
Rombongan Roy dan Felix kini tiba di tempat dimana Selena berada, dan benar saja kata Roy yang memprediksi sinyal di pemukiman padat itu cukup sulit. Sebab pemukiman itu jauh dari teknologi canggih, hanya ada penerangan dan listrik biasa di gunakan oleh masyarakat.
“Untung saja kita belum terlambat, sedikit saja terlambat aku pastikan kita kehilangan jejak” ucap Roy pada Dom.
“Iya Tuan, anda benar. Ponsel saya saat ini juga tidak bisa mengakses apapun” ucap Dom.
“Sebaiknya kita segera bergerak! Sebelum mereka menyadaari kehadiran kita” ajak Roy, pria itu bergegas keluar dari mobil dan mengkode Felix yang masih berada di dalam mobil agar jangan dulu menampakkan diri.
Felix yang paham dengan kode itupun menganggukkan kepalanya mengerti.
“Menurut mu apakah pria itu kini ada di dalam Paman?” Tanya Felix menoleh ke arah Charlos.
“Aku rasa tidak. Mungkin saja dia masih ada di tempat ini tapi tidak di tempat yang sama dengan istri mu” jawab Charlos dengan tatapan serius.
“Kenapa begitu? Paman yakin sekali” seloroh Felix.
“Mungkin saja. Tidak mungkin Johan akan berdiam diri di tempat dari siang sampai petang. Kau pikir dia bodoh? Tentu saja dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya jika kau berhasil menemukan keberadaannya, termasuk menjadikan istrimu tawanan agar kau membebaskan Robert” papar Charlos panjang lebar membuat Felix seketika terdiam.
“Sial! Aku tidak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu pada Selena Paman, kondisi nya saja saat ini belum pulih! Bagaimana nasib anak ku yang ada di dalam perutnya?!” Desah Felix frustasi.
Kalimat terakhir yang Felix ucapkan membuat Charlos membola.
“Apa maksud mu? Anak? Jadi Selena hamil?!” Cecar Charlos menatap penuh tanya wajah tampan itu.
Felix pun mengangguk pelan.
“Ya, usia kandungannya masih sangat rentan Paman, itu sebabnya dia harus bedrest di rumah sakit sampai dokter membuktikan bahwa kandungan istriku kuat dan baik-baik saja” ucap Felix dengan tatapan sendu.
Charlos yang mendengar hal itu seketika memberikan tepukan bahu pada Felix.
“Bersabarlah, aku yakin kemampuan mu melebihi mereka” ucap Charlos memberikan semangat untuk Felix.
Sedangkan di dalam rumah kosong, Roy meletakkan beberapa alat pendeteksi di setiap sudut ruangan maupun luar rumah. Dengan tujuan agar mereka mengetahui kapan musuh akan datang, jadi para anak buah yang berjaga bisa mengantisipasi untuk mempersiapkan tindakan yang akan mereka ambil dalam menghadapi musuh.
“Dom, kau lanjutkan. Aku akan mencari dimana tempat Nona di sekap. Kemungkinan ada di salah satu ruangan lantai dua” ucap Roy menebak, sebab lantai satu hanya berisi gudang dan ruang tamu. Selebihnya hanya ruangan bebas.
“Baik Tuan!” Jawab Dom melanjutkan kembali meletakkan alat pendeteksi.
Roy berjalan ke atas, pelan dan pasti. Ada beberapa ruangan yang ketiganya tertutup rapat. Terdapat dua ruangan yang terkunci dengan kunci biasa sedangkan salah satunya di gembok dengan rantai.
Pandangan Roy menyipit ketika melihat satu ruangan memancarkan cahaya lampu dari dalam.
“Pasti Nona ada di dalam!” Gumam Pria itu meletakkan alat pendeteksi di tangga paling atas.
Pria itupun mendekati ruangan yang ia curigai sebagai tempat penyekapan Selena.
Setelah berada tepat di depan pintu ruangan itu, Roy pun menajamkan telinga nya mendekatkan ke arah pintu.
Hening, tidak ada tanda-tanda orang di dalam.
“Apa ini hanya jebakan?” Tanya nya bergumam pelan seraya memastikan kembali bahwa tebakannya itu salah.
Krekk!
Roy pun mendelik ke arah pintu yang berbunyi, seperti ada orang yang mencoba membuka nya dari dalam.
Pria itu pun mengetuk pintu berkali-kali ingin memastikan bahwa itu adalah Selena.
“Nona.. apakah anda di dalam?” Tanya Roy
Hanya ada suara lirih dari dalam sana, hingga membuat Roy di landa penasaran.
Mau tak mau dirinya harus membuka paksa pintu itu agar ia bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.
Roy pun mengeluarkan benda kecilnya yang berbentuk seperti pen, benda itu adalah laser yang berfungsi sebagai pemotong besi apapun.
Dengan sekali tekanan akhirnya gembok rantai itu terputus menjadi dua bagian dan langsung terjatuh di lantai.
Roy bergegas membuka pintu itu dengan buru-buru.
Ceklek!
Kedua mata Roy seketika membelalak lebar melihat kondisi di dalamnya.
“Nona?!!!”
“Huu.. tolong.. tolong aku! Haus..!” Lirih Selena yang terkulai lemas di pojokan pintu dengan masih memegang infus di tangannya.
“Mari Nona, saya akan bantu anda keluar dari sini! Tuan Felix sudah menunggu anda di luar” ucap Roy membantu Selena bangun.
“Benarkah? Suamiku ada disini? Lalu kenapa dia tidak menemui ku langsung?” Tanya Selena dengan suara parau menahan tangis dan juga lemas.
“Ini adalah bagian dari rencana yang kami susun Nona, ceritanya panjang. Sebaiknya kita segera keluar dari sini!” Ajak Roy memapah tubuh lemah Selena.
Tanpa banyak kata Selena pun menuruti ucapan Roy.
Keduanya melangkah dengan pelan menuju tangga. Baru hendak turun satu anak tangga tiba-tiba alat yang ia letakkan tepat di atas tangga berbunyi.
Tit!
“Suara apa itu?” Tanya Selena
“Nona tenang saja, tetap berpegangan dan fokus kan jalan anda! Jangan terpengaruh apapun!” Perintah Roy mempercepat langkahnya hingga membuat Selena sedikit limbung.
“Ayo Nona! Kita harus segera keluar dari sini!” Ucap Roy memberikan dorongan agar Selena mempercepat langkahnya.
“Tapi perutku sangat sakit!” Rintih Selena memegangi perutnya.
“Tahan dulu Nona, tetap jaga keseimbangan tubuh anda sampai kita keluar bertemu Tuan Felix!” Ucap Roy.
Di sela-sela langkahnya yang tergesa-gesa, tiba-tiba dari arah belakang terdengar tembakan.
Dorr!!!
“Berani keluar selangkah lagi, ku pastikan peluru ini menembus kepala mu!” Seru Johan dari atas tangga menatap ke bawah dimana Roy dan Selena berada.
Pandangan keduanya kini menatap Johan yang sedang menghisap rokok.
“Kau pikir kau siapa berani memerintah ku?” Ucap Roy menyunggingkan senyum remeh nya.
Johan yang mendengar ucapan Roy seketika membuang puntung rokoknya dan menginjak dengan sepatunya.
“Cih! Kau terlalu pemberani untuk menjadi pahlawan anak muda! Apa kau lupa ini adalah wilayah ku? Dan kau sudah lancang berani masuk di area kekuasaanku!” Berang Johan menatap marah ke arah pria itu yang masih santai menanggapi Johan.
“Lalu? Menurut mu aku takut dengan ancaman mu? Heh! Kau seperti mengancam anak singa yang bermain di pekarangan mu!” Seru Roy tersenyum acuh.
“Dasar bedebah!!! Lepaskan wanita itu dan pergilah! Aku masih berbaik hati untuk tidak membunuh mu langsung disini” ucap Johan
“Paman hanya ingin melindungi mu darinya, kau harus patuh pada paman jika ingin mendengar sesuatu dari kedua orang tuamu” ucap Johan berusaha mencuci otak Selena.
“Jangan Nona, dia pembohong. Dia tidak akan mengatakan apapun karena dia bukan orang yang dekat dengan orang tua anda. Tolong jangan dengarkan apapun yang keluar dari mulut nya” ucap Roy menasehati Selena.
Selena yang dalam keadaan bingung pun hanya bisa diam dengan pandangan kosong.
“Sepertinya berbicara dengan mu hanya akan mengulur waktu untuk mu hidup di dunia ini, baiknya aku percepat saja kematian mu!” Ucap Johan menodongkan pistol ke arah Roy.
Dorr!!!!
Roy dengan cepat menghindar dan menyeret Selena dari tempat itu. Sedetik kemudian Dom datang membawa pasukannya dan membombardir Johan dengan tembakan.
Dorr!!!
Dorrr!!!
Dorr!!!!!!
Mereka saling berbaku tembak hingga tanpa mereka sadari di luar sudah banyak anak buah Johan yang mengepung Roy dan juga Selena.
“Sial!!! Kita kalah jumlah!” Teriak Roy ke arah Dom.
“Saya sudah menghubungi yang lainnya agar menyusul kesini Tuan. Tapi sampai saat ini mereka belum datang juga!” Jawab Dom seraya menghalau serangan-serangan musuh.
“Dom! Serahkan mereka padaku dan bawa Nona ke mobil!” Ucap Roy menyerahkan Selena pada Dom.
“Baik Tuan!” Ucap Dom memapah tubuh Selena.
“Tapi bagaimana dengan dia..” ucap Selena
“Tuan Roy Nona, beliau adalah keponakan dari Tuan Charlos” ucap Dom memberitahu.
“Sebaiknya Nona fokus menyelamatkan diri anda, jangan pedulikan yang lainnya” sambung Dom
Membuat Selena menganggukkan kepalanya mengerti.
Sedetik kemudian Dom mendapatkan serangan dari belakang akibat menenangkan Selena yang sedikit lengah.
Bugg!
Punggung belakan Dom terkena pukulan yang cukup keras hingga membuat pria itu mengaduh kesakitan.
“Sialan kau!!!” Maki Dom membalas tendangan anak buah Johan.
“Dom! Apakah kau membawa senjata?” Tanya Selena menatap penuh khawatir ke arah Dom.
“Untuk apa Nona? Jangan bertindak gegabah! Salah sedikit saja nyawa anda dalam bahaya!” Ucap Dom memperingati.
“Jangan banyak tanya! Cepat serahkan pada ku Dom!” Decak Selena seraya menarik paksa baju Dom.
Sedetik kemudian sebuah pistol berhasil pindah ke tangan Selena.
“Nona hati-hati!” Ucap Dom memperingati.
Tanpa mempedulikan ucapan Dom, wanita itu mengarahkan pistolnya ke arah anak buah Johan.
Dorr!
Dorr!
Dorr!!!
Berkali-kali Selena menembak ke arah musuh hingga membuat beberapa dari mereka tumbang. Sisa nya hanya beberapa yang masih bertarung melawan Dom dan juga Roy.
“Rupanya lumayan juga ya kemampuan mu” ucap Johan menyeringai.
“Kau?!!” Ucap Selena terkejut dengan kehadiran Johan yang tiba-tiba.
“Nona! Lari!” Teriak Dom dan Roy bersamaan.
Seketika langkah Selena mundur perlahan seraya menodongkan pistol ke arah Johan.
“Hahaha… kau tidak akan pernah bisa lari dari ku kucing manis!” Ucap Johan mengejar langkah Selena yang terseok-seok.
Dorr!!!
Satu tembakan meleset karena Johan berhasil menghindarinya.
“Jangan coba-coba kabur dariku Selena! Aku bisa melakukan apapun tanpa belas kasihan meskipun kau perempuan!” Ancam Johan memperingati wanita itu.
Selena tak patah arang. Ia tetap melanjutkan langkahnya dengan lebar sembari meluncurkan peluru ke arah Johan, yang sialnya pria itu selalu berhasil menghindar.
Hingga sampai pada tembakan terakhir peluru itu selalu meleset.
“Kenapa tidak bisa?!” Ucap Selena terus menekan pistol.
“Sial!! Peluru habis!” Maki Selena kalang kabut.
Tak ada cara lain, ia harus mempercepat larinya agar lolos dari kejaran Johan.
Baru beberapa saat tiba-tiba ia terjatuh.
Brughh!!!
“Awwshhh!!” Rintih Selena memegangi perutnya yang terbentur akar pohon yang menonjol di jalan.
“Mau lari kemana kau? Sudah ku katakan kau tidak akan bisa lari dariku dasar wanita bodoh!” Maki Johan tersenyum remeh menatap kondisi Selena yang menyedihkan.
“Siapa yang kau bilang bodoh keparatt!!!” Suara bariton mengagetkan Selena. Wanita itu mendongak ke atas menatap wajah yang sejak tadi ia rindukan.
Johan seketika menatap Felix terkejut. Ia tidak menyangka ternyata Felix ikut andil, sebab yang ia tahu mendapat laporan dari anak buahnya bahwa hanya ada tangan kanan Felix yang datang ke tempat persembunyiannya.
“Hubby…!” Ucap Selena mulai menangis.
Pandangan Felix tertuju pada sosok wanita yang ia khawatirkan sejak tadi. Yang membuat hatinya sakit adalah melihat wanitanya dalam keadaan memprihatinkan dengan tangan memegang infus. Hatinya perih menatap Selena di balik senyumannya.
“Sayang.. baby, kau baik-baik saja hm?” Tanya Felix meraih tubuh lemah Selena yang kini mulai memancarkan tatapn sayu. Tenaga Selena benar-benar habis kali ini.
Felix mendaratkan kecupan bertubi-tubi di wajah pucat Selena.
“Sayang, kau mendengarkan ku kan?” Tanya Felix lagi.
“Hubby.. aku lelah.. perutku sangat sakit” lirih Selena mulai memejamkan kedua matanya.
“Bertahanlah sayang!”