
Dave sudah sampai terlebih dahulu di tempat bersemayamnya kedua orangtua Selena.
Pria itu duduk bersimpuh di tengah-tengah kedua makam Dominic dan Emily.
Setelah berdoa Dave menaburkan bunga di dua makam itu dan menaruh dua buah bunga karangan di sisi kuburan Dominic juga Emily.
“Hai Nic, aku datang. Maaf selama ini aku sudah bebuat salah pada keluarga mu. Putri mu sekarang tumbuh besar menjadi gadis cerdas dan mandiri. Bahkan sekarang kita menjadi besan” ucap Dave terkekeh seraya meneteskan airmata.
“Kalian tahu? Putraku sangat tergila-gila pada Selena. Dia lah yang akan menggantikan kalian untuk menjaga putrimu. Aku harap kalian di sana merestui pernikahan mereka” ucap Dave menatap kedua nissan itu bergantian.
“Dan aku juga berjanji akan menjaga Selena sampai akhir hayat ku. Jujur aku sangat terpukul dengan kepergian kalian. Aku pastikan akan mengusut tuntas orang yang telah membunuh kalian, tidak akan ku biarkan dia bernafas bebas berkeliaran di luar sana” ucap Dave mengetatkan rahangnya.
Dari jauh Felix dan juga Charlos menyaksikan betapa sedihnya Dave di atas nissan Dominic dan Emily. Tak terkecuali Selena yang menatap punggung Papa mertua nya bergetar menahan tangis.
Mereka bertiga buru-buru menghampiri Dave.
“Papa” panggil Selena mendekati Dave.
Dave pun mendongakkan pandangannya.
“Hai sayang, sudah lama?” Tanya nya menatap ketiga orang yang baru datang itu.
Selena menggeleng,
“Tidak juga” sahut Felix menimpali.
“Ah, baiklah. Sekarang giliran kalian, Papa sudah selesai” ucap Dave berdiri mempersilahkan Felix dan Selena.
“Papa langsung pulang?” Tanya Selena
“Iya, Mama pasti sudah menunggu Papa sekarang” sahut Dave mengusap puncak kepala Selena.
“Felix, Papa pulang. Jaga istrimu baik-baik”
Felix mengangguk mengacungkan ibu jarinya.
“Setelah ini aku tunggu di markas Charlos” ucap Dave menatap Charlos.
“Oke” ujarnya singkat.
“Hati-hati di jalan Pa” ucap Selena menatap kepergian ayah mertuanya.
Dave tersenyum seraya mengangkat tangannya membentuk O.
Pria paruh baya itu berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga di susul Mario dan beberapa pengawal yang mengiringi mobil Dave.
“Ayo honey” ajak Felix berjongkok di tengah makam ayah dan ibu Selena.
Gadis itu mulai menetralkan detak jantungnya. Rasa sedih menyeluti hatinya saat ini.
Selena mulai bersimpuh di tengah makam Dominic dan Emily.
“Ayah.. Ibu.. Elen datang” sapa Selena menyebutkan nama kecilnya dulu.
“Maafkan Elen Yah,Bu.. Selama ini Elen tidak pernah mengunjungi kalian, Elen sedih. Elen belum siap menangisi kepergian kalian lagi setelah beberapa tahun lamanya. Tapi sekarang Elen datang sekaligus membawa suami Elen.. Dia pria yang baik, yang selalu menjaga dan melindungi Elen” ucap Selena menatap Felix dengan airmata yang menetes.
Felix menggenggam tangan Selena memberi kekuatan pada istrinya.
“Hai Ayah dan Ibu mertua, perkenalkan aku Felix. Papa pasti sudah menceritakan semuanya kan? Maaf aku baru sempat mengunjungi kalian setelah pernikahan kami. Kami hanya ingin melindungi Selena dari incaran orang-orang tak bertanggung jawab, dan sekarang waktu yang tepat untuk kami berkunjung kesini. Mohon restui pernikahan kami, aku berjanji akan selalu ada di samping putri kalian saat susah maupun senang. Tapi aku tidak mungkin membuat putri kesayangan kalian berada di posisi sulit. Aku akan membuatnya bahagia sampai kalian mendapatkan cucu yang lucu-lucu” ucap Felix membuat Selena terkekeh.
Sementara Charlos tersenyum simpul di samping kedua pengantin baru itu.
“Kalian tenang saja sobat, selama aku masih bernafas aku tidak akan membiarkan seorang pun berani melukai Selena, meskipun nyawaku taruhannya” ucap Charlos yakin.
Charlos memberikan keranjang berisi bunga tabur dan dua botol air pada Felix dan Selena.
Keduanya meraih keranjang dan botol itu lalu menaburkan di atas makam Dominic dan Emily.
“Sudah selesai?” Tanya Charlos pada Felix dan Selena.
Felix menatap istrinya yang masih bersedih.
Selena pun mengangguk pelan.
“Sudah Uncle” jawab Selena mengusap sisa airmatanya.
“Ayah,Ibu.. Elen pamit pulang.. lain kali Elen pasti kesini lagi. Elen janji akan selalu bahagia, kalian juga harus bahagia disana” ucap Selena tersenyum menatap dua nisan itu bergantian.
Felix mengusap bahu Selena lembut.
Ketiganya beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju mobil dimana para pengawal sudah stand by menunggu mereka.
“Sepertinya kita harus berpisah disini, karena Papa mu pasti sudah menunggu di markas” ucap Charlos.
“Uncle tidak satu mobil bersama kami?” Tanya Felix
“Tidak, mana mungkin Uncle berada satu mobil dengan pengantin baru. Yang ada malah jadi nyamuk” celetuk Charlos absurd.
Selena melongo mendengarnya.
“Ya sudah, kita memang akan bermesraan” ucap Felix menimpali.
“Sudah sana, Uncle pergi dulu” ucap Charlos melambaikan tangannya.
“Hati-hati Uncle” ucap Selena membalas lambaian Charlos.
“Kita kembali ke hotel?” Tanya Felix pada Selena.
“Ya, badan ku rasanya letih sekali” ucap Selena menganggukkan kepalanya.
“Baiklah” putus Felix menuntun Selena masuk ke dalam mobil.
Di tengah perjalanan mobil yang di tumpangi Felix dan Selena tiba-tiba di pepet mobil tak di kenal.
Mobil itu sampai menyenggol spion milik Felix.
“Percepat Dom!” Perintah Felix menatap tajam mobil di sampingnya.
“Mereka siapa?” Tanya Selena panik.
“Hanya tikus kecil sayang. Tenanglah” ucap Felix memeluk erat istrinya agar tidak ketakutan.
Sementara mobil para pengawal Felix menembaki mobil lawan dengan hujaman peluru.
“Sejak kapan mereka mengikuti kita Dom?” Tanya Felix
“Baru saja Tuan. Mereka memang menelusuri beberapa kota karena tahu kita sedang tidak berada di apartemen” jelas Dom.
Felix menganggukkan kepalanya mengerti, sepertinya ia akan memperketat penjagaan Selena.
“Sayang, untuk sementara ini kita tunda dulu honeymoon nya. Situasi memang sedang tidak aman untuk mu. Lain kali tidak apa-apa kan?” Tanya Felix menatap istrinya.
“Tidak masalah. Aku juga tidak ingin merepotkan mu” sahut Selena memperhatikan mobil musuh yang terus di tembaki para pengawal.
Tak lama mobil asing itu oleng dan menabrak pembatas jalan.
“Apa kita harus turun Tuan?” Tanya Dom meminta persetujuan Felix.
“Tidak perlu Dom. Waktu mu terbuang sia-sia hanya untuk mengurus sampah tak berguna” jawab Felix yang memang sudah tau siapa dalang dari kekacauan ini.
Dom mengangguk mengerti.
“Kemampuan anak buah mu ternyata hanya seujung kuku” sinis Felix tersenyum remeh.
Dom pun ikut tersenyum devil, ‘Beraninya mengganggu keturunan keluarga singa’ batin pria itu kembali fokus menyetir.
Selena mendongak ke arah suaminya yang masih menatap tajam ke arah depan.
Felix yang merasa di tatap istrinya itupun seketika menunduk. Pria itu seakan tau keresahan dalam hati Selena.
“All is fine honey. Tidurlah” ucap Felix mengecup singkat bibir Selena. Membuat wanita itu menjadi blushing.
Ia memilih menyandarkan kepalanya di bahu kekar suaminya. Tak lama Selena tertidur karena merasa nyaman.
Felix menatap istri cantiknya yang tertidur pulas itu seketika menyuruh Dom mengurangi kecepatannya takut mengganggu Selena.
“Pelan-pelan saja Dom” titah Felix.
“Baik Tuan” jawab Dom mengurangi laju mobilnya.
Sementara di dalam ruangan kerjanya, Robert murka mendengar laporan anak buahnya yang gagal membawa Selena pergi.
“Kalian pengecut!! Kenapa tak kau bunuh saja semua anak buahnya? Hah?!!!” Maki Robert pada salah satu anak buahnya.
“Mereka membawa senjata lengkap Tuan. Kami hanya satu mobil sedangkan mereka berjumlah tiga mobil” ucap orang itu menunduk ketakutan.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka menampakkan sosok Hans yang menatap tajam Robert.
“Siapa lagi yang ingin kau celakai?” Tanya Hans dingin.
“Bukan urusan mu. Kau masih bocah tidak mengerti urusan orang dewasa” sarkas Robert.
“Cih! Baiklah. Akan ku tunjukkan kemampuan seorang anak yang kau anggap bocah ini” ucap Hans dengan sudut bibir terangkat.
Bug!!!
Bug!!!
Brakk!!!
Berkali-kali Hans menyerang Robert membabi buta, terakhir pria itu menendang Robert hingga terpental membentur meja.
Anak buah Robert hanya diam saja menyaksikan pertarungan sengit antara anak dan ayah itu. Dalam hatinya bernafas lega karena dia tidak menjadi sasaran empuk kemarahan Robert.
“Bangun!!” Bentak Hans menatap nyalang pria paruh baya itu.
Uhukk!!
Robert terbatuk seraya memegang dadanya yang terasa sakit akibat hantaman Hans, pria itu terlihat lemah di bawah meja kerjanya.
“Kau saja tidak bisa melindungi dirimu dari serangan orang lain lantas kenapa kau menyalahkan mereka yang gagal membawa incaran mu? Memalukan!!” Sentak Hans menatap remeh ayahnya.
“Kau benar-benar anak tidak punya sopan santun Hans!! Aku tidak terima!!” Teriak Robert murka.
“Lalu kau mau apa? Membunuh ku? Silahkan saja dengan senang hati aku akan menyerahkan nyawaku jika itu bisa membuat mu merasa bersalah dan tersiksa seumur hidup” ucap Hans menyunggingkan senyum devilnya.
“Kurangajar!!” Sentak Robert merasa frustasi.
“Ku peringatkan sekali lagi, jika kau masih saja melakukan hal menjijikkan itu akan ku pastikan kau tidak akan bisa menikmati hidupmu dengan bebas kedepannya” ucap Hans berlalu keluar meninggalkan Robert.