
"Ahhh...iya iya...aku akan pergi, kau ini hanya bisa mengancamku sama dengan Sela, kemana Anet yang dulu baik dan aku cintai kau sudah tidak menyukai aku lagi yah?" Balas Kiko yang malah membawa hal lain dalam masalah tersebut.
Anet sudah sangat geram dan kesal menghadapinya sampai dia hanya bisa merotasikan kedua matanya saking kesalnya pada Kiko yang keras kepala.
"Kiko kau akan pergi kau aku yang akan menendang mu dari sekolah ini?" Ucap Anet menatapnya dengan tajam sambil menghentakkan kakinya terlihat seperti tengah melakukan pemanasan untuk menendang Kiko saat itu.
Alhasil Kiko yang merasa takut dengan wajah Anet yang sudah sangat serius mengancam dia seperti itu dengan cepat dia pun langsung saja segera kabur dari sana tanpa banyak ber basa basi lagi.
"Ahhh...iya...iya..Anet kau ini sangat menyebalkan aku pergi....aku pergi sekarang" balas Kiko sambil langsung berjalan cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Anet juga segera mengikuti dia dan segera pergi juga dari tempat tersebut, sedangkan disisi lain Sela yang sudah berlari keluar dari sana lebih dulu untuk mengejar Akira dia sudah sampai di depan parkiran sepeda dan saat itu melihat Akira yang baru saja melepaskan kunci sepedanya juga hendak menaiki sepedanya tersebut.
Sela yang melihat itu langsung saja berlari lebih kencang dan berteriak memanggil Akira menyuruh dia agar berhenti.
"Aishhh...hey...Akira berhenti kau aku belum bicara padamu hey..." Teriak Sela sangat kencang sambil melambaikan tangannya menyuruh Akira untuk tidak pergi.
Namun sayangnya Akira tetap saja pergi dari sana dan dia mengabaikan teriakkan dari Sela, hanya menatap sekilas padanya dan langsung melanjutkan mengayuh sepeda miliknya itu dengan cepat pergi keluar dari gerbang sekolah.
Sela yang mihat itu dia langsung saja menggerutu sangat kesal dan dirinya di penuhi dengan emosi yang sangat menggebu sebab melihat Akira yang malah mengabaikan dirinya seperti itu, dan sungguh hal tersebut membuatnya marah besar.
"Akira sialan, awas kau aku tidak akan membebaskan mu awas kau sialan aaatrkkkhhhh!" Teriak Sela sangat keras dan terus saja merutuki Akira dengan sepuas dirinya.
Sela langsung kembali berlari berniat untuk mengejar Akira tapi sayangnya dia yang memiliki sedikit energi karena belum makan tidak bisa menyusul kecepatan Akira yang memakai sepeda hari itu, sehingga dia hanya bisa berhenti di tengah jalan mihat Akira terus melaju menjauh darinya hingga punggung pria tersebut sudah tidak terlihat di pandang oleh matanya.
"Aishh...hah...hah...hah...dasar si Akira sialan ini dia benar-benar membuat aku sangat kesal dan emosi sepanjang hari, sialan kau manusia aneh dan sangat menyebalkan!" Teriak Sela lagi samb berkacak pinggang dan mengatur nafasnya yang menderu saat itu.
Terlihat sekali dari raut wajahnya yang begitu kusut dan kacau bahwa Sela sangat marah kepada Akira saat itu, dia bahkan terlihat emosi sampai membuat wajahnya terlihat merah padam terbakar oleh api kemarahan di dalam dirinya yang gagal untuk dia salurkan kepada orangnya karena Akira berhasil kabur dari kejaran dia.
Sedangkan disisi lain Akira sendiri sebenarnya saat itu merasa cukup takut ketika dia mendengar teriakkan dari Sela terlebih ketika dia mulai melihat bahwa Sela mengejar dirinya, maka dari itu karena takut akan terkena amarah besar Sela, Akira lebih memilih untuk kabur dan menghindarinya, sebab sudah bisa di pastikan bahwa dirinya tidak mungkin bisa mengimbangi Sela ketika dia marah.
Jangankan saat marah saat biasa saja Akira terkadang merasa sangat tertekan dan kesulitan dalam menghadapi Sela, apalagi melihat Sela yang sangat marah besar kepadanya seperti itu, di tambah Akira sendiri yang sudah menyusun semua rencana mengenai Sela untuk menjadi asisten belajarnya, Akira menghindar dengan cara terbaik agar dia tetap aman namun masih bersikap seakan dia berpura-pura tidak mendengar teriakkan dari Sela saat itu.
Padahal kenyataanya, dia memang sangat takut bahkan saking takutnya dia mampu mengayuh sepeda lebih cepat dari yang biasa dia lakukan pada kesehariannya.
"Ahhh... akhirnya aku lolos juga dari monster menyeramkan itu, jika tidak habislah aku" gerutu Akira yang mulai menghentikan lajunya sambil meregangkan kakinya yang terasa pegal sebab sudah mengayuh seperti sangat kuat sebelumnya.
Dia sendiri tidak menduga jika dia harus melewati hari yang sangat konyol seperti ini bagi dirinya, dimana dia harus merasakan di kejar oleh seorang gadis seperti Sela yang sangat tomboi dan cukup menyeramkan di matanya saat itu.
Akira bahkan hampir beberapa kali terjatuh saat mengendarai sepedanya saat itu, saking ketakutannya oleh Sela yang terus mengejar dia dari belakang, itu sungguh pengalaman yang sangat menyebalkan dan membuat dia hampir mati kelelahan di buatnya.
Sampai saat ini saja di saat Sela sendiri sudah tidak mengejarnya lagi Akira masih tetap terus merasa ketakutan dan beberapa kali tetap menengok ke belakang karena berpikir Sela masih mengejarnya padahal saat itu Sela sendiri sudah tidak mengejarnya lagi karena dia sudah sangat kelelahan dan sudah tidak sanggup lagi untuk mengejar seorang Akira saat itu.
"Ah..hah..hah..hah...sepertinya dia memang sudah menyerah untuk mengejarku, syukurlah huuh" ucap Akira saat itu.
Dia yang kelelahan mengayuh sepedanya tersebut kini dia langsung saja turun dari sepedanya dan justru malah mendorong sepedanya sendiri karena betisnya mulai terasa sangat sakit sebab dia sudah mengayuh sepedanya sekuat tenaga sebelumnya.
Itu mungkin terlalu berat untuk seorang Akira yang sama sekali tidak pernah berolahraga apapun sebelumnya, bahkan dia sendiri selalu duduk di kamarnya tepat di depan laptop atau membaca buku sepanjang hari untuk mempertajam pengetahuannya.
Dia selalu merasa haus dengan pelajaran dan tidak ada satu hari pun tanpa membaca buku yang dia lakukan sepanjang waktunya selama ini, kedua orangtuanya yang selalu sibuk dengan bisnis juga pekerjaan mereka di luar negeri selalu membuat Akira kesepian seorang diri sebab tidak pernah memiliki waktu untuk berkumpul bersama dengan kedua orangtuanya walau hanya sebentar saja.
Terkadang itu membuat seorang Akira merasa sangat kesal sebab dia hanya tinggal sendiri sepanjang waktu, hanya di temani dengan seorang art di rumahnya yang bahkan jarang sekali bertegur sapa dengan dirinya, sebab Akira adalah tipe anak yang sangat tertutup dengan semua orang, dia tidak pernah berani untuk mengungkapkan isi hatinya kepada siapapun dan dia selalu saja diam memendam semua yang dia rasakan seorang diri tanpa ada siapapun di sampingnya yang bisa menemani dia.
Adapun ayahnya yang selalu mendukung semua yang di lakukan oleh Akira, sejak kecil di usia yang masih TK hingga dia menginjak sekolah dasar Akira selalu tinggal bersama sang ayah sebelumnya, dia juga selalu saja mengikuti kemana sang ayah pergi, sebab saat itu ayahnya tidak terlalu sibuk seperti ibunya, ayahnya hanya seorang pengrajin kramik biasa yang setiap hari pekerjaan bergelut dengan banyak kramik dan mencetaknya menjadi sebuah maha karya yang cukup bagus.
Tetapi sayangnya sang ibu tidak menginginkan hal tersebut, dia sama sekali tidak setuju dengan hal tersebut, hingga pertengkaran diantara pasangan suami istri tersebut terjadi, Akira hanya bisa berdiri di depan pintu kamarnya menyaksikan ayah dan ibunya berdebat memperebutkan siapa yang akan menjaga dirinya juga siapanyang akan bekerja, sedangkan keduanya memilih untuk terus bekerja di bandingkan tinggal di rumah dan menemani dia dalam belajar juga dalam melakukan banyak hal.
Sehingga hal tersebut sangat mengganggu bagi Akira dia sangat tidak bisa menerima atau melihat terus menerus kedua orangtuanya bertengkar dan berdebat setiap kali mereka bertemu, padahal Akira sendiri mengerti bahwa mungkin mereka lelah setelah pulang bekerja satu sama lain tetapi bukannya menyiapkan makan untuknya atau memberikan pelukan kepadanya, mereka justru malah terus bertengkar dan hal tersebut terus terjadi dari tahu ke tahun.
Saat Akira semakin tumbuh dia mulai berani untuk berbicara dengan kedua orangtuanya dan meminta mereka berdua untuk tidak berdebat atau bertengkar lagi di hadapannya, tetapi sayangnya mereka justru malah langsung pergi meninggalkan dia seorang diri di depan ruang tengah.
"Mah...pah...sudah cukup apa yang membuat kalian terus bertengkar seperti ini, aku bisa hidup sendiri jika kalian menyukai pekerjaan kalian bekerjalah sesuai dengan apa yang kalian inginkan, tapi jangan berdebat di hadapan aku lagi, sekarang aku sudah dewasa aku bukan anak TK Atau seorang siswa sekolah menengah lagi!" Bentak Akira kepada kedua orangtuanya.
Sejak saat itu Akira memutuskan untuk tinggal sendiri, dan memilih berpisah dengan kedua orangtuanya, sampai kedua orangtuanya juga justru malah memilih berpisah satu sama lain dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lagi diantara mereka berdua, itu sangat memukul dan begitu menyakitkan bagi seorang Akira, tetapi dia yang merupakan seorang anak laki-laki dia merasa dirinya tidak pantas untuk sedih dan menangis, sebab ibunya juga sering melarang dia untuk tidak menangis hanya karena dia seorang anak laki-laki.
Sejak kedua orangtuanya memilih bercerai, Akira di bawa oleh sang ibu kembali ke rumah lama mereka yang saat ini mereka tinggali, sedangkan sang ayah masih tinggal di luar negeri sampai saat ini, Akira sama sekali tidak pernah menghubungi ayahnya ataupun ibunya, meski dia merasa sang ayah adalah orang yang lebih banyak memperdulikan dia di bandingkan dengan ibunya yang sama sekali lebih mirip seperti orang asing bagi dirinya.
Tetapi walau begitu Akira tetap menghormati sang ibu, dia tetap membalas jika sang ibu menghubunginya lebih dulu atau ketika sang ibu mengajak dia untuk bicara, tetapi dia hanya membalasnya dengan seperlunya saja, tidak pernah berkata lebih atau kurang, dia tumbuh menjadi Akira yang seperti saat ini, Akira yang dingin misteri dan penuh dengan sisi yang gelap saat ini, hingga semua orang terlihat seperti menjauhinya padahal dia sama sekali tidak menginginkan semua kesepian yang dia rasakan saat ini.
Dia hanya memilih sendiri untuk bisa merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian di dalam dirinya sebab suara di luar sudah sangat riuh, dan semua perdebatan diantara kedua orang tuanya sering sekali menjadi sebuah mimpi buruk bagi dirinya ketika di tengah malam.
Seperti saat ini ketika Akira baru saja pulang ke kediamannya dia melihat gerbang rumahnya sudah terbuka dan sebuah mobil terparkir dengan rapih di halaman rumahnya saat itu.
Dia hanya menghembuskan nafas dengan kasar karena dia sudah tahu bahwa itu adalah mobil ibunya dan ini adalah kali pertamanya sang ibu datang ke rumah tersebut semenjak mereka pindah ke kota tersebut.
Bahkan ibunya sama sekali tidak membantunya untuk mendaptarkan diri ke sekolah, ibunya hanya mendaftarkan dirinya lewat sebuah panggilan telpon saja kepada pihak sekolah lalu dia mengirimkan uang yang banyak untuk kebutuhan Akira di sekolah barunya.
Padahal yang Akira inginkan sebenarnya dia ingin ibunya datang langsung ke sekolah mengantarkan dia dan mendaftarkan dirinya secara langsung ke sekolah barunya dia ingin semua orang tahu bahwa dia memiliki seorang ibu, dan dia ingin semua orang tidak lagi melihatnya sebagai seseorang yang menyeramkan dan misterius.
Dia ingin di akui oleh semua orang dan dia ingin memiliki keluarga yang lengkap layaknya anak lain pada umumnya yang sering dia temui dan mendapatkan banyak perhatian juga kasih sayang dari kedua orangtuanya tersebut.
"Huuuhh....untuk apa dia datang ke rumah ini" gerutu Akira dengan wajahnya yang datar dan keringat bercucuran di dahinya.
Dia segera menaruh sepeda tersebut di samping mobil ibunya lalu segera masuk ke dalam rumah dan melihat ibunya sudah memasak banyak makanan di atas meja dia juga menyambut kepulangan Akira dan mengajaknya untuk makan siang bersama saat itu.
"Aahhh ....sayang kamu sudah pulang yah, kenapa tidak menekan bel?" Ucap sang ibu terlihat menyapa Akira saat itu.
Akira sama sekali tidak memperdulikan dia dan hanya menatapnya sekilas lalu menganggukkan kepalanya.
Dia segera melepaskan sepatunya dan mengganti menggunakan sendal di rumahnya, dia segera pergi langsung ke kamarnya saat itu, bahkan dia tidak ber basa basi sedikitpun dengan ibunya.
"Aku akan mandi" ucap Akira bicara pada ibunya sangat singkat dan padat.
Dia langsung saja masuk ke dalam kamar menaruh tasnya begitu saja dan langsung mandi dengan cepat, sedangkan ibunya menatap dengan heran untuk beberapa saat lalu hanya bisa menghembuskan nafas lesu mihat sikap anak kesayangannya yang semakin hari justru semakin tertutup kepada dirinya termasuk kepada dunia luar.
"Huuu....kapan kamu akan sembuh dari penyakitmu jika kamu terus saja bersikap sedingin itu bahkan kepada ibumu sendiri Akira" gerutu sang ibu sambil membereskan makanan diatas meja.
Hingga tidak lama Akira keluar dari kamarnya dan langsung saja duduk di depan meja makan berhadapan dengan sang ibu, dia hanya makan makanan yang higenis dan terjamin kebersihan sebab penyakit yang dia derita selama ini.
Ibunya segera mengambilkan nasi untuk Akira dengan cepat, sambil segera memberikannya kepada putra tunggalnya tersebut.
"Aahh....sini biar ibu ambilkan nasi untukmu, kau harus makan dengan banyak agar tubuhmu bisa agak berisi, ini lauk kesukaanmu sup ikan dengan sedikit saus asam manis" ucap sang ibu sambil menyajikan makanan itu pada Akira.
Akira hanya diam saja dan makan dengan cara yang baik, dia selalu melakukan semuanya dengan teliti juga hati-hati bahkan sebelum makan dia harus membersihkan sumpit yang dia pakai dengan sebuah tisyu basah yang sudah di berikan pembersih anti kuman terlebih dahulu, barulah dia bisa menggunakannya.