Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 16 | Tidak akan pernah melepaskan mu



Tiba lah hari cuti Selena. Gadis itu bersiap berangkat pagi ini naik taksi menuju apartemen Juan.


Sebenarnya Juan sudah janji akan menjemput nya, tapi Selena menolak mengingat saat ini ia tinggal bersama Felix. Bisa-bisa Juan salah sangka terhadap Selena.


“Oke ready to go!” Seru Selena begitu semangat.


Ia menenteng tas nya keluar dari apartemen. Outfit Selena kali ini memakai celana jogger dan hoodie crop. Menambah kesan muda di usianya yang sudah lebih dari kepala dua.


Sampai di lobi apartemen, taksi yang ia pesan sudah menunggu Selena.


Gadis itu segera masuk ke dalam taksi. Mobil pun melaju meninggalkan area apartemen.


Sedangkan Felix saat ini baru saja sampai di kantor. Pria itu nampak kusut raut wajahnya, sebab tidak adanya Selena membuat mood Felix berantakan.


Baru saja hendak duduk di kursi kebesarannya tiba-tiba di kejutkan dengan kedatangan Grace.


“Hai sayang, apa kabar mu?” Tanya Grace basa basi. Wanita paruh baya itu langsung duduk tanpa di persilahkan oleh Felix, membuat emosi Felix semakin bertambah.


“Aku rasa Mama tidak perlu menanyakan itu. Kita baru saja bertemu dua hari yang lalu” singkat Felix malas menatap wajah sang Mama.


Grace hanya tersenyum menanggapi ucapan pedas putranya.


“Anyway, Mama hanya ingin mengatakan pada mu, kalau wanita yang ingin Mama kenalkan sebentar lagi akan pulang ke negara ini”


Felix masih saja bungkam dan tak ingin menanggapi ucapan Grace.


“But, Mama lupa memberitahu mu. Namanya Celline, dia adalah designer terkenal di kota Paris. Mama yakin kamu pasti menyukainya. Dia wanita pekerja keras dan mandiri” ucap Grace panjang lebar.


“Mam stop it! Aku tidak peduli dan tidak ingin tau apapun mengenai wanita itu” ucap Felix dengan sarkas.


“Dan satu hal yang harus Mama tau, AKU MENOLAK PERJODOHAN INI!!” Sentak Felix menekankan kalimat terakhir nya.


“Felix please, setidaknya kamu harus bertemu dengannya dulu baru kamu boleh menolaknya dengan alasan yang lebih logis. Dia wanita baik,pintar,cantik. Kurang apalagi? Mama melakukan ini semata-mata Mama peduli padamu” ucap Grace dengan kekeh nya.


“Apanya yang peduli? Bukankan semua yang Mama lakukan atas dasar keinginan dan ego Mama sendiri?! Dari dulu kemana saat Felix membutuhkan Mama?! Dimana saat aku dan Papa mati-matian berjuang mengembalikan perusahaan agar kembali seperti semula?! Dimana Mama? Di mana Felix tanya!!!” Teriak Felix dengan kerasnya.


“Mama hanya sibuk dengan hobi Mama! Kesenangan Mama sendiri! Mama tidak pernah mengurusku dan Papa dengan baik! Mama hanya bisa menuntut dan menuntut! Felix capek Ma!” Sentak pria itu merasa kacau dengan kehidupannya selama ini.


“Cukup Felix!!! Apa begini caramu berbicara dengan ibumu!! Dimana sopan santun mu?!” Tanya Grace dengan nada tak kalah tinggi.


Felix seketika menatap marah pada ibunya.


“Jangan pernah membahas sopan santun! Apa Mama pernah mengajarkan itu pada ku selama ini?! Pernahkah? Cih, harusnya Mama malu!!” Decih Felix.


“Terserah apa kata mu, Mama akan tetap mempertemukan mu dengan Celline” ucap Grace kehabisan akal meladeni ucapan Felix. Ia tak menyangkal semua yang di katakan Felix memang benar adanya. Hanya saja Grace sama sekali tak ingin tau.


Grace berlalu begitu saja keluar dari ruangan Felix. Sebenarnya ia lelah setiap kali berhadapan dengan putranya ia selalu bertengkar. Tapi dia tidak pernah menyadari apa yang ia lakukan akan menjadi sumber dari kemarahan Felix


Felix sama sekali tidak mengerti apa yang ada di pikiran Mamanya. Selama ini Grace begitu egoisnya membiarkan suami dan anaknya berjuang tanpa ada support darinya, sekarang ia hanya tinggal menikmati semuanya tapi dirinya masih saja egois.


Sepeninggal Grace, Felix memejamkan matanya seraya memijit pelipisnya yang terasa pusing.


“Apa yang harus aku lakukan demi menghindari perjodohan sialan itu?” ucap Felix menerawang ke atas memikirkan solusi dari semua benang kusut ini.


Pria itu mengetuk-ngetukkan jarinya sambil berfikir keras.


“Apa aku lamar saja Selena? Lagi pula hubungannya dengan pria tak tahu diri itu masih tidak jelas” gumam Felix dengan pikiran cerdiknya.


Felix sudah lama mencurigai Juan kekasih Selena, dirinya pernah sesekali memergoki Juan sedang bergandengan tangan dengan seorang pramugari, mungkin saja itu Elle.


“Selena, aku tidak akan pernah melepaskan mu” ucap Felix yakin.


Saat ini Juan dan Selena sedang dalam perjalanan menuju salah satu danau yang ada di Dubai, mereka menggunakan mobil milik Juan.


“Bagaimana kabar mu sayang?” Tanya Juan memeluk Selena dari samping.


Selena pun menyandarkan kepalanya di bahu Juan.


“Baik, lalu bagaimana dengan mu?” Tanya Selena mendongak menatap wajah tampan Juan.


Tapi lebih tampan Felix tentunya.


Seketika Selena menepis pikiran itu. Ia harus menghapus bayang-bayang Felix karena saat ini ia bersama Juan.


“Baik, sangat baik karena sekarang aku sudah menemukan mood booster ku” jawab Juan


“Jangan lebay deh” ucap Selena tersenyum malu.


Juan tertawa menanggapi ucapan Selena.


Sepanjang perjalanan Selena selalu terlihat begitu excited.


Keduanya begitu menikmati pertemuan mereka. “Kamu senang?” Tanya Juan menoleh ke arah kekasihnya.


“Ya, tentu saja. Sudah lama kita tidak liburan bersama seperti ini. Jujur saja aku ingin sering-sering kita seperti ini Juan.” Ucap Selena.


Hal itu membuat senyuman Juan redup seketika. Mendadak hatinya di penuhi rasa bersalah karena jarang menyempatkan waktu quality time bersama kekasihnya itu.


“Maafkan aku, jika keadaannya tidak seperti ini tentu saja kita bisa bersama setiap hari” ucap Juan merasa bersalah.


“Aku mengerti” ucap Selena dengan senyum manisnya.


Menambah Juan semakin terperosok ke dalam jurang bersalah.


Kenapa aku begitu tega menyakiti gadis polos dan setia seperti Selena? Tanya Juan dalam hati.


“Sebentar lagi kita sampai” ucap Juan mengingatkan Selena.


“Yah.. aku sudah tidak sabar menikmati keindahan alam nya” ucap Selena begitu antusias.


Setengah jam kemudian mereka sampai di danau Love Lake yang bertempat di Qudra Oasis. Danau itu berbentuk dua love saling menyatu di tengah gurun padang pasir.


Selena bergegas turun meninggalkan Juan yang masih berada di dalam mobil.


“Kenapa aku di tinggalin?” Tanya Juan menyusul Selena yang tengah menikmati pemandangan.


“Juan ini indah sekali!” Ucap Selena terkesima.


Seketika Juan tersenyum.


“Kamu suka?” Tanya Juan merangkul pundak kekasihnya.


“Suka, sangat suka! Andai saja aku bisa menikmati tempat ini dengan waktu yang lama, ah pasti mood ku berkali kali lipat lebih bagus dari biasanya” ucap Selena sedikit kecewa, ia hanya memiliki waktu sehari di tempat itu. Sebab besok pagi Selena harus kembali bekerja karena Felix hanya memberikan waktu cuti padanya satu hari saja.


“Tidak apa, kita bisa pergi lagi di lain waktu” ucap Juan menenangkan kekasihnya.


Selena mengangguk tersenyum mendengar ucapan Juan.