
Sampai di rumah sakit semua rombongan Dave dan juga Charlos bergegas menuju ruang perawatan dimana Selena di rawat.
Felix yang kepalang cemas dengan keadaan sang istri tak menggubris semua yang ada di hadapannya, ia berlari sekencang mungkin agar segera sampai menemui Selena. Wanita yang seharian ini sudah mengobrak-abrik hati dan perasaannya.
“Dom!” Panggil Felix pada asissten nya.
Pria itu seketika menoleh ke arah bosnya yang nampak khawatir.
“Nona sedang di tangani dokter Tuan, sedari tadi Nona tidak membuka matanya sedikitpun sehingga membuat Nona harus di rawat di ruang emergency” terang Dom dengan wajah lesu. Ia juga ikut mengkhawatirkan kondisi istri bos nya yang terbilang lemah apalagi sedang hamil muda. Dom tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada Selena atau calon bayinya, bisa di pastikan hidup Felix akan rapuh setelahnya.
“Dom.. apa menurutmu istriku akan baik-baik saja?” Tanya Felix menatap nanar ruang perawatan Selena.
“Tentu saja Tuan, anda harus banyak berdoa untuk keselamatan Nona dan calon bayi anda. Saya yakin Nona adalah wanita kuat” ucap Dom meyakinkan bosnya bahwa semuanya baik-baik saja.
“Aku tidak tahu persis seperti apa yang di alami istriku Dom, yang jelas sebelum dia tak sadarkan diri Selena sempat mengeluh kesakitan di bagian perutnya. Aku takut Dom” ungkap Felix merasa tenggorokannya tercekat dengan mata mengembun.
Dom hanya bisa diam tak tahu harus berkata apa, ia pun menepuk bahu Felix memberikan kekuatan pada pria yang hampir tidak pernah menampakkan kesedihan itu selama ia menjadi tangan kanannya.
‘Baru kali ini Tuan terlihat lemah seperti ini, Nona.. saya mohon bertahanlah demi Tuan Felix’ batin Dom berharap Selena segera sadar.
“Dom!” Panggil Dave baru saja datang karena ia harus mengantarkan Charlos dan Roy berobat. Mereka berada di satu gedung yang sama namun hanya berbeda lantai dari ruang rawat Selena.
“Ya Tuan Besar? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Dom sopan.
“Pergilah, bantu Mario mengubur jasad Johan. Biar aku yang menemani menantu ku disini” titah Dave menepuk pelan bahu Dom yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
“Baik Tuan Besar, saya mohon ijin pergi menyusul Mario” ucap Dom di angguki oleh Dave.
“Tuan, saya tinggal sebentar” ucap Dom pada bosnya.
“Pergilah Dom, aku tidak apa-apa” jawab Felix dengan tatapan terpaku pada pintu ruangan Selena.
Setelah mendapat izin dari Felix pria itu lantas pergi meninggalkan ruangan rawat Selena menuju tempat dimana Mario dan beberapa anak buah Dave berada.
“Jangan terus meratapi kesedihan, kau harus menjadi kuat untuk memberikan dukungan pada istri dan calon anak mu” ucap Dave memberi nasehat pada putranya.
“Pa, Selena kesakitan sebelum ia tak sadarkan diri. Apa menurut Papa aku tidak merasa cemas dengan keadaannya, belum lagi kondisi tubuhnya yang semula memang tidak baik-baik saja!” Ucap Felix dengan raut wajah penuh kecemasan.
“Papa tahu, bahkan Papa sendiri pernah ada di posisi mu saat Mama kamu melahirkan bertaruh nyawa antara hidup dan mati” ucap Dave menimpali perkataan putranya.
“Itu berbeda, jelas-jelas jika anakmu selamat. Sementara aku? Bahkan nasib anak ku di dalam kandungan istriku bagaimana saja aku tidak tahu!” Keluh Felix mengusap wajahnya kasar.
“Dimana dokter?” Tanya Dave menatap intens Felix.
“Masih di dalam” singkatnya.
Jawaban Felix membuat Dave mendesah kasar.
“Bagaimana kau bisa mengetahui keadaan anak dan istri mu jika Dokter saja masih memeriksanya?! Kau tahu artinya bersabar tidak!” Pekik Dave memarahi putranya yang disaat seperti ini masih meninggikam ego nya.
Felix menatap ke arah pintu ruangan Selena dengan lesu.
Sedetik kemudian pintu terbuka. Felix berhegas menghampiri Dokter yang menangani Selena.
“Gimana keadaan istri saya dok?” Tanya Felix buru-buru.
“Nona sudah siuman, tapi pengaruh obat bius masih bekerja. Tinggal tunggu beberapa menit saja Nona akan segera sadar” papar sang Dokter.
“Lalu apa yang menyebabkan istri saya tak sadarkan diri Dok? Bahkan sebelum pingsan dia mengeluh perutnya kesakitan” tanya Felix khawatir.
Felix shock bukan main, sedetik kemudian ia mencoba menetralkan gemuruh dalam dadanya dan menghembuskan nafasnya kasar.
“Lalu?” Tanya Felix berusaha menahan laju airmatanya agar tidak keluar. Tidak! Dirinya tidak boleh menangis!
Dokter itu menghela nafasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
“Hanya ada dua pilihan Tuan, menyelamatkan nyawa sang Ibu atau bayinya” jawab Dokter itu membuat Felix membelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti saat itu juga.
“Apa maksud anda dok?” Tanya Dave yang juga mencemaskan kondisi Selena dan calon cucunya.
“Kandungan Nona Selena melemah, jika ingin menyelamatkan salah satunya maka kalian harus merelakan salah satunya juga. Nona Selena tidak akan sekuat itu untuk mempertahankan janin yang ada di dalam perutnya, Nona terlalu banyak mengalami guncangan dan stress sehingga mempengaruhi tumbuh kembang janinnya” terang Dokter menjelaskan dengan sangat terpaksa mengatakan hal itu.
“Tidak mungkin..” ucap Felix berusaha menepis kenyataan itu. Pria itu menitikkan airmatanya yang keluar tanpa permisi. Dave memeluk punggung rapuh itu dan mengusapnya guna memberi kekuatan pada putranya yang selama ini tidak pernah memperlihatkan kesedihannya sama sekali di depan keluarganya. Hanya dengan Selena Felix menjadi seperti ini.
“Selamatkan nyawa istrimu. Kalian masih bisa memiliki anak lagi kedepannya, tapi nyawa Selena lebih penting.” Ucap Dave memberi masukan.
“Tapi apa yang akan aku katakan padanya jika anak kami pergi Pa?! Selena sangat menyayangi kandungannya”
“Dok, apa tidak ada cara lain untuk mempertahankan keduanya? Saya berani bayar berapa pun agar dokter melakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya” ucap Felix berusaha mempertahankan anak yang sudah lama ia nantikan dari rahim istrinya.
“Maaf Tuan, semua ini sudah kehendak Tuhan. Kami hanya bisa memberikan saran yang terbaik. Jika Tuan tetap ingin mempertahankan keduanya maka resiko kedepannya akan membahayakan nyawa mereka, tidak hanya anak melainkan nyawa istri anda juga dalam bahaya” terang dokter.
Felix terperosot di lantai tak kuasa menopang beban tubuhnya. Ia menangis menunduk dengan punggung bergetar, Dave yang menyaksikan hal itu sontak menatap iba punggung kekar putra semata wayangnya.
‘Papa tidak pernah melihat mu serapuh ini, Ya Tuhan, cobaan apa yang sedang menguji rumah tangga putraku’ batin Dave sedih.
“Bangun Felix, jangan seperti ini. Kau harus mendampingi istri mu di dalam” titah Dave mengangkat tubuh lemas lunglai putranya.
Tampak wajah tampannya sembab, Dave tahu ini keputusan berat. Tapi membahayakan nyawa Selena bukan jalan keluar yang tepat.
“Kami boleh masuk Dok?” Tanya Dave pada sang dokter yang sejak tadi turut menatap iba calon ayah itu.
Dokter pun mengangguk tersenyum singkat.
“Kami menunggu keputusan anda Tuan Felix, pikirkan baik-baik kondisi istri anda. Saya permisi” pamit Dokter itu berlalu meninggalkan keduanya.
“Sudahlah, dengarkan saran Papa. Kau tidak ingin kehilangan istrimu bukan?” Tanya Dave menatap intens dirinya.
“Akan aku pikirkan, semoga saja Selena menerima keputusan ku” ucap Felix melangkah masuk ke dalam ruangan Selena.
Felix mengusap surai rambut Selena dengan lembut, tatapannya beralih pada perut rata wanita itu. Tanpa sadar airmatanya kembali menetes mengingat janin yang ada dalam kandungan istrinya berada antara hidup dan mati.
“Haruskah Daddy merelakan mu nak? Daddy tidak tahu harus bagaimana, maafkan Daddy yang gagal menjaga kalian berdua, maafkan Daddy” ucap Felix mengusap kasar airmatanya.
Merelakan salah satunya merupakan pilihan yang berat bagi Felix.
“Kau tidak salah hubby, disini akulah yang bersalah” ucap Selena yang entah sejak kapan sadar.
Felix seketika menoleh, menatap lekat-lekat wajah pucat istrinya lalu menggeleng pelan.
“Tidak, aku yang salah. Aku yang tidak becus menjaga kamu dan anak kita. Maafkan aku, aku memang suami yang gagal” ucap Felix menatap nanar perut datar itu lalu kembali mengusapnya pelan.
“Dari awal memang keadaan ku sudah lemah, tidak ada yang perlu di salahkan. Jika boleh memilih, lebih baik selamatkan anak kita Hubby. Aku tidak mau membuat mu kecewa di atas penantian yang selama ini kau nantikan sejak lama, memiliki anak dari rahim ku. Menjadi penerus mu” ucap Selena terdengar pilu di telinga Dave yang sejak tadi membungkam diri.
“Tidak! Aku tidak akan setuju! Lebih baik aku kehilangannya dari pada harus kehilangan mu Selena” ucap Felix menolak mentah-mentah saran wanita itu.
Bagaimana dirinya bisa hidup tanpa Selena?