Love In High School

Love In High School
Memanjat Pagar



Sela menatap dengan heran dan aneh, dia tidak menduga jika ternyata murid baru yang sangat misterius itu tinggal di rumah kosong yang berada di samping rumahnya, dia terus berdiri mematung dan terperangah kaget melihatnya sampai tidak lama ibunya Sela saat itu baru pulang dari kantor bersama dengan suami barunya tersebut dan melihat Sela yang diam berdiri di depan rumah kosong dengan berkacak pinggang seperti itu, tentu saja nyonya Choi tersebut langsung menghampiri putrinya.


"Sela apa yang sedang kamu lakukan disitu ayo masuk" ajak sang ibu kepadanya.


Sela kaget saat berbalik sudah ada ibunya disana dan dia masih belum siap untuk bertemu dengan ibunya saat itu sehingga dia langsung berniat untuk kabur melarikan diri namun sayangnya nyonya Choi berhasil menangkap tangan Sela dan menahannya dengan kuat.


"Aaaa... Gawat aku harus melarikan diri dari nyonya Choi itu" gumam Sela dalam hatinya,


"Eits... Mau kemana kau gadis nakal, ayo ikut aku masuk ke dalam kau tidak pulang berhari-hari bermalam dimana kau selama ini, aishh.... Merepotkan aku saja" ucap sang ibu sambil terus menarik tangan Sela dengan kuat dan membawanya masuk ke dalam rumah saat itu juga.


Sela sudah berusaha berontak namun kekuatan ibunya tidak mampu di tandingin olehnya sehingga dia hanya bisa pasrah saja saat itu.


"Aaaahhh.... Ayolah nyonya Choi lepaskan aku, aku mohon lepaskan aku huhu" rengek Sela berusaha melepaskan dirinya sendiri.


Disisi lain tanpa Sela ketahui sebenarnya saat itu Akira sudah berada di kamarnya dan diam-diam dia memperhatikan dan melihat secara langsung bagaimana Sela di seret masuk ke dalam rumah dengan pagar ber cat biru itu oleh seorang wanita yang baginya cukup menyeramkan.


"Bagaimana bisa aku bertetangga dengan gadis pembawa onar itu?" Gerutu Akira sambil langsung menutup tirai jendela kamarnya saat itu.


Sela di bawa masuk oleh sang ibu dan dia di dudukkan secara paksa saat itu juga, ibunya juga langsung duduk di hadapan Sela dan mengancam Sela untuk tetap duduk di sana sampai ibunya selesai berganti pakaian ke dalam.


"Awas kau, jangan coba-coba untuk kabur. Jika kau kabur aku tidak akan mengirimi kau yang lagi, tunggu aku disini apa kau mengerti?" Bentak nyonya Choi saat itu.


Sela hanya mengangguk dan langsung menyuruh nyonya Choi untuk segera pergi mengganti pakaiannya, sebab dia tidak ingin berlama-lama tinggal di rumah tersebut.


"Iya... Iya cepat masuklah nyonya Choi aku tidak akan kabur kemanapun, aishh kenapa kau tidak mempercayai aku sih, ayo sana masuk" balas Sela dengan sedikit kesal.


Nyonya Choi segera masuk ke kamarnya dan berganti pakaian sedangkan Sela mulai mendekati ayah tirinya yang bernama Wen, dia menatap tuan Wen yang tengah membaca sebuah koran di hadapannya saat itu.


"Ekhmm.... Tuan Wen aku sakit perut bisakah aku meminjam kamar mandimu sebentar?" Tanya Sela sambil memegangi perutnya dan mulai berakting saat itu.


Tuan Wen yang melihatnya seperti benar-benar kesakitan dia pun segera mengijinkan Sela dan langsung menyuruh Sela untuk segera menyelesaikan urusannya itu.


"Aahhh... Boleh tentu saja boleh, rumah ini kan juga rumahmu juga, ayo pergi ke kamar mandi segera, cepat jangan biarkan perutmu semakin sakit" ucap tuan Wen.


Sela tersenyum sambil berpura-pura menahan sakit dia pergi ke dapur dan langsung mengambil jalan pintas kabur dari rumah tersebut lewat jalan belakang dan dia langsung saja memanjat dinding ke rumah kosong yang ada di sebelahnya untuk kabur dari sang ibu saat itu.


Tidak lama saat Sela baru saja meloncati benteng tersebut terdengar suara nyonya Choi yang berteriak sangat kencang karena mengetahui bahwa Sela sudah kabur dari rumahnya.


Padahal saat itu Sela sudah berada di halaman belakang rumah Akira namun teriakkan ibunya itu masih saja bisa terdengar olehnya saking kerasnya teriakkan itu, dan Sela kini tertawa cekikikan seorang diri sambil berjongkok di balik dinding tersebut karena dia senang berhasil meloloskan diri dari ibunya.


"Xixixixi.... Ahaha.. maafkan aku ibu, aku tidak bisa memberikan nilai ujian kenaikan kelas ku kepadamu, aaahhh aku yakin aku akan kena semburan emosi darimu jika aku tidak kabur, maafkan aku ibu hihihi" ucap Sela sambil terus tertawa pelan sendiri.


Sampai tiba-tiba dia merasakan pundaknya ada yang menepuk pelan, dan saat dia berbalik dia sangat kaget melihat Akira berada di belakangnya sambil membawa sebuah selang air dan tiba-tiba saja Akira mengarahkan selang air itu ke wajah Sela hingga membuat Sela langsung menutupinya dan berteriak menghentikan Akira.


"Kau?..a..a..aaaa.ahhh..heyy... hentikan apa yang kau lakukan.... Oyyy aku ini Sela heyy... Hentikan airnya!" Teriak Sela sambil berusaha menghentikan Akira yang terus menyemprotkan air itu ke wajahnya sampai membuat dia basah kuyup,


"Pergi kau pengusul, eughhh.... Rasakan itu" ucap Akira yang mengira bahwa Sela adalah penyusup ke rumahnya saat itu.


Mendengar hal tersebut Sela langsung meraih selangnya dan membantingkan selang air itu ke tanah lalu dia memegang wajah Akira dan menyuruh dia untuk membuka matanya agar bisa melihat wajah dia dengan jelas.


"Heyy.... Berhenti ada apa denganmu lihat ke sini baik-baik ini aku, aku Sela teman sekelas mu, hey... Ayo bukalah matamu!" Ucap Sela sedikit membentaknya karena Akira tidak membuka matanya juga.


Hingga setelah di bentak cukup keras oleh Sela barulah Akira perlahan mau membuka matanya dan melihat dengan jelas bahwa ternyata orang yang menyusup ke rumahnya adalah Sela teman sebangku dia di sekolah yang baru.


"KA...kau? Kenapa kau masuk ke rumahku dan bagaimana caramu bisa masuk ke sini, aku sudah mengunci pagarnya" ucap dia terlihat keheranan,


"Aku memanjat benteng itu" balas Sela sambil menunjuk ke benteng yang ada di sampingnya.


Akira menatap bentang yang cukup tinggi itu dan dia langsung menutupi mulutnya yang terbuka saking merasa kagetnya melihat benteng yang cukup tinggi tersebut, dia tidak menyangka bahwa wanita seperti Sela bisa memanjat benteng setinggi itu, dan dia masih terlihat baik-baik saja saat ini.


"A...a..AA..apa kau sungguh meloncat dari benteng itu?" Tanya Akira karena masih merasa tidak percaya,


"Iya tentu saja, kenapa memangnya apa kau tidak percaya yah? Kalau kau tidak percaya aku bisa menunjukkannya padamu, lihat ini baik-baik" balas Sela sambil segera berlari ke pagar rumah Akira yang sangat tinggi itu.


Dia memanjat pagar tersebut dengan sangat cepat hingga dia tiba-tiba saja sudah berada di luar rumah Akira dan dia tersenyum melambaikan tangan pada Akira saat itu juga.


"Hah.... Bagaimana apakah aku keren ahahaha tentu saja aku memang sudah keren seperti ayahku sejak kecil, ahh sudahlah aku tidak punya waktu melihat orang aneh sepertimu, sampai jumpa" ucap Sela sambil melambaikan tangan mengucapkan sampai jumpa pada Akira dan langsung pergi berlari dari sana dengan lincah tanpa terluka sedikitpun.


Akira masih diam termenung dan terus menatap ke arah dinding juga pagar rumahnya dia pun mendekati pagar itu dan memegang pagarnya dengan tangan yang gemetar cukup kuat karena dia masih merasa kaget tidak menduga, bisa melihat wanita yang memanjat dinding rumahnya dengan secepat itu bahkan dia masih bisa melihat Sela berlari sambil berjingkrak ria dan tersenyum lebar menatap kepadanya.


Itu membuatnya sangat kaget dan dia hanya bisa menatap itu dengan terperangah heran dan merasakan sulit menelan salivanya sendiri.