
Vivi terlihat begitu senang menyambut kedatangan Sela saat itu, dia langsung saja membawa Sela untuk duduk di sofa secepatnya dia terus berjingkrak heboh sendiri dan terus tertawa riang, Sela juga hanya bisa menuruti gadis kecil itu saja, dia terus menuruti semua keinginan Vivi dan saat itu juga Jeromi langsung menghentikannya karena dia tahu bahwa Sela mungkin akan lelah setelah berjalan dan melalui perjalanan cukup lama dengan dia untuk sampai ke tempatnya saat ini.
"Vivi sudah jangan terus meminta kak Sela bermain denganmu, dia harus tidur, dia sudah lelah, bermainnya lanjut besok saja ya," ucap Jeromi kepada Vivi.
"Baiklah tapi aku ingin tidur dengan kak Sela paman, kamu tolong ijinkan itu ya, kak Sela tidur di kamarku saja, ranjangku besar aku hanya ingin tidur dengannya," ucap Vivi sambil memeluk Sela dengan erat.
"Itu kamu tanyakan saja pada kak Sela, paman pergi ke atas duluan," ujar Jeromi yang langsung berpamitan pergi menaiki tangganya.
Dia sengaja melakukan itu dan ingin memperhatikan bagaimana perlakuan Sela kepada Vivi di belakangnya sebab dia juga tidak bisa mempercayai orang asing dengan begitu mudahnya untuk tinggal di rumah dia dan dekat dengan Vivi sekalipun itu adalah Sela, orang yang pernah menolongnya ketika kehilangan Vivi.
Namun saat dia memperhatikan Sela diam-diam rupanya Sela justru malah terlihat lebih baik dan lembut dalam memperlakukan Vivi ketika tidak ada dirinya disana, sedangkan ketika ada dia Sela lebih banyak diam, itu juga yang menjadi alasan mengapa Jeromi mencurigai Sela sebab sikapnya di hadapan dia cukup tidak membuat dia yakin.
"Kak Sela mau tidur di kamarku kan? Aku selalu tidur sendiri, sekarang ada kakak, aku merasa memiliki kakak sungguhan kamu harus tidur denganku!" Ucap Vivi yang sudah memutuskan semuanya sendiri padahal Sela sendiri belum menjawabnya.
"Eehh ...haha..kau sudah memutuskannya sendiri, dasar kau ini, aku tidak bisa menolaknya gadis kecil, kau sepertinya sama seperti aku waktu kecil, kita sama-sama keras kepala, ayo dimana kamarmu kamu sudah mengantuk kan," ucap Sela sambil menggendong Vivi saat itu.
Vivi juga langsung menunjukkan kamarnya dan setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar barulah Jeromi pergi dan sudah mempercayai Sela, dia tidak perlu mencemaskan apapun lagi tentang Vivi karena sudah melihat dan membuktikannya secara langsung bahwa Sela memang orang baik dan memperlakukan Vivi dengan baik juga entah dihadapan dia ataupun di belakangnya selama ini.
"Sepertinya memang aku aja yang terlalu banyak berpikir mencemaskannya, dia benar-benar orang baik, senang rasanya Vivi bisa menjadi ceria seperti ini lagi," gerutu Jeromi sambil pergi ke kamarnya saat itu juga.
Sela tidur dengan Vivi malam itu, dia bahkan terus menceritakan sebuah dongeng putri salju kesukaan Vivi saat itu hingga Vivi tertidur lebih dulu.
Barulah Sela bisa ikut tidur juga saat itu, dia merasa Vivi lebih menyayangi dan menganggap keberadaan dia dibanding dengan ibu kandungnya sendiri.
Malam sudah berlalu Sela bangun lebih pagi dia menyiapkan sarapan untuk Vivi dan tuan Jeromi, mau bagaimana pun dia harus menempatkan dirinya dengan baik karena tinggal di rumah orang lain sehingga dia harus sadar diri dan setidaknya tidak membebani mereka atas semuanya.
Sampai ketika Sela baru saja selesai menyajikan makanan diatas meja Vivi tiba-tiba berlari keluar dengan kencang sambil memanggil namanya berkali kali.
"Kak Sela....kak..Sela dimana kau...kak Sela!" Teriak Vivi saat itu.
Sela yang mendengarnya dia segera datang menghampiri Vivi dan memanggilnya sambil berjongkok menghadap kepada Vivi dan menanyakan keadaannya saat itu, namun Vivi langsung saja memeluk Sela seakan dia sangat takut untuk kehilangan sosok Sela saat itu, padahal Sela juga tidak pergi kemanapun.
"Vivi ada apa?" Tanya Sela memegangi wajahnya.
"Kak Sela aku pikir kamu sudah pergi, aku tidak mau kak Sela meninggalkan aku, kak Sela harus terus tinggal denganku, kak Sela harus disini terus," ucap Vivi sambil memeluk Sela saat itu.
Sela pun segera menenangkannya dia terus saja mengusap lembut kepala Vivi berkali kali dan menepuk pelan punggungnya agar Vivi bisa lebih tenang lagi, Sela juga berbicara menjelaskan kepada Vivi tentang dirinya yang tidak pergi kemanapun saat itu, dia terus saja menjelaskan kepada Vivi dengan lembut dan secara baik-baik.
"Vivi sayang, kakak tidak pergi kemanapun kakak hanya menyiapkan sarapan untuk Vivi, dan Vivi kakak tidak bisa jika harus terus tinggal dengan Vivi kak Sela tidak bisa berjanji kepada gadis cantik seperti Vivi tentang hal yang kakak tidak bisa menepatinya, tapi Vivi jika untuk menjadi teman dan kakak bagi Vivi, kak Sela akan berusaha untuk terus menjadi kakak yang baik untuk Vivi, Vivi jangan sedih lagi oke." Ucap Sela menjelaskannya dengan sangat lembut dan baik.
Untungnya Vivi langsung mengangguk mengerti, dia langsung saja tersenyum sangat lebar kepadanya dan dia terus menatap penuh sayang kepada Sela saat itu, Sela juga segera membawanya pergi ke dapur dan membantu Vivi duduk di kursi lalu memberikan seporsi nasi goreng kepadanya yang sudah Sela buatkan.
"Vivi apa Vivi bisa memakan nasi goreng atau ada makanan lain yang tidak bisa Vivi makan?" Tanya Sela memastikannya.
"Tidak ada Vivi makan semuanya," balas Vivi sambil tersenyum lebar.
Dia langsung saja mengambil nasi itu dengan sendok dan langsung melahapnya dengan sekaligus, namun saat masuk ke dalam mulutnya Vivi justru malah kepanasan padahal Sela sudah memberitahunya bahwa nasi goreng itu masih agak panas namun Vivi malah tidak sabaran hingga kini dia harus kepanasan di dalam mulutnya.
"Aahh..panas...kak..ini panas sekali," ucap Vivi sambil mengipasi mulutnya sendiri dengan kedua tangan.
Sela tertawa kecil melihat kelucuan Vivi saat itu dan dia pun segera mengambil makanan itu dari Vivi lalu meniupinya dan menyuapi Vivi untuk makan bersama dengan dia sekaligus.
"Ahaha..Vivi kamu lucu sekali, sudah sini biar kakak tiupkan untukmu, aaaa..ayo makan kakak sekaligus suapi kamu saja oke," ucap Sela sambil terus meniupi nasi gorengnya dan memberikan suapan demi suapan kepada Sela saat itu.
Sedangkan disisi lain tuan Jeromi sebenarnya sudah cukup lama memperhatikan Sela secara diam-diam, melihat Sela yang memperlakukan Vivi dengan sangat baik dan penuh dengan kesabaran padahal tuan Jeromi tahu bahwa sebelumnya Sela terlihat begitu kasar, juga seperti wanita tomboi yang keras kepala, tetapi dengan anak kecil dia berubah drastis menjadi sangat baik dan lembut, dia memperlakuka Vivi sangat baik sekali sampai membuat tuan Jeromi kagum melihatnya.
Tuan Jeromi segera menghampiri Sela dan dia juga ikut bergabung untuk sarapan dengan Sela dan Bibi di meja makan, lalu mereka segera pergi dan Sela ditawarkan untuk diantar oleh tuan Jeromi saat itu, namun dengan cepat Sela menolaknya karena dia tidak mau jika sampai teman-temannya mengetahui mengenai tuan Jeromi juga Vivi.
"Sela ayo masuk aku antarkan kamu ke sekolah," ujar tuan Jeromi saat itu.
"Aahhh...tidak usah kak, aku bisa pergi ke sekolah sendiri," balas Sela menolaknya.
"Kak Sela ayo naik, aku tidak mau kamu harus ke sekolah naik bus sendirian, ayo kak...ayo," ucap Vivi menarik tangan Sela dan membawanya segera masuk ke dalam mobil.
"AA..ahh.. baiklah-baiklah," balas Sela yang terpaksa harus mengabulkannya karena dia tidak bisa menikah Vivi saat itu.
Selama di perjalanan Sela terus saja merasa cemas dan tidak karuan, dia sangat khawatir jika nanti akan bertemu ataupun berpapasan dengan Anet ataupun Kiko, dia takut kedua sahabatnya itu akan mengetahui tentang dirinya, walaupun Sela sudah mempersiapkan diri untuk menceritakan semua ini kepada mereka berdua tetapi tetap saja Sela tidak ingin tertangkap basah oleh mereka seperti itu.
Hingga sesampainya disana benar saja, saat itu Sela melihat Kiko dengan Anet yang berjalan hendak masuk ke gerbang sekolah dan dengan cepat Sela merindukan kepalanya ke bawah dia terus menunggu di dalam mobil hingga kedua temannya masuk saa itu, barulah dia keluar dari sana setelah memastikan mereka sudah pergi.
Sedangkan tuan Jeromi sendiri yang melihat Sela cukup aneh dia mulai menanyakannya.
"Aishh..sial mereka ada, aahh untung saja mereka hanya lewat," batin Sela merasa lebih tenang saat itu.
"Sela ada apa? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya tua Jeromi kepadanya.
"Aahh..ahhhh aku baik-baik saja kak, kalau begitu aku akan pergi sekarang, Vivi kakak pergi dulu ya, bye...bye," ucap Sela sambil melambaikan tangan pada Vivi.
Sela merasa sangat lega karena dia pikir sudah tidak ada siapapun yang mengetahui hal itu, namun nyatanya dia salah ketika mobil tuan Jeromi pergi muncul Akira di baliknya yang menatap tajam kepada Sela dengan kedua tangan yang dia lipatkan di depan dadanya saat itu.
Sela bahkan sampai kaget melihat kemunculan Akira yang seperti mahkluk halus seperti itu, tiba-tiba saja muncul di sebrang jalan dengan mengenakan sweater hitam dan menatap tajam kepadanya, menggunakan gaya yang sangat menyeramkan da terkesan seperti orang yang misterius juga sulit di dekati.
"Astaga.... Ahhh.... Apa itu Akira? Kenapa dia bisa tiba-tiba muncul disana? Ya ampun apa dia mengetahui hal tadi kalau aku diantarkan oleh kak Jeromi lagi, aahh aku harus cepat pergi dan menghindarinya dengan cepat," gerutu Sela sambil segera berbalik dan hendak pergi dari sana.
Akira hanya terus memperhatikannya dan mengikuti Sela dari belakang sambil berjalan mengikuti irama Sela sendiri saat itu sampai Sela yang berjalan dengan cepat karena dia takut untuk menghadapi Akira dia tidak fokus menatap ke depan dan malah menabrak Aril dengan cukup kuat sampai membuat dia terpeleset dan Aril langsung menahan tubuh Sela dengan cepat dan refleks saat itu.
"Aahh..sial kenapa dia malah mengikutiku seperti ini sih, apakah dia hantu atau penguntit?" Gerutu Sela sambil terus menoleh ke belakang menatap pada Akira berkali-kali degan penuh kecemasan yang tidak menentu.
Sampai Aril baru keluar dari salah satu kelas disana dan malah bertabrakan dengan Sela, sampai Seka terpeleset, namun Aril berhasil menahan tubuhnya, itu membuat Sela kaget dan dia terperangah mematung menatap pada wajah Aril saat itu sedangkan Akira yang melihat posisi itu dia benar-benar sangat kesal dan marah, langsung saja dia berjalan melewati Sela dengan menyenggol mereka berdua sampai membuat Aril tidak sengaja malah melepaskan tangannya dan pada akhirnya tetap membuat Sela jatuh tergeletak di lantai cukup kuat.
"Aaahhhh....brukk...aishh..Akira kau sialan, hei...kemana kau jangan pergi aaahh b*kongku sakit sekali." Teriak Akira dengan sangat kencang sambil terus memanggil Akira.
Sela sama sekali tidak memperdulikan Aril yang sepat menahan tubuhnya saat itu, dia langsung saja bangkit berdiri dan mengabaikan Aril yang saat itu hendak membantunya berdiri, bahkan Sela seperti tidak menyadari keberadaan Aril di tempat tersebut, hingga membuat Aril sangat kesal kepadanya dan dia semakin bersemangat untuk mendekati Sela sebagai taruhannya.
"Akira tunggu kau, Akira!" Teriak Sela sambil berlari kecil menyusulnya saat itu.
Sedangkan Aril menatap tajam pada kepergian Sela yang mengabaikan dia saat itu, Aril juga menyimpan kekesalan kepadanya.
"Hah...berani sekali dia mengabaikan aku setelah aku menolong dia sebelumnya, awas saja kau, aku akan menaklukanmu bagaimana pun caranya, lalu akan aku permalukan kau di hadapan semua orang, agar kau tahu bagaimana rasanya di posisiku saat ini," ucap Aril sambil menyipitkan matanya dan sebuah senyum sinis tergambar di wajahnya saat itu.
Sela sama sekali tidak menyadari hal tersebut dan dia malah terus saja mengejar Akira sampai masuk ke dalam kelas dan duduk di samping Akira sambil menggebrak meja dengan keras dan membelakkan matanya sangat lebar dan nafas yang terengah-engah saat itu karena dia habis berlari mengejar Akira.
"Brak!" Suara gebrakan meja yang di tepuk dengan kuat oleh Sela saat itu, bahkan Anet da Kiko yang melihatnya justru malah ikutan kaget.
Hanya Akira yang masih saja terlihat santai dan tenang padahal terlihat dengan jelas bahwa Sela begitu emosi kepadanya saat itu.
"Wahh ..Sela ada apa denganmu, datang-datang kau langsung marah seperti itu, apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Kiko sambil merangkul Sela dari belakang saa itu.
Sela langsung melepaskan rangkulan dari Kiko dan Akira juga menoleh ke arah Kiko sambil memberikan tatapan yang sangat tajam sama dengan tatapan tajam dari Sela sebelumnya, itu membuat Kiko merasa terancam dan malah dia yang mendapatkan tatapan tajam seperti itu dari keduanya, padahal dia rasa dia hanya bertanya saja pada Sela.
Sedangkan Akira menatap seperti itu karena dia sangat benci melihat Kiko yang selalu merangkul Sela seenaknya, dan menggandeng tangannya begitu sering, sehingga melihat Kiko yang merangkul Sela saat itu, langsung saja membuat Akira sangat jengkel sampai dia tidak bisa menahan dan menyembunyikan kekesalan dalam dirinya.
"Beraninya dia merangkul Sela di depan mataku!" batin Akira yang menggebu dengan emosi.