Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 10 | Saya lah obatnya Selena



Setibanya di kantor mereka berdua berjalan bersamaan bak sepasang kekasih.


Semua karyawan kantor melihat pemandangan itu dengan jelas, bahkan tak jarang ada yang membicarakan kedekatan sekretaris dan bos itu.


“Pak, apa sebaiknya kita berpisah disini saja” bisik Selena pada Felix.


“Kenapa?” Tanya Felix


“Astaga, kita sudah menjadi pusat perhatian seperti ini Bapak masih bisa tanya kenapa?!” Rutuk Selena tak mengerti dengan jalan pikiran bos nya.


“Jangan hiraukan mereka. Biarkan saja mereka bergelut dengan pikirannya sendiri” ucap Felix datar tak ingin memperumit hal yang menurutnya tidak penting.


Selena menghembuskan nafasnya kasar. Jika baginda raja sudah bertuah, dia bisa apa?


Sampai di lift Felix masuk lebih dulu, Selena telat sedikit saat akan memasuki lift pasalnya ia berjalan agak berjarak dengan Felix.


Ingin mengejar atasannya sebelum pintu lift tertutup namun baru selangkah menuju pintu lift tiba-tiba Selena tersandung.


Felix yang menyadari itu langsung menarik tangan Selena ke dalam pelukannya.


Brukk!


Tubuh Selena menabrak dada bidang Felix, sejenak Selena terbuai dengan aroma maskulin tubuh Felix.


Keduanya terdiam saling pandang, jangan di tanyakan lagi bagaimana jantung Selena.


Irama nya seperti menaiki adrenalin roaler coaster.


“Ah! Maaf Pak, saya tidak sengaja” sadar Selena kemudian. Ia kemudian menjauhkan tubuhnya dari Felix.


Astaga aku benar-benar gugup! Jerit Selena dalam hati.


“Lain kali tolong lebih berhati-hati Selena, kau ini ceroboh sekali” tegur Felix dengan nada dingin nya. Entah kenapa ia tidak suka kecerobohan gadis itu yang bisa membahayakan nyawa nya sendiri.


“Untung saja saya bergerak cepat, jika tidak sudah di pastikan tubuhmu terjepit pintu lift ini” ucap Felix datar.


Gadis itu meringis mendengar penuturan bos nya. Membayangkannya saja Selena merinding.


“Ehm iya Pak, saya tidak mengulanginya lagi. Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa saya” ucap Selena


“Saya pegang kata-kata mu” singkat Felix.


Selena bernafas lega, ternyata pria itu tidak semarah kemarin saat dirinya terjatuh.


Apakah seberharga itu nyawa nya bagi Felix? Ah, mana mungkin, pasti hanya karena dia membutuhkan tenaganya saja pria itu bilang begitu. Pikir Selena.


Lagi pula kau ingin berharap apa Selena? Sadar diri kau ini bawahan, jangan lupakan kau sudah punya Juan. Ujar Selena dalam hati.


“Apa kau akan terus melamun disitu?” Suara bariton Felix menyadarkannya jika mereka telah sampai di gedung tertinggi perusahaan itu.


“Astaga, kenapa aku tidak sadar” celetuk Selena segera keluar dari lift dan berjalan mengekori bos nya.


Felix menggelengkan kepalanya.


Menggemaskan.


Pria itu memasuki ruangannya setelah Selena lebih dulu masuk ke dalam ruangannya.


Dering panggilan pun masuk, Felix merogoh ponselnya yang ada di dwlam saku celananya.


“Halo” sapa Felix


“Halo Tuan, saya ada kabar baik untuk Tuan” ucap orang suruhan Felix.


“Katakan” titah nya.


“Menurut informasi yang saya dapat, sehari sebelum peristiwa kecelakaan Dominic Young dan Emiliy young mereka menitipkan wasiat pada orang kepercayaannya. Nampaknya keduanya sudah memiliki firasat buruk Tuan, tapi kami masih berusaha mencari keberadaan orang tersebut untuk mengetahui kejadian sebenarnya” terang orang suruhan itu.


Nampak ekspresi serius di wajah Felix.


“Itu artinya ada saksi kunci yang mengetahui insiden itu?” Tanya Felix menebak.


“Benar Tuan, dan saat ini kami cukup kesulitan untuk melacak keberadaan orang itu. Sepertinya dia sengaja menyembunyikan identitasnya” sambung pria itu.


“Tetap lacak, bila perlu perluas jaringan. Saya ingin kasus ini segera terbongkar” ucap Felix dengan nada serius.


“Baik Tuan”


Panggilan itu terputus.


Felix menumpu dagunya dengan kedua tangannya.


“Sebenarnya apa yang terjadi Selena? Kenapa masa lalu mu begitu rumit, aku tidak tau apakah nantinya kau mampu menerima semua kenyataan ini” ucap Felix.


Jika benar kematian kedua orang tuanya di sengaja oleh seseorang, Felix tidak bisa membayangkan bagaimana hancurnya Selena.


Tok tok


Seketika lamunan Felix buyar.


“Masuk!”


Pintu pun terbuka, pandangan Felix menatap siapa yang masuk ke ruangannya.


“Permisi Pak,” ucap Selena membawakan nampan berisi secangkir kopi.


“Apa yang kau bawa Selena?” Tanya Felix yang fokus dengan nampan di tangan Selena.


“Ini saya buatkan cappucino, sebagai rasa terimakasih saya karena Bapak sudah dua kali menyelamatkan saya” ucap Selena terdengar tulus di telinga Felix.


Ada sedikit getaran di hatinya. Seumur hidupnya ia tidak pernah di buatkan minuman oleh seorang wanita apalagi ini partner kerja nya. Felix anti meminum minuman buatan orang lain, kecuali jika itu berada di tempat umum.


Selena sendiri pun tau dengan tabiat bos nya itu, awalnya ia ragu namun ia tetap ingin mencoba berpositif thinking siapa tau Felix tidak menolak.


“Hmm.. dari baunya kelihatannya nikmat” ucap Felix menajamkan indera penciumannya.


Merasa tidak ada penolakan dari Felix, Selena seperti mendapatkan angin segar.


Gadis itu tersenyum senang melihat respon bos nya.


Selena pun meletakkan cangkir itu di sisi kanan Felix.


“Silahkan di coba Pak, semoga suka” ucap Selena dengan senyum manisnya.


Felix mengangguk lalu meraih cangkir itu.


Sluurrpppp!


“Bagaimana Pak? Ada yang kurang?” Tanya Selena menatap was-was ke arah Felix.


Sejenak Felix memejamkan matanya.


Membuat Selena takut jika rasa cappucino itu tidak sesuai dengan lidah bos nya.


“Ini terlalu manis Selena” ucap Felix.


“Oh ya? Mungkin saya terlalu banyak menaruh gula Pak, jadi kemanisan. Maaf” ucap Selena merasa gugup takut di semprot atasannya. Pasalnya Selena rasa cappucino buatannya sudah pas sesuai takaran. Selena juga tidak tau seberapa takaran manis versi bos nya itu.


“Bukan itu,” ucap Felix


“Lalu?” Tanya Selena menatap takut Felix.


“Kamu terlalu banyak memberikan senyum, jadi rasa cappucino ini terlalu manis untuk saya, tapi menambah nikmat” ucap Felix di selingi kalimat gombalan dengan ekspresi coolnya.


Membuat pipi Selena merona seketika.


“Kamu sakit? Kenapa pipi mu merah?” Celetuk Felix menaikkan alisnya. Pria itu sengaja menggoda Selena hanya karena ingin menyaksikan ekspresi gemas gadis itu.


“Tidak! Bapak ternyata jago membual juga ya” seru Selena salah tingkah.


“Tidak juga, saya hanya menggoda kamu. Dan ini yang pertama kalinya saya berani menggoda seorang wanita”


Blushh..


Pipi Selena bak kepiting rebus sekarang. Ingin rasanya gadis itu menghilang sekarang juga. Jantungnya sudah tidak lagi terkontrol mendengar setiap lontaran kata yang keluar dari bibir pria itu.


“Cukup ya Pak, berhenti menggoda saya. Bapak lupa kalo saya punya kekasih” ucap Selena tidak kuat lagi mendengar gombalan Felix.


“Memangnya saya peduli? Lagi pula gombalan kekasihmu masih kalah dengan saya kan? Ngaku saja Selena” celetuk Felix dengan senyum smirk nya.


“Dari mana Bapak tau? Jangan sok tau deh” ucap Selena tidak terima. Meskipun itu benar adanya, tapi Selena malu mengakuinya di depan Felix.


“Tanpa kamu beritahu sudah pasti saya tau” ucap Felix dengan bibir tersungging.


Pria itu menikmati pemandangan indah kali ini, dimana melihat tingkah lucu Selena adalah hiburan bagi Felix.


Sepertinya ia akan mempunyai hobi baru, yaitu menggoda sekretarisnya. Entah kenapa hati Felix begitu tertarik pada gadis itu.


“Sudahlah lebih baik saya keluar. Berada disini terlalu lama tidak baik untuk kesehatan jantung saya” ujar Selena membalikkan badannya berlalu meninggalkan Felix yang tersenyum puas.


“Dan saya lah obatnya Selena..” teriak Felix namun tak di gubris oleh Selena.


Gadis itu terlanjur malu dan salah tingkah, sampai-sampai malu menampakkan mukanya di depan Felix.


“Astaga mana setiap hari ketemu lagi, huaaa!!!” Frustasi Selena ketika sampai di luar ruangan Felix.