Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 30 | Bertemu Grace dan Celline



Siang ini Felix mengajak Selena makan di restauran dekat kantor seperti biasanya. Nampaknya restauran ini akan menjadi tempat favorit pasangan itu. Hanya saja kali ini mereka tidak memesan privat room, Selena ingin menikmati pemandangan pusat kota yang terlihat dari atas restauran mewah itu.


Felix dan Selena tengah menikmati makan siang mereka. Tiba-tiba Selena merasa ingin buang air kecil.


“Sayang aku tinggal ke toilet dulu” ucap Selena.


“Ayo ku antar” ucap Felix


“No, hanya sebentar saja” tolak Selena menggeleng. Gadis itu berjalan cepat menuju toilet tanpa menggubris ucapan Felix.


Felix hanya menghembuskan nafasnya kasar.


Sedetik kemudian Felix menjentikkan jarinya, kepalanya menoleh ke arah toilet menginstruksi seseorang agar mengikuti Selena. Dia adalah anak buah Dave, Felix paham dengan hal itu. Pasti Papa nya tidak akan membiarkan mereka keluar tanpa pengawasan dari pengawal.


Orang itu berjalan menuju toilet dengan berpura-pura sebagai pengunjung.


Selesai dengan aktifitas nya Selena pun keluar, ia membuka pintu toilet dan tiba-tiba bahunya di tabrak oleh seorang wanita.


Brukk!


Aww!


Pekik Selena menahan sakit akibat benturan itu.


“Oh sorry, salah siapa membuka pintu tiba-tiba” ucap wanita itu tanpa rasa bersalah.


Selena memejamkan matanya menahan agar emosinya tidak meledak.


“It’s oke. Lain kali lebih berhati-hati lah” ucap Selena datar lalu berjalan meninggalkan wanita itu.


“Ck! Enak saja! Siapa dia berani-beraninya memerintah ku!” Decak wanita itu menatap sengit kepergian Selena.


Sampai di luar pengawal yang menyaksikan hal itu langsung melapor pada Felix.


Felix hendak menyusul kekasihnya namun tiba-tiba Selena datang dengan memegang bahu sebelah kanan nya.


“Honey, apa yang terjadi?” Tanya Felix meneliti kondisi tubuh Selena.


“Tidak apa-apa. Hanya kecelakaan kecil saja” jawab Selena malas. Mood nya terlanjur rusak karena bertemu dengan wanita angkuh tadi.


“Kenapa dengan bahu mu? Apakah sakit?” Tanya Felix khawatir terjadi sesuatu dengan Selena.


Selena pun menggeleng.


“Sudah aku bilang aku tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan makan siangnya, sebentar lagi jam istirahat habis” ucap Selena kembali meraih sendoknya.


“Aku bos nya, kita bisa kembali kapanpun kita mau” ucap Felix


Selena mendesah kasar mendengar ucapan pria itu.


Sedang asyik makan tiba-tiba mereka terganggu dengan kedatangan Grace bersama seorang wanita yang baru saja bertubrukan dengan nya.


“Felix kamu disini juga nak?” Ucap Grace antusias.


Felix mendongakkan tatapannya sekilas lalu kembali fokus dengan makanannya.


Selena hanya diam tanpa berniat menyapa wanita paruh pruh baya itu. Yang jadi pertanyaan kenapa wanita angkuh tadi bersama Mama nya Felix?


Merasa tak ada jawaban dari putranya Grace pun berinisiatif bergabung dengan pasangan itu tanpa mempedulikan keberadaan Selena.


“Celline ayo duduk, kita makan bersama. Kenalkan ini Felix, putra aunty” ucap Grace pada Celline yang juga duduk di antara Felix dan Selena. Tatapan Celline pada Selena menunjukkan raut wajah tak suka, tapi Selena hanya acuh saja tetap mengunyah makanannya.


Sementara Felix hanya diam saja menatap Selena.


“Hai, aku Celline. Pasti aunty sering menceritakan aku kan” sapa Celline mengulurkan tangannya berharap Felix juga membalas uluran tangannya. Namun sayang, pria itu semakin menunjukkan ekspresi tidak ramahnya pada dua orang itu.


‘Cih! Bertemu Mama nya saja jarang apalagi bercerita. Dongeng apalagi ini’ batin Selena memutar bola matanya malas.


Celline yang merasa di abaikan pun kembali menarik tangannya. Baru kali ini wanita itu di campakkan oleh seorang lelaki.


‘Ck! Sial! Pria ini terlalu menantang’ batin Celline dalam hati.


“Ah Celline, sebaiknya kita segera pesan makanan. Kamu pasti sudah lapar kan sedari tadi kita terus berbelanja” ucap Grace sengaja ingin memanas-manasi Selena.


Tapi gadis itu hanya acuh saja.


“Bagaimana keadaan kantor nak?” Tanya Grace basa basi.


“Sejak kapan Mama peduli dengan perusahaan” balas Felix dengan sengitnya. Sekalinya bicara tidak ada nada ramah sedikitpun yang keluar dari bibir pria dingin itu.


“Kamu ini kenapa sih, kan Mama hanya bertanya” ucap Grace sedikit malu.


“Sudahlah aunty maklumi saja, mungkin Felix sedang kelelahan karena terlalu banyak pekerjaan. Iya kan Felix?” Tanya Celline menatap wajah tampan Felix yang menunjukkan ekspresi datarnya. ‘Sepertinya pria ini menarik. Aku tidak akan berhenti sampai aku bisa mendapatkan mu’ tekad Celline dalam hati.


“Jangan sok akrab, kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Berani sekali mulutmu menyebut nama saya tanpa embel-embel Tuan” ucap Felix menekankan kalimat Tuan.


“Felix, jangan begitu. Dia calon tunangan mu, setidaknya bersikap lah lembut padanya” ucap Grace pada Felix.


Celline mengubah raut wajahnya menjadi sendu. Wanita itu memang pandai berakting.


Selena yang sejak tadi menyaksikan pemandangan buruk itu pun meletakkan sendoknya menyilang. Tanda nya ia sudah selesai dengan makanannya meskipun masih ada sisa separuh di piringnya.


Grace benar-benar tidak menganggap keberadaannya sama sekali.


“Aku sudah selesai, silahkan lanjutkan pembicaraan kalian” ucap Selena beranjak pergi meninggalkan meja itu.


Grace dan Celline menatap acuh kepergian Selena. Tinggal lah Felix disana.


“Aku rasa cukup, hentikan drama konyol ini. Dan asal kalian tahu, wanita itu adalah calon istriku. Tidak ada yang lain” tekan Felix beranjak dari duduknya menyusul Selena tanpa mempedulikan dua wanita itu.


“Felix mau kemana kamu!” Teriak Grace menatap nanar kepergian putranya.


“Aunty, wanita tadi siapa? Tadi aku bertemu di toilet dan dia menabrakku tapi malah dia yang menyuruhku untuk berhati-hati” adu Celline pada Grace. Wanita ini memang pandai membual.


“Oh ya? Beraninya dia memerintah calon menantuku! Awas saja!” Ucap Grace dengan raut wajah emosi.


“Kamu tenang saja Celline, aunty pasti bisa memisahkan mereka secepatnya” ucap Grace yakin.


“Aku percaya pada aunty, sepertinya aku sudah jatuh cinta pada Felix aunty” ucap Celline malu-malu.


“Wahh bagus dong! Pesona putraku memang tidak pernah gagal dalam menjerat hati wanita termasuk kamu Celline” ucap Grace senang.


“Iya dong aunty, Felix itu paket lengkap. Sudah tampan, sukses, berwibawa. Siapa yang mampu menolak” imbuh Celline tersenyum manis.


“Yang pastinya kalian sangat serasi, kamu cantik, sukses, sama-sama memiliki aura pemimpin. Tidak seperti wanita tidak jelas asal usulnya itu! Bisanya cuma jadi benalu saja!” Ucap Grace sengit.


“Aduhh, pasti cuma mau uangnya saja kan aunty” ucap Celline memprovokasi.


“Ya! Kalau bukan uang apalagi” timpal Grace.


Di dalam mobil Selena hanya diam tak berniat mengajak bicara sama sekali.


“Honey,” panggil Felix


“Hm?” Hanya itu yang keluar dari mulut Selena.


“Are you okay?” Tanya Felix menggenggam jemari lentik gadis itu.


“I’m okay” singkat Selena dengan tatapan lurus kedepan.


“Jangan dengarkan ucapan mereka. Aku tidak suka dengan orang yang seenaknya berbicara. Sangat tidak punya etika” ucap Felix


“Aku tidak masalah. Tapi wanita itu yang menabrak ku di toilet tadi. Dan tidak tahu dirinya mengatakan maaf dengan angkuhnya tanpa rasa bersalah sedikitpun” ucap Selena.


“Oh ya? Jadi dia yang menyebabkan bahu mu sakit?” Tanya Felix memegang bahu kanan Selena.


“Aww! Pelan-pelan” pekik Selena mengaduh kesakitan.


“Opss.. sorry honey, sakit sekali?” Tanya Felix menatap kekasihnya itu menunjukkan wajahnya meringis menahan sakit.


Salah satu tangan Felix menyingkap kemeja Selena hingga menampakkan bahu nya yang sedikit memar. Sepertinya benturannya cukup keras.


Seketika Felix menatapnya menuntut penjelasan.


Selena hanya diam saja. Ia tidak mau membesar-besarkan masalah.


“Jangan pernah menyembunyikan hal sekecil apapun itu dariku honey. Aku tidak suka.” Ucap Felix dengan ekspresi datarnya.


Sepertinya laki-laki itu sedang dalam mode marah.


Selena menghembuskan nafasnya pelan.


“Aku hanya tidak ingin membesarkan masalah, ini hanya sepele” ucap Selena.


“Sepele? Bahu mu sampai memar begitu masih bisa bilang sepele? Oh ****!” Umpat Felix merasa dirinya tidak becus menjaga wanitanya.


“Felix please, kontrol emosi mu. Aku tidak apa-apa. Kau lihat keadaan ku masih utuh” ucap Selena menyadarkan pria itu.


“Sudahlah. Setelah ini kita ke rumah sakit” ucap Felix tak ingin di bantah.


Selena hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.


‘Mulai kan penyakit posessif nya’ gerutu Selena dalam hati.