Love In High School

Love In High School
Kekesalan Akira



Sela sudah sangat geram dan kesal dalam menghadapinya saat itu karena dia sudah bicara dengan cara yang baik kepada Akira namun malah tidak digubris sama sekali oleh Akira, sampai dia sudah benar-benar baik pitam dan langsung saja membentak Akira dan tetap memilih untuk pergi saja dari sana sekalipun tanpa izin dari Akira dan sebagainya.


"CK...kau tidak mau menjawab aku, oke aku pergi sana meski tanpa izin darimu aku tidak perduli," ucap Sela dengan sangat kesal dan dia dikuasai oleh emosi yang sangat besar dalam dirinya saat itu.


Dia segera saja pergi dari sana dengan cepat namun Akira langsung mengikutinya dari belakang dan Sela mengetahui tentang hal itu sehingga Sela menjadi semakin kesal padanya sebab dia sudah berjalan cukup lama saat itu dan sudah hampir keluar dari gedung sekolah namun Akira masih tetap saja mengikuti dia tanpa henti.


Sampai akhirnya Sela memutuskan untuk berhenti dan berbicara lagi kepada Akira saat itu.


"Aishh ..kenapa kau masih mengikuti aku? Apa sih yang sebenarnya kau inginkan dari, hah?" Ucap Sela dengan nada yang sedikit membentak saat itu.


"Aku hanya ingin kau tidak bolos dalam tugasmu, aku sudah mengajarimu semua hal yang aku bisa kau harus lulus dalam ujian akhir, orang-orang sudah sibuk dengan pelajaran dan latihan mereka masing-masing bukankah kau hanya tinggal menyelesaikan tugasmu sebagai asisten belajarku sehari ini saja, kenapa kau malah meminta tidak melakukannya?" Ujar Akira membuat Sela segera tersadar saat itu memang ini kesalahannya.


"Aahh...oke...aku salah tapi aku tidak bisa menemani kau belajar saat ini Akira aku akan pergi dengan Vivi dia akan menjemputku aku tidak bisa membuat dia menunggu!" Ucap Sela yang pada akhirnya dia malah keceplosan sendiri.


Akira yang mendengar hal itu dia langsung saja mengubah raut wajahnya menjadi semakin kesal dan mengerutkan kedua alisnya dengan tajam menatap lekat kepada Sela saat itu, dan dengan cepat Akira juga mengatakan kepada Sela bahwa dia harus belajar di rumahnya saat ini.


"Apa? Vivi apa bocah kecil yang mengantarmu pulang pada malam itu? Kenapa kau bisa dengannya? Pokoknya kau harus belajar denganku di rumahku jika tidak aku bisa melaporkanmu kepada ibu guru Yuni." Ucap Akira sambil menatap tajam penuh kekesalan.


Sela tentu saja sangat tidak terima dengan keputusan yang di buat oleh Akira dengan sebelah pihak seperti itu, makanya dia langsung protes kepada Akira tapi sayangnya Akira sama sekali tidak ingin mendengarkan protesan dari Sela yang sangat berisik di telinganya tersebut sehingga Akira lebih memilih untuk berjalan lebih dulu keluar dari gedung sekolah dan meninggalkan Sela yang menggerutu keras di belakangnya dan terus mengikuti dia sambil merutuki dirinya dengan kesal seorang diri.


"Ehh... Akira tidak bisa begitu aku harus pergi aku sudah tidak tinggal lagi di rumah ibuku aku memiliki banyak hutang budi kepada mereka berdua aku tidak bisa membuat mereka semakin kerepotan denganku, ayolah Akira kau harus mengerti aku sekali saja, apa kau mendengarkan aku Akira? Hei...Akira kau mau kemana..Akira!" Teriak Sela sambil segera mengikuti Akira dari belakang secepat yang dia bisa saat itu.


"Akira ayolah aku hanya libur sehari ini saja, kenapa kau mempermasalahkan hal seperti ini, aku juga sudah banyak belajar denganmu aku yakin aku pasti bisa lulus di ujian akhir ini, kau tahu kan dan kau melihat dengan jelas bahwa aku bisa menyelesaikan tugas yang sulit di depan teman-teman sebelumnya, aku tahu itu berkat ajaranmu tapi kan Akira ayolah berhenti terus berjalan meninggalkan aku!" Teriak Sela terus menggerutu sendiri dan berusaha untuk menjelaskannya kepada Akira.


Dia terus berjalan dengan langkah yang kecil dan dengan cepat karena Akira memiliki langkah kaki yang cukup besar saat itu dan sulit untuk dia menyeimbangkan kecepatannya dengan sosok seperti Akira itu, sedangkan Akira sendiri justru malah terus saja berjalan ke depan meninggalkan Sela dan sama sekali tidak menggubris dia sedikit pun.


Sampai ketika Akira hendak membawa sepedanya di parkiran dia justru melah melihat ada sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat dia berdiri saat itu ditambah ada seorang pria yang menggendong seorang gadis kecil menyandar di samping mobil hitam yang mengkilap tersebut.


Dan meski melihatnya dari jarak yang agak jauh Akira sudah bisa menebak dan mengenalinya bahwa pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang bertemu dengan dia malam itu ketika Sela pulang dengan banyak luka juga kakinya yang pincang.


Akira yang berhenti mendadak membuat Sela menabrak tubuhnya dari belakang karena Sela terlalu fokus terus bicara sendiri menggerutu dan membujuk Akira sebisanya agar bisa mengijinkan dia untuk tidak menemaninya belajar hari itu saja.


"Bruk, aduhh...." Suara Sela yang menabrak punggung Akira dan membuatnya sedikit merasa pusing serta hampir kehilangan keseimbangan dirinya saat itu.


Sela langsung membentak Akira dengan keras dan merutuki dia sebisa nya sendiri.


"Heh...Akira apa kau gila ya? Kenapa kau berhenti secara tiba-tiba seperti ini, apa kau sengaja ingin membuat aku jatuh ya?" Bentak Sela kepada Akira sambil meringis pelan dan terus memegangi jidatnya saat itu.


"Diam kau, lihatlah kesana apa mereka yang kau bilang akan menjemputmu, sepertinya pria itu sangat penting bahkan lebih penting dibandingkan kewajibanmu sebagai asisten belajar untukku, sana pergi saja tapi ingat jangan pernah kau meminta bantuanmu lagi untuk mengerjakan soal dan mengajarimu belajar untuk ujia akhirnya." Ucap Akira sambil menaiki sepedanya dan bersiap untuk pergi dari sana karena dia sangat kesal dan emosi melihat pria tersebut.


Sela sendiri bahkan sudah merasa sangat heran dengan kelakuan Akira yang selalu saja membingungkan baginya, dia sekarang lebih banyak kesal dan marah tidak jelas kepada dirinya, termasuk dengan apanyang terjadi ketika sang ketua tim basket mendekatinya itu juga kerap kali membuat Akira menjadi kejam kepadanya.


Sehingga Sela langsung menahan Akira saat itu dan dia mulai berpikir banyak tentang apa yang terjadi diantara Akira dan dia selama ini sampai dia harus terjebak dengan orang yang menyulitkan dirinya terus menerus seperti Akira selama ini, yang sering membuat dia menjadi sangat jengkel setiap saat.


"Eee..eee...ehh..Akira tunggu, oke oke aku akan pergi belajar denganmu aahh kenapa kau menjadi sensitif seperti ini sih, aku lebih suka kau menjadi cuek dan dingin saja daripada menjadi orang aneh seperti ini." Ucap Sela menahan pundak Akira saat itu.


Akira sebenarnya merasa senang karena Sela telah memilih dia dibandingkan dengan pria tersebut saat itu namun dia yang memiliki gengsi cukup tinggi tetap saja tidak bisa menunjukkan rasa senang dan bahagianya itu, dia terus melipat bibirnya dan hanya memberikan tatapan dingin dengan sorot mata tajam kepada Sela saat itu.


"Tunggu disini aku akan bicara dahulu pada mereka, aishh...sangat menjengkelkan!" Gerutu Sela sambil terus berjalan dengan menghentakkan kakinya sendiri cukup kuat saat itu.


Dia segera pergi menghampiri Jeromi dan Vivi meski dia merasa sedikit berat hati untuk mengatakannya namun tidak ada cara lain lagi selain melakukan semua ini sebelum sialan Akira itu akan mulai mencurigai dia dan membuat kekacauan yang akan membuatnya malu nanti.


"Aahh...kalian benar-benar menjemputku ya?" Ucap Sela berbasa basi dahulu karena dia merasa bingung apa yang harus dia katakan kepada mereka agar bisa mengatakannya dengan baik.


"Tentu saja kak Sela aku tidak akan mengingkari janjiku begitu juga dengan paman, kak Sela ayo cepat kita masuk." Ujar Vivi yang sudah sangat bersemangat sekali saat itu dan dia sudah menarik tangan Sela dengan kuat beberapa kali.


Sela sebetulnya merasa sangat tidak tega dan tidak enak hati untuk mengatakan semua itu kepada gadis kecil yang manis dan ceria seperti Vivi ini namun dia sungguh tidak memiliki pilihan lain lagi saat ini sebab dia melirik ke arah Akira yang masih memberikan tatapan tajam kepadaku saat itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Sial... Kenapa dia terus memperhatikan aku sampai menatap setajam mata elang begitu sih," gerutu Sela dalam hatinya ketika melihat Akira disana.


"Sela kenapa diam saja, ayo cepat masuk," tabah Jeromi sambil hendak membukakan pintu untuk Sela dan Sela dengan cepat menahan tangan Jeromi saat itu dengan cepat.


"Kakak..ini adalah hari terakhir aku tinggal dengan paman karena besok ayah dan ibuku sudah akan menjemput aku, mereka akan membawa aku kembali ke luar negeri aku tidak akan bisa bertemu denganmu ataupun dengan paman lagi, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu kakak," ucap Vivi kepada Sela saat itu.


Sela benar-benar merasa sangat bersalah kepada Vivi dan merasa sangat tidak enak hati saat itu namun untungnya Jeromi memberikan pengertian yang sangat baik dan lembut kepada Vivi sehingga dia bisa membuat Vivi berhenti memaksa Sela dan menyulitkan dia untuk mengambil keputusan saat itu.


"Tidak masalah Sela lagipula ujian akhirnya sangat penting untukmu, jangan terlalu menuruti Vivi dia juga tidak akan selamanya di luar negeri, dan kamu Vivi jangan menyulitkan kak Sela, dia harus belajar karena kak Sela masih seorang siswi, kamu kan bisa bertemu dengannya malam nanti, lagi pula kak Sela tinggal dengan kita kamu jangan cemas oke, ayo sekarang kita pulang saja dan kamu berikan semangat pada kak Sela agar dia bisa belajar lebih cepat dan bisa bertemu dengan Vivi lebih awal." Ucap Jeromi yang langsung dianggukkan oleh Vivi yang begitu penurut dengannya.


"Eum....semangat kak Sela, aku akan selalu mendukung dan menunggumu di rumah nanti, bye..kak." ucap Vivi yang angkat imut dan memberikan semangat kepada Sela walaupun wajahnya masih terlihat tidak terima saat itu.


Sela juga sampai tersenyum lebar melihat tingkah Vivi yang sangat lucu dan begitu menggemaskan sekali baginya.


"Vivi sayang, terimakasih banyak ya, kak Sela akan kembali ke rumah lebih awal, dah... hati-hati di jalan ya," balas Sela sambil melambaikan tangan pada Vivi hingga mobilnya melaju meninggalkan kawasan sekolah dia saat itu.


Setelah itu barulah Sela bisa bernafas dengan lega dan dia segera kembali mendekati Akira tapi saat itu Akira sudah memasang wajah yang sangat menyebalkan saja, karena dia mendengar pembicaraan Sela dengan Jeromi dan Vivi saat itu dan saat Sela menghampirinya dengan cepat Akira langsung bertanya dan mengintrogasi Sela dengan caranya yang begitu serius.


"Hei....kenapa kau bilang bahwa kau akan pulang lebih awal dan kenapa pria itu mengatakan bahwa kau tinggal dengan mereka, apa kau benar-benar tinggal di rumah pria itu?" Tanya Akira dengan wajah yang sangat penasaran dan terus menyelidik.


Sela menatap aneh kepada Akira karena bagi Sela ini sangatlah sama sekali tidak terlihat seperti Akira yang di kenal oleh banyak orang dengan sosok dingin, pendiam dan sulit di dekati oleh siapapun selama ini, bahkan dia tidak memiliki teman di dalam kelas sendiri.


"Ehh..ada apa denganmu, kenapa menanyakan hal itu dengan wajah menyebalkan seperti ini? Memangnya kenapa jika aku benar-benar tinggal dengan mereka? Apa masalahnya denganmu," ucap Sela kepada Akira dengan mengerutkan kedua alisnya.


Sela tidak terlalu menanggapi Akira karena dia sudah tidak tahan lagi untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas belajarnya dengan Akira agar dia bisa segera kembali ke kediaman Jeromi dan bisa menemui Vivi yang begitu lucu dan menepati janjinya kepada Vivi secepatnya.


Sela pun segera mengajak Akira untuk pergi dari sana secepatnya.


"Ayo cepat kita pergi, kau sangat aneh sekali," ujar Sela sambil berjalan lebih dulu karena dia tahu bahwa Akira mengayuh sepeda dan sudah pasti akan menjadi lebih cepat sampai di kediamannya di bandingkan dengan dia yang berjalan kaki.


Dan bodohnya saat itu Sela masih berpikir semoga Akira akan memberikan dia tumpangan pada sepedanya tersebut, namun harapannya itu memang tidak akan bisa terkabul sebab Akira bukan seorang pria yang seperti kebanyakan, apalagi saat itu dia tengah kesal karena mengetahui bahwa Sela tinggal di rumah pria lain yang bahkan tidak dia ketahui siapa pria tersebut sebenarnya, langsung saja Akira mengayuh sepedanya dengan cepat dan meninggalkan Sela seorang diri disana saat itu.


Sela yang melihat Akira melewati dia dengan secepat itu tentu saja dia merasa sangat aneh dan kesal sekali, sebab dia masih harus berjalan kaki disaat Akira pergi dengan sepedanya sendiri.


"Aishh...sialan, dia benar-benar tidak menawarkan tumpangan kepadaku, apa dia manusia yang kejam apa? Dasar manusia sialan itu sangat menyebalkan sekali!" Gerutu Sela sambil menendang kosong kakinya ke depan saat itu untuk melampiaskan emosi di dalam dirinya.


Terpaksa Sela kini harus berlari agar bisa sampai lebih cepat karena jika dia hanya berjalan saja sudah pasti itu akan membutuhkan waktu yang lebih lama jadi dia memutuskan untuk berlari saja dan sampai di depan kediaman Akira tepat waktu, dia segera masuk menyusul Akira yang saat itu juga terlihat baru masuk ke dalam gerbang tinggi rumahnya tersebut.


"Hei...Akira tunggu aku!" Teriak Sela memanggilnya dengan kencang sekali.


Akira hanya menatapnya dengan sinis dan merotasikan matanya kepada Sela saat itu, membuat Sela semakin terasa heran dan kebingungan sendiri saat melihat ekspresi wajah dari Akira kepada dia saat itu.


Dia langsung saja menghampiri Akira yang baru saja masuk ke dalam rumahnya saat itu, dia segera menghentikan Akira untuk bertanya kepada Akira tentang apa yang membuat dia memberi tatapan tajam dan sinis merotasikan matanya seperti itu.


"Hei Akira, ada apa denganmu? Kenapa aku merasa kau menatap sinis dan tengah kesal padaku? Apa salahku yang membuat kau sampai seperti ini?" Tanya Sela sambil menahan tangan Akira saat itu.


Namun dengan cepat Akira langsung menghempaskan tangan Sela yang menahan tangannya dengan kasar, dia langsung saja berjalan ke sofa dan segera membuka laptop miliknya termasuk dengan buku pelajaran yang akan dia selesaikan saat ini.


Sela semakin penasaran dan bingung melihat Akira yang bersikap aneh seperti itu dan malah mendiami dia tanpa mengatakan apapun sama sekali, Sela tidak bisa jika dia harus belajar dengan suasana seperti ini, dia benar-benar merasa tidak menentu dengan sikap Akira yang aneh maka dari itu dia terus mendekati Akira sambil belajar dan membuka buku pajarannya dia terus menatap ke arah Akira dan tidak bisa mengerjakan soal dengan fokus.


Alhasil Sela segera menanyakannya lagi kepada Akira tentang apa yang membuat Akira menjadi aneh seperti itu kepada dia.


"Huhh..Akira ayolah bicara denganku aku tidak bisa belajar dengan baik jika kau terus saja seperti ini kepadaku, apa salahku dan apa yang mengganggumu?" Tanya Sela kembali bertanya meminta penjelasan darinya.


"Tidak ada kau pergi saja ke rumah pria asing itu, kalian sudah sangat dekat bukan atau mungkin gadis kecil itu anakmu dengan pria itu ya?" Balas Akira yang membuat Sela malah menjadi kesal dengan ucapannya itu.


"Akira jaga mulutmu! Dia itu hanya orang yang pernah aku tolong dan pernah menolongku, aku tinggal di rumahnya juga tidak satu ruangan dengannya bahkan berbeda lantai aku hanya kasihan dengan gadis kecil yang di tinggalkan kedua orangtuanya itu, dan aku kebetulan tidak punya rumah untuk tinggal, aku di usir oleh ibuku sendiri dan tidak bisa tinggal di rumah nenekku juga, aku tidak ada uang sama sekali tidak mungkin aku tidur di jalanan maka dari itu aku mengasih Vivi saja dan tidur dengannya di rumah pamannya. Jangan pernah berperasangka buruk padaku dan mengatakan kalimat sembarangan seperti tadi, jika kau tidak tahu apapun kebenarannya!" Ucap Sela sambil bangkit dan hendak pergi dari sana meninggalkan Akira.


Namun Akira yang sudah mengetahui semua kebenarannya dia langsung saja kaget dan merasa bersalah karena sudah berperasangka buruk kepada Sela saat itu, dia pun dengan cepat menahan Sela dan menarik tangannya sekaligus hingga membuat Sela terbawa dan di peluk oleh Akira dengan cepat.


"Aaahhh.." ucap Sela yang kebingungan sendiri dan dia tidak bisa melakukan apapun saat Akira tiba-tiba menarik tangannya dan memeluk dia dengan erat sekali saat itu, bahkan untuk bicara saja Sela rasanya sangat gugup hanya bisa merasakan detak jantungnya yang terus berdetak kencang saat itu.