Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 34 | Rasa bersalah Felix



Felix baru saja sampai di ruangannya, pria itu sampai lupa waktu karena asik bercengkrama dengan Hans.


Ia melepaskan jasnya dan mengalungkan di kursi kebesarannya.


Tangannya mulai meraih beberapa tumpukan dokumen.


Baru saja hendak menyalakan laptop nya tiba-tiba ponsel nya berdering menandakan panggilan masuk.


Ia pun meraih ponselnya.


“Ya hallo, kenapa Dom?” tanya Felix.


*“Halo Tuan, baru saja Nyonya Grace dan Nona Celline datang ke apartemen anda. Apakah Tuan yang menyuruh mereka untuk datang mengunjungi apartemen?” Tanya Dom pada Felix.*


Dom di tugaskan Felix untuk menjaga situasi sekitar apartemen dan mengawasi Selena. Oleh sebab itu Felix bisa leluasa pergi meninggalkan Selena sendirian di apartemen.


“Tidak Dom, aku tidak menyuruhnya. Apa yang mereka lakukan?” Tanya Felix sedikit gusar.


“*Saya kurang tahu Tuan, pasalnya mereka berada di dalam cukup lama. Dan barusan saya melihat Nyonya Grace keluar dari apartemen dengan wajah menahan marah. Sepertinya telah terjadi sesuatu Tuan” **ucap Dom menduga.*


Felix di buat kalang kabut mendengarnya.


“Baiklah Dom, terimakasih atas info nya. Aku akan mengecek sendiri cctv apartemen” ucap Felix


“*Baik Tuan” **jawab Dom.*


Panggilan pun terputus.


Felix buru-buru mengecek cctv lewat ponselnya.


Layar itu menampakkan sosok Selena yang sedang mengompres pipi nya dengan handuk.


Felix mencoba zoom layar itu dan ternyata pipi sebelah kiri Selena tampak lebam.


“Selena sayang, apa yang terjadi” ucap Felix dengan raut wajah khawatir.


Penasaran, ia pun memundurkan rekaman di menit-menit sebelumnya.


Terlihat lah percekcokan adu mulut Grace dengan Selena, hanya saja Selena tampak tenang menghadapi semua cemoohan Grace yang terlihat brutal.


Sedetik kemudian cctv itu menampakkan kejadian dimana Grace menampar Selena begitu kerasnya sampai gadis itu terhuyung.


Rahang Felix mengeras seketika, otot-otot di tangannya mengepal erat menahan amarah.


Brakkk!!!!


Tangan Felix menggebrak meja nya hingga retak.


“Sialan!! Kau sudah berani menyentuh bahkan melukai wanita ku! Keparat!!!!” Umpat Felix murka.


Ia bergegas memakai jas nya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Felix akan pulang sekarang juga, ia sudah tidak peduli lagi dengan pekerjaannya yang terpenting saat ini adalah Selena.


Langkahnya lebar menyusuri koridor. Sesampainya di lantai dasar ia menghampiri meja resepsionis.


“Saya akan pulang sekarang, dan tolong jika ada yang menemui ku katakan besok pagi saja” ucap Felix pada resepsionis.


“Baik Tuan” ucap resepsionis itu mengangguk.


Felix bergegas masuk ke dalam mobil dan menancapkan pedalnya menuju apartemen.


Di dalam mobilnya Felix terus mengumpati Grace, ia tidak terima dengan perlakuan wanita paruh baya itu.


“Meskipun kau adalah ibuku, tetap saja tindakan mu salah dan sama sekali tidak bisa di benarkan” geram Felix menambah kecepatannya.


Lima belas menit Felix pun sampai di apartemen. Ia bergegas keluar dari mobil dan berlari secepat mungkin menuju lift.


Jari tangannya dengan lihai memencet tombol lift hingga akhirnya pintu lift terbuka, pria itu segera masuk ke dalam karena tidak sabar melihat keadaan kekasihnya.


“Bersabarlah Selena, tunggu aku” gumam Felix begitu khawatir.


Sampai di depan pintu apartemennya Felix cepat-cepat menempelkan jarinya.


Ia masuk melangkahkan kakinya menuju kamar Selena.


“Honey..!” Panggil Felix dengan nada khawatir.


Ceklek!


Tampak Selena tengah duduk bersandar di tempat tidurnya.


“Kenapa pulang? Apa pekerjaan mu sudah selesai?” Tanya Selena mengernyitkan dahinya.


Felix melangkah terburu-buru karena ingin mengecek keadaan gadis itu.


“Katakan pada ku apa yang mereka lakukan?” Cecar Felix menuntut.


“Apa maksud mu Felix? Mereka siapa?” Tanya Selena, meskipun ia berfikir pada Grace dan Celline tapi dia ragu kalau Felix mengetahui kedatangan mereka.


“Jangan berpura-pura Selena. Katakan apa yang mereka lakukan padamu? Mana yang sakit? Ini? Ini? Atau ini? Hah? Cepat katakan” ucap Felix menunjuk wajah dan tangan Selena seraya memberondong banyak sekali pertanyaan.


Selena di buat kicep mendengar suara Felix yang berbeda dari biasanya. Sepertinya pria ini sedang marah. Ia juga tidak tahu darimana Felix mengetahui hal ini. Selena pun tidak berani bertanya karena situasinya akan semakin rumit jika ia bertanya.


“Tidak ada, hanya kesalah fahaman saja” jawab Selena setenang mungkin. Ia tidak mau Felix sampai lepas kontrol dan berdampak buruk pada hubungannya dengan Grace.


“Salah paham kata mu?! Kau lihat pipi mu yang memar ini Selena! Bahkan bekas jarinya saja masih jelas terlihat, kau masih bisa berkata salah paham?!” Sentak Felix tak habis pikir dengan jalan pikiran Selena.


“Ini bukan luka yang serius. Mama mu tidak sengaja melakukannya” jawab Selena mengusap bahu Delix lembut.


“Entah sengaja atau tidak yang pasti ini adalah bentuk kekerasan, bagaimanapun tidak bisa di benarkan” ucap Felix dengan intonasinya menahan amarah.


Peia itu mengulurkan tangannya membelai pipi mulus Selena.


“Sakit?” Tanya Felix lembut.


“Ya, tapi nanti lama-lama juga berkurang. Aku sudah minum obat dari bekas lebam bahu ku yang kemarin” jawab Selena.


Felix semakin merasa bersalah.


“Maafkan aku sayang, seharusnya memang aku tidak meninggalkan mu sendirian di apartemen” ucap Felix penuh sesal.


Selena tersenyum lembut mengusap rahang tegas pria itu.


“It's oke. Aku bukan anak kecil yang kemanapun harus kau bawa Felix” ucap Selena terkekeh pelan.


Felix menggeleng cepat,


“Bukan seperti itu. Sekarang situasi memang sedang tidak aman untuk mu honey. Anak buah Robert selalu mencari celah untuk menemukan keberadaan mu. Untung Papa bergerak cepat menyebarkan anak buah untuk mengawasi mu” ucap Felix menatap lekat wajah cantik Selena.


“Kenapa Papa sangat baik padaku?” Tanya Selena merenungi sikap Dave padanya, sangat berbanding terbalik dengan perlakuan Grace.


“Papa tidak akan membiarkan putri seorang penolongnya berada dalam bahaya. Apalagi kamu calon menantu keluarga Wilson” jawab Felix membuat hati Selena melambung tinggi.


Seketika Selena terkekeh pelan.


“Bahkan mulai besok kau akan di temani Celline” ucap Selena tertawa lucu.


“Apa maksud mu? Siapa yang bilang begitu?” Tanya Felix bingung.


“Mama” jawab Selena singkat.


Raut wajah Felix berubah muram mendengarnya.


“Apa saja yang dia katakan?” Tanya Felix dengan sorot mata tajam.


“Seperti biasa, Mama akan tetap menjodohkan mu dengan Celline dan akan segera menentukan hari pertunangan kalian” jawab Selena masih bisa tersenyum. Selena tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi nya.


Felix mengetatkan rahangnya kuat.


“Ini benar-benar kelewatan. Aku tidak akan tinggal diam” geram Felix mengepalkan tangannya kuat.


“Lalu kau mau berbuat apa?” Tanya Selena.


“Aku akan membuat pelajaran yang tidak pernah mereka bayangkan. Mereka juga sudah berani menyentuh bahkan melukai mu. Ini sudah melewati batas toleransi ku Selena” ucap Felix memejamkan matanya.


Felix kembali membuka matanya, ia mendekatkan wajahnya ke arah Selena.


Pria itu menangkup kedua pipi Selena lalu mengecup sekilas bibir gadis itu.


“Cup, aku pergi sebentar. Jangan keluar kemanapun, di luar akan ada pengawal yang menjaga mu” pamit Felix pada Selena.


“Kau mau kemana?” Tanya Selena heran.


“Hanya sebentar” jawab Felix tak ngambung.


Pria itu belalu keluar dan menutup pintu kamar Selena. Meninggalkan gadis itu sendirian.


“Hahh.. semoga tidak terjadi apa-apa” gumam Selena menghembuskan nafasnya berat.


Sampai di luar apartemen Felix berpapasan dengan Dom yang memang akan menjaga dan mengawasi Selena.


“Tuan,” sapa Dom membungkuk hormat.


“Jaga calon istriku Dom, jangan sampai kejadian tadi terulang kembali. Aku pergi sebentar” ucap Felix pada Dom.


“Baik Tuan” jawab Dom.


Felix melangkahkan kakinya menuju lift. Dia akan pergi ke mansion utama untuk menyelesaikan semua kekacauan yang terjadi hari ini.