
Saat ini Felix tengah menunggu Selena di ruang perawatan. Dokter memeriksa bahu Selena yang memar karena benturan dari Celline.
“Memar nya akan hilang dalam beberapa hari kedepan Tuan, hanya saja jangan di gunakan untuk aktifitas berat seperti mengangkat beban berat. Otot-otot nya perlu di regangkan agar tidak menimbulkan pembengkakan” terang dokter
“Baiklah, terimakasih Dok.” Ucap Felix membantu Selena mengancingkan kembali kemejanya.
“Aku bisa sendiri” ucap Selena pelan. Gadis itu merasa tidak enak karena masih ada Dokter.
“Diamlah honey” ucap Felix melarang gadis itu melakukannya sendiri.
Selena hanya memutar bola matanya malas.
Dokter yang mengaksikan perdebatan dua sejoli itu tersenyum tipis.
“Oke selesai”
“Baiklah. Sekali lagi terimakasih, kami permisi Dok” pamit Felix pada dokter wanita itu.
“Sama-sama Tuan” ucap dokter itu tersenyum ramah.
Sepanjang jalan koridor rumah sakit tak sekalipun Felix melepaskan genggaman tangannya.
“Sayang, boleh aku meminta sesuatu?” Tanya Selena mendongak menatap Felix.
“Apa?” Tanya Felix
“Aku ingin kamu bersikap baik pada Mama kamu. Jangan terus-terusan bersikap seolah memusuhi nya, itu tidak baik Felix” pinta Selena pada pria dingin itu.
Seketika raut wajah Felix menjadi datar.
“Aku tidak memusuhinya. Sifatnya yang egois membuat ku malas berbicara dengannya” ucap Felix menatap lurus kedepan.
“Cobalah berdamai dengan Mama mu, siapa tau dia bisa merubah sifatnya” saran Selena.
Felix menggeleng pelan.
“Sampai kapanpun Mama akan tetap seperti itu honey. Kau tidak tahu bagaimana keras kepalanya dia ketika semua keinginan nya harus terpenuhi” jawab Felix yang tahu betul tabiat Grace seperti apa.
Selena diam sejenak. Jika Felix saja tidak mampu mengatasi sifat Mamanya lalu bagaimana cara dia sendiri menyikapi Grace?
“Lalu aku harus bagaimana menyikapi Mama mu? Kau saja seperti ini bagaimana denganku?” Tanya Selena tak mengerti.
“Jangan terlalu di ambil pusing honey. Sewajarnya saja, jangan pernah mencoba akrab dengan Mama. Aku tahu sifat Mama seperti apa terlebih pada orang yang dia tidak suka. Semua ucapan dan perlakuannya jangan kamu ambil hati. Anggap saja patung jika berhadapan dengan Mama. Percuma juga bersikap baik padanya, yang ada kamu akan semakin di pojokkan” ucap Felix panjang lebar.
“What?” Cicit Selena membeo. Ia sama sekali tak mengerti dengan situasi ini.
“Yang benar saja kau ingin menikahi ku tapi aku tidak boleh dekat dengan Mama mu?” Ucap Kiara heran.
“Untuk apa? Kau menikah dengan ku bukan dengan Mama. Lagi pula Mama akan berubah sendiri jika sudah mengetahui kebaikan dalam dirimu. Percaya padaku” ucap Felix begitu yakin.
Selena menaikkan sebelah alisnya.
“Aku tidak ikut-ikutan. Terlalu berbahaya masuk lebih jauh di dalam keluarga mu. Sepertinya akan sulit jalan kita kedepannya” ucap Selena sedikit ragu.
“Masa depan hanya perlu di jalani bukan untuk di khawatirkan. Asal kau bersedia menetap di sampingku maka semua jalan yang kita lalui akan terasa mudah” ucap Felix tersenyum lembut le arah Selena.
“Ya, asal jangan ada pengkhianatan dan kebohongan saja” ucap Selena memperingati.
“Itu tidak akan terjadi” jawab Felix pasti.
Keduanya saling beradu senyuman, sedetik kemudian Selena menyandarkan kepalanya di bahu Felix.
Sementara di mansion nya Robert bertengkar hebat dengan istrinya. Pria itu ketahuan sedang bermain api di belakangnya.
Baru saja Nyonya Gwen menemukan bukti mutasi dari m-banking senilai 1M ke tujuan atm milik Celline.
“Sudah ku katakan berapa kali dia adalah rekan ku Mi, kita saling terlibat bisnis yang sudah kita rencanakan dari dulu” sanggah Robert
Pria paruh baya itu gelagapan bingung harus memakai alasan apa lagi.
“Aku tidak akan mentoleransi hal ini! Semua harta mu seratus persen adalah hak ku! Jika kau masih tidak mengakui maka aku akan menggugat mu ke pengadilan!” Ancam Gwen yang memiliki kuasa penuh atas jabatan Robert. Semua pencapaian Robert hingga saat ini adalah bantuan campur tangan dari mendiang mertuanya yang tak lain ayahnya Gwen. Perjanjian pra nikah sudah jelas tertulis jika suatu saat mereka ada problem yang mengharuskan mereka untuk berpisah maka semua harta kekayaan Robert akan jatuh menjadi hak milik Gwen dan anak-anaknya sepenuhnya.
“Mi jangan seperti ini! Aku benar-benar tidak melakukannya! Jika kau masih tidak percaya kau boleh bertanya pada orangnya langsung” ucap Robert sekuat mungkin menyangkal tuduhan Gwen. Pria paruh baya itu ketakutan ketika mendengar ancaman dari istrinya.
“Untuk apa aku bertanya padanya?! Sudah pasti kau bersekongkol dengan wanita jal*ng itu!” Sentak Gwen murka.
“Cukup Mi cukup!!!” Teriak Robert yang mulai terbawa emosi.
“Aku mencintai mu, aku tidak akan sanggup berpisah dengan mu. Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan mu, titik!” Ucap Robert kekeh.
“Cuihh!! Cinta?! Omong kosong apa lagi ini? Kau hanya takut menjadi gembel, bukan atas dasar cinta kau bertahan sampai saat ini! Kau pikir aku bodoh hah?! Sedari dulu kau memang tidak benar-benar mencintai ku Robert! Kau hanya tergiur dengan jabatan yang ayahku janjikan! Kau manusia paling menjijikkan di muka bumi ini!” Maki Gwen penuh emosi.
Sekian tahun lamanya Gwen memendam apa yang ia rasakan selama ini akhirnya keluar juga kata-kata dari mulutnya.
Gwen memang mencintai Robert, tapi tidak dengan pria itu. Mereka menikah atas dasar paksaan dari mendiang ayahnya karena pada saat itu ayahnya terfonis serangan jantung. Mau tidak mau ia harus mencarikan Gwen pasangan agar kelak ada yang menjaga putri satu-satunya sebab ibu Gwen sudah meninggal lebih dulu.
Robert yang kepalang emosi melayangkan tangannya ke muka Gwen.
Plakk!!!
Seketika Gwen terpental ke sofa karena kerasnya tamparan Robert.
“Sudah cukup kau memaki ku Gwen! Kau pikir aku tidak punya batas kesabaran hah?!!!” Bentak Robert.
“Jangan pernah membentak Mami ku dengan mulut kotor mu itu baj*ng*n!!!” Teriak seorang anak laki-laki dari balik pintu.
Pemuda itu berjalan mendekati keduanya yang masih bersitegang.
“Hans..” panggil Robert tergugup.
“Jangan pernah menyebut nama ku! Aku jijik mendengarnya” ucap Hans emosi.
“Hans aku Papi mu!” Sentak Robert
“Aku tidak sudi memiliki ayah seperti mu!” Sahut Hans sinis, ia pun membantu Gwen berdiri.
“Are you okay Mi?” Tanya Hans pada Gwen yang masih memegang pipinya.
“Mami okay Hans, kenapa pulang lagi?” Tanya Gwen menatap putranya.
“Hans sedari tadi belum berangkat karena mendengar pertengkaran kalian. Dan Hans tidak akan memaafkan b*jing*n ini Mi! Hans benci dia!!!” Tunjuk Hans murka pada Robert.
“Jaga ucapan mu Hans! Kau tidak sopan sekali!” Tegur Robert.
“Cih! Menjijikkan!” Decih Hans menatap jijik Robert.
“Kau tahu? Aku begitu menghormati mu! Begitu segan pada mu! Karena aku pikir ayah ku adalah seorang yang hebat telah mendidikku hinga sebesar ini! Tapi aku salah, kau memang pantas di maki karena kelakuan mu yang seperti binatang! Tidak punya hati! Kau penghianat!!” Teriak Hans mengeluarkan semua amarahnya di depan Robert.
Robert tak menyangka putranya akan berpihak pada Gwen, padahal selama ini Hans begitu dekat dengannya.
“Hans tutup mulut mu!! Papi akan memblokir semua fasilitas mu mulai sekarang!” Ucap Robert murka.
“Hahh! Punya hak apa kau ingin memblokir fasilitas putra ku?! Kau lupa semua harta mu adalah milikku dan Hans?! Kau hanya menumpang disini Robert! Jangan lupakan itu!” Sinis Gwen.
Robert meraup wajahnya kasar tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“Terserah! Satu yang harus kalian tau, aku tidak akan pernah mau bercerai!” Ucap Robert berlalu pergi meninggalkan ibu dan anak itu.
Gwen memijat pelipisnya yang terasa pusing.
“Mami tenang saja. Hans akan membalas semua perlakuan dia pada Mami” ucap Hans memeluk ibunya.