aku menyukainya," balas Akira sambil tersenyum lebar.