
Walau memberikan kesempatan terakhir kepada nyonya Choi, ibu Yuni tetap merasa kesal dan dia terus memasang wajah yang datar dengan mengeratkan giginya menahan kekesalan di dalam dirinya, dia pun segera berpamitan pergi kepada nyonya Choi selaku ibunya Sela saat itu.
"Baiklah nyonya Choi saya akan melihat perkembangan Sela kepedapnya dan terimakasih atas waktumu" ucap ibu Yuni sambil langsung pergi dari rumah itu.
Nyonya Choi juga segera berjalan mengantar ibu Yuni hingga ke depan rumah dan dia terus bersikap ramah dan baik kepada ibu Yuni walau pada kenyataannya dia sangat merasa malu saat itu.
"Aahh... Silahkan ibu Yuni, terimakasih atas perhatian anda hati-hati di jalan" ucap nyonya Choi hingga melihat ibu Yuni pergi dengan mobilnya sendiri.
Nyonya Choi terus merasa panas dengan dirinya dan dia tidak bisa menahan kekesalannya kepada Sela, saat dia masuk ke dalam rumah dia langsung berteriak sangat kencang melampiaskan emosi yang sudah dia tahan sejak lama.
"Atrrkkkjhhh....." Teriak nyonya Choi yang sangat menggelegar hingga membuat suaminya langsung mendatangi dia dengan tatapan mata yang kaget.
"Sayang ada apa denganmu, sudahlah jangan terlalu di pikirkan dan kau juga jangan terlalu menekan Sela dia masih anak-anak, wajar jika dia sedikit nakal seperti ini" ucap tuan Wen sambil memeluk istrinya tersebut.
Walau begitu kali ini perkataan dari tuan Wen tidak bisa menahan ibu Sela lagi dan dia langsung melepaskan pelukan dari tuan Wen lalu berbicara dengan tegas terhadapnya.
"Maafkan aku, tapi kali ini anak itu sungguh harus mendapatkan pelajaran berharga dariku, ibu tidak bisa terus melindungi dia di rumahnya, aku harus membawa dia kembali ke rumah ini dan biar aku yang mendidiknya dengan benar" ucap nyonya Choi yang langsung saja pergi ke kamarnya mengambil tas jinjing lalu segera keluar dari rumah.
Tuan Wen panik melihat itu dan dia berusaha untuk menahan istrinya sebab dia tahu bahwa saat itu istrinya tengah di kendalikan oleh emosi yang meledak-ledak sehingga tuan Wen takut itu justru akan menyakiti Sela.
"Sayang ayolah jangan seperti itu, kau tenangkan dirimu dahulu, setidaknya kau jangan mendatangi dia dalam keadaan penuh emosi seperti ini, semua masalah tidak akan bisa di selesaikan hanya dengan emosi sayang" ucap tuan Wen berusaha menahannya,
"Tidak bisa! Anak itu benar-benar telah melampaui batas kesabaranku, aku harus memberinya pelajaran kali ini!" Ucap nyonya Choi yang masih saja tidak dapat di kendalikan atau pun di tahan oleh tuan Wen.
Nyonya Choi langsung pergi begitu saja menggunakan mobilnya dengan cepat dan meninggalkan tuan Wen yang berteriak menahannya hingga tuan Wen pun segera menghubungi telpon neneknya Sela untuk memberitahu kabar ini, namun sayangnya panggilan tersebut tidak bisa tersambung meski tuan Wen sudah menghubunginya berkali kali.
"Ohhh.... Sela angkatlah telponnya kau dalam bahaya sekarang, Sela....kemana kau ini aaahhh" ucap tuan Wen dengan kesal dan dia terus merasa tidak karuan.
Karena telponnya sulit tersambung terpaksa tuan Wen harus segera menyusul istrinya tersebut, karena dia mencemaskan Sela, dia juga takut istrinya akan melakukan hal yang terlalu keras kepada putri sambungnya tersebut sehingga saat itu juga tuan Wen langsung saja berlari menghentikan taxi dengan cepat lalu dia menyuruh supir taxi untuk melajukan kendaraannya dengan cepat menuju rumah ibu mertuanya tersebut.
Disisi lain Sela yang tengah asik menikmati sup daging kesukaannya sambil menonton serial gulat di televisi dia terus saja asik sendiri, sehingga saat itu dia tidak mendengar telpon yang berdering beberapa kali di dekatnya saat itu, dia terlalu fokus menonton tv sampai mengabaikan panggilan yang masuk ke dalam ponselnya karena dia pikir itu adalah hal tidak penting sebab tidak ada yang menghubungi dia untuk hal penting sejauh ini.
Sedangkan sang nenek saat itu tengah berada di dapur dan mencuci pakaian sehingga dia juga tidak mendengar dering ponsel milik Sela yang terus saja bersuara sampai tidak lama tiba-tiba saja nona Choi tiba di rumah itu dan membuka pintu dengan keras hingga membuat Sela kaget dan dia langsung terperanjat berdiri.
"Ohh .. astaga ibu? Ada apa kau tumben sekali datang ke rumah nenek?" Tanya Sela dengan wajah yang polos dan tidak tahu apapun saat itu.
Nyonya Choi langsung berjalan sambil menatap tajam ke arah Sela dan dia langsung menjewer telinga Sela dengan keras sambil menariknya untuk membawa dia keluar dari rumah itu dan kembali ke kediamannya bersama sang ibu.
"Ayo ikut denganku kau harus tinggal berasama ibumu bukan menyusahkan nenekmu disini, ayo pulang Sela!" Ucap nyonya Choi memaksanya,
"Aaahhh.... Ibu ini sakit lepaskan kau tidak perlu menarik kupingku aaahhh nenek tolong aku!" Teriak Sela meminta tolong pada neneknya,
"Ayo pulang Sela kau tidak bisa terus bersembunyi di balik nenekmu kau sudah dewasa sekarang!" Bentak nona Choi yang masih saja menari kuping Sela dan tangannya dengan kuat.
Sampai tidak lama sang nenek tiba disana dan dia sangat kaget saat melihat cucuk kesayangan dia satu-satunya tengah ditarik dengan paksa oleh ibunya sendiri, dia pun langsung datang menghampiri nyonya Choi yang saat itu tengah menarik tangan dan kuping Sela dengan paksa dan cukup keras.
Nenek langsung menepuk tangan nyonya Choi beberapa kali dengan keras hingga tangan nyonya Choi melepaskan jewerannya pada telinga Sela dan melepaskan tangannya jug, Sela pun langsung bersembunyi di balik tubuh sang nenek.
"Astaga... Choi apa yang kau lakukan pada cucuk kesayanganku, buk....buk...buk... Lepaskan dia aishhh kau menjewer telinganya seakan dia ini bukan manusia, kau benar-benar ibu yang buruk!" Ucap sang nenek menegur nyonya Choi saat itu.
Nyonya Choi yang masih di penuhi emosi dia langsung meminta ibunya tersebut untuk membiarkan Sela ikut dengannya dan meminta ibu mertua yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri tersebut untuk tidak memanjakan Sela lagi.
"Bu ayolah kau jangan melindungi dia lagi, dan jangan mendukung anak itu terus, jika kau terus melindunginya dan membela dia dariku, dia tidak akan pernah tumbuh dia akan terus menjadi anak nakal yang pemalas dan mendapatkan nilai yang jelek sepanjang sejarah sekolahnya!" Bentak nyonya Choi yang sudah sangat kesal dalam menghadapi Sela.
"Kau berani membentak aku Choi, aku ini ibumu apa kau tidak menghormati aku hah?" Balas sang nenek membentaknya lebih keras lagi.
Nyonya Choi pun langsung berusaha mengatur nafasnya dengan benar dan dia segera meminta maaf kepada sang ibu sebab sudah melewati batasnya.
"Haaahhh.... Maafkan aku ibu, tapi semua ini aku lakukan demi kebaikan dirinya sendiri, Sela harus sekolah dan belajar dengan benar sekalipun dia membenci pelajaran, dia masih sekolah menengah atas Bu, dia harus memiliki masa depan yang cerah dan dia harus kuliah" ucap nyonya Choi menjelaskan.
Sela langsung membalas perkataan ibunya itu karena memang sejak awal dia tidak menginginkan untuk sekolah di tempat tersebut ataupun masuk ke perguruan tinggi nantinya, dia hanya ingin menjadi atlet lari jarak jauh atau maraton seperti ayahnya.
"Tidak Bu, aku tidak akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi itulah kenapa aku tidak pernah belajar, aku ingin menjadi atlet seperti ayahku, aku tidak ingin menjadi seperti ibu yang bekerja di kantoran dan terikat dengan waktu juga kontrak yang menyebalkan, aku ingin menjadi atlet yang sehat, bebas dan bugar. Tolong biarkan aku menikmati hidupku sendiri" balas Sela dengan keras dan dia langsung berlari menaiki tangga masuk ke dalam kamarnya lalu langsung mengunci kamarnya tersebut.
Nyonya Choi semakin kesal melihat Sela yang terus saja membangkang kepadanya, dia hendak mengejar Sela saat itu namun neneknya menahan dia dan untung suaminya juga datang tepat waktu untuk menahan tangan istrinya agar tidak mendesak Sela lagi dengan kekasaran.