
Sementara di cafe tempat Selena berada, ia tengah duduk berhadapan dengan Celline. Wanita itu sempat terkejut mengetahui jika Celline lah yang mengirim pesan padanya.
“Hai, kau datang tepat waktu rupanya” sapa Celline basa basi.
Selena tetap dengan raut wajahnya yang datar.
“Tidak perlu basa-basi, apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Selena menatap Celline dengan tatapan tak terbaca.
Celline menyunggingkan senyumnya mendengar pertanyaan Selena.
“Santai dulu, kau tidak ingin memesan sesuatu? Tenang saja aku yang akan membayar semua pesanan mu” ucap Celline menatap remeh ke arah Selena.
Selena menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar.
“Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni hal receh seperti ini. Jika tidak ada hal penting lebih baik aku pergi, maaf pekerjaan ku masih banyak” ucap Selena beranjak dari duduknya.
“Wait!”
“Kau belum mengetahui sesuatu Selena, aku yakin kau akan shock mendengar kabar ini” ucap Celline menghentikan Selena.
Selena pun membalikkan badannya menatap nanar Celline yang tersenyum miring ke arahnya.
Menghadapi wanita seperti Celline memang membutuhkan kesabaran yang ekstra dan juga otak yang cerdas.
Mau tak mau ia pun kembali duduk dan meletakkan tas nya.
“Cepat katakan” ucap Selena datar.
“Oke..” ucap Celline tersenyum tipis.
“Aku meminta mu kemari karena aku ingin menunjukkan sesuatu” ucap Celline mengambil sesuatu dari dalam tas nya lalu meletakkan sebuah amplop coklat di hadapan Selena membuat wanita itu melirik sekilas ke arah benda itu.
“Apa ini?” Tanya Selena mengernyit heran.
“Buka saja” singkat Celline.
Jemari Selena meraih amplop dan bergegas membuka nya.
Dalam amplop itu berisi secarik kertas dan satu lembar foto usg.
Buru-buru Selena membaca surat itu.
Senyum Celline terbit seketika melihat raut bingung Selena.
Setelah membaca isi dalam surat itu pandangannya beralih menatap lekat wajah Celline.
“Kau hamil?” Tanya Selena memastikan.
“Ya, seperti yang kau lihat” jawab Celline menganggukkan kepalanya.
“Lalu apa hubungannya dengan ku? Siapa ayahnya?” Tanya Selena merasa aneh.
“Ck! Selena.. Selena.. jangan berpura-pura bodoh, ku pikir kau sekretaris tercerdas yang Felix pilih, ternyata hanya seorang mahasiswa biasa yang tingkat pemikirannya masih jauh di bawah standar lulusan terbaik” cibir Celline menatap remeh.
Selena mengerutkan dahinya mendengar cibiran wanita itu.
“Terserah apa katamu aku tidak peduli. Tinggal jawab saja!” Seru Selena menatap jengah.
Celline terkekeh kecil mendengarnya.
“Ayah dari janin ku Felix, suamimu. Tentu saja ini semua ada hubungannya dengan mu” terang Celline menatap serius ke arah Selena.
“What?! Are you kidding me??” Ucap Selena seraya terkekeh.
Sontak Celline mengerutkan keningnya, respon Selena bukan seperti yang ia bayangkan. Ini di luar ekspektasinya.
“Apa maksud mu? Semua yang ku katakan benar adanya” ucap Celline sungguh-sungguh.
“Sejak kapan Felix sudi tidur dengan mu? Melihat wajah mu saja dia tak sudi apalagi sampai tidur bersama? Jangan membual Celline, kau wanita anggun berkelas. Rasa-rasanya tidak pantas kau mengarang cerita murahan seperti ini, bukankah akan mencoreng reputasi mu sebagai wanita karir?” Ucap Selena tersenyum smirk ke arah wanita itu.
Celline mengeratkan rahangnya. Selena memang pandai jika soal berdebat. Wanita itu memang tidak mudah untuk di hasut.
“Kau boleh tidak percaya padaku Selena, tapi aku mempunyai buktinya” ucap Celline membuka ponselnya lalu menyerahkan pada Selena.
Ia mengamati dengan seksama seorang pria berjas hitam sekilas mirip dengan suaminya dan menggandeng seorang wanita ke dalam kamar hotel yang tak lain adalah Celline.
Melihat raut terkejut Selena, sontak Celline pun tersenyum devil.
“Bagaimana? Apakah kau masih bisa mengelak semua itu? Apakah semua bukti ini tidak cukup Selena?” Tanya Celline menatap Selena lekat-lekat.
Selena menggeleng, ia masih belum mempercayai ini semua tapi bukti yang Celline tunjukkan bisa di pastikan memang benar adanya.
Kedua matanya memanas melihat kenyataan ini.
“Oke, aku tidak ingin berbasa-basi lagi. Kau sudah mengetahui semuanya bukan? Sekarang pikirkan baik-baik, kita tentu sama-sama seorang wanita yang menginginkan pendamping hidup Selena, tapi aku lebih membutuhkan di bandingkan kamu, aku sedang mengandung darah daging Felix. Sementara kamu belum mengandung, aku tahu. Usia pernikahan mu saja belum genap dua bulan. Jadi aku meminta sebagai seorang wanita kamu harus melepaskan Felix untuk aku dan calon anak ku” ucap Celline panjang lebar.
Hati Selena sakit bertubi-tubi mendengar ucapan Celline. Dadanya sesak bak di hantam batu besar saat ini.
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini? Pernikahannya saja baru berjalan satu bulan lebih tapi sudah ada badai kencang yang menerpa kehidupan rumah tangganya bersama Felix. Otaknya benar-benar sulit mencerna kejadian ini.
Tanpa terasa air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Hal itu membuat Celline bersorak gembira dalam hati. ‘Aku tahu kelemahan mu Selena, kau memang wanita terbodoh yang pernah aku temui. Bisa-bisanya Felix memilih wanita sepertimu!’ Maki Celline dalam hati.
Setelah di rasa hatinya tenang, Selena menarik nafasnya dalam-dalam.
“Lebih baik kau bicarakan saja masalah ini dengan Felix. Soal aku meninggalkan atau tidak ku rasa aku tidak perlu menjawabnya. Aku dan Felix sudah saling berjanji untuk tidak akan meninggalkan satu sama lain kecuali Felix yang memintanya sendiri” ucap Selena berusaha tegar menguatkan hatinya meski rasanya sakit melebihi apapun.
“Itu pasti, aku sengaja memberitahu mu dahulu karena aku ingin kau mengambil sikap secepat mungkin. Karena mau tak mau pada akhirnya aku akan hadir di tengah-tengah kalian. So, dari pada kau sakit nantinya lebih baik pikir lagi mulai sekarang” ucap Celline memaksa.
“Soal perasaan ku kau tidak perlu menasehati apalagi ikut campur. Bagaimana pun Felix adalah suami ku. Jangan pernah lancang memaksa kan sesuatu yang bahkan kau haram untuk mencampuri nya. Aku harap kau lebih tahu diri sedikit! Permisi!” Ucap Selena beranjak pergi meninggalkan Celline sendirian di ruangan privat itu.
“Heh! Kau lihat saja, apakah setelah ini rumah tangga kalian masih tetap harmonis? Cih! Aku rasa tidak!” Ucap Celline tersenyum penuh kemenangan.
Selena keluar dari cafe dengan mata berlinang. Ia terisak di pinggir jalan sambil menunggu pesanan taksi nya datang. Namun belum ada tanda-tanda taksi lewat tiba-tiba mobil hitam mewah milik Felix berhenti tepat di hadapannya.
“Sayang!” Ucap Felix berlari keluar menghampiri Selena.
“Kau kemana saja? Kenapa tidak ijin padaku hah?” Tanya Felix dengan raut wajah cemas.
“Kau baik-baik saja? Ada yang luka?” Tanya Felix menelisik penampilan Selena yang masih rapi.
“Cukup. Aku tidak apa-apa” jawab Selena datar.
“Syukurlah” ucap Felix bernafas lega.
Selena buru-buru masuk ke dalam mobil meninggalkan Felix yang termenung heran dengan perubahan sikapnya.
“Kenapa dengannya?” Ucapnya heran. Sedetik kemudian ia bergegas menyusul istrinya masuk ke dalam mobil.
Sebelum itu Felix mengetikkan sesuatu di layar ponselnya.
‘Selidiki semuanya, aku mau hasilnya malam ini juga!’
Tulis Felix pada Dom.
Ia pun melajukan mobilnya meninggalkan area cafe.
Di dalam mobil Selena hanya diam, ia sama sekali tak berniat membuka percakapan membuat Felix kelimpungan.
Tidak biasanya Selena bersikap dingin seperti ini, ia semakin di buat penasaran.
“Baby..” panggil Felix menoleh ke arah Selena.
Selena hanya diam menatap lurus kedepan.
“Sayang, kenapa? Ada apa cerita dong, kenapa kamu pergi tiba-tiba tanpa pamit?” Cecar Felix seraya mengulurkan tangannya mengusap lembut kepala Selena.
Selena menghembuskan nafasnya kasar.
“Nanti kita bicarakan di rumah” ucap Selena singkat. Ia menyandarkan punggungnya di jok mobil seraya memejamkan kedua matanya yang terasa lelah. Otak dan pikirannya benar-benar tidak mampu menampung semua kejadian hari ini.
Sedangkan Felix hanya mampu menahan rasa ingin tahunya dalam diam. Jika sudah seperti ini tandanya mood istrinya sedang kacau dan dalam keadaan tidak baik-baik saja.