Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 20 | Kedatangan Grace



Sesampainya di depan rumah Selena, Juan turun dan menghampiri pos penjaga.


“Permisi, apakah Selena pulang pagi ini?” Tanya Juan pada security.


“Tidak Tuan, anda siapa nya Nona?” Tanya Security itu.


“Saya kekasihnya” jawab Juan. Pandangannya menatap rumah minimalis Selena, mobilnya masih terparkir di garasi, itu artinya Selena ke kantor menggunakan kendaraan umum, pikirnya.


Security itu mengerutkan alisnya heran. ‘Apa dia tidak tahu jika Nona sudah hampir seminggu tidak pulang ke rumah’ batin Security itu.


“Memangnya ada perlu apa Tuan mencari Nona?” Tanya nya lagi.


“Ah tidak, saya hanya ingjn bertemu saja. Anda tahu dimana kantor tempat bekerja Selena?” Tanya Juan


Sekali lagi security itu heran, bisa-bisa nya lelaki yang mengaku sebagai kekasih Nona nya tidak mengetahui tempat dimana kekasihnya bekerja? Dia jadi ragu jika pria di hadapannya ini kekasih Nona ny.


“Halo.. pak?” Tegur Juan karena tidak mendapat jawaban.


“Ah itu Tuan, saya lupa nama perusahaan itu, tapi yang jelas Nona bekerja di perusahaan terbesar no 1 di kota ini. Apa Tuan tidak tahu?” Tanya Security itu.


“Tidak, saya baru saja pulang dari jauh” ucap Juan beralasan. Memang dirinya yang keterlaluan karena terlalu mengabaikan Selena selama ini.


Security itupun mengangguk paham.


“Ya sudah kalau begitu saya permisi” ucap Juan berpamitan.


“Ya, hati-hati Tuan” jawabnya.


Juan masuk ke dalam mobilnya kembali.


“Perusahaan no 1 di kota ini?” Tanya Juan dalam hati. Ia pun mengeluarkan ponselnya dan mencari di internet.


“Wilson Corp? Apa aku tidak salah? Astaga, ternyata dia selama ini bekerja di perusahaan ternama itu? Oh shitt!” Umpat Juan merasa dirinya bodoh selama ini karena memiliki kekasih yang menjadi bagian salah satu perusahaan aset terbesar negara.


Tidak di pungkiri Juan sangat bangga pada Selena.


“Aku tidak pernah salah memilih pasanagan” ucap Juan dengan percaya dirinya.


“Nanti saja di jam sepulang kantor aku menjemputnya” tekad Juan


Sedetik kemudian mobil Juan pun meninggalkan area rumah Selena.


Sementara di apartemen Felix bersiap pergi ke kantor dengan setelan jasnya yang terlihat gagah dan rapi.


Pria itu berjalan menuju kamar Selena.


Ia membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan gadis itu.


Langkahnya perlahan mendekati ranjang dimana Selena tidur dengan nyenyak.


Tangan kekar Felix terulur mengusap pipi mulus Selena.


Sedetik kemudian Selena membuka matanya karena terganggu dengan sentuhan tangan Felix.


“Hei, kenapa bangun? Maaf aku mengganggumu” Tanya Felix merasa bersalah karena mengusik tidurnya.


Selena menggeleng pelan,


“Bapak mau berangkat? Sudah sarapan?” Tanya Selena.


“Belum, saya sarapan di kantor saja” jawab Felix terus menatap wajah Selena.


“Biar saya buatkan sekarang” ucap Selena hendak bangun namun Frlix menahannya.


“Tidak perlu Selena, istirahatlah. Lagi pula saya sudah akan berangkat” ucap Felix melarang.


“Dan satu lagi, jika ada orang yang datang dan menanyakan sesuatu, jawab seperlunya saja” pesan Felix pada Selena.


Gadis itu mengangguk mengerti.


“Ya sudah, saya pergi dulu. Siang nanti akan ada orang yang mengantarkan makan siang untukmu” ucap Felix mengusap-usap rambut Selena.


“Tidak perlu repot-repot Pak, saya bisa memasak sendiri” tolak Selena merasa tidak enak.


“Memasak dengan apa? Kita belum sempat berbelanja apapun Selena” ucap Felix.


“Astaga iya juga ya” ucap Selena hampir melupakan hal itu.


Felix terkekeh gemas melihat tingkah lucu Selena. Pria itu mencubit pipi Selena hingga merah.


Gadis itu semakin salah tingkah dengan perlakuan Felix.


“Cup! Aku pergi” pamit Felix mendaratkan kecupan di kening gadis itu lagi, ia pun melenggang pergi meninggalkan Selena yang masih terkejut dengan aksi Felix tiba-tiba.


“Astaga jantungku!” Pekik Selena memegang dada nya yang naik turun seperti roaller coaster.


Sesampainya di kantor Felix langsung menuju ke ruangannya.


“Permisi Pak, ada seseorang yang sedang menunggu Bapak” ucap Resepsionis


Felix menghentikan langkahnya,


“Siapa?” Tanya Felix datar.


“Dia Mr.Roy Pak” jawab Resepsionis


Felix pun mengangguk paham.


“Dimana dia?” Tanya Felix


“Ada di ruang tunggu Pak”


Resepsionis itu menghampiri orang itu yang berada di ruang tunggu.


“Permisi Tuan, anda di persilahkan masuk ke ruangan Pak Felix di lantai dua belas” ucap Resepsionis itu memberi tahu.


“Oh ok, terimakasih” ucap Pria itu ramah. Ia pun berjalan menuju ruangan yang di tunjukkan resepsionis.


Saat ini kedua pria itu tengah duduk saling berhadapan.


“Selamat datang Mr Roy” sapa Felix dengan ramah nya.


“Ah terimakasih atas sambutannya Tuan Felix, kedatangan saya kemari untuk memberitahukan informasi kasus korupsi di perusahaan anda” ucap pria itu to the point.


“Ya, ini adalah hal yang sudah saya nanti sejak kemarin” ucap Felix tersenyum singkat.


Roy pun mengangguk tersenyum.


“Begini Tuan, manager itu memalsukan beberapa produk anda setelah sehari launching. Dia menjual produk palsu dan mengekspor ke luar negeri dengan bantuan salah satu oknum pejabat tinggi negara yang bertugas di bagian perpajakan” ungkap Roy.


Felix terdiam, mencerna semua kalimat Roy.


Pantas saja manager itu selalu berhasil melakukan rencana nya, ternyata ada orang dalam yang membantu kecurangannya.


“Siapa orang itu?” Tanya Felix dengan ekspresi serius. Dadanya naik turun menahan emosi.


“Robert Matius, dia adalah ketua jendral perpajakan yang menjabat selama dua puluh tahun ini. Posisinya tidak pernah lengser sebab semua anggotanya ia suap dengan jaminan kemewahan, itu sebabnya mereka tidak pernah melakukan pergantian pemimpin. Mereka melindungi Robert agar namanya tetap terkenal baik di mata Dewan Federal” terang Roy panjang lebar.


“Robert Matius, lagi-lagi nama orang itu? Aku jadi curiga sepertinya dia lah dalamg di balik bangkrutnya perusahaan Papa ku delapan tahun silam” ucap Felix menduga.


Pria seusia ayahnya itu adalah teman lama Dave, dulu Robert sering datang menawarkan kerja sama yang ia tekuni di luar kebijakan negara karena usaha itu haram, mengimpor barang dari luar tanpa perijinan negara. Namun Dave menolak mentah-mentah sehingga membuat Robert malu. Entah apa yang Robert pikirkan ternyata dia menghasut para investor di perusahaan Dave agar mencabut segala penanaman sahamnya di Wilson Corp.


“Saat ini saya sedang mendalaminya Tuan. Saya pastikan akan mencari sampai akarnya” ucap Roy pasti.


“Ya, saya percaya dengan kemampuan anda Mr Roy” ucap Felix.


Setelah di rasa tidak ada lagi pembicaraan. Pria itupun berpamitan pada Felix.


Sementara di apartemen, saat ini Selena kedatangan seorang wanita paruh baya. Wanita itu duduk di sofa dengan anggun mencari keberadaan Felix. Grace sudah mencari Felix di kantor namun ternyata Felix belum berangkat.


Alhasil ia melanjutkan perjalanan menuju apartemen putranya.


“Permisi Nyonya” sapa Selena terkejut dengan kehadiran seorang wanita paruh baya.


“Dimana putraku?” Tanya Grace dengan angkuh.


“Maaf anda siapa?” Tanya Selena yang sama sekali belum pernah bertemu dengan Grace.


Grace pun menoleh mendengar suara perempuan.


“Seharusnya saya yang bertanya padamu, siapa kau? Kenapa bisa berada di apartemen putraku?” Tanya Grace menelisik penampilan Selena.


'Lumayan cantik’


‘Ah tidak! Celline tetap yang terbaik!” batin Grace dalam hati.


'Oh ternyata dia ibunya Pak Felix’ batin Selena. Ia bingung ingin menjawab apa,ia memikirkan perlakuan Felix selama ini cukup baik padanya.


Mau tak mau Selena harus menjalankan perannya.


“Saya kekasih Felix” jawab Selena dengan lantang.


Seketika Grace melebarkan bola matanya.


“Kekasih? Bagaimana bisa putraku memiliki kekasih tapi aku tidak mengetahuinya?” Cecar Grace dengan keterkejutannya.


Selena hanya diam tanpa berniat menjawab. Ia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.


“Astaga benar-benar keterlaluan anak itu” gerutu Grace memijat pelipisnya.


“Di bayar berapa sampai kau berani mengakui sebagai kekasih putraku?” Tanya Grace.


Selena menarik nafasnya dalam-dalam. Sepertinya butuh sedikit perjuangan untuk menghadapi ibu dari bosnya ini.


“Kami saling mencintai Nyonya, bahkan tidak di bayarpun saya akan tetap berada di samping putra anda selama dia masih menginginkan saya” ucap Selena memberanikan diri.


“Dasar tidak tahu diri” balas Grace menatap sengit Selena.


“Dimana tempat tinggalmu? Dan apa pekerjaan mu?” Tanya Grace kemudian.


“Maaf Nyonya, saya rasa itu bukan kewajiban saya menjawab pertanyaan anda” ucap Selena dengan sopan.


“Apa maksudmu? Tinggal menjawab saja apa susahnya?!” Sentak Grace mulai terpancing.


“Untuk kejelasannya silahkan anda tanyakan sendiri pada putra anda” ucap Selena tersenyum lembut.


Membuat Grace semakin berang.


“Kurangajar sekali kamu ya?! Baru jadi kekasihnya saja sudah sombong begini! Asal kamu tahu, saya tidak akan pernah merestui kamu dengan Felix, ingat itu!” Ancam Grace dengan tatapan menyalang.


“Dan asal Mama tahu, Felix sama sekali tidak butuh restu dari Mama!” Seru Felix yang datang dari arah pintu utama.


Seketika Grace dan Selena pun terkejut dengan kedatangan Felix.


***


Hai readers.. mohon maaf jika terdapat typo, selamat menikmati ceritanya. Author harap semoga kalian suka dengan karya author.


Jangan lupa pencet like dan favorit biar author semangat update nya🫰🏻


Thank you❤️