
Seminggu berlalu pasca kejadian itu, kini Selena sudah pulih dan mulai beraktifitas seperti biasa. Dengan kehilangan janin yang baru saja tumbuh di dalam rahimnya lantas tidak membuat wanita muda itu stress berlarut-larut, apalagi Selena mendapat dukungan dari orang-orang sekitar termasuk para maid yang bekerja di mansionnya.
“Baby..” panggil Felix yang baru saja turun.
Mendengar suara sang suami seketika Selena pun menoleh.
“Ya? Ada apa?” Tanya nya.
Pria itu tak langsung menjawab, ia dengan segera melangkah mendekati istrinya yang sedang sibuk berkutat dengan alat dapur dan memeluknya dari belakang.
“Hubby please, aku sedang membuatkan mu sarapan, tolong menyingkir sedikit” ucap Selena gusar.
Wanita itu heran mengapa Felix selalu menempel padanya, tak hanya di mansion saja. Bahkan pria itu selalu menunjukkan sikap manjanya ketika di kantor.
“Aku hanya ingin mengendus aroma tubuhmu yang candu ini sayang” balas Felix menghirup ceruk leher Selena dalam-dalam seraya memejamkan kedua netranya tanda menikmati.
“Ck! Selalu saja” decak Selena memutar bola matanya malas.
“Letakkan saja spatula itu, dan suruh para maid yang mengerjakannya. Mereka aku gaji untuk mengerjakan tugas di mansion ini” ucap Felix sedikit kesal.
“Kenapa? Kau sudah seminggu lebih mengurungku sampai tidak bisa melakukan aktifitas apapun. Sekarang aku sudah baik-baik saja hubby, aku bosan hanya berdiam diri tak melakukan apapun” protes Selena merasa dirinya menjadi tawanan suaminya sendiri.
Mendengar hal itu Felix pun menghembuskan nafasnya kasar.
Benar yang dikatakan istrinya, dirinya melarang wanita itu untuk tidak melakukan hal apapun kecuali istirahat di dalam kamarnya.
“Baiklah lakukan semaumu asal tidak membuatmu lelah” ucap Felix pasrah menuruti istrinya.
Selena pun tersenyum senang mendengar lontaran dari bibir pria itu.
“Selamat pagi Tuan, Nona” sapa Dom yang baru saja tiba.
Seketika dua insan itu menoleh bersamaan.
“Dom? Aku rasa ini hari weekend” celetuk Felix mengerutkan dahinya.
“Saya mengerti Tuan, tapi kedatangan saya kemari hanya ingin memberitahukan sesuatu” ucap Dom melirihkan kalimatnya.
“Baiklah, kita ke ruang kerja ku” ucap Felix yang mulai paham.
“Kalian mau kemana? Sarapan sebentar lagi siap” ucap Selena menghentikan dua pria tampan itu.
“Aku akan membahas sedikit pekerjaan bersama Dom baby, lanjutkan saja aku akan turun ketika semuanya selesai” ucap Felix tersenyum manis ke arah istrinya.
”Baiklah, jangan terlalu lama” ucap Selena di acungi jempol oleh suaminya.
Sementara Dom menunduk pamit pada istri bosnya.
“Katakan apa yang membuat mu sampai datang kesini di waktu liburku Dom” ucap Felix yang sebenarnya merasa terganggu.
“Ehm!” Dehem pria itu menghilangkan rasa gusarnya.
“Mengenai proyek kita yang ada di Jepang, akan di percepat lusa karena client kita mendesak agar pembangunan segera di laksanakan minggu ini juga Tuan” lanjut Dom.
“Apa? Secepat itu?” Tanya Felix sedikit terkejut.
Dom pun mengangguk mengiyakan.
“Ck! Seenaknya memutuskan sepihak tanpa nego dengan ku! Menyusahkan saja, aku bahkan belum sempat menikmati honeymoon dengan istriku” decak Felix merasa kesal dengan keputusan mendadak client nya.
“Tapi bukankah ini menguntungkan anda Tuan, kenapa tidak sekalian saja anda honeymoon di sana. Saya yakin Nona tidak akan keberatan” usul Dom pada bosnya.
Felix menatap Dom sekilas, otaknya nampak berfikir.
“Ada benarnya juga ucapanmu, tapi aku tak yakin jika istriku memilih negara itu untuk berbulan madu. Aku bahkan belum sempat bertanya negara mana yang ia inginkan” ucap Felix merasa bimbang.
“Sebaiknya anda bicarakan dulu dengan Nona, saya yakin Nona akan mengerti keadaan Tuan, Nona bukan tipe wanita yang sulit untuk di bujuk” ucap Dom yang sedikit tahu mengenai istri bosnya.
“Apa kau secara tidak langsung sudah memuji istriku Dom?” Tanya Felix menatap Assistennya dengan mata memincing.
“Ah, bukan begitu maksud saya Tuan. Mana berani saya melakukan itu” jawab Dom menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Felix mendengus mendengarnya.
“Kalau begitu saya pamit undur diri Tuan” pamit Rom merasa tidak enak.
“Kau tidak ingin bergabung sarapan dengan kita terlebih dahulu? Istriku sudah menyiapkannya” tawar Felix.
“Ah, tidak Tuan. Saya masih ada urusan setelah ini. Mungkin lain kali saja” tolak Dom halus.
“Baiklah, bagus kalau begitu. Tidak ada ngamuk yang mengganggu kemesraan ku dengan istriku” ucap Felix masa bodoh.
Membuat Don mendelik ke arah bosnya yang tersenyum menyeringai.
Kedua pria itupun keluar dari ruangannya menuju lantai bawah.
“Ah, kalian sudah selesai rupanya, kebetulan hudangan sudah siap. Sekarang ayo kita makan” ajak Selena antusias.
“Dom tidak ikut baby, dia masih ada urusan” ucap Felix.
Selena pun mengalihkan pandangannya pada Dom.
“Benarkah begitu Dom? Ayolah hanya sebentar saja, aku tau kau pasti belum sarapan sepagi ini” bujuk Selena.
“Maaf Nona, saya benar-benar ada kepentingan lain. Lain kali saya akan ikut sarapan” tolqk Dom tersenyum sungkan ke arah pasutri itu.
“Hufftt! Ya sudahlah, tak apa” pasrah Selena.
“Permisi Tuan, Nona” pamitnya kemudian.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Selena yang duduk di hadapan suaminya setelah menaruh menu di piring pria itu.
“Hanya masalah proyek, kita makan dulu baby. Aku sudah lapar” ucap Felix mulai menguapkan sendok ke dalam mulutnya.
Selena pun mangut-mangut mengikuti perkataan suaminya.
Sementara di markas, Dom memenuhi panggilan dari Dave untuk berkumpul bersama Mario dan bawahan lainnya.
“Kau sudah memberitahukan masalah proyek itu pada putraku Dom?” Tanya Dave
“Sudah Tuan, baru saja saya dari mansion Tuan Felix” jawabnya.
“Baiklah, jika tidak seperti ini mereka akan terus menunda rencana bulan madu mereka. Aku akan sangat lama untuk mendapatkan cucu lagi” keluh Dave.
Kedua assisten itu menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Tuan nya.
“Lalu bagaimana dengan Robert Tuan? Apakah kita akan membiarkan dia begitu saja di dalam tahanan meskipun hukumannya menjadi tahanan seumur hidup?” Tanya Mario yang merasa bahwa Robert masih menjadi ancaman bagi mereka untuk kedepannya.
“Untuk saat ini biarkan saja, selama dia masih mengira bahwa Johan masih memuluskan rencananya aku rasa tidak akan ada ancaman lagi” ucap Dave begitu yakin.
“Aku tidak bisa membayangkan apa reaksi tua bangka itu jika sampai tahu kalau Johan bersama anak buahnya sudah habis tak tersisa” ucap Dom dengan pandangan menerawang jauh.
“Yang pasti tua bangka itu akan kebakaran jenggot, dan melakukan hal yang lebih gila dari sebelumnya” timpal Mario.
Dave pun menganggukkan kepalanya setuju.
“Kalian benar, dia tidak akan terima dengan yang kita lakukan. Tapi aku tidak ingin membunuhnya dengan tangan ku sendiri. Untuk saat ini biarkan aku memikirkan cara yang tepat untuk menyingkirkan pria keparat itu” ucap Dave.
“Kenapa Tuan tidak melibatkan Tuan Felix saja? Yang saya lihat selama ini anda selalu bertindak tanpa campur tangan putra anda” ucap Dom merasa selama ini Dave enggan menyeret Felix ke dalam urusannya.
Dave menggeleng pelan,
“Ini semua terjadi karena kesalahan ku di masa lalu Dom, dan aku tidak ingin menyeret Felix ke dalam masalah ku yang akan berdampak pada masa depannya nanti bersama Selena. Biarkan mereka bahagia tanpa ada beban di masa lalu. Mereka akan hidup tentram dan damai jika tidak ada sangkut pautnya dengan konflik ini” ucap Dave panjang lebar.
Lebih tepatnya Dave ingin memutus tali dendam agar tidak mempengaruhi kehidupan generasi selanjutnya. Ia hanya ingin damai di sisa umurnya yang mulai berkurang.
Mario dan Dom seketika terdiam, apa yang di ucapkan Dave semuanya benar. Ternyata Tuannya begitu mempersiapkan segala sesuatu nya di maaa depan demi menjaga keutuhan rumah tangga putranya.