
Sesampainya di mansion Grace mencari keberadaan Dave dengan perasaan marah yang meledak-ledak.
“Dimana suamiku?!” Tanya Grace menatap tajam para maid yang sedang melakukan pekerjaannya.
“Tuan Besar ada di kolam Nyonya” ucap maid itu memberitahu.
Grace pergi melenggang begitu saja tanpa mengucapkan rasa terimakasih.
Wanita itu semakin menggebu-gebu melihat suaminya dengan santai membaca majalah di tepi kolam.
“Papa!!” Panggil Grace bersungut-sungut. Wanita itu berkacak pinggang menatap marah ke arah Dave.
“Kenapa?” Tanya Dave menoleh ke arah istrinya seraya melepaskan kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya.
“Apa maksud Papa menyembunyikan pernikahan Felix dari Mama?! Hahh!! Ini keterlaluan Pa!” Sungut Grace berapi-api.
Dave dengan santai nya meminum kopi.
“Ternyata kau sudah tahu” ucap Dave tenang.
Membuat Grace semakin berang mendengar ujaran suaminya.
“Kenapa?! Kenapa kau dengan mudahnya merestui mereka? Kau lupa masih punya aku? Aku ibunya?!! Aku berhak menentukan siapa yang akan menjadi pendamping putraku! Tentunya dari wanita yang baik bukan gadis murahan sepertinya!!!” Sentak Grace menatap tajam netra Dave.
“Kau pikir wanita pilihan mu itu gadis baik-baik?? Bahkan dia tidak sebaik apa yang kau kira Grace” ucap Dave menyunggingkan senyum miringnya.
“Jangan asal bicara! Aku tahu persis seperti apa Celline, dia tidak pernah neko-neko apalagi dekat dengan laki-laki manapun! Bahkan kepulangan nya kemari hanya untuk menemui Felix agar dia bisa lebih dekat dengan putra kita. Tapi apa yang kau lalukan?? Kau malah merusaknya dan malah menikahkan Felix dengan gadis tidak tahu diri sepertinya! Aku rasa kau perlu mengetahui latar belakang siapa yang akan menjadi menantu mu Dave! Kau terlalu gegabah dalam hal ini!!” Ucap Grace meluapkan kekesalannya.
Dave berdecih membuang pandangannya ke arah samping.
“Kau bilang aku gegabah? Apa tidak keliru? Seharusnya aku yang bilang begitu pada mu. Kau pikir aku bodoh tidak menyelidiki siapa pun yang dekat dengan putra ku. Tuduhan mu salah! Apa kau pikir Celline wanita baik-baik? Cih! Kau salah Grace, salah besar. Jangan pernah merendahkan Selena karena dia tidak pantas untuk di bandingkan dengan wanita pilihan mu. Jauh.. bahkan sangat jauh!” Ucap Dave menajamkan matanya.
“Bahkan aku penasaran seperti apa reaksi mu jika mengetahui siapa Celline sebenarnya. Apa kah kau nantinya masih bisa membela wanita itu mati-matian seperti sekarang ini. Ku harap kau tidak malu kedepannya karena pernah membela dan mengagung-agungkan nama wanita itu di depan semua orang” imbuh Dave tersenyum miring.
Grace melotot tak terima dengan ucapan suaminya.
“Cih! Terserah aku tidak peduli! Yang pasti Celline lebih unggul segalanya di banding menantu kesayangan mu itu!” Decih Grace menatap malas.
“Itu terserah pada mu. Yang terpenting jangan sekali-sekali kau berani mengusik bahkan mengacaukan rumah tangga putra mu. Aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman untukmu” ucap Dave memperingati. Pria itu berlalu pergi meninggalkan Grace yang diliputi rasa amarah.
“Aku sama sekali tidak peduli!” Ketus Grace dengan emosi.
Dave tak ingin mendengar ocehan yang keluar dari mulut istrinya itu. Meladeni Grace sama saja menghadapi wartawan yang tidak akan pernah puas untuk bertanya.
Sementara Celline kini tengah meraung berteriak keras dan membanting semua barang yang ada di dalam apartemennya.
“Aaaarrgghhh sial!!!”
“Brengsekk kau Selena!”
Umpatan-umpatan itu terus ia lontarkan hingga memenuhi suara yang memekakkan di apartemen itu.
“Ini tidak bisa di biarkan! Aku harus segera bertindak untuk memisahkan mereka berdua! Enak saja dia menikmati semua dengan mudah, sementara aku?! Aku yang mengejar nya mati-matian justru apa yang aku dapat?”
“Lihat saja Selena, ku pastikan kebahagiaan mu tidak akan berlangsung lama” ucap Celline menyeringai lebar.
Ia bergegas meraih ponsel di dalam tas nya lalu menghubungi seseorang.
Felix mengemudikan mobilnya santai setelah melakukan pertemuan dengan klien nya bersama Selena. Keduanya memutuskan untuk pulang ke mansion karena memang tidak ada agenda penting lagi di kantor.
“Hubby bisa kita berhenti di pinggir jalan sana?” Tanya Selena menunjuk tepi jalan berisi deretan ruko swalayan dan juga apotik.
“Untuk apa?” Tanya Felix menoleh ke arah istrinya.
“Aku ingin membeli vitamin sebentar, kebetulan aku akan mengikuti saran dokter untuk program hamil” ucap Selena
“Oh ya? Itu bagus, aku akan mendukung keputusan mu baby. Dan kita akan segera mencetak banyak anak nantinya” seringai licik muncul di bibir Felix.
Selena melayangkan pukulan di lengan kekar suaminya itu. Bisa bisanya mengatakan hal yang menurutnya absurd.
Felix hanya meringis dan menghentikan mobilnya tepat di depan apotik.
“Sudahlah aku pergi dulu” ucap Selena membuka pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam apotik.
“Permisi mbak, saya mau cari vitamin promil” ucap Selena pada apoteker.
“Baik Nona, tunggu sebentar” ucapnya berlalu mengambilkan apa yang di perlukan Selena.
Setelahnya Selena membayar vitamin itu dan keluar dari apotik. Felix memandangi istrinya dari balik kaca mobil.
Tiba-tiba ada seseorang yang menabrak tubuh Selena hingga bungkusan di tangannya jatuh begitu saja.
“Ah maaf saya terburu-buru. Anda tidak apa-apa?” Tanya seorang laki-laki yang menggunakan masker itu.
“Tidak apa-apa. Lain kali lebih berhati-hati” Ucap Selena memperingati.
Sedetik kemudian laki-laki itu menunduk dan pergi meninggalkan Selena.
Felix yang menyaksikan itu seketika khawatir terjadi sesuatu dengan istrinya. Ia bergegas turun menghampiri Selena yang mulai berjalan ke arah nya.
“Kamu baik-baik saja sayang?” Tanya Felix memastikan kondisi istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“I'm okay hubby. Hanya sedikit insiden saja” ucap Selena
“Lain kali biar aku saja yang membelikan, kau tidak perlu repot-repot untuk keluar dari mobil” ucap Felix tak terbantahkan.
Selena menghela nafasnya pasrah. Lagi-lagi sikap posesif pria itu muncul.
Tak ingin terjadi sesuatu Felix pun meraih ponsel di dalam sakunya dan menghubungi Assisten nya.
“Halo Dom, kau melihat kejadian tadi?” Tanya Delix to the point.
“Ya Tuan, sepertinya orang itu menyelipkan sesuatu di tubuh Nona saat pria asing itu berbenturan dengan Nona” terang Dom mengawasi gelagat aneh sejak tadi dari jarak jauh. Mata elang Dom begitu jeli memperhatikan apa yang ia lihat.
“Baiklah, aku akan memeriksanya sendiri. Terimakasih Dom” ucap Felix mematikan panggilannya.
Ia pun bergegas masuk ke dalam mobil karena Selena sudah lebih dulu masuk.
“Bicara dengan siapa?” Tanya Selena menatap ke arah suaminya.
“Hanya klien lama” jawab Felix bohong.
Pria itu menelisik semua area tubuh Selena. Tatapannya mengarah pada kancing baju milik istrinya.
Felix mendekatkan tubuhnya condong ke arah Selena hingga membuat wanita itu mengernyit keheranan melihat tingkah aneh suaminya.
Sedetik kemudian Felix mengecup bibir Selena dan ********** bersamaan dengan tangannya yang meraih sesuatu di balik kancing transparan kemeja yang Selena kenakan.
“Ishh hubby! Dasar tidak tahu tempat” desis Selena mendelik.
“Kenapa? Tidak ada yang melihat nya” jawab Felix santai.
Selena membenarkan apa yang di ucapkan suaminya. Ia kembali bersandar di jok mobil untuk menetralkan degub jantungnya karena aksi Felix yang tiba-tiba.
Pria itu mengulas senyum manisnya melihat ekspresi malu Selena.
Sedetik kemudian matanya memincing memegang benda kecil yang baru saja ia ambil di balik kancing baju Selena.
Tangannya mengepal erat menghancurkan benda itu hanya dengan sekali genggaman.
‘Kau pikir aku sebodoh itu? Hah! Siapapun dibalik ini aku akan tetap mencari mu walau sampai di lubang semut sekalipun’ batin Felix mengetatkan rahangnya.