Love In High School

Love In High School
Menjaga Akira



Sela tidak bisa merasa tenang sama sekali dia terus saja berdiri dan berjalan mondar mandir di depan pintu masuk kamar mandi pria saat itu bahkan ada beberapa pria yang baru saja keluar dari sana dan mereka di kagetkan karena keberadaan Sela di depan kamar mandi pria menghalangi jalan keluar mereka saat itu.


"Astaga...apa yang kau lakukan disini apa kau tidak lihat ini kamar mandi pria, kau mau mengintip ya?" Ucap salah satu pria yang baru saja keluar dari sana dan hampir menabrak Sela saat itu,


"Bodoh...untuk apa aku mengintip pria konyol sepertimu, aku sedang menunggu temanku yang sakit dia ada di dalam, jadi aku mengkhawatirkan dia, bukan kau...minggir kau" ucap Sela dengan keras.


Pria itu pun segera pergi dari sana secepatnya masih dengan menggerutu tidak jelas kepada Sela sedangkan tidak lama akhirnya Akira keluar dari kamar mandi tersebut dan Sela langsung saja melihat keadaannya hampir saja saat itu Sela hendak memegang tubuh Akira lagi namun dia masih bisa cepat tersadar dan menahan tangannya.


"Aishh.....aaaahh...maafkan aku Akira aku selalu lupa dengan masalahmu itu, tapi kau baik-baik saja kau kau tidak akan melakukan hal konyol seperti sebelumnya bukan?" Ucap Sela sambil menatap menyelidiki Akira saat itu.


Akira sama sekali tidak membalas ucapan dari Sela dan dia terus saja berjalan melewati Sela menghindarinya dan segera pergi menuju kelas sedangkan Sela sendiri terus berlari kecil mengikuti Aliran dari belakang karena dia masih mencemaskan hal itu.


"Akira...hey...Akira tunggu, ada apa dengan anak itu apakah dia benar-benar sudah gila ya, aneh sekali...Akira..." Teriak Sela terus mengejarnya.


Anet dan Kiko yang baru saja keluar dari kantin mereka juga melihat bagaimana Sela terus mengejar Akira hingga masuk ke dalam kelas dan itu adalah pertama kalinya Anet dan Kiko melihat Sela dengan gelagat sangat berbeda jauh dengan sikap dia yang mereka berdua kenali, alhasil Anet dan Kiko langsung saja mengikuti Sela dan menghampirinya tepat ketika Sela sampai di kelas dan mulai duduk di kursinya dengan lemah karena sudah lelah terus berlari mengejar Akira seharian ini.


"Braaahhhh....astaga...ini sangat melelahkan aishh....aku benci sekali mihat wajahmu itu, tidakkah kau tahu aku terus mengejarmu dan mencari kau kesana kemari aaarrghhhh...kau sangat menjengkelkan!" Ucap Sela mengerutkan merasa sangat kesal sendiri saat melihat wajah Akira di sampingnya.


Kiko segera menghampiri Sela dan dia memberikan minuman rasa mangga yang begitu segar pada Sela tepat di depan mejanya saat itu, karena Kiko tahu bahwa Sela terlihat sangat kehausan sekali.


"Ini minum....kau pasti lelah kan, sampai keningmu bercucuran keringat seperti itu" ucap Kiko pada Sela.


Saat menoleh dan melihat ada minuman rasa mangga yang dingin dan segar, Sela tidak bisa menahannya lagi, dia langsung saja merampas minuman itu dengan cepat dan segera membukanya dan meminum minuman itu hingga habis setengah botol sekaligus, Sela juga terlihat sangat senang sekali karena dia bisa menikmati minuman yang super segar secara gratis seperti itu dari Kiko.


"Aaaahhh....Kiko terimakasih banyak kau memang yang sangat royal padaku, ini menyegarkan sekali hehe...." Balas Sela sambil tersenyum lebar pada Kiko saat itu.


"Tentu saja, aku ini kan sahabatmu tapi kau menjadi lebih jauh dari aku dan Anet semenjak menjadi asisten belajarnya teman sebangkumu itu" balas Kiko dengan wajahnya yang tidak menyukai Akira.


Begitu pula dengan Anet dia juga terlihat sedikit kesal pada Sela sebab sudah tidak memiliki banya waktu lagi untuk mereka bertiga sejak adanya Akira, apalagi ketika Akira sudah menjadi partner belajarnya Sela, itu membuat Anet cukup kesal di buatnya dan dia merasa iri sebab Akira lebih memiliki banyak waktu dengan Sela di bandingkan dirinya.


"Sela apa yang dikatakan oleh Kiko benar, kamu sudah tidak memiliki waktu lagi untuk kami berdua, itu membuatku kesal" balas Anet membuat Sela membuka matanya dengan lebar.


"Eehhh...ada apa dengan kalian berdua aku sama sekali tidak seperti itu, kalian kan tahu ini hanya sampai ujian kenaikan kelas dan olimpiade dia selesai, aku akan terbebas saat itu, lagi pula setelah aku pikirkan lagi aku memang membutuhkan si jenius ini agar dia bisa mengajari aku belajar, aku kan tidak bisa les semoga saja dengan ajaran dari dia aku bisa lulus ujian akhir kali ini dan setelah itu aku bisa terbebas dari semua hal yang sangat menjengkelkan, iya kan haha" ucap Sela sambil terus membayangkan hidupnya tanpa sekolah dan belajar.


Sela sangat tidak suka belajar dia membenci semua pelajaran yang ada hitungan, dia selalu lebih suka untuk olahraga dan sudah memutuskan untuk mendedikasikan hidupnya dengan mimpi yang dia miliki dan sangat dia sukai yakni menjadi atlet lari jarak jauh sama seperti ayahnya dahulu.


Akira sama sekali tidak mendengarkan ucapan Sela dengan kedua temannya dia justru terus saja fokus membaca buku seorang diri dan dia mulai mendapatkan banyak kado dari beberapa anak di kelas lain yang datang dengan sengaja ke kelas tersebut hanya untuk memberikan makanan dan semua minuman padanya.


Saat Sela asik mengobrol dengan kedua temannya dan terus bergurau bersama sambil membuat janji untuk pergi main besok di akhir pekan, tiba-tiba saja ada segerombolan anak perempuan yang terburu-buru masuk dan mereka terus menerobos Sela, Kiko dan Anet yang tengah mengobrol saat itu.


"Ahaha...iya...iya...kita janjian di tempat biasa saja aku tidak akan telat jangan khawatir hehe" ucap Sela kepada kedua temannya itu.


"Kau harus menepatinya ya, awas saja jika tidak aku akan datang ke rumahmu dan melemparkan banyak soda sampai kau mau keluar!" ucap Anet mengancam Sela.


Sampai tiba-tiba saja banyak anak perempuan berjalan dengan cepat menerobos ke hadapan Sela dan Anet yang tengah mengobrol sambil berdiri di depan loker kelas belakang saat itu.


"Aaa....aaa....aaahhh..hey..apa yang kalian lakukan, astaga...mau apa mereka masuk ke kelas kita sampai terburu-buru seperti itu?" Ucap Sela yang terlihat kesal karena disaat dia bicara tiba-tiba saja segerombolan siswi masuk melewati dirinya.


Hingga Anet mulai menunjuk ke arah Akira yang sudah di kerumuni oleh para anak perempuan itu dengan semua kado dan makanan yang mereka berikan ke atas meja Akira dengan paksa, bahkan saat itu Sela mihat Akira hanya menunduk sambil memegangi kedua telinganya dan terus saja mengigit ketakutan.


"Sela lihat itu" ucap Anet menunjuknya ke arah Akira.


Sela yang tengah merapihkan pakaian dan rambutnya dia langsung menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh Anet dan dia sangat kaget sampai membelalak.atanya sekaligus ketika melihat para wanita itu mengelilingi Akira.


"Akira....ini untukmu...tolong terima hadiah dariku aku membawakan semua coklat ini dari luar negeri" ucap salah satu wanita dan di ikuti dengan yang lainnya yang sangat ricuh.


Kiko dan Anet langsung mengangguk dan mereka dengan cepat segera berlari menghadang para wanita itu dan mencoba untuk menjauhkannya dari Akira sedangkan Sela segera menarik tangan Akira dengan terpaksa menyentuhnya dan dia terus membawa Akira pergi keluar dari kelas secepatnya.


"Sela....ayo cepat bawa dia pergi, aahhh...aku akan habis di jambak para perempuan gila ini" ucap Kiko yang terlihat sudah kewalahan menahan mereka semua.


Sela segera membawa Akira untuk pergi secepatnya dan dia bisa merasakan dengan nyata bahwa saat itu Akira terlihat bergetar cukup kuat dan wajahnya menjadi pucat pasi Sela sama sekali tidak tahu harus melakukan apa tapi dia hanya bisa terus berlari membawa Akira ke tempat yang aman hingga dia masuk ke dalam ruang ganti dan bersembunyi disana hingga para wanita yang sebagian tadi mengejarnya sudah melewati tempat tersebut.


Barulah Sela bisa merasa sedikit tenang karena para wanita itu sudah berlari ke arah lain, padahal dirinya sudah membawa masuk Akira ke dalam ruang ganti saat itu, tidak lupa Sela langsung mengunci ruang gantinya dari dalam dengan cepat karena dia takut para wanita ganas itu akan menemukan keberadaannya.


Dengan nafas menderu Sela segera duduk di samping Akira dan menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan lesu dan sangat lelah sekali saat itu mereka sudah berlari sambil menarik tangan Akira yang jelas sekali bahwa kemampuan berlarinya jauh di bawah Sela sendiri.


"Hah...hah...hah.... Astaga....huaaa....ini sangat melelahkan dan membuat aku tidak tenang, bagaimana bisa para wanita itu mengejar kau dan terus memberikan banyak makanan untukmu aahhh sudah lebih baik kau memang harus menutupi wajah tampanmu itu, benar-benar membawa malapetaka untuk dirimu sendiri" ucap Sela sambil terlihat sangat kesulitan dalam mengatur nafasnya saat itu.


Akira sendiri terus saja mengeluarkan nafas yang menderu bahkan lebih cepat daripada deru nafas Sela saat itu, dan dia tidak berhenti terus saja mengigit sampai membuat Sela merasa sangat cemas ketika menyadari semua itu.


"Akira apa yang terjadi denganmu, kenapa wajahmu terlihat pucat pasi seperti ini? Akira lihat mataku jangan menunduk terus seperti ini, Akira ayo angkat kepalamu!" Ucap Sela sampai menaikkan nada bicaranya saat itu.


Akira tidak bisa mengatakan apapun dan bukannya menatap Sela Akira justru malah menempelkan kepalanya pada bahu Sela begitu saja dan Sela langsung membelalakkan matanya dengan sangat lebar, saking merasa kagetnya dengan apa yang dilakukan oleh Akira kepadanya saat itu.


"Eehhh....Akira ada apa denganmu, apa kau baik-baik saja? Atau kita sebaiknya pergi ke UKS dan memberitahu guru tentang kondisimu bagaimana?" Ucap Sela semakin cemas melihat kondisi Akira saat itu.


Akira menggelengkan kepalanya perlahan dan dia justru meminta agar tetap berada di dalam ruangan sana yang terasa sunyi juga menenangkan baginya, dia tahu bahwa tubuhnya itu hanya butuh sebuah ketenangan saja, baru setelah itu dia bisa mendapatkan banyak energi lagi dan bisa menjadi lebih baik.


"Tidak... perlu, aku akan tetap disini untuk beberapa saat, jika kau mau pergi pergilah, aku akan menenangkan diriku sendiri" balas Akira sambil mulai mengangkat kepalanya saat itu.


Karena Akira sudah mengatakan seperti itu Sela pun tidak bisa memaksanya lagi dan dia juga tidak tega jika meninggalkan Akira seorang diri di ruangan tersebut sehingga dia memutuskan untuk menemaninya saja disana hingga Akira merasa lebih baik dan tetap untuk menjaga jarak dengan Akira, karena tidak ingin membuatnya tidak nyaman.


"Baiklah jika kau rasa itu sudah cukup untukmu, aku akan tetap disini menunggumu hingga kau merasa lebih baik, aahhh..... Melelahkan juga menjadi tampan padahal sebelumnya aku ingin jadi cantik tapi karena melihat hidupmu yang sulit seperti ini, aku lebih baik seperti ini saja" balas Sela sambil kembali duduk di samping Akira dan dia meluruskan kakinya sambil terus menyandarkan tubuhnya ke dinding lagi.


Tanpa di sadari Akira justru malah menyandarkan kepalanya lagi untuk kedua kalinya ke bahu Sela dan itu membuat Sela sedikit kaget, bukan karena apapun Sela hanya takut Akira akan merasa tidak nyaman ataupun membuat penyakitnya kambuh lagi seperti sebelumnya karena bersentuhan dengan dirinya saat itu.


"AA..a..Akira apa kau baik-baik saja bersandar padaku seperti ini? Bukankah kau tidak bisa bersentuhan dengan orang lain, kenapa kau malah mendekatiku?" Ucap Sela sedikit gugup saat itu.


Bahkan saking gugupnya Sela sampai tidak bisa bergerak dan dia terus saja menatap ke depan dengan gugup, tidak tahu harus melakukan apa saat itu, sampai Akira mulai membalas ucapannya dan barulah Sela bisa merasa tenang ketika sudah mendapatkan jawaban dari Akira saat itu, walau dia tetap merasa aneh di buatnya.


"Semua itu menjadi pengecualian padamu" balas Akira pada Sela,


"Hah?... maksudmu apa kau tetap baik-baik saja saat bersentuhan denganku, tapi tidak dengan orang lainnya?" Tanya Sela untuk memastikannya lagi,


"Ya....dan aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi" balas Akira mengakuinya.


Sela benar-benar merasa heran tapi dia hanya bisa mengerutkan kedua alisnya dengan pikiran yang terus bingung dan bekecambuk tidak menentu, dia sama sekali tidak tahu harus melakukan apa, ingin menanyakan lagi pada Akira tentang alasannya namun Akira sudah bilang bahwa dia tidak mengetahui alasannya sama sekali, jadi Sela hanya bisa diam saja sambil terus membiarkan Akira terus bersandar pada sebelah bahunya saat itu.


"AA....AA..oo...ohhh...begitu ya, kenapa ya ini aneh sekali" balas Sekali tidak habis pikir dengan semua itu.


Tidak ada balas lagi dari Akira dan Sela mulai merasa heran karena Akira tidak membalas ucapan darinya lagi, bahkan ketika Sela bertanya untuk kedua kalinya, menanyakan masalah keadaan Akira.


"Akira...apa kau baik-baik saja, kenapa tidak menyahut?" Tanya Sela sedikit cemas.


Sampai ketika dia memberanikan diri untuk menoleh ke samping dan melihat Akira rupanya sudah tertidur di samping Sela dan terus bersandar pada bahu Sela dengan nyaman seperti itu.


"Astaga....kenapa dia bisa tertidur dengan keadaan seperti ini, aahhh aku tidak bisa bergerak karenanya" gerutu Sela pelan.