Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 19 | Apa aku mimpi?



“Selena listen to me!” Ucap Felix menangkup kedua pipi Selena.


“Itu bukan kekurangan, melainkan prinsip. Kau berhak menolaknya selama kalian tidak memiliki ikatan yang sah! Kau sudah berada di jalan yang benar Selena! Jangan pernah sesali semua keputusan yang kau ambil. Hidup mu, senyum mu, tawa mu bahkan tangisan mu sekalipun tidak pantas kau korbankan demi laki-laki tidak punya otak sepertinya” ucap Felix yang iktu terbawa emosi dengan kejadian ini.


Tapi dalam hati Felix bersyukur bahwa laki laki itu sama sekali belum pernah menyentuh Selena. Ini adalah keberuntungan yang berpihak padanya. Tanpa dia susah-susah berjuang ternyata hal yang ia inginkan datang dengan sendirinya.


“Hiks.. hiks.. Bapak benar. Tidak seharusnya saya menangisi laki laki sepertinya kan? Saya hanya kecewa saja, bertahun-tahun saya bersabar demi dia tapi yang saya dapatkan adalah pengkhianatan yang entah sejak kapan ia lakukan” ucap Selena mulai meredakan tangisnya.


Ia tidak sendiri kali ini, Felix ada di saat dia terpuruk dan memberikan dorongan untuknya agar kembali semangat menjalani hari-hari. Semua ucapan Felix membuat Selena merasa dirinya lebih berharga dari apapun.


“Aku ingin memberitahumu sesuatu Selena, tapi ini hanya dugaan. Sekitar satu tahun yang lalu saya sering menyewa jasa nya sebagai pilot di maskapai milik keluarga saya, tepatnya hanya memegang kendali jet pribadi saat perjalanan bisnis. Dari situ saya mengetahui namanya tapi saya tidak pernah dekat dengan kekasihmu itu. Saya sering bolak balik Dubai-New York dalam satu penerbangan, laki laki yang bernama Juan Castello itu selalu menggandeng seorang pramugari setiap jadwal flight nya. Bahkan mereka selalu bersama dan anehnya selalu berada di schedule penerbangan yang sama” terang Felix panjang lebar.


Selena terdiam mencerna semua ucapan yang keluar dari mulut Felix.


Hatinya menolak fakta itu tapi otaknya berpikir dengan logikanya jika semua itu memang mungkin terjadi. Sebab tidak mungkin seorang pilot tidak memiliki waktu cuti barang sehari saja. Juan selalu mengatakan jika dia selalu padat schedule, logika Selena benar-benar tidak bisa menerima alasan itu.


“Kalaupun itu hanya dugaan tapi saya mempercayai jika itu adalah faktanya. Selama dia bekerja tidak pernah sekalipun dia mengirim kabar, selalu saja saya yang lebih dulu menanyakan kabarnya. Saya pernah mencurigainya, tapi dengan bodohnya saya selalu menampik pikiran itu” ucap Selena dengan tatapan kosong.


Meskipun dirinya tetap ingin mengakhiri semuanya dengan Juan, tapi hatinya masih tetap saja merasakan sakit. Dua tahun bukan waktu yang singkat bagi Selena.


Felix menepuk bahu Selena.


“Setelah tangisan mu habis, kedepannya jangan pernah lagi kau menangisi pria itu apalagi di hadapannya” ucap Felix memperingati.


“Itu tidak akan mungkin terjadi” ucap Selena yakin.


Felix pun tersenyum lega mendengarnya.


“Bagus. Lalu apa rencana mu setelah ini?” Tanya Felix menatap wajah cantik Selena.


Selena menarik nafasnya dalam-dalam.


“Entahlah, yang pasti saya sudah tidak ingin mengenalnya bahkan tidak ingin bertemu dengannya. Saya akan menjauh dari kehidupannya” ucap Selena dengan pasti.


Felix menganggukk,


“Saya akan membantu mu untuk menjauh dari dia Selena” ucap Felix yakin.


Selena menoleh ke arah Felix. Tatapannya terpaku pada wajah tampan pria itu.


Jantung Selena berdebar tak karuan kali ini.


“Bapak sudah terlalu banyak problem, jangan bebani hidup Bapak dengan masuk ke dalam urusan pribadi saya” ucap Selena.


“No, aku akan tidak terbebani dengan apapun jika menyangkut kamu Selena” ucap Felix blak-blakan.


Seketika Selena menatap Felix, tak percaya dengan apa yang pria itu katakan.


“Maksud Bapak?” Tanya Selena merasa bingung.


“Suatu saat kamu akan tahu sendiri” ucap Felix menggenggam jemari Selena.


Pandangan Selena pun tertuju pada genggaman tangan pria itu. Jujur detak jantung Selena kali ini membuat Selena hilang kendali. Otaknya sulit mencerna segala perlakuan manis Felix.


“Saya tidak mengerti dengan ucapan Bapak” ucap Selena membeo.


“Sudahlah Selena, lebih baik kamu tidur. Kamu pasti lelah” ucap Felix


“Ehm.. ya, tapi sekarang sudah hampir pagi” ucap Selena melihat ke arah tirai jendela.


“Tak apa, hari ini kamu boleh istirahat. Tidak usah ke kantor” ucap Felix memberi izin pada Selena.


“Bapak serius?” Tanya Selena memastikan.


Felix mengangguk pelan.


“Tidurlah, agar otakmu kembali fresh” ucap Felix memasangkan selimut untuk Selena dan anehnya Selena menuruti ucapannya.


“Terimakasih” hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Selena, ia masih terdiam dengan apa yang ia lihat saat ini.


Sedetik kemudian Felix menunduk mencium kening Selena. Gadis itu pun memejamkan matanya menikmati hangatnya sentuhan bibir Felix.


“Selamat beristirahat” ucap Felix terdengar manis di telinga Selena.


Pria itu tersenyum menatap Selena yang terdiam membeo. Ia segera keluar meninggalkan kamar itu.


“Astaga dia mencium ku? Apa aku mimpi?”


Selena mencubit pipinya sendiri. “Aww!! Sakit kok, astaga ini nyata?!” Pekik Selena tak percaya.


“Persetan dengan ciuman itu, sebaiknya aku segera tidur” ucap Selena menepis ingatannya barusan.


Gadis itu mencoba memejamkan matanya agar cepat tidur, tak ingin memikirkan Felix karena semakin lama semakin membuat otaknya tidak waras.


Saat ini Juan baru saja terbangun pada pukul enam pagi setelah semalaman penuh dirinya hilang kendali.


“Sial! Aku hampir saja melupakan keberadaan Selena!” Umpat Juan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Elle yang terkejut dengan suara Juan pun ikut terbangun. Matanya menelisik di seluruh ruangan tidak melihat Juan.


Terdengar suara gemericik dari arah toilet. Elle pun bernafas lega.


Setidaknya Juan ada di saat dirinya membuka mata.


“Tidak sia-sia pengorbanan ku menjadi penguntit mereka, Selena.. kita lihat apakah Juan mampu membuat mu bertahan di sisinya” ucap Elle tersenyum devil.


Tak lama Juan pun keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian semalam yang ia gunakan.


“Kau mau kemana babe?” Tanya Elle melihat Juan terburu-buru.


“Seharusnya kau sudah tau jawabannya” singkat Juan tanpa menoleh ke arah Elle.


“Ya ya.. sudah pasti kau mendatangi kekasihmu itu” ucap Elle menyahuti.


“Sudahlah, aku pergi dulu” ucap Juan berjalan keluar dari kamar itu.


Dan ternyata Juan baru sadar bahwa kamar yang di tempati Elle hanya bersebelahan dengan kamar yang ia pesan.


“Pasti Elle memang sengaja” ucap Juan mengatupkan rahangnya.


Ia tidak peduli, saat ini yang terpenting adalah Selena. Sudah terlewat satu jam dari rencana kepulangan mereka dan sekarang dirinya baru menampakkan batang hidungnya.


“Semoga saja Selena tidak marah” ucap Juan khawatir.


Juan membuka pintu kamar dan ternyata tidak terkunci sama sekali.


“Aneh, tidak mungkin Selena membiarkan pintu semalaman tanpa terkunci” ucap Juan melangkah masuk ke dalam.


Hening, tidak ada tanda-tanda aktifitas di dalam.


“Selena..” panggil Juan menelisik sekitar ruangan itu.


“Selena aku datang” seru Juan lagi.


Namun tidak ada sahutan apapun.


Ia mencari di balkon, namun tidak ada siapapun.


Juan pun mengecek di kamar mandi, kosong.


Juan kelimpungan sendiri tidak menemukan keberadaan Selena.


Pria itu melihat di meja nakas. Tidak ada barnag satupun yang tertinggal disana melainkan ponselnya sendiri yang ia tinggal semalam.


Pria itu segera mengambil benda pipih itu dan mendial nomor Selena.


Lama dirinya menghubungi namun yang ia dengar hanya suara operator. Ponsel Selena tidak aktif saat ini.


Juan meraup wajahnya kasar. “Dimana kamu Selena” ucap Juan gusar.


“Apa dia sudah pulang sendiri? Bahkan tanpa aku?” Ucap Juan menebak-nebak.


“Aarghh!! Ini semua gara-gara wanita itu! Karna dia aku jadi meninggalkan Selena semalaman penuh” geram Juan penuh emosi.


Ia tidak sadar dengan kesalahannya sendiri, jika ia tidak tergoda dengan Elle tidak mungkin dirinya sampai meninggalkan Selena saat gadis itu tertidur.


Pria itu bergegas meninggalkan penginapan itu.


Pikirannya mengatakan jika Selena sudah keluar dari penginapan ini mengingat gadis itu hari ini harus sudah pergi bekerja.