Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 9 | Salah tingkah



Keesokan paginya Selena bangun seperti biasanya. Gadis itu meregangkan otot-otot nya yang terasa pegal namun tak separah kemarin.


Selena mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan. Ternyata dirinya tidak berada di ruang santai.


“Kenapa bisa di sini? Perasaan aku tidur di ruang tv semalam” gumamnya merasa bingung.


“Apa jangan-jangan Pak Felix yang memindahkan ku ke dalam kamar? Tapi kenapa tak terasa sama sekali? Tidak mungkin kan aku berjalan sendiri? Tapi kalau benar iya, astaga malu sekali!” Pekiknya semakin ngelantur.


“Ah masa bodoh, nanti saja aku tanyakan pada manusia kulkas itu” celetuknya.


Ia segera menyibakkan selimutnya dan menurunkan kakinya menapaki lantai, tiba-tiba matanya terfokus pada perban di lututnya.


“Apa ini? Siapa yang memasang perban? Apa Pak Felix juga? Ya Tuhan kejutan apalagi ini?!” Keluhnya frustasi.


“Tumben banget sih dia baik gini, kan jadi melting. Eh tapi kan belum tentu juga kan dia yang melakukannya.” Gumamnya setengah ragu.


Gadis itu segera pergi mandi tak sabar ingin menanyakan kejadian-kejadian yang mengejutkan pagi ini.


Setengah jam kemudian Selena keluar dengan setelan kerja rapi nya.


Ia melangkahkan kakinya ke dapur untuk membuat sarapan simple mereka berdua sebelum berangkat ke kantor.


Namun yang terlihat ternyata Felix lebih dulu berkutat di dapur.


Seketika Selena mengerutkan keningnya, bangun jam berapa dia? Masa iya sih aku keduluan, perasaan bangun ku sudah cukup pagi. Pikir Selena.


“Selamat pagi Pak” sapa Selena dengan canggung.


“Pagi, sudah bangun?” Tanya Felix masih dengan kesibukannya mengoleskan selai di roti tawar.


“Ya, bahkan saya sudah rapi begini” ucap Selena memperhatikan penampilannya.


Felix pun menoleh sekilas dan tersenyum singkat.


“Bapak sedang apa? Sini biar saya saja yang melanjutkan” ucap Selena


“Tidak perlu, ini sudah selesai. Makanlah” ucap Felix menyodorkan sepiring roti tawar dan susu pada Selena.


“Hah?” Cicit Selena membeo.


Ia sama sekali tak menyangka jika bosnya sampai repot-repot membuatkan sarapan untuknya.


Bawahan dan atasan macam apa ini? Walau bagaimanapun kan Felix tetap bosnya. Selena merasa tidak enak sendiri.


“I-ini untuk saya?” Tanya Selena terbata.


“Ya” ucap Felix menganggukkan kepalanya.


“Tapi ini tidak perlu Pak, seharusnya saya yang melayani Bapak. Bagaimanapun anda adalah Bos saya” ucap Selena tak enak hati.


“It’s oke, lagi pula sekalian saya membuat sarapan. Hanya roti tawar bukan hal yang sulit” jawab Felix lalu memasukkan roti tawar ke dalam mulutnya.


“Haiihhh.. kalau begitu terimakasih” ucap Selena mengambil roti tawar lalu mengunyahnya dengan pelan.


Pikirannya masih menerawang dengan keterkejutannya tadi pagi.


“Ehm.. Pak, boleh saya bertanya sesuatu?” Tanya Selena di sela-sela kegiatannya.


“Sure, silahkan” ucap Felix lalu meneguk segelas susu.


“Siapa yang memindahkan saya ke dalam kamar semalam?” Tanya Selena pada akhirnya.


Seketika Felix tersenyum miring. Sudah ia duga kalau gadis itu akan menanyakan hal ini pada akhirnya.


“Menurutmu siapa yang ada di apartemen ini kecuali kita berdua?” Ucap Felik melontarkan pertanyaan balik.


“Jadi benar Bapak yang memindahkan saya?” Cicit Selena melongo. Malu, satu kata yang mewakili perasaannya saat ini.


Felix menaikkan alisnya acuh.


“Lalu perban luka ini?”


“Dokter” singkat Felix.


“Bapak memanggilkan dokter untuk saya? Astaga, ini hanya luka kecil. Lama-lama juga sembuh sendiri, kenapa sampai memanggil dokter segala” keluh Kiara semakin merasa tidak enak pada atasannya itu.


Tidak menampik Selena merasa di perhatikan sebagai karyawan. Ada rasa senang di hati Selena dengan perlakuan Felix akhir-akhir ini yang berbanding jauh dari sebelumnya.


“Kamu karyawan saya, kesehatan dan keselamatan mu sudah menjadi tanggung jawab saya” ucap Felix menjeda sejenak perkataannya.


“Selama kamu tinggal disini apapun yang berhubungan dengan mu menjadi urusan saya, kamu mengerti?” Imbuhnya.


“Ah.. itu.. emm. Ya, saya mengerti” jawab Selena yang masih loading mencerna ucapan Felix.


“Sudahlah, saya bersiap dulu setelah itu kita berangkat” ucap Felix mengacak-acak rambut Selena.


Pria itu berlalu pergi begitu saja meninggalkan Selena yang terdiam cengo dengan perlakuannya.


“Astaga, kenapa dengan jantung ku? Apa aku punya penyakit kronis?” Celetuk Selena merasakan detak jantungnya dua kali lipat lebih cepat.


Sementara di asrama salah satu maskapai penerbangan, dua sejoli tengah asyik bercumbu dan saling berbagi kehangatan di ranjang yang sama.


Juan dan Elle adalah partner satu maskapai dan di jadwal yang sama, itulah mengapa karena seringnya bertemu menjadi peluang untuk mereka menjalin hubungan, lebih tepatnya hubungan gelap.


Juan yang awalnya tidak tertarik dengan wanita selain kekasihnya lama kelamaan tergoda dengan kehadiran Elle yang menyukai Juan sejak awal bertemu.


Laki-laki jika sudah di suguhkan dengan kenikmatan siapa yang menolak? Apalagi menjalani hubungan jarak jauh dan minim waktu bertemu membuat Juan membagi hatinya pada Elle.


Tidak semua laki-laki, tapi Juan adalah salah satunya.


“Ahh terus Juan, ini sangat nikmat” lenguh Elle yang berada di bawah kendali Juan.


Pria itu merudal begitu kuatnya, hingga Elle kewalahan dengan gempuran Juan.


Sedetik kemudian keduanya melenguh bersamaan menandakan mereka telah sampai pada puncaknya.


Juan merebahkan tubuhnya di samping Elle.


Elle yang merasa masih menginginkan Juan pun memeluk pria itu dari samping.


“I need one more” ucap Elle membelai wajah Juan.


“Cukup Elle, aku lelah” sahut Juan memejamkan kedua matanya.


Seketika senyum Elle luntur begitu saja. Ia merasa masih kurang puas, padahal mereka melakukannya selama satu jam lebih.


Namun seakan hasratnya tidak pernah cukup mengingat dirinya adalah hyper.


“Kau tidak ingin meluapkan segalanya untukku? Sebentar lagi kita akan berpisah Juan” ucap Elle yang masih mencoba membujuk Juan.


“Hanya satu minggu Elle, tidak lebih. Jangan seperti anak kecil yang merengek ditinggalkan orangtuanya. Kau sudah cukup dewasa untuk berpikir” jawab Juan dengan datar.


“Oke fine, aku tidak akan merengek lagi padamu” ucap Elle dengan ketus.


Wanita itu segera masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri.


Juan menghembuskan nafasnya kasar. Kepalanya serasa mau pecah setiap kali berdebat dengan wanita keras kepala seperti Elle. Sikapnya sangat jauh berbeda dengan Selena kekasihnya.


Ngomong-ngomong tentang Selena, ia jadi merindukan gadis cerewet itu. Sudah dua hari ini semenjak ia menelfon Selena gadis itu sama sekali tak mengirim pesan apapun padanya. Biasanya ponselnya selalu di penuhi notif pesan dari Selena.


Juan pun meraih ponselnya di atas nakas dan mendial nomor Selena.


Cukup lama Juan menunggu akhirnya panggilan pun tersambung.


“Halo Juan” jawab Selena dari sambungan telfon.


“Hai baby, sedang apa? Kenapa lama sekali mengangkat telfon ku” tanya Juan


“Ah, maaf aku sedang dalam perjalanan menuju kantor. Kenapa? Tumben sekali pagi-pagi begini menelfon ku” tanya Selena dengan nada excited nya.


Membuat Juan sedikit senang.


“Aku hanya merindukan mu baby, apa tidak boleh?” Ucap Juan.


“Yang benar? Aku juga merindukan mu, kau kapan akan kembali?” Tanya Selena panjang lebar.


“Mungkin tinggal tiga hari lagi, aku masih ada jadwal flight setelah ini” jawab Juan berbohong. Padahal hari ini jadwal flight nya kosong sampai dua minggu kedepan. Itu karena dia mengambil cuti, jika tidak maka schedule penerbangannya sangat padat.


“Oh.. baguslah, aku sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba” ucap Selena dengan gembira.


“Iya aku juga baby, aku ingin menghabiskan waktu bersama jika kita bertemu nanti” ucap Juan membuat Selena tersipu.


“Ah kau ini” ucap Selena salah tingkah.


Tak lama suara handel pintu terdengar dari toilet.


Juan segera mengakhiri panggilannya.


“Sudah dulu ya baby, aku ada piket pagi ini.. bye” ucap Juan lalu mematikan panggilannya.


“Telfon dari siapa?” Tanya Elle menatap Juan.


“Tidak ada” singkat Juan.


Elle pun hanya mengedikkan bahunya acuh.


Sementara di dalam mobil, Selena mendadak kesal dengan perlakuan Juan yang seenak jidatnya memutuskan panggilan sepihak.


Sudah terbang tinggi baru saja di puji, sekarang dirinya di jatuhkan begitu saja. Jengkel, itulah yang di rasakan Selena.


“Kau tidak pernah bertemu kekasih mu?” Tanya Felix yang sejak tadi mendengar percakapan Selena dengan Juan.


“Jarang, bahkan untuk sekedar bertukar kabar saja tidak pernah” ucap Selena.


“Oh ya? Kenapa? Apa kekasihmu terlalu sibuk pada pekerjaannya sampai-sampai wanita secantik dirimu terabaikan”


Blushh..


Selena merona seketika setelah mendengar pujian yang keluar dari mulut Felix. Membuat ia jadi salah tingkah