Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 46 | Keterkejutan Grace dan Celline



Mobil mewah yang di kendarai Felix kini sampai di basement kantor. Felix turun terlebih dahulu membuka kan pintu mobil untuk istrinya.


“Terimakasih hubby” ucap Selena tersenyum.


“Sama-sama istriku” balas Felix seraya mengecup puncak kepala Selena.


Membuat darah wanita itu seketika berdesir. Kenapa setiap kelakuan Felix menimbulkan melting untuknya? Haihh Felix terlalu so sweet.


Kemudian pria itu menggandeng tangan Selena dan berjalan menuju ruangannya.


“Harus berpegangan seperti ini ya?” Bisik Selena pelan.


“Tentu” jawab Felix lugas.


Membuat Selena menebalkan mukanya. Ia bingung harus bagaimana menyikapi keadaan jika para karyawan tahu mereka adalah sepasang suami-istri bukan hanya sekedar atasan dan bawahan.


Sepanjang perjalanan raut wajah Felix begitu datar tak menunjukkan ekspresi apapun, berbeda dengan Selena yang menatap canggung keadaan sekitarnya.


Pasalnya semua karyawan memandang penuh tanya ke arah keduanya. Sungguh kali ini Selena ingin sekali menenggelamkan diri ke dasar lautan.


“Bisa lebih cepat lagi nggak?” Seru Selena berkata pelan.


Felix menoleh ke arah wanita cantik itu.


“Kenapa?” Tanya Felix


“Sudah turuti saja!” Ucap Selena mempercepat langkahnya sampai pria itu menatap heran Selena.


Sesampainya di depan lift kali ini Selena yang lebih dulu memencet tombol. Biasanya selalu Felix yang membuka kan pintu lift untuknya.


Pintu terbuka Selena bergegas menarik lengan Felix buru-buru.


“Kenapa sih?” Tanya Felix yang sejak tadi bingung dengan tingkah Selena.


“Huhhh! Kau tidak lihat mereka semua menatap kita seperti ingin memangsa saja” ucap Selena mendengus.


“Oalah. Hanya itu? Ku pikir apa” sahut Felix mengedikkan bahunya santai.


Selena melengos begitu saja mendengar ucapan suaminya.


“Lama banget sih” ucap Selena menunggu lift itu sampai di ruangan mereka.


“Kita baru saja masuk baby, bagaimana mungkin satu detik sampai sedangkan ruangan di lantai dua belas?” Ucap Felix tak habis fikir dengan kesabaran setipis tisu wanita itu.


“Entahlah, rasanya lama sekali” desis Selena menyandarkan bahunya di dinding lift.


Felix menggelengkan kepala seraya memijit pangkal hidungnya. Mood wanita memang benar-benar sulit di pahami. Pikirnya.


Ting!


Sontak Selena berdiri tegap dan bersiap melangkah keluar.


Felix dengan sigap meraih lengan istrinya.


“Pelan-pelan baby! Kau bisa limbung nanti” tegur Felix menatap tak suka dengan tingkah Selena.


“Hubby please, biarkan aku jalan sendiri. Ini di kantor bukan di rumah. Sudah seharusnya kita bersikap selayaknya rekan kerja bukan?” Tanya Selena menatap pria itu.


“Oke oke. Kita profesional” putus Felix mengalah lalu mengangkat tangannya tanda pasrah.


Selena memilih berjalan dahulu meninggalkan Felix yang masih di belakangnya. Wanita itu melenggang masuk ke dalam ruangannya tanpa menoleh ke arah suaminya. Selena tidak ingin membuat gaduh perusahaan dengan gosip kedekatannya bersama Felix meskipun hal itu wajar. Wanita itu memilih menghindar tidak mau pusing dengan omongan para karyawan di kantor.


“Ck! Keras kepala sekali!” Decak Felix menggeleng pelan.


Sampai di depan ruangan Selena pria itu mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka. Selena memang tidak menutupnya rapat.


Felix melihat istrinya itu tengah fokus membaca dokumen-dokumen di hadapannya.


Felix tersenyum simpul melihat sikap prifesional istrinya, Selena begitu pandai menguasai situasi.


Pria itupun berlalu pergi menuju ruangannya sendiri.


Tiba saat ia membuka handel pintu tiba-tiba Felix di kejutkan dengan kehadiran Celline yang sudah duduk manis di dalam ruangannya.


“Hai.. baru sampai?” Sapa Celline basa basi.


Seketika raut wajah Felix berubah.


“Untuk apa kau datang kemari?!” Tanya Felix dingin.


“Felix, aku hanya ingin menemui mu. Sudah lama kita tidak bertemu dan aku juga selalu mendatangi apartemen mu tapi kau tidak ada. Sebenarnya kau kemana?” Cecar Celline menatap pria itu.


Sedangkan Felix memilih acuh.


“Dimana dan kemana aku itu sama sekali bukan urusan mu. Lagi pula kita tidak cukup mengenal untuk saling bertemu” sahut Felix lugas.


“Okey, jika kau menganggap aku begitu tak masalah. Tapi ijinkan aku disini menemani mu sampai jam kantor selesai” ucap Celline dengan tidak tahu dirinya.


Membuat darah Felix mendidih seketika.


“Aku tidak butuh di temani! Kau tidak berhak berada di tempat ini, jadi tolong tahu diri sedikit Celline!” Marah Felix pada wanita itu.


“Sopan lah sedikit pada calon tunangan mu Felix” seru Grace yang keluar dari ruang baca yang ada di dalam ruangan Felix.


Seketika emosi Felix mencuat dengan kehadiran Grace. Ternyata dua wanita itu sudah masuk lebih dulu sebelum dirinya datang, apa-apaan ini?!


“Kenapa? Kamu kaget? Sorry Mama sengaja datang lebih awal karena Mama tahu kamu akan berakhir seperti ini” ucap Grace berjalan santai mendekati Felix.


“Ruangan ini adalah ruangan privat! Bukan tempat umum apalagi pusat perbelanjaan yang dengan seenaknya bisa keluar masuk!” Ucap Felix tegas dengan sorot mata tajam.


“Mama tahu, tapi Mama tidak akan mungkin bertemu dengan mu jika bukan di kantor ini kan? Bahkan kau sendiri membatasi akses Mama dan Celline untuk datang mengunjungi apartemen mu. Apa-apaan kamu Felix? Sebegitu berbahaya nya kami? Semua yang kamu lakukan itu sama sekali tidak benar. Pantaskah kamu memperlakukan Mama dan Celline seperti orang asing begini?” Ucap Grace panjang lebar.


Sedangkan wanita itu kini memasang wajah sendu nya demi menarik simpati Grace, tentu saja Grace akan membelanya.


“Tutup mulut mu Felix! Sudah cukup kamu melawan Mama selama ini! Sudah berulang kali Mama bilang Celline adalah calon tunangan mu dan dia bukan orang asing!” Sentak Grace yang kesal dengan sikap Felix.


“Tunangan? Cih! Bahkan aku sudah punya istri untuk apa aku bertunangan? Aku tidak serakah untuk memiliki dua wanita sekaligus, apalagi perempuan seperti dia!” Tunjuk Felix menatap remeh Celline.


Grace dan Celline seketika membola,


“Apa maksud mu? Istri? Haha.. Felix.. Felix! Hubungan mu dengan Celline saja belum sampai ke jenjang pertunangan sekarang kau bilang istri? Wanita mana yang kau sebut istri!” Seru Grace tertawa sumbang.


“Mama boleh tidak percaya, tapi itulah kenyataannya” ucap Felix tersenyum devil.


“Pernikahan seperti apa yang kau maksud? Mama saja tidak pernah mengantar mu di altar sementara kau dengan lucunya mengarang soal pernikahan. Jangan bercanda Felix” sangkal Grace tak terima.


“Bahkan cincin di jariku saat ini adalah bukti bahwa aku sudah memiliki pendamping hidup yang sah di mata negara” ucap Felix mengangkat jarinya seraya menyunggingkan senyum miring nya.


Grace dan Celline menggeleng tak percaya,


“Tidak! Kau pasti bohong kan demi menghindari perjodohan ini? Jangan gila Felix!” Sahut Grace berusaha menyangkal semua ucapan putranya.


Ceklek!


Pintu terbuka menampilkan sosok Selena yang berjalan anggun mendekati meja dimana Felix berada.


“Permisi, wah ternyata ada tamu. Maaf nyonya saya tidak tahu. Perlu saya buatkan minum?” Tawar Selena dengan lembut berusaha menetralkan rasa terkejutnya karena kehadiran Celline dan Grace yang saat ini tak lain adalah ibu mertuanya.


“Tidak perlu baby!” Tolak Felix menyela sebelum Grace menjawabnya.


Seketika raut wajah dua wanita berbeda usia itupun berubah masam.


Apalagi dengan kehadiran Selena di ruangan itu, semakin membuat kepala Grace terbakar emosi.


Tak terkecuali Celline yang menatap sengit ke arah Selena, namun Selena hanya menatap acuh keduanya memilih maju mendekati Felix.


“Permisi Pak, saya ingin melaporkan jadwal hari ini. Pukul sepuluh nanti akan ada pertemuan di cafe Hallstone dengan perusahaan A” ucap Selena dengan bahasa formal. Tidak peduli dengan kehadiran Grace dan Celline.


Felix mengangguk dengan tatapan berubah teduh menatap wajah cantik itu.


“Cih! Hanya seorang bawahan saja sombong sekali! Tidak ada apa-apanya di banding Celline” ucap Grace menatap remeh Selena.


“Jaga bicara Mama!! Dia adalah menantu Mama saat ini! Tolong hargai sedikit!” Sentak Felix menatap nyalang Grace.


“Apa? Menantu? Apa kau bercanda sayang? Mama tidak sudi mempunyai menantu tidak jelas seperti dia! Jangan mimpi!” Seru Grace menatap Selena penuh dengki.


Celline tak berani menimpali sebab ia takut image nya akan hancur di depan Felix dan Grace meskipun kondisi hatinya saat ini benar-benar di liputi rasa amarah yang luar biasa akibat pernyataan Felix.


“Apanya yang bercanda? Apa wajah ku terlihat bercanda sekarang?” Tanya Felix menatap tajam Mama nya.


Felix kemudian mengkat jari Selena dan menunjukkannya di hadapan Grace juga Celline.


“Lihat cincin yang tersemat di jari kami? Apakah ini masih kurang bukti jika kami adalah sepasang suami istri?” Tanya Felix dengan tatapan kemenangan.


Grace menggeleng kuat menolak kenyataan itu.


“Tidak mungkin! Ini semua bohong kan?! Cih! Akhiri saja sandiwara kalian, Mama sama sekali tidak akan terpengaruh” ucap Grace tersenyum miring.


“Semua ini benar Nyonya, kami sudah menikah dua hari yang lalu. Saat ini status kami sudah sah menjadi suami istri” ucap Selena akhirnya membuka suara setelah sejak tadi hanya diam menyimak.


Celline menjatuhkan ponsel mahalnya ke lantai begitu saja.


Ia menggeleng kuat tak percaya dengan ucapan keduanya.


Begitupun Grace yang shock dengan rasa keterkejutannya. Wanita paruh baya itu memegang dadanya yang terasa sesak.


“Kurang ajar!! Kalian keterlaluan!! Bisa-bisanya kamu menikah tanpa sepengetahuan Mama?!! Kamu anggap Mama ini apa Felix?!!! Hahh!!!” Teriak Grace meronta hebat.


Ia merasa bodoh karena pernikahan putranya berlangsung tanpa restu darinya.


“Semua ini Felix lakukan agar Mama tidak membuat masalah kedepannya. Karena Felix tahu Mama tidak pernah menerima Selena untuk menjadi pendamping hidup Felix!” Ucap Felix tegas.


“Kau pikir dengan menikah secara diam-diam seperti ini Mama akan menyetujui nya?! Tidak Felix! Tidakk!! Bahkan untuk merestui pernikahan kalian saja Mama tidak sudi! Jika itu wanita lain mungkin Mama akan terima, tapi tidak dengan dia!!” Sentak Grace menunjuk Selena meluapkan segala kekesalan dalam hatinya. Ia kecewa dengan keputusan putranya.


Jujur saja hati Selena sakit mendengar ucapan wanita yang sudah jadi ibu mertuanya. Tapi apa mau dikata, sejak awal memang hubungan mereka di tentang oleh Grace secara terang-terangan.


Mau tak mau, siap tak siap Selena harus bisa menghadapi itu. Dan sekarang tiba saatnya dirinya berada di situasi yang melelahkan ini.


‘Huhh.. sabar Selena sabar! Anggap saja dia angin lalu’ batin Selena dalam hati.


“Restu? Aku tidak butuh itu dari Mama. Yang terpenting semua ini atas dukungan dari Papa. Dan apapun keputusannya Mama harus tetap menerima bahwa saat ini Selena lah menantu Mama. Bukan yang lain!” Tekan Felix menatap tajam Grace.


“Felix, kenapa harus dia? Apa kurangnya aku? Aku juga bisa bekerja sambil melayani keperluan mu, masak aku juga bisa. Apapun aku bisa Felix” seru Celline yang sejak tadi bungkam.


“Jangan pernah menyamakan dirimu dengan istriku Selena. Karena apa yang ada di dalam dirinya tidak akan aku dapatkan pada perempuan lain. Termasuk kau!” Ucap Felix dengan lugasnya membuat Celline semakin terdiam kaku.


“Cukup!! Mama muak mendengarnya! Kamu memang sudah benar-benar tidak menganggap Mama lagi Felix, Mama kecewa! Sampai kapan pun Mama tidak akan pernah merestui pernikahan kalian. Camkan itu!” Ucap Grace meraih tas mewahnya.


“Ayo kita pergi Celline!” Ajak Grace menarik lengan Celline.


Keduanya pun berlalu pergi dan membanting pintu ruangan Felix begitu kerasnya.


Brakk!!


“Astaga!” Pekik Selena terlonjak kaget mengusap pelan dadanya.


“Sudah baby, jangan pikirkan ucapan Mama. Anggap saja kejadian tadi tidak pernah ada. Yang terpenting kita sudah mendapatkan restu dari Papa” ucap Felix menenangkan Selena.


Wanita itu mengangguk pelan lalu bersandar di dada bidang Felix guna mendinginkan kepalanya yang bergejolak akibat ucapan sarkas Grace.