Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 48 | Johan & Celline



Seorang pria berpostur tinggi tegap sedang memantikkan rokok nya di balkon apartemen nya. Asap nikotin itu terkepul di udara karena hembusan nafas kasar yang di keluarkan oleh pria itu.


“Bagaimana mungkin kau bisa kehilangan jejaknya? Padahal aku sudah memberi mu benda itu untuk mengetahui keberadaannya?!” Ucap Pria itu menatap lawan bicara nya dengan sorot mata tajam.


Kemarahan terpancar di raut wajah pria itu.


“Saya sudah meletakkannya di badan wanita itu Tuan Johan. Saya berani bersumpah” ucap pria itu yang berbicara dengan atasannya bernama Johan. Ya, Johan adalah orang yang di utus oleh Robert untuk menculik Selena.


“Bedebahh!!! Kau tidak becus melakukan tugas mu! Sia-sia saja usahaku memakai alat canggih tapi otak mu tidak kau gunakan dengan baik!” Sarkas Johan mengumpat keras hingga tangannya terkepal melayangkan tinju di wajah orang suruhannya.


Bugh!


Pria itu terhuyung ke belakang tak mampu menyeimbangkan tubuhnya akibat kerasnya hantaman Johan.


“Saya minta maaf Tuan, saya akan membuntuti wanita itu agar segera menemukan kediamannya” ucapnya.


“Untuk apa? Kau pikir mereka bodoh tidak mengetahui gerak gerik mu? Aku pastikan saat ini kau sudah menjadi incaran anak buah mereka karena alat itu sudah musnah di tangan putra Dave saat itu juga!” Ucap Johan marah.


Pria itu hanya diam tergugu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam hatinya mengumpat keras sekarang dirinya berada dalam bahaya, ia tahu anak buah Dave tidak akan melepaskan siapa saja yang mengusik ketenangannya.


“Lalu saya harus bagaimana Tuan?” Tanya pria itu gemetaran.


“Pikir saja sendiri! Itu bukan urusan ku! Kau sendiri yang bertindak ceroboh. Dasar bodoh!” Maki Johan menatap kesal ke arahnya.


Tangan pria itu terkepal kuat mendengar makian Johan.


Sumpah demi apapun jika dia sampai dirinya tertangkap anak buah Dave maka dia akan menyeret nama Johan.


Usahanya sudah mati-matian tapi apa yang ia dapatkan? Setidaknya jika Johan tidak mau memberikan upah dia harus mendapat jaminan perlindungan dari pria itu, tapi Johan sama sekali tidak mau tahu dan malah mencampakkan dirinya begitu saja.


“Pergilah! Aku tidak butuh bantuan mu lagi. Dan jangan membawa-bawa nama ku jika kau tertangkap oleh anak buah Dave” ancam Johan menatap pria itu sungguh-sungguh.


“Terserah anda. Saya undur diri” ucap pria itu membalikkan badannya meninggalkan Johan dengan penuh rasa dendam.


Johan hanya menatap acuh punggung pria itu yang mulai menghilang di balik pintu.


Di luar apartemen pria itu berpapasan dengan Celline yang juga hendak masuk, pria itu menyeringai licik menatap punggung Celline yang mulai mendekati pintu apartemen.


Ia segera mengeluarkan ponselnya di dalam saku celana dan merekam kehadiran Celline tepat saat wanita itu masuk ke dalam apartemen Johan.


‘Tak apa jika aku gagal. Tapi setidaknya kalian juga ikut dalam masalah ini. Enak saja kalian menjadikan ku kambing hitam! Kita lihat setelah ini siapa yang akan menjadi tawanan’ ucapnya tersenyum devil.


Pria itu begegas pergi meninggalkan apartemen itu dan kembali ke tempat persembunyian nya.


Sampai di dalam Celline mencari keberadaan Johan. Wanita itu menyisir seluruh ruangan tidak melihat keberadaan pria itu.


Langkahnya terhenti saat melihat asap rokok mengepul di balkon.


Celline pun melangkahkan kakinya menuju balkon.


“Ternyata kau disini” ucap Celline duduk di sebelah pria itu.


Melihat kedatangan Celline, Johan pun menoleh


“Ada perlu apa?” Tanya Johan menatap datar wanita itu.


“Kau tidak ingin menyambutku dengan segelas kopi misalnya” seloroh Celline tanpa malu.


Johan menghentikan hisapannya pada batang rokok itu dan membuangnya asal.


“Untuk apa? Aku rasa tidak memiliki tamu spesial hari ini” ucap Johan membalas sindiran Celline.


Membuat wanita itu mendengus kesal.


“Kedatangan ku kemari semata-mata untuk membahas kerja sama kita” ucap Celline melipat kedua tangannya ke depan dada.


“Kerja sama seperti apa yang kau maksud? Aku ragu nantinya akan rugi besar jika bekerja sama dengan wanita sepertimu” ucap Johan menatap remeh.


Pria itu mengangkat sudut bibirnya.


“Buktinya saja kau sampai sekarang masih belum bisa mendapatkan putra dari Dave, kau tahu? Kau sangat payah!” Ucap Johan mengolok Celline.


“Itu karena wanita bernama Selena yang sudah merebut nya, jika bukan karena dia mungkin saat ini akulah yang menjadi istri Felix” dengus Celline tak terima.


“Oh ya? Bukankah putra Dave seorang pemilih? Dia pasti akan memilih jodoh yang terbaik di antara yang baik. Dan itu artinya kau bukan yang terbaik antara salah satunya, right?” Tanya Johan menyunggingkan senyumannya.


“Cukup! Sialan kau Johan. Aku kemari untuk membahas jalan keluar dari semua masalah ini tapi kau justru malah mengolok ku!” Sungut Celline terpancing emosi.


Johan terkekeh pelan melihat reaksi wanita itu.


“Oke katakan apa rencana mu” ucap Johan mulai serius.


Celline menetralkan nafasnya kembali setelah emosinya yang bangkit mencapai puncak ubun-ubun. Ia menarik nafasnya lalu menghembuskan pelan.


“Begini..”


Wanita itu membisikkan sesuatu di telinga Johan hingga pria itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum miring.


“Oke, deal!” Ucap Johan menjabat tangan Celline.


Wanita itu tersenyum puas karena berhasil membujuk Johan meskipun dia sudah dibuat emosi pria itu terlebih dahulu.


“Baiklah, aku pergi dulu. Telfon aku jika kau membutuhkan diriku” ucap Celline beranjak pergi seraya mengerlingkan matanya genit ke arah Johan.


Johan berdecak sebal di saat seperti ini wanita itu masih sempat menggoda nya.


‘Dasar wanita murahan’ gerutu Johan menggelengkan kepalanya.


Felix masuk ke ruangan kerjanya setelah berhasil menidurkan Selena. Wanita itu merengek meminta tidur karena semalaman penuh dirinya tidak di beri jeda sama sekali oleh Felix untuk beristirahat. Mau tak mau Felix mengiyakan permintaan istrinya dan menemaninya hingga tidur.


Tok! Tok!


“Masuk!” Sahut Felix dari dalam.


“Bagaimana Dom?” Tanya Felix ketika pria itu masuk ke dalam ruangannya dan kini duduk di hadapan Felix.


“Seperti yang anda duga, Robert memiliki tangan kanan untuk memuluskan rencananya bebas dari tuntutan Tuan” ucap Dom.


“Pria tempo hari yang mendatangi lapasnya?” Tebak Felix menatap lurus kedepan.


Dom pun mengangguk mantap.


“Siapa namanya?” Tanya Felix memincingkan matanya.


“Johan. Dia saat ini tinggal di apartemen X. Kami berhasil membuntuti pria yang menabrak Nona siang tadi sampai ke apartemennya” terang Dom sungguh-sungguh.


Felix menyunggingkan senyum devilnya.


“Bagus, kalian bergerak lebih cepat dari prediksi ku. Pantau terus Dom. Dan seret cecunguk itu ke markas” pinta Felix pada Dom.


“Pasti Tuan. Kami juga sedang mengawasi pergerakan pria itu” ucap Dom menganggukkan kepalanya.


“Oke, sekarang kau boleh pergi” ucap Felix.


“Baik, saya permisi Tuan” pamit Dom melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Felix.


Setelah kepergian Dom, pria itu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.


Satu persatu masalah mulai terurai. Benang kusut yang awalnya saling membelit kini berubah renggang dan mudah ditarik.


‘Semoga semuanya baik-baik saja’ gumam Felix memejamkan kedua matanya menetralkan kepalanya yang terasa berat.