
Malam menjelang Selena yang baru saja menuntaskan ritual mandinya pun berniat keluar dari kamar.
Ia merasa apartemen itu hening. Apa mungkin Pak Felix belum kembali? Tanya nya dalam hati.
Ia duduk di ruang santai lalu menghidupkan tv. Jarinya bergerak lincah menekan tombol remote. Tidak ada acara yang menyenangkan kecuali drakor.
“Sepi juga ya nggak ada dia” gumam Selena merasa bosan.
Demi mengalihkan rasa bosannya ia pun kembali memfokuskan diri menikmati tayangan drama.
Sementara di mansion keluarga Wilson, pasangan paruh baya itu tengah duduk di meja makan dengan hidangan lengkap yang sudah disiapkan oleh para maid.
“Dimana Felix Pa? Kenapa dia belum turun?” Tanya Grace pada suaminya yang asyik membaca majalah.
“Entahlah. Nanti juga dia turun” sahut Dave.
“Biar Mama saja yang ke atas. Siapa tahu anak itu ketiduran” ucap Grace berlalu meninggalkan ruang makan.
Dave hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada majalah yang ada di tangannya.
Sesampainya di atas tepatnya di depan kamar Felix, Grace membuka handle pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
“Felix” panggil Grace menelisik segala sudut ruangan itu namun dirinya tak melihat keberadaan putranya.
“Felix ini Mama, ayo kita turun. Makan malam sudah siap” ucap Grace terus mengedarkan pandangannya.
Terdengar suara gemricik air dari dalam bathroom.
“Ah, ternyata dia sedang mandi” ucap Grace.
Sedetik kemudian pintu terbuka, menampakkan sosok Felix yang hanya menggunakan bathrobe dengan rambutnya yang basah.
“Sedang apa Mama disini?” Tanya Felix dengan ekspresi datarnya.
“Ah Mama mencari mu, kita turun sekarang makan malam sudah siap” ucap Grace pada putranya itu.
“Setelah ini aku turun” jawab Felix dingin.
Ia berlalu masuk ke dalam walk in closet tanpa mempedulikan kehadiran Mamanya.
Grace yang merasa tidak di sambut baik pun akhirnya memilih keluar.
“Segera Felix, Mama dan Papa tunggu di bawah” ucap Grace sebelum menutup pintu kamar putranya.
Felix hanya diam tak berniat menyahut.
Selesai dengan aktivitas nya ia pun segera menyusul ke bawah.
“Malam Pa” sapa Felix pada Dave.
“Ya, ayo kita makan. Sedari tadi Papa menunggu mu sampai cacing di perut Papa demo” seloroh Dave mencairkan suasana. Ia sangat paham setiap kali mereka bertiga berkumpul pasti ada saja momen dimana Felix dan Grace selalu bersitegang. Hanya Dave yang mampu menjadi penengah antara ibu dan anak itu.
“I'm sorry” jawab Felix singkat. Ia pun duduk di kursi sebelah kanan Dave, sementara Grace berada di sebelah kiri suaminya.
Setelah Grace mengambilkan makanan untuk suaminya giliran Felix yang akan ia layani namun yang terjadi pria itu menolak. Ia mengambil piring sendiri dan mengisinya dengan sedikit nasi dan lauk.
Pemandangan itu tak luput oleh Dave.
“Kenapa hanya segitu?” Tanya Dave melihat porsi makan Felix yang menurutnya tak masuk akal.
“Iya nak, kenapa sedikit sekali? Makanlah yang banyak, di mansion ini tidak akan kekurangan bahan pangan hanya karena porsi makanmu” ucap Grace sedikit meninggi kan gaya bicaranya.
“No, aku sengaja makan sedikit. Belum terlalu lapar” ucap Felix beralasan.
Ia sengaja karena pikirannya terfokus pada Selena, ia meninggalkan Selena sendirian di apartemen tanpa menyediakan bahan makanan. Sementara dirinya melarang gadis itu untuk tidak keluar tanpa ijin darinya.
Felix berniat setelah urusan dari sini ia akan membelikan makanan untuk Selena dan makan bersama gadis itu.
Tak ada obrolan antara ketiganya. Mereka semua tengah fokus dengan hidangan yang ada di hadapan mereka.
Belum ada waktu lima menit piring Felix sudah bersih. Ia meraih gelas berisi separuh air putih lalu meneguknya hingga tandas.
“Aku sudah selesai. Felix tunggu di ruang kerja Papa” ucap Felix beranjak dari duduknya meninggalkan meja makan.
“Oke” sahut Dave.
Grace pun memandang kepergian putranya penuh tanya.
“Ada hal apa yang ingin kalian bicarakan?” Tanya Grace mulai kepo.
“Entahlah, aku juga tidak tau” ucap Dave berkilah, ia tidak sepenuhnya berbohong. Memang awalnya dia yang ingin berbicara dengan putranya, tapi ternyata Felix juga ingin membicarakan sesuatu dengannya.
“Kalau begitu aku ikut, aku juga ingin tahu apa yang akan di bahas oleh putraku” ucap Grace
“Ku rasa Felix tidak akan mau. Ini urusan laki-laki. Sebaiknya Mama menonton drama korea favorit Mama saja” ucap Dave menolak istrinya ikut.
“Ck! Selalu saja!” Decak Grace merasa kesal.
“Sudahlah, jangan marah-marah. Nanti cepat keriput” celetuk Dave segera pergi meninggalkan istrinya sebelum di terkam macan betina itu.
“Isshhh anak bapak sama saja!” Gerutu nya kesal.
Felix yang sudah berada di ruangan kerja Papanya pun menunggu sembari memainkan ponselnya.
Tak lama pintu terbuka menampakkan Dave yang berjalan mendekati putranya.
Pria paruh baya itu duduk di samping Felix yang masih sibuk dengan ponselnya.
Diam-diam ia mengirim pesan pada Selena.
Namun belum juga ada balasan dari sang empu.
“Apa yang ingin kamu bicarakan Lix?” Tanya Dave membuka obrolan.
“Papa saja dulu” ucap Felix kemudian.
“Baiklah” sahut Dave kemudian menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Seketika raut wajah Dave berubah menjadi serius, begitupun Felix.
“Kau masih ingat kan dengan berita orang utusan Papa yang meninggal karena kecelakaan dulu saat kamu pertama kali mulai duduk di bangku kuliah?” Tanya Dave pada putra semata wayangnya itu.
“Maksud Papa orang yang Papa suruh menyelidiki kasus korupsi di perusahaan?” Tanya Felix memastikan.
Dave pun mengangguk, ternyata ingatan putranya masih sangat tajam sama seperti dirinya.
“Memangnya kenapa Pa?” Tanya Felix penasaran.
“Dia mempunyai seorang putri saat itu usianya masih remaja. Dan sesaat setelah kematiannya Papa sama sekali tidak tau keberadaan gadis itu. Papa merasa aneh, sepertinya ada seseorang yang sengaja menyembunyikan gadis itu Felix” ucap Dave menerawang ke atas langit ruangan itu.
“Kenapa Papa tidak mencari saja di kediaman orang tuanya?” Tanya Felix.
“Kalau pun ada Papa tidak akan mungkin mencarinya sampai saat ini Felix. Lagi pula menurut laporan dari anak buah Papa rumah itu sudah berganti pemilik, sepertinya sudah dijual” ucap Dave menebak.
Felix menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Papanya.
“Lalu apa yang akan Papa lakukan sekarang? Dan kenapa juga Papa mencari gadis itu?” Tanya Felix penasaran.
“Papa merasa bersalah, mereka meninggal karena memegang mandat tugas dari Papa. Kepergiannya secara mendadak membuat Papa di hantui rasa bersalah terhadap putrinya juga” ucap Dave mengungkapkan semua beban yang ia pendam sendiri selama ini.
Bahkan kasus korupsi itu menyebabkan perusahaan yang Dave bangun dari nol mengalami koleps. Saat itu Felix yang sedang duduk di bangku kuliah menginjak semester pertama pun terpaksa harus membantu perusahaan Papanya yang di ambang kebangkrutan.
Beruntung Felix pria yang cerdas, tanpa bantuan siapapun ia bertekad memulai semuanya dari nol dengan bantuan para investor yang tertarik dengan tawaran kerjasama yang Felix janjikan.
Dave tidak akan pernah lupa hal itu. Apapun yang ia miliki saat ini, sama saja dengan jerih payah putra semata wayangnya yang sudah bekerja keras mengembalikan keadaan seperti semula. Bahkan lebih dari itu, saat ini perusahaan mereka menduduki urutan pertama sebagai industri terbesar di Dubai.
“Tapi kenapa Papa membiarkan kasus korupsi itu senyap begitu sampai saat ini Pa?” Tanya Felix tak habis fikir kenapa Papa nya membiarkan begitu saja kasus itu tanpa berniat mengusutnya lagi.
“Papa hanya tidak mau itu terjadi lagi Lix, berapa nyawa lagi yang akan hilang jika Papa mengusut kasus itu kembali? Papa tidak ingin ada korban lagi” ujar Dave dengan wajah sendu nya.
“Lalu apa mau Papa sebenarnya?” Tanya Felix pada intinya.
Dave menghela nafasnya,
“Tolong kamu cari gadis itu, sebisa mungkin temukan dia. Entah dalam keadaan hidup atau mati. Papa minta tolong padamu.” Ucap Dave memohon.
“Felix tidak janji Pa, tapi akan ku usahakan. Sementara ini Felix juga sedang sibuk dengan urusan Felix di kantor dan juga penyelidikan kematian seseorang” ucap Felix dengan wajah seriusnya.
“Kematian siapa?” Tanya Dave ingin tahu.
“Tapi Papa harus janji jangan sampai Papa menceritakan ini ke siapapun termasuk Mama” ucap Felix.
“Ya, Papa janji” jawab Dave yakin.
“Sekretaris Felix di kantor seorang gadis yatim piatu. Felix meminta nya untuk bekerja sama dengan Felix agar mau menjadi kekasih bohongan,tentunya demi menghindari perjodohan yang Mama inginkan. Dan sebagai gantinya Felix sudah berjanji akan mengusut kematian kedua orangtuanya yang di anggap janggal” terang Felix panjang lebar.
“Maksud mu kedua orang tuanya meninggal karena sebuah kesengajaan begitu?” Tanya Dave
“Bisa di bilang begitu” ucap Felix.
“Sejauh mana penyelidikan mu kali ini?” Tanya pria paruh baya itu.
“Belum terlalu jauh, tapi yang pasti kecelakaan itu murni karena kesengajaan. Karena beberapa minggu setelahnya media massa langsung senyap, tak ada lagi penyelidikan berlanjut dari pihak kepolisian.” Terang Felix
“Kenapa hampir sama dengan kasus kematian orang suruhan Papa? Siapa nama kedua orang tua gadis itu?” Tanya Dave merasa kasus nya mirip.
“Ayahnya bernama Dominic Young dan ibunya bernama Emily Young”
Deg!
Jantung Dave serasa di tikam seribu belati.
Ia terdiam shock dengan penuturan putranya kali ini.
“Kenapa Pa?” Tanya Felix yang sedikit khawatir dengan respon Papa nya.
“Felix, tidak salah lagi. Sekretaris mu adalah putri dari orang suruhan Papa! Dia memiliki nama yang sama persis dengan nama orang tua gadis itu” seru Dave matanya berkaca-kaca.
Bola mata Felix melebar seketika.
Kenapa bisa rentetan peristiwa masa lalu ini saling berhubungan satu sama lain?
“Papa yakin mereka orang yang sama?” Tenya Felix memastikan.
“Sangat yakin! Tidak salah lagi jika dia adalah putri Dominic dan Emily. Mereka adalah pasangan suami istri yang bekerja sebagai detektif kepercayaan Papa” ucap Dave yakin.
“Berarti semua ini benar? Menurut orang suruhan Felix memang mereka adalah detektif handal di kalangan para pembisnis” ucap Felix menimpali.
“Ya, itu benar. Dan Papa satu-satunya orang yang saat itu menyewa jasa nya dalam jangka waktu paling lama” ungkap Dave
Felix menganggukkan kepalanya mengerti.
“Lindungi dia Felix, jaga dia dari siapapun orang yang ingin mencelakai atau berniat buruk padanya” pesan Dave begitu dalam.
“Ya, itu pasti” ucap Felix sungguh-sungguh.