Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 25 | Memilih lawan yang salah



Pagi ini Selena sudah memakai setelan kerja rapi dengan heels setinggi 7cm. Gadis itu berdiri di depan cermin sedang meneliti penampilannya.


Tiba-tiba tangan kekar Felix memeluk pinggang Selena dari belakang.


“Cantik sekali!” Puji Felix seraya menghirup aroma vanilla di ceruk leher Selena.


“Sayang geli, lepas dulu” ucap Selena merasakan bulu kudu nya meremang.


Felix terkekeh pelan mendengar ucapan kekasihnya itu.


“Sudah siap? Ayo berangkat sekarang” ajak Felix menggandeng jemari lentik Selena.


“Tunggu dulu, tas ku masih di dalam” ucap Selena mengambil tasnya ke dalam kamar.


Tak lama Selena keluar menenteng tas bermerk D*or kegemaran para wanita sosialita. Selena bukan tipe wanita yang suka mengoleksi barang branded, tapi ia hanya ingin barang mahal itu mampu menunjang penampilan nya sesuai dengan passionnya menjadi partner seorang CEO perusahaan.


Mereka pun pergi saling bergandengan tangan, sesekali Felix merengkuh pinggang ramping Selena agar gadis itu menempel padanya.


“Aku malu Felix, lihatlah kita sedang jadi pusat perhatian” ucap Selena melirik keadaan lobi apartemen.


“Biarkan saja, apa peduliku?” Ucap Felix acuh.


Selena berdecak malas mendengar ucapan pria itu.


Felix melepaskan pelukannya membukakan pintu mobil untuk Selena.


Setelah keduanya masuk, mobil pun melaju meninggalkan gedung apartemen mewah itu.


Sepanjang perjalanan Felix selalu melirik ke arah spion, ia ingin memastikan apakah orang itu masih mengikutinya dengan Selena atau tidak.


Belum ada tanda-tanda mencurigakan saat ini.


Namun tak lama ketika perjalanan semakin dekat dengan jalanan menuju kantor tiba tiba ada dua mobil mencurigakan dari belakang, satu mobil paling belakang Felix mengenalinya. Ya, itu mobil milik Dom.


Itu tandanya pria itu memang masih mengikuti Selena.


Sedetik kemudian mereka terpisah, Felix membelokkan stirnya masuk ke dalam gedung perusahaannya.


Mobil Felix terparkir di basement, keduanya belum turun sebab Felix masih memainkan ponselnya. Ekspresi pria itu nampak serius sekali dengan kegiatannya.


Selena yang jengah pun akhirnya membuka suara.


“Masih lama? Aku keluar dulu saja” ucap Selena hendak memegang handle pintu namun tangannya di cekal oleh Felix.


Pria itu memasukkan ponsel ke dalam saku jas nya dan beralih menatap kekasihnya yang saat ini sedang cemberut.


“Kenapa? Tunggu aku dulu sayang” ucap Felix pada gadis itu.


“Penting banget ya? Hampir lima menit kita berada di dalam mobil” ucap Selena sedikit kesal.


Felix pun mendekatkan wajahnya pada Selena, sedetik kemudian ia mendaratkan kecupan di bibir gadis itu.


“Cup!”


“Sudah merajuknya?” Tanya Felix menatap wajah kaget Selena.


“Ishh! Kebiasaan!” Gerutu Selena.


“Aku sedang membaca pesan dari Dom sayang,” ucap Felix memberitahu.


“Harus banget ya sekarang? Semua staf sudah masuk, seharusnya kita yang lebih dulu masuk Felix” ucap Selena.


“Tidak masalah, mereka memang seharusnya menjadi karyawan yang disiplin” ucap Felix.


“Ya ya terserah bos saja” ucap Selena pasrah.


Felix terkekeh mendengar penuturan absurd Selena.


Ia pun keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Selena.


Sepertinya itu adalah hobi baru Felix mulai saat ini dan seterusnya.


“Silahkan permaisuri ku” ucap Felix dengan senyum manisnya.


“Menikah saja belum” sahut Selena


“Kalau begitu besok saja kita menikah” jawab Felix dengan entengnya.


“Jangan mengada-ngada deh” ucap Selena berjalan mengimbangi langkah lebar Felix.


Felix kembali menggenggam jemari Selena, mereka berdua berjalan bergandengan tangan di sepanjang perjalanan.


Sesampainya di depan ruangan Selena, Felix ikut masuk ke dalam ruangan itu membuat Selena heran.


“Kenapa?” Tanya Selena memandang Felix dari samping. Selena meletakkan tas nya di atas meja.


“Tidak ada, hanya ingin berdekatan dengan mu saja” jawab Felix konyol.


Selena menaikkan alisnya sebelah, apa-apaan? Pikir gadis itu.


“Sayang, kita dua puluh empat jam selalu bersama. Sekarang bukan waktunya bermanja-manja Felix” ucap Selena menasehati pria itu.


Sungguh Selena baru tau sifat Felix yang sebucin ini. Ia jadi penasaran apakah sebelumnya Felix juga pernah seperti ini?


Pria itu bukannya pergi malah semakin meringsek pada Selena, kepalanya ia sandarkan di bahu gadis itu.


“Sebentar saja sayang, berikan aku vitamin agar aku kembali bugar lagi” pinta Felix memeluk Selena manja.


Selena menghembuskan nafasnya,


“Cup!”


Akhirnya Selena memberanikan diri mengecup pipi pria itu, sungguh ini pertama kalinya Selena nyosor pada seorang laki-laki. Dan itu hanya Felix.


“Yang sini?” Tunjuk Felix pada bibirnya.


Seketika senyum lebar tercetak di bibir pria itu. Felix langsung menegakkan badannya menatap Selena dengan wajah sumringah.


“Thanks honey, aku pergi dulu. Cup!” Pamit Felix mengecup bibir Selena secepat kilat sebelum gadis itu protes lagi.


“Ckck, aku seperti melihat bocil saja” decak Selena menggelengkan kepalanya.


Ia kembali fokus pada pekerjaannya setelah cuti dua hari by insiden, bukan liburan. Ya, hanya itu yang teringat di otak Selena.


Felix mendudukkan diri nya di kursi kebesarannya, pikirannya menerawang ke atap langit seraya tersenyum senang.


Memang benar, pria itu sedang dalam mode bucin tingkat tinggi.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu.


“Masuk!” Ucap Felix tegas.


Pintu pun terbuka menampakkan sosok tinggi tegap dengan jas hitamnya.


“Selamat pagi Tuan” sapa Dom


“Pagi, duduklah” titah Felix pada pria itu.


Dom pun duduk di hadapan Felix.


“Bagaimana Dom? Kau berhasil mendapatkan informasi nya?” Tanya Felix.


Dom menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar.


“Dia adalah orang yang selama ini kita cari Tuan” ucap Dom membuat Felix bingung.


“Maksud mu?” Tanya Felix tak mengerti.


“Pria yang mengintai Nona selama ini adalah pria yang di utus oleh mendiang kedua orangtua Nona Selena untuk menjaga Nona kemanapun dan dimana pun Nona berada. Dia bernama Charlos” ungkap Dom menatap netra tajam Felix.


“Kau serius Dom? Dia bukan orang jahat?” Tanya Felix memastikan.


Dom menggeleng pelan,


“Pria itu seusia kedua orang tua Nona Selena. Mereka adalah partner satu profesi dengan Tuan Dominic Young dan Emily Young” ucap Dom


“Lalu apa lagi yang kau ketahui Dom?” Cecar Felix masih belum puas dengan jawaban tangan kanannya itu.


“Hanya itu saja yang dia katakan Tuan, sepertinya dia enggan membeberkan semua hal yang berkaitan dengan kehidupan Nona. Tapi beliau berpesan agar Tuan menjaga Nona Selena sebaik mungkin. Dan jika ingin bertemu Tuan bisa mengirimkan email di alamat ini” ucap Dom menyerahkan sepucuk kertas bertukiskan alamat email Charlos.


Felix melihat isi kertas itu dan menyipitkan matanya.


“Sepertinya kita memang harus bertemu Dom, aku ingin tahu seberapa banyak kejadian masa lalu yang belum terungkap. Dia adalah saksi kunci dari semua ini Dom” ucap Felix menatap nanar kertas itu.


“Anda benar Tuan, jika dari sudut pandang saya mengatakan bahwa pria itu memang sangat memproteksi dirinya dan juga Nona Selena, dia seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda ketika berada di tempat umum dan saat dalam situasi privat” terang Dom yang sejak tadi mengamati bahasa tubuh Charlos.


Felix menganggukkan kepalanya setuju.


“Besok tolong atur pertemuan ku dengan pria itu Dom, carikan tempat yang nyaman dan se-privat mungkin” titah Felix pada Dom.


“Baik Tuan, akan saya laksanakan. Kalau begitu saya permisi” pamit Dom kemudian.


Setelah kepergian Dom kembali terdengar suara ketukan pintu. Felix sudah memprediksi siapa yang datang.


Pria itu mengubah ekspresi nya menjadi dingin dan sedatar mungkin.


“Permisi Pak” sapa pria itu masuk ke dalam ruangan Felix dengan gugup.


“Duduk!” Titah Felix pada pria yang usianya dua tahun lebih muda dari Felix itu.


“Zayn Abraham..” ucap Felix tersenyum remeh ke arah pria itu.


“Kau sudah tau dimana letak kesalahan mu?” Tanya Felix menatap nanar pria itu.


“S-saya tidak mengerti Pak, kenapa saya di panggil ke ruangan Bapak” ucapnya dengan nada bergetar.


Felix seketika tersenyum devil, membuat pria itu menatap bingung ke arahnya.


“Besar sekali nyalimu untuk tidak mengakui semua kecurangan mu ya?” Ucap Felix dengan senyum miringnya.


“Tanda tangani ini!” Tukas Felix melemparkan secarik kertas di hadapan pria itu.


Zayn pun terdiam bingung. Tangannya meraih kertas dan sedetik kemudian ia terkejut dengan isi kertas itu.


“Bapak memecat saya? Tapi kenapa? Apa salah saya?” Cecar pria itu menatap penuh tanya ke arah Felix.


Mata Felix berubah menjadi tajam.


“Tanpa ku beritahu sudah pasti kau tahu sendiri apa jawabannya, sekarang tinggal tanda tangani saja surat itu dan jangan membantah!” Sentak Felix mulai terpancing emosi dengan lagak pria itu.


Zayn yang sudah berkeringat dingin pun segera mencoret kertas itu dan memberikan nya pada Felix.


‘Hancur sudah karir yang selama ini aku raih dengan susah payah’ batin Zayn menangis.


“Bagus!” Ucap Felix tersenyum penuh arti.


“Masih untung kau hanya kehilangan pekerjaan mu, biasanya orang yang berkhianat di perusahaan ini akan kehilangan nyawanya, dan pulang hanya tinggal nama dan gelar baru” ucap Felix dengan nada terdengar mengerikan di telinga Zayn.


Pria itu tidak mampu lagi berkata-kata. Aura Felix saat ini sudah gelap seperti malaikan pencabut nyawa.


“Pergi! Kau sudah tidak memiliki hak lagi untuk menginjakkan kaki kotor mu di tempat ini!” Usir Felix pada Zayn.


Pria itu bergegas kabur tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan pria seperti Felix.


Sepeninggal Zayn, Felix mengibaskan jasnya dan tersenyum remeh.


“Robert.. Robert.. kau memilih lawan yang salah” ucap Felix dengan sorot mata tajam.