Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 18 | Tangisan Selena



Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Selena yang merasa haus pun akhirnya bangun beranjak dari kasur.


Sebenarnya masih ada waktu dua jam lagi sebelum ia meninggalkan tempat ini, entah kenapa gadis itu terbangun di pagi buta.


Selena mengucek matanya dan membuka nya lebar-lebar.


Ia menelisik ke samping ranjangnya. Sofanya kosong, tidak ada keberadaan Juan disana.


“Kemana dia? Apa mungkin masih di luar?” Gumam Selena terus berjalan ke arah kitchen untuk mengambil air putih.


Ia membawa gelasnya dan berjalan ke samping menuju balkon.


Tidak ada siapapun disana.


“Kemana perginya? Kenapa tidak membangunkan ku” ucap Selena merasa bingung.


Ia mengambil ponsel lalu menghidupkannya.


Notif pertama kali yang masuk adalah beberapa panggilan dari Felix beberapa jam lalu. Selena membiarkannya, ia lupa mengabari pria itu jika dirinya berniat pulang besok pagi.


“Ah besok saja aku bilang padanya. Pasti dia mengerti” ucap Selena mengabaikan panggilan bosnya.


Pikiran Selena tertuju pada Juan, ia segera menelpon pria itu namun sayangnya ponsel Juan tertinggal di kamarnya.


“Ponselnya saja disini, lalu kemana dia?” Tanya Selena heran.


Ia khawatir dengan Juan, tidak pernah Juan pergi menghilang seperti ini.


Akhirnya Selena memutuskan untuk mencari keberadaan Juan. Siapa tahu pria itu berada di luar mencari angin segar.


“Tapi apa iya pagi-pagi buta begini dia cari angin sedangkan orang-orang masih berada di alam mimpinya” pikir Selena ragu.


“Ah! Sebaiknya aku cari saja” ucap Selena berjalan keluar.


Selena menoleh kanan kiri, suasana penginapan itu sepi tidak ada tanda orang-orang berada di luar.


Langkahnya terus berjalan menuju sisi kiri, samar-samar ia mendengar suara dari arah samping sebelah kiri kamarnya.


“Ahhh babe ini sangat nikmat”


Suara erangan itu terdengar samar di telinga Selena namun sangat jelas.


“Gila! Pagi-pagi buta begini mereka melakukan olahraga? Ck! Tidak tau waktu!” Gerutu Selena merasa risih. Ia berniat menjauh dari kamar itu namun tiba-tiba Selena mendengar teriakan seseorang menyebut nama yang tidak asing di telinganya.


“Ahh Juan lebih cepat lagi babe..”


“Yeah begitu ahh.. Juan Castello kenapa milikmu begitu besar!” Jerit wanita itu begitu jelas dan nyaring di telinga Selena.


Degg!!


Detak jantung Selena serasa berhenti saat ini.


Sontak Selena pun membekap mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Nama itu begitu jelas di sebut oleh wanita yang berada di samping kamarnya.


Airmata Selena keluar begitu saja tanpa permisi. Ia menggeleng kuat masih tak menyangka dengan apa yang ia dengar.


Selena pun mengeluarkan ponselnya dan merekam suara-suara erangan di dalam kamar tersebut.


“Ohh Juan aku tidak tahan lagi! Lebih dalam babe”


“Arrgghh milikmu sangat nikmat Elle!” Ucap Juan menggeram mempercepat tempo nya hingga hentakan itu terdengar sampai di luar.


Selena yang tidak kuat lagi mendengar suara-suara laknat itu pun mengakhiri rekamannya.


Ia segera meninggalkan tempat itu dan berlari menuju kamarnya.


“Hiks..hikss! Sakit sekali..!” Isak Selena memegang dadanga terasa sesak.


Selena begitu kecewa kesetiaan nya selama ini berbuah pahit. Pengkhianatan ini bagi Selena adalah mimpi buruk. Ia tak menyangka ternyata Juan tega mempermainkan perasaannya.


“Aku kurang apa di matamu Juan? Apa lebihnya wanita itu?! Apa karena aku tidak melayani kebutuhan se*s mu hingga kau sampai bermain kotor di belakangku?!”


“Kenapa Juan.. kenapa?!!” Raung Selena menyembunyikan wajahnya di balik bantal agar suaranya tidak terdengar sampai luar.


“Aku bersumpah tidak ingin mengenalmu lagi! Ya, aku harus pergi sekarang sebelum dia kembali” ucap Selena menghapus airmata nya lalu mengemasi barang-barangnya.


Ia memasukkan semua perlengkapannya ke dalam ransel. Setelah semua selesai Selena bergegas meninggalkan tempat itu.


Sampai di luar pintu gerbang penginapan Selena membalikkan badannya.


“Selamat tinggal Juan, aku harap kita tidak akan bertemu lagi setelah ini. Kepercayaan ku sudah hancur tak tersisa lagi untuk mu” ucap Selena lirih dengan airmata yang menetes di pipi mulus gadis itu.


Terlihat dari arah kiri jalan ada sebuah lampu taksi melaju.


“Maaf Nona, kita mau kemana?” Tanya sang sopir karena selama lima belas menit perjalanan Selena tidak kunjung memberitahu kemana tujuannya. Gadis itu sedari tadi hanya menangis tertunduk. Akhirnyasang sopir pun memberanikan diri bertanya pada Selena.


Selena menghentikan tangisnya sejenak.


“Ke Damac Lagoons pak” ucap Selena menyebutkan alamat Felix.


Gadis itu tahu jika ia pulang ke rumahnya pasti Juan akan mudah menemukannya. Ia sudah bertekad tidak ingin bertemu lagi dengan pria kotor itu. Selena muak, ia sudah cukup bersabar selama ini menantikan kepulangannya. Tapi yang ia dapat malah sebuah pengkhianatan yang cukup mengoyak hatinya.


Sopir itu melajukan mobilnya menuju apartemen ter-elit di kota Dubai itu.


Menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit akhirnya ia sampai di depan gedung apartemen Felix.


Selena pun mengeluarkan beberapa lembar uang lalu menyerahkan pada sang sopir. Gadis itu bergegas turun dari taksi menggendong ranselnya.


“Nona kembaliannya!” Teriak Sopir itu.


“Ambil saja Pak!” Balas Selena berjalan cepat memasuki lobi.


Sopir taksi itu pun melanjutkan perjalanannya.


Kini Selena berada di depan pintu lift,


“Ck! Lama banget sih jam segini siapa yang naik turun lift” gerutu Selena.


Sementara Felix kini tengah di landa gusar sebab waktu menunjukkan pukul empat pagi namun tidak ada tanda Selena akan pulang. Pria itu tidak bisa tidur semalaman karena terus memikirkan Selena.


Sempat Felix berniat ingin menyewa detektif untuk melacak keberadaan Selena, tapi mengingat dirinya tidak memiliki hak apapun akhirnya Felix mengurungkan niatnya. Dan jadilah sekarang ia yang kelimpungan sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara bel apartemen berbunyi. Felix bergegas kedepan membukakan pintu.


Klik!


Pintu terbuka menampakkan sosok yang ia tunggu kedatangannya semalaman ini.


Felix mengerutkan keningnya ketika melihat wajah lesu dan mata sembab Selena.


“Dari mana saja Selena? Kenapa baru pulang jam segini? Dan kenapa dengan mata mu?” Cecar Felix memberondong sederet pertanyaan pada gadis itu.


Selena hanya diam tak berniat menjawabnya, gadis itu mengusap sisa airmatanya yang jatuh sepanjang perjalanan menuju apartemen tadi.


Felix yang melihat reaksi Selena kali ini sontak berpikir yang tidak-tidak. Otaknya mencerna semua ekspresi yang di tunjukkan oleh Selena.


'Tidak salah lagi pasti ulah pria tidak tau diri itu!’ Gumam Felix mengetatkan rahangnya.


Ia segera menyusul Selena yang saat ini sudah masuk ke dalam kamarnya.


Tok! Tok!


“Selena! Bolehkah saya masuk?” Tanya Felix dari luar.


Selena yang tengah duduk di atas ranjang sambil menangis pun seketika terkejut.


“Sial! Kenapa aku tidak mengunci pintu saja tadi!” Decak Selena di sela-sela tangisnya.


Gadis itu tak mempedulikan panggilan Felix. Ia kembali menelingkupkan wajahnya di atas bantal.


Merasa tidak ada sahutan dari dalam akhirnya Felix memutuskan untuk masuk. Ia takut terjadi sesuatu dengan gadis itu.


Ceklek!


Felix melihat Selena yang tengah menunduk di atas bantal dengan pundak yang bergetar, menandakan gadis itu tengah menangis saat ini. Langkahnya mendekati ranjang Selena dan ia pun duduk di samping gadis itu.


“Kenapa? Are you okay Selena?” Tanya Felix mengelus bahu Selena perlahan.


Selena semakin mengeraskan tangisnya.


“Hiks.. hikss.. huaaa!!” Tangis Selena pecah seketika saat Felix kembali mengusap punggungnya.


“Heii kenapa? Apa yang terjadi?” Tanya Felix semakin panik mendengar tangisan gadis itu.


“Hiks.. hiks! Saya kurang apa Pak? Cantik sudah, body juga bagus, setia jangan di tanya lagi! Tapi kenapa dia masih saja tidak merasa cukup? Apa kurang saya Pak?!!” Tanya Selena dengan emosinya.


Felix segera memeluk gadis itu, tangannya terus bergerak mengusap punggung Selena agar gadis itu sedikit tenang.


“Sssttt! Semua manusia punya kekurangan Selena, tapi kita sebagai manusia di ciptakan berpasangan untuk saling melengkapi. Kalau kita tidak bisa saling melengkapi itu artinya dia bukan pasangan kita” ucap Felix menasehati.


“Ya Bapak benar. Saya merasa tidak bisa melengkapi kekurangan itu. Saya tidak bisa melayani nya. Saya tidak bisa memenuhi nafsunya! Saya tidak pandai dalam hal itu semua itulah sebabnya dia mencari wanita yang bisa memenuhi kebutuhan se*s nya di luar sana!” Ucap Selena meluapkan semua emosinya yang ia pendam sejak tadi.


Felix yang mendengar penuturan Selena pun paham. Tangannya terkepal erat hingga otot-otot kekarnya terlihat.


‘Benar ternyata dugaan ku selama ini, laki-laki itu sudah mengkhianati Selena sejauh ini. Aku tidak akan membiarkan Selena jatuh kembali ke tangannya’ ucap Felix dalam hati.