
Sesampainya di gereja Felix menggandeng tangan Selena, gadis itu semakin merasa gusar. Firasat nya mengatakan bahwa ini bukan acara pernikahan pada umumnya, dilihat dari suasananya begitu privat dan sepi.
“Ini pernikahan siapa?” Tanya Selena mulai kepo.
Felix tersenyum menanggapi pertanyaan calon istrinya.
“Akan ada saatnya kau akan tahu” jawab Felix tersenyum lembut ke arah Selena.
“Ayo kita masuk” ajak Felix melanjutkan langkahnya.
Ada beberapa pengawal yang menyambut kedatangan keduanya.
Sampai di dalam gereja Selena di tuntun menduduki kursi yang terletak di tengah-tengah persis seperti mempelai. Disana terdapat lima kursi diantaranya dua kursi calon pengantin dan dua kursi saksi wali. Satu kursi untuk pendeta yang akan memimpin kedua mempelai.
“Kenapa kita duduk disini?” Tanya Selena dengan polosnya.
“Karena kita calon pengantin nya” jawab Felix membuat Selena terkejut seketika.
“Maksud mu, kita menikah?” Tanya Selena masih belum sadar dengan situasi.
Felix mengangguk mantap.
“Hah?” Selena menganga tak percaya.
Sedetik kemudian Dave datang bersama Charlos, mereka berjalan di belakang pendeta yang akan memimpin keduanya untuk mengucap janji suci.
“Selamat nak, Papa merestui kalian. Setelah ini berbahagialah” ucap Dave tersenyum menatap Selena.
“Papa..” ucap Selena masih dengan perasaan gugupnya.
“Selamat Selena, Uncle hanya bisa mendoakan yang terbaik, hanya ini yang bisa Uncle lakukan.. mengantarmu sampai ke pelaminan. Dan untuk mu Felix, tolong jaga dan lindungi Selena. Jangan pernah membuat dia menangis dalam keadaan apapun. Uncle titip dia pada mu” ucap Charlos menitikkan air matanya.
“Pasti Uncle, terimakasih sudah mempercayakan semua pada Felix.” Balas Felix merangkul Charlos.
Selena tak kuasa menahan airmatanya, momen yang ia impikan selama ini terwujud secara tiba-tiba. Ia sendiri tidak tahu harus senang atau sedih, sebab di momen terindah dalam hidupnya ia menikah tanpa di dampingi kedua orang tuanya.
Gadis itu menangis sesegukan di pelukan Felix.
“Sstt.. sudahi air mata mu honey. Ini adalah hari bahagia kita. Dan maaf hanya pernikahan sederhana, untuk sementara aku belum bisa merayakannya, ini semua demi kebaikan dan keamanan mu agar terhindar dari bahaya” ucap Felix berusaha menenangkan Selena.
Selena menggeleng pelan seraya menghapus airmatanya.
“Tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup bagiku, setidaknya kau benar-benar membuktikan ucapanmu” ucap Selena tersenyum di sela-sela tangisnya.
Felix mengusap sisa airmata yang ada di kelopak mata Selena.
“Pengantin pria dan pengantin wanita sudah siap?” Tanya sang pendeta.
Felix dan Selena pun mengangguk mantap.
“Baiklah saya mulai sekarang” ucap pendeta itu.
Seketika suasana menjadi serius. Semua orang dengan khidmad mendengarkan lantunan kalimat sakral yang di ucapkan pendeta.
Setelahnya, Felix mengucapkan janji sucinya di hadapan pendeta dan semua saksi.
“Di hadapan Tuhan, imam, para saksi, dan hadirin, saya Felix Keith Wilson menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa Selena Young yang hadir di sini, mulai sekarang menjadi istri saya. Dan saya akan mencintai, menerima segala kelebihan dan kekurangannya dan akan menjaganya sampai di akhir usia saya.” ucap Felix melantunkan kalimat itu dengan lantang dan tegas.
Kini giliran Selena yang mengucapkan janji suci itu, gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam.
“Di hadapan Tuhan,imam para saksi dan hadirin. Saya Selena Young, berjanji untuk menjadi istrimu yang jujur, setia, dan penuh kasih selama sisa hari-hariku. Aku berjanji untuk menghormatimu, mencintaimu, dan menghargai kamu sebagai suamiku hari ini, esok dan seterusnya hingga maut memisahkan" ucap Selena mantap.
Semua orang yang menyaksikan itu mengucap syukur, kini mereka sudah sah menjadi suami istri.
Felix mengecup kening Selena penuh kasih sayang, dan Selena mengecup punggung tangan Felix sebagai tanda hormat pertamanya menjadi istri.
Setelahnya Felix menandatangani buku nikah yang di sodorkan oleh pendeta. Begitupun Selena.
Kedua pasangan suami istri itu saling pandang,
“Aku mencintai mu istriku” ucap Felix mendekatkan wajahnya ke arah Selena.
“Aku lebih mencintai mu suamiku” balas Selena tersenyum haru.
Sedetik kemudian bibir mereka saling bertemu. Semua orang bertepuk tangan menyaksikan keromantisan pengantin baru itu.
Keduanya melepaskan pangutan mereka mendengar riuh tepuk tangan dan sorak gembira para pengawal keluarga Wilson yang turut menyaksikan pernikahan Tuan Muda nya.
Dave mendekati keduanya dengan senyum mengembang.
“Selamat, semoga rumah tangga kalian penuh bahagia dan di berkati Tuhan. Segera beri Papa cucu agar hari-hari Papa tidak monoton” celetuk Dave membuat Felix tersenyum senang.
“Terimakasih Pa, ini semua berkat ide Papa” ucap Felix
Dave menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
“Selena mengucapkan banyak terimakasih Pa, terimakasih sudah merestui Selena. Tapi dimana Mama?” Pertanyaan yang Selena pendam itu akhirnya keluar dari bibirnya.
“Mama tidak tahu kalau hari ini pernikahan kalian. Papa sengaja merahasiakannya agar dia tidak mengacaukan acara sakral ini” terang Dave
Selena mengangguk paham, bukan tidak mungkin acaranya akan kacau jika ada Grace disini.
Kini giliran Charlos melangkahkan kakinya menuju sepasang oengantin baru itu.
“Sekali lagi selamat untuk kalian berdua, Uncle turut berbahagia. Semoga pernikahan kalian awet sampai maut memisahkan” ucap Charlos tulus.
“Terimakasih atas turut serta Uncle dalam pernikahan kami, kami tidak akan pernah melupakan kebaikan Uncle” ucap Felix memeluk Charlos.
Selena juga ikut memeluk pria paruh baya itu.
“Uncle, Selena ingin berkunjung ke makam Ayah dan Ibu. Bisakah Uncle mengantar kami setelah ini?” Pinta Selena setelah melepaskan pelukannya.
Charlos menganggukkan kepalanya.
“Sayang, boleh kan? Kau juga harus ikut bertemu Ibu dan Ayah” ucap Selena mendongak menatap suaminya.
“Tentu saja” jawab Felix tersenyum simpul.
“Uncle akan mengantar mu Selena. Mereka juga harus tahu kabar gembira ini. Sekarang kamu sudah ada yang melindungi, pasti mereka sangat bahagia” ucap Charlos tersenyum menatap Selena.
“Terimakasih Uncle” jawab Selena membalas senyuman Charlos.
“Ya sudah. Kembalilah ke hotel yang sudah Papa siapkan. Kalian berganti lah baju setelah itu baru kalian boleh pergi. Papa akan lebih dulu datang ke makam karena Mama mu pasti sudah uring-uringan saat ini” ucap Dave pada Selena dan Felix.
“Memangnya Papa melakukan apa sampai Mama uring-uringan begitu?” Tanya Felix mengernyit heran.
“Papa memblokir semua kartu kredit dan blackcard nya” jawab Dave konyol.
“What?!” Pekik Felix melongo.
Sementara Selena hanya menatap bingung keduanya. Ia tak mengerti arah pembicaraan ayah dan anak itu.
“Itu pelajaran yang pantas menurut Papa. Sudahlah cepatlah pergi. Kasian Uncle Charlos pasti lelah. Jangan buat orang tua itu terlalu lama menunggu” seru Dave melirik Charlos sekilas.
“Ck! Kita seumuran Dave!” Decak kesal Charlos menanggapi ucapan Dave.
Kini dua pria paruh baya itu saling mengejek satu sama lain.
“Dasar tua-tua tidak ingat umur” seloroh Felix menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Dave dan Charlos.
Selena terkikik geli mendengar ucapan suaminya.