
Melihat Selena yang tak sadarkan diri seketika Felix cemas. Jantungnya serasa berhenti di tempatnya.
“Sayang bangunlah, hei buka mata mu Selena!” Ucap Felix menepuk-nepuk pipi Selena.
Tak ada respon sedikit pun dari wanita itu.
Pandangan Felix beralih menatap Johan yang tersenyum puas.
“Kau sudah melukai wanita ku, maka terimalah balasan mu pria keparat!!!” Marahnya menatap bengis Johan.
“Cih! Kita buktikan sehebat apa kemampuan mu!” Balas Johan menatap remeh.
Felix pun melepaskan mantel nya lalu meletakkan tubuh Selena dengan beralaskan mantel.
Ia berlari cepat mendekati Johan dan melayangkan tendangan cukup keras tepat di dada Johan membuat pria itu terhuyung mundur membentur pohon.
Felix tak memberikan celah sedikitpun untuknya melakukan perlawanan. Ia terus menendang dan memberikan bogem bertubi-tubi tanpa ampun hingga membuat wajah Johan yang semula baik-baik saja kini penuh luka lebam di beberapa titik.
“Masih meragukan kemampuan ku, hm?!” Tanya Felix meludah di wajah pria paruh baya itu dengan tatapan memancarkan kilat amarah.
“Brengsek!!” Umpat Johan masih bisa mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya karena tak terima dengan perlakuan Felix.
“Heh!” Seketika Felix mengangkat sudut bibirnya menyeringai.
“Aku bisa lebih sadis dari ini bastard! Kau mau mencoba nya? Baiklah” tukas Felix tanpa menunggu jawaban dari Johan.
Ia menurunkan kakinya dari tubuh Johan dan menendang kepala Johan berkali-kali hingga pria itu memekik keras.
“Aaargghhhh!!!! Sialan!!!!” Teriak Johan begitu keras.
“Bos!” Teriak anak buah Johan yang melihat ketua nya di siksa habis-habisan.
Sedangkan Felix seperti orang kesetanan, ia tak peduli dengan teriakan Johan apalagi teriakan orang-orang Johan yang ada disana.
“Dom! Kau urus Nona Selena, sisanya biar aku yang bereskan!” Titah Roy di sela-sela kelahi nya menghadapi anak buah Johan.
“Tapi bagaimana dengan kondisi anda Tuan?!” Ucap Dom menatap cemas tubuh Roy yang penuh luka akibat senjata tajam yang menggores beberapa bagian tubuhnya.
“Jangan pikirkan aku! Keselamatan Nona yang utama!” Teriak Roy
Dom pun terpaksa menuruti ucapan Roy dan berlari menghampiri tubuh Selena yang tergeletak tak berdaya.
“Saya mohon bertahanlah Nona, demi Tuan Felix!” Ucap Dom mengangkat tubuh Selena dan membawanya ke dalam mobil yang jaraknya tak jauh dari tempat itu.
Charlos yang baru saja menerima telfon seketika menghentikan aktifitasnya setelah melihat Dom berlari menggendong Selena dengan tergopoh-gopoh.
“Apa yang terjadi dengannya Dom?!” Tanya Charlos panik.
“Entahlah Tuan! Tiba-tiba Nona tak sadarkan diri setelah bertemu dengan Tuan Felix! Lebih baik kita bawa ke rumah sakit sekarang Tuan!” Ucap Dom di balas gelengan oleh pria paruh baya itu.
“Sebaiknya kau saja Dom, aku akan membereskan masalah ini. Dave sedang perjalanan menuju kemari, mungkin kau bisa meminta bantuan nya ketika bertemu di jalan nanti” ucap Charlos menolak ajakan Dom.
“Baiklah Tuan, kalau begitu saya pergi dulu” pamit Dom di angguki oleh Charlos.
“Hati-hati Dom, jaga Selena dengan baik” pesan Charlos pada Dom.
Mobil yang di kendarai Dom melaju meninggalkan tempat itu.
Charlos pun menyusul dimana Felix dan para orang-orangnya berada.
Sedangkan kini Johan sudah tak sadarkan diri setelah berkali-kali mendapatkan tendangan brutal dari Felix hingga membuat sebagian anak buah Johan marah.
“Kurang ajar!!! Beraninya kau menyiksa bos kami!!” Umpatnya marah menatap Felix penuh kebencian.
Sedetik kemudian anak buah itu mengeluarkan pisau dari balik jaketnya dan melemparkannya ke arah Felix.
Srettt!!!!
“Paman!!!!!”
Teriak Felix shok karena pisau itu mengenai Charlos tepat di bagian bahu nya. Yang membuat ia heran kenapa Charlos tiba-tiba disana? Bukankah pria paruh baya itu sedang menyiapkan perangkap untuk Johan.
Roy yang menyaksikan hal itu seketika amarahnya memuncak. Ia merebut pisau yang ada di tangan anak buah Johan dengan cepat dan berlari menggoreskan pisau itu di tubuh para anak buah Johan tanpa terkecuali.
“Kalian sudah menguji kesabaran ku!!! Bahkan kalian berani melukai paman ku! Maka rasakan ini!!!” Teriak Roy dengan kilatan penuh amarah.
“Kenapa paman nekat sekali! Paman membahayakan nyawa paman sendiri!” Ucap Felix sedikit marah karena sikap Charlos.
“Kalau tidak dengan cara begini lalu bagaimana? Apa kau mau jantung mu tertusuk sampai koma dan tidak bisa menjaga istrimu?” Balas Charlos tak peduli.
“Tapi Felix tidak dengan mengorbankan nyawa paman seperti ini!” Ucap Felix tak habis fikir.
“Sudahlah! Pergilah dan bantu Roy, anak itu seperti kerasukan setan neraka saja!” Titah Charlos merasa dirinya baik-baik saja. Padahal luka di bahunya cukup dalam dan menganga sehingga banyak darah yang keluar.
“Tidak! Biarkan saja Roy memberi pelajaran pada orang-orang itu!” Tolak Felix mentah-mentah. Ia lebih memilih berada di samping Charlos yang menahan sakit. Sejujurnya ia merasa bersalah meskipun dalam hatinya mengucap syukur dirinya baik-baik saja karena Charlos melindunginya.
Tiba-tiba beberapa mobil hitam tiba di tempat itu. Felix menoleh terkejut ternyata semua anak buah Papanya datang ke tempat dimana kekacauan terjadi.
Pandangan Felix beralih menatap Charlos meminta penjelasan.
“Ya, aku yang mengabari Papa mu agar mengerahkan semua anak buahnya untuk meratakan tempat ini” ucap Charlos
Semua anak buah Dave turun berbondong-bondong melumpuhkan komplotan Johan tanpa sisa. Roy pun beringsut mundur karena lega akhirnya tugasnya selesai telah di gantikan semua anak buah Dave.
Melihat kedatangan Dave seketika Charlos menatap heran pria itu.
“Kenapa dengan mu?” Tanya Dave lebih dulu melihat keadaan Charlos.
“Paman terkena lemparan pisau Pa! Dia ini nakal sekali karena berani mengorbankan nyawanya karena melindungi ku” sahut Felix menatap kesal Charlos dan sialnya pria paruh baya itu malah menirukan gaya bicaranya.
“Benarkah? Aku rasa kau sudah gila Charlos” ucap Dave yang sebenarnya miris dengan kondisi rekannya.
“Kalian ini bukannya menolong ku malah mengolok-ngolok. Roy! Bawa aku ke dalam mobil, aku ingin tidur sebentar” ucapnya tanpa dosa membuat Felix dan Dave menganga lebar.
Roy pun menuruti ucapan pamannya.
“Hei! Kau bersama ku saja!” Seru Dave menatap Charlos
“Tidak! Kalian menyebalkan” balas Charlos pongah.
Membuat ayah dan anak itu saling pandang.
“Pa, dimana istriku?!” Tanya Felix panik tak melihat keberadaan Selena terakhir kali ia meletakkan istrinya.
“Dia sudah di bawa Dom ke rumah sakit, tadi Papa bertemu di jalan” jawab Dave
“Benarkah? Ayo Pa! Aku harus menyusulnya sekarang!” Ajak Felix terburu-buru.
“Sebentar!” Cegah Dave kemudian memanggil salah satu pengawal.
“Kau periksa pria ini, cek denyut nadinya” pinta Dave pada anak buahnya untuk memeriksa keadaan Johan yang mengenaskan.
“Baik Tuan!” Ucap anak buah itu melakukan apa yang di minta Dave.
“Dia sudah tidak bernyawa Tuan!” Ucap anak buah itu setelah memastikan tidak ada denyut nadi di tubuh Johan.
“Cih! Mati? Baguslah!” Tukas Felix tak peduli.
“Ini perbuatan mu?” Tanya Dave menebak.
Felix hanya mengedikkan bahunya acuh meninggalkan tempat itu.
Dave berdecak pelan melihat sikap acuh pria itu.
“Kalian! Ratakan tempat ini sekarang juga dan bawa semua cecunguk itu ke markas!” Titah Dave pada anak buahnya.
“Siap Tuan!” Jawab mereka serempak.
“Mario!” Panggil Dave
“Ya Tuan?” Ucap Mario mendekat.
“Makamkan pria busuk ini. Rahasiakan dari siapapun. Jangan sampai Robert mengetahuinya, aku ingin melihat seberapa keras usahanya untuk keluar dari sel tanpa bantuan orang suruhannya” pinta Dave.
“Baik Tuan laksanakan!” Ucap Mario.
Dave pun menyusul putranya yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.