
Hari ini Felix kembali ke kantor setelah semalam penuh menemani Selena di rumah sakit. Wanita cantik itu belum di perbolehkan pulang mengingat kondisi kehamilannya yang masih sangat rentan.
“Sayang, siang nanti aku tidak bisa pulang. Pekerjaan di kantor padat sekali dan mau tidak mau aku harus segera membereskannya agar aku bisa memiliki waktu luang untuk menemani mu setiap hari” ucap Felix melingkarkan tangan kekar nya di perut rata Selena.
“Ya, tidak masalah. Lagi pula ada Hana yang menemani ku disini. Jangan khawatir” ucap Selena merasa mood nya mulai membaik berkat usaha Felix yang terus menempel padanya membuat hatinya luluh kembali.
Sementara Hana, maid yang Felix perintahkan untuk menjaga istrinya kini merasa canggung berada di antara mereka. Jarak antara Felix dan Selena begitu intim baginya yang tergolong masih muda.
Felix tersenyum lembut mengusap kedua pipi mulus Selena.
“Aku janji akan pulang cepat hari ini” ucapnya mengecup pipi mulus itu berkali-kali.
Terakhir ia melabuhkan kecupan dan usapan lembut di perut rata istrinya.
“Sayang, Daddy ke kantor dulu. Jangan rewel ya, temani Mommy mu agar dia tidak kesepian” ucap Felix terus mengulas senyum bahagia nya.
Selena yang melihat pemandangan itu seketika mengulas senyum merasakan hatinya menghangat. Rasa bahagianya berkali-kali lipat melebihi apapun.
“Iya Daddy” ucap Selena menirukan gaya bicara anak kecil membuat Felix terkekeh gemas.
“Aku berangkat dulu baby, makan yang banyak supaya anak kita sehat okay?”
“Pasti” ucap Selena mengangguk tersenyum.
Felix mengacak rambutnya gemas lalu kembali melabuhkan kecupan di kening wanita itu.
“Cup! Aku pergi” pamitnya beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu ruangan.
Sebelum dirinya benar-benar keluar pria itu membalikkan badannya dan berpesan kepada Hana.
“Jaga Nona dengan baik, jangan ijinkan siapapun masuk ke dalam ruangan ini.” Pesan Felix pada Hana.
“Baik Tuan” ucap Hana mengangguk mantap.
Sedetik kemudian pria itu menghilang di balik pintu.
“Hana..” panggil Selena setelah suaminya pergi.
“Iya Nona, anda membutuhkan sesuatu?” Tanya Hana mendekat ke arah Nona nya.
Selena menggeleng pelan.
“Tidak, aku hanya butuh teman bercerita agar mengusir rasa bosan ku” ucap Selena menepuk ranjang sebelahnya meminta Hana duduk.
Hana dengan ragu duduk di ranjang itu.
“Santai saja jangan sungkan, anggap saja aku kakak mu mulai sekarang” ucap Selena tersenyum lembut menatap gadis cantik itu.
“Baik Nona” ucap Hana membalas dengan senyuman manis.
Kedua wanita berbeda usia itu berbincang layaknya teman akrab bahkan sampai membuat Selena tertawa lebar akibat candaan Hana.
Di dalam mobilnya Felix mengulas senyum manisnya menyaksikan interaksi istrinya dengan Hana melalui cctv yang tersambung di ponselnya.
Felix memang sengaja memilih Hana yang notabene menjadi mahasiswa magang asal University Harvard. Gadis itu memiliki jiwa intelligent yang tinggi. Itu sebabnya Felix tertarik dengan kepiawaian Hana dalam melindungi Selena.
“Aku memang tidak pernah salah memilih gadis itu” ucap Felix menyunggingkan senyumnya miring.
Saat ini Celline tengah berada di salon, wanita itu ingin mengubah penampilannya se-menarik mungkin agar dirinya mampu memikat Felix kali ini.
“Apakah aku cantik?” Tanya Celline memainkan ujung kukunya menatap ke arah karyawan salin yang sedang men-styling rambutnya.
“Tentu saja Nona, anda sangat memukau. Bahkan kecantikan anda melebihi ratu Ellena” ucap wanita itu membalas pertanyaan Celline.
“Heh! Aku memang semenarik itu asal kau tahu, siapapun pria yang aku inginkan pasti tergiur pada ku, kecuali pria dingin nan angkuh itu. Tapi walaupun angkuh aku terpesona padanya” ucap Celline dengan raut wajah tak bersemangat.
“Oh ya? Benarkah ada yang tidak tertarik dengan mu Nona? Wahh sepertinya mata pria itu katarak” celetuk karyawan salon.
“Jaga ucapan mu! Dia adalah pria yang aku dambakan selama ini, pesona nya memang tidak main-main. Aku yakin semua wanita akan bertekuk lutut padanya. Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, sudah pasti aku akan merebutnya dari siapapun termasuk wanita yang saat ini menjadi parasitnya” ucap Celline menggebu-gebu.
“Maksud Nona kekasihnya?” Tanya Karyawan salon itu menaikkan alisnya.
Celline menggeleng,
“Dia istrinya” singkatnya menatap nanar cermin di hadapannya.
“Oh no! Are you kiddingy, Nona? Seorang wanita berkelas seperti anda menyukai suami orang? Astaga sepertinya pria di muka bumi ini memang benar-benar sudah punah” keluh wanita itu menatap heran pelanggan setianya satu itu.
Karyawan itu menggeleng heran, bisa-bisanya ada wanita tidak tahu malu seperti Celline. Dan sialnya itu adalah pelanggan tetapnya yang selalu menambah income tempatnya bekerja. Bahkan ia sendiri tak jarang mendapatkan tips jika Cellinw merasa puas dengan pelayanannya.
“Sudah selesai Nona, penampilan anda seratus persen saya pastikan sempurna” ucap karyawan itu.
“Baiklah, aku percaya ucapan mu. Kau memang tidak pernah gagal” ucap Celline menyerahkan beberapa lembar uang.
“Seperti biasa, ini tips untukmu karena aku puas dengan hasil tangan mu” ucap Celline mengibaskan rambutnya beranjak pergi.
Karyawan itu mengulas senyumnya girang.
“Thank you Nona, sering-seringlah kemari!” Ucapnya setengah berteriak saat wanita anggun itu mulai menjauh.
Celline menginjak pedal gas nya membelah jalanan padat siang ini. Entah kemana arah tujuannya yang pasti wanita itu akan melancarkan aksinya.
Di ruangannya, Selena baru saja menghabiskan makan siangnya. Hana dengan telaten menyuapi wanita hamil itu karena jika Selena makan sendiri sudah di pastikan wanita itu hanya menghabiskan waktu nya untuk mengaduk makanan dalam piring.
Entah kenapa sikap Selena semakin manja, bahkan untuk sekedar tidur saja wanita itu kesulitan jika tidak ada Felix di sampingnya.
“Nona, ini obat dan vitaminnya sudah saya siapkan” ucap Hana menyodorkan nampan berisi beberapa butir pil dan segelas air putih.
“Letakkan saja disitu Han” ucap Selena
“Nanti anda lupa meminum nya Nona, lebih baik sekarang saja ya? Hana bantu kok, dokter berpesan supaya Nona tidak melewatkan satu pun obat dan vitamin” ucap Hana menawarkan diri.
“Hufhhh… rumit sekali. Rasanya aku ingin cepat pulang” keluh Selena merasa jengah setiap kali harus meminum pil-pil itu.
“Untuk itu sekarang Nona patuh pada anjuran dokter agar bayi anda cepat sehat dan Nona bisa pulang” bujuk Hana pada istri bosnya.
“Baiklah” ucap Selena meraih gelas lalu meminum vitamin.
Hana tersenyum senang, memang butuh sedikit udaha untuk membujuk wanita hamil itu.
“Han,” panggil Selena setelah meminum vitamin.
“Ya Nona?”
“Aku ingin menyusul suamiku ke kantor, rasanya aku ingin tidur memeluknya” ucap Selena tiba-tiba.
Membuat gadis itu menggaruk keningnya resah.
“Tapi Nona, Tuan tidak mungkin mengijinkan Nona untuk keluar dari ruangan ini. Terlalu beresiko untuk kandungan anda Nona” ucap Hana berusaha memberi pengertian pada Selena.
“Tidak bisa Han, aku harus menyusulnya sekarang, ini permintaan dari anakku” ucap Selena yang mengumpankan janin dalam kandungannya.
Sontak Hana menepuk jidatnya pelan. Gadis itu menggeleng heran, orang ngidam memang rumit. Pikirnya.
“Oke sebentar, Hana telfon Tuan dulu” ucap Hana berjalan meraih ponselnya yang ada di sofa sudut ruangan.
Selena hanya memandang semua gerak gerik Hana dengan mata mengedip lucu.
Hana yang memperhatikan istri bosnya itu menggeram gemas, pantas saja Tuannya itu tergila-gila dengan wanita seperti Selena. Ternyata tingkahnya sangat ajaib menurut Hana.
Lama mendial nomor Felix namun panggilan itu tak kunjung di angkat oleh sang empu membuat Hana mendesah frustasi.
Hampir sepuluh kali gadis itu mencoba namun hasilnya tetap nihil, tidak ada jawaban satupun.
“Gimana Han?” Tanya Selena cengo,
Hana menggertakkan giginya kesal, sudah tau jawabannya masih saja bertanya.
“Tuan tidak menjawab Nona, mungkin beliau benar-benar sibuk” ucap Hana membuat Selena teringat dengan ucapan suaminya tadi pagi yang mengatakan jika dirinya tidak akan pulang makan siang karena kantor sedang sibuk-sibuknya.
Selena mendesah frustasi, keinginannya kali ini benar-benar tidak bisa di toleransi sama sekali.
Lama merenung tiba-tiba wanita itu berkaca-kaca dengan mata mengembun. Membuat Hana panik setengah mati melihat istri bosnya menangis.
“Hiks-hiks!” Isak Selena terdengar sampai telinga Hana.
Gadis itu buru-buru mendekat ke arah Selena.
“Nona, cup-cup jangan sedih, sebentar lagi Tuan akan pulang. Sebaiknya Nona sekarang beristirahat dahulu sambil menunggu kepulangan Tuan Felix” ucap Hana berusaha keras menenangkan, bukannya semakin reda justru tangis wanita itu semakin kencang.
“Huaaaa!!!”