
Sore harinya, Felix dan Selena pun pulang bersama mengendarai mobil mewah milik Felix.
“Apa ini tidak berlebihan? Bagaimana jika sampai karyawan Bapak tau?” Tanya Selena panjang lebar.
“Biarkan saja, apa yang perlu di khawatirkan?” Tanya balik Felix.
Membuat Selena mendengus kesal. Bicara dengan kulkas dua pintu ini tidak akan menemukan solusi.
“Saya tidak mau menjadi bahan gosip karyawa-karyawan Bapak yang brutal itu. Apalagi para pengagum rahasia Bapak” ucap Selena mencebikkan bibirnya.
Felix yang melirik ke arah samping sontak tersenyum dalam hati.
“Pengagum rahasia? Darimana kau tau?” Tanya Felix melirik Selena sejenak.
“Siapa yang tidak tau, setiap hari mereka diam-diam membicarakan anda” terang Selena dengan nada juteknya.
“Lalu apakah kau juga termasuk salah satu dari mereka?” Tanya Felix
“What? Big No!” Ucap Selena singkat.
“Yakin?” Tanya Felix lagi.
“Sangat yakin, untuk apa saya mengagumi orang lain. Sementara kekasih saya sudah tampan dan mapan” seloroh gadis itu.
“Oh ya? Setampan itu? Sekaya apa dia?” Tanya Felix kepo.
“Bapak ingin tau?” Tanya Selena menatap bos nya itu.
“Kalau bisa kenapa tidak” singkat Felix
“Dia seorang pilot salah satu maskapai ternama di negara ini” jawab Selena begitu bangga nya.
“Oh ya? Siapa namanya?” Tanya Felix kemudian.
Selena menoleh ke arah Felix,
“Kenapa Bapak sangat ingin tahu tentang kekasih saya? Lagi pula apa untungnya, belum tentu juga kan Bapak mengenalnya” ucap Selena enteng.
“Katakan saja” jawab Felix santai.
Selena mendengus,
“Juan Castello” ujar Selena.
Felix seketika terdiam. Bukankah nama itu tidak asing?
Ya, dia adalah seorang pilot yang sering Felix sewa untuk membawa jet pribadi nya ketika sedang perjalanan bisnis.
Senyum miring tercetak di bibir Felix,
Ternyata dunia ini sempit. Batinnya.
“Kenapa Bapak senyum-senyum begitu? Apa jangan-jangan Bapak naksir dengan kekasih saya?” Celetuk Selena merasa aneh dengan bos nya.
Seketika raut wajah Felix berubah masam.
“Kamu pikir saya doyan sesama jenis? Saya masih normal Selena” ketus Felix merasa kesal dengan ucapan gadis itu.
“Ya habis saya tidak pernah melihat Bapak dekat dengan satu wanita manapun, wajar kan orang orang berpikiran begitu” ungkap Selena.
“Don’t judge book by the cover. Apa yang kamu lihat belum tentu benar terhadap apa yang kamu pikirkan. Lagi pula saya masih belum berpikir jauh mengenai hubungan. Saya hanya akan memulai hubungan ketika wanita yang saya inginkan benar-benar sudah siap untuk menjadi pendamping hidup saya” terang Felix panjang lebar.
Selena sontak speechless dengan penuturan bosnya. Kalimat bijak itu yang pertama kali Selena dengar dari mulut pria dingin itu, ternyata dia bisa berpikir bijak juga? Ucap Selena dalam hati.
Tak bisa di pungkiri, ada sedikit rasa kagum di hati Selena terhadap atasannya itu. Lambat laun semua sifat yang Felix miliki mulai menonjol.
“Ngomogn-ngomong ada sesuatu yang ingin kamu beli?” Tanya Felix
Selena menggeleng, “Tidak ada Pak, semua barang keperluan saya sudah ada di koper” jawab Selena sekenanya.
“Baiklah” ucap Felix melanjutkan fokusnya menyetir.
Lima belas menit perjalanan akhirnya sampai di gedung apartemen elit yang Felix tinggali.
Gedung itu bersebelahan dengan menara tinggi Burj Khalifa.
Felix segera turun dari mobil dan berjalan menuju bagasi, pria itu mengambil koper milik Selena.
“Tidak usah Pak, biar saya sendiri yang bawa” ucap Selena merwsa tidak enak pada atasannya itu.
“Kenapa? Kamu yakin ingin menyeret koper ini sampai ke dalam? Jaraknya lumayan jauh” terang Felix berjalan mendahului Selena seraya menyeret koper berwarna pink itu.
Tidak ada rasa malu sedikitpun, pria dingin itu berjalan tegap tanpa menoleh keadaan sekitar.
Apa dia tidak malu dengan koper pink itu? Batin Selena merasa lucu dan kagum sekaligus.
“Ah tidak apa lah, kapan lagi seorang bos mmebawakan barang pribadi milik bawahannya” ucap Selena terkikik geli.
“Cepat Selena!” Teriak Felix dari kejauhan.
Rupanya terlalu asyik terkesima dengan Felix, Selena sampai tak sadar jika dirinya sudah tertinggal jauh oleh pria itu.
“Eh tunggu Pak!” Teriak Selena berlari kecil menyusul bosnya.
Tiba-tiba..
Brukk!!
Aww!!
“Selena!!” Teriak Felix membalikkan badannya berlari menghampiri Selena.
“Kenapa kau ceroboh sekali?!” Ucap Felix dengan sorot mata tajam. Sementara tangannya terulur membantu Selena berdiri.
“Awwshh!” Ringis Selena memegangi lutut nya.
“Lain kali hati-hati bisa tidak? Jangan seperti anak kecil” ketus Felix menatap sekretarisnya yang kesakitan.
“Saya jatuh karena mengejar Bapak ya, Bapak lupa?” Ucap Selena mendelik tak suka dengan ucapan bos nya.
“Salah siapa melamun di tempat umum? Beruntung kamu saya panggil, kalau tidak kamu bisa tersesat bagaimana? Siapa juga yang repot” sahut Felix membalas Selena.
“Ck! Sudahlah, saya tidak apa-apa. Lagian kenapa juga Bapak malah memarahi saya” decak Selena tak mengerti.
Dasar keras kepala! Ucap Felix dalam hati.
“Bisa berjalan tidak?” Tanya Felix datar
“Bisa lah, saya hanya terjatuh bukannya lumpuh” jawab Selena masih merasa kesal.
Felix hanya mengendikkan bahunya acuh.
Perlahan pria itu berjalan mengiringi Selena, takut jika gadis itu kesulitan berjalan tangan Felix yang satunya ia gunakan untuk menggandeng lengan Selena.
Selena yang terkejut dengan perlakuan care Felix kali ini hanya bisa terdiam bingung.
Apa dia kesambet? Tumben baik banget. Batin Selena.
Mereka berdua memasuki lift menuju unit apartemen milik Felix.
Jari telunjuk Felix menekan tombol 13.
“Bapak di lantai tiga belas?” Tanya Selena mendongak ke arah Felix yang berdiri dengan gaya cool nya.
“Ya, memang kenapa?” Tanya Felix dengan pandangan lurus kedepan.
“Bagaimana jika saya sedang terburu-buru dan harus naik turun lantai tiga belas” keluh Selena mendesah pelan.
“Tidak ada kata terburu-buru. Mulai besok kita berangkat bersama” ucap Felik datar.
“What??!! Are you seriously?!” Pekik Selena membola.
Yang benar saja mereka pulang pergi bersama, sama saja seperti pasangan sejoli. Pikir Selena.
“Kenapa? Kamu keberatan?” Tanya Felix menoleh ke arah Selena.
“Bukan begitu, saya rasa tidak perlu karena saya juga punya mobil sendiri. Jadi lebih baik kita berangkat sendiri sendiri saja ya Pak?” Tanya Selena mencoba membujuk atasannya itu.
“Tidak bisa. Mobil mu sudah saya antarkan ke kediaman mu” ucap Felix dengan santai nya.
“Apa? Bagaimana bisa Bapak tau tempat tinggal saya?” Tanya Selena melongo.
“Apa yang susah, hanya mencari alamatmu saja saya tidak perlu bertanya padamu” ucap Felix mengunggingkan senyum mengejek.
Seketika membuat Selena kesal setengah mati. Selena merasa kebebasannya berkurang, bahkan ia kehilangan separuh haknya karena menuruti perintah atasannya itu.
“Terserah Bapak! Menolak pun percuma” ucap Selena putus asa.
“Itu kau tau” jawab Felix dengan entengnya.
“Ck! Menyebalkan” decak Selena.
Felix tersenyum smirk. Ini baru selangkah Selena, masih banyak kejutan-kejutan yang harus kau rasakan kedepannya. Ucap Felix dalam hati.
Ting!
Mereka pun sampai pada unit lantai apartemen milik Felix.
Lantai ini adalah unit yang paling mewah.
Felix meletakkan jarinya ke alat finger, sedetik kemudian pintu apartemen terbuka.
Sedari tadi gerakan Felix tak luput dari pandangan Selena.
“Masuk Selena, apa kau akan terus berdiri di luar” ucap Felix datar.
Selena yang melamun pun tersadar dengan suara Felix. Gadis itu mengekori Felix dari belakang.
“Itu kamar mu, dan sebelah sana kamar saya” tunjuk Felix pada Selena.
Pandangan Selena tertuju pada dua kamar saling bersebelahan.
“Jadi saya tidur sendiri toh” ucap Selena mangut mangut.
“Maksudmu kau ingin kita tidur bersama begitu?” Tanya Felix menggoda Selena.
“Hishh.. saya tidak semesum itu ya” desis Selena tak terima.
“Mesum pun tak apa” jawab Felix dengan senyum smirk nya.
“Dasar sinting!” Umpat Selena berlalu masuk menuju kamar yang di tunjukan Felix.
“Awas kamu Selena” teriak Felix tak dihiraukan oleh gadis itu.
Sepertinya hari hariku akan berwarna mulai besok. Gumam Felix tersenyum senang.