
Pagi ini kantor sedang sibuk-sibuknya dengan agenda rapat tahunan.
Bahkan sedari tadi pandangan Felix tak pernah sekalipun lepas dari layar monitor dan dokumen-dokumen yang membuat wajahnya kusut.
Begitupun Selena. Wanita cantik itu tengah menyusun schedule dan jalannya rapat pagi ini.
Keduanya sama-sama berkutat bahkan melupakan sejenak kebiasaan kemesraan mereka berdua setiap pagi.
Setelah di rasa semua susunan sudah siap, Selena beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan Felix.
Terlihat dahi pria itu mengkerut tanda serius dengan benda-benda di hadapannya.
“Permisi. Rapat sebentar lagi di mulai, ada baiknya jika kita segera menuju ke meeting room sekarang” ucap Selena masih dengan logatnya yang profesional. Ia sama sekali tak pernah memposisikan dirinya layaknya istri saat berada di kantor.
Lain hal nya Felix, pria itu justru semakin memperlihatkan sikapnya yang manja di depan karyawannya sendiri. Seperti sekarang ini.
“Ok baby, semua sudah siap?” Tanya Felix menatap Selena sekilas.
“Sudah” jawab Selena
Felix pun beranjak seraya merapikan jas nya.
“Ayo baby” ucap Felix merengkuh pinggang ramping Selena.
“Felix please, sampai di luar kau harus melepaskan tangan mu” ucap Selena memperingati.
Bukanya menjawab pria itu malah mendaratkan kecupan di pelipis istrinya berkali-kali.
Selena menepuk jidatnya, bagi Felix larangan adalah perintah.
Selama rapat berlangsung Felix begitu terpukau dengan performa Selena yang mempresentasikan semua hasil laporan pada para petinggi dan pemegang saham perusahaan.
Pria itu bahkan sampai tidak berkedip melihat mimik wajah serius istrinya. Banyak pasang mata yang terpaku pada Selena membuat darah Felix mendidih seketika.
Ia tidak terima istrinya menjadi pusat perhatian seperti ini. Inilah yang Felix takutkan, pesona istrinya ini memang mampu membuat semua mata terhipnotis. Selena memang memiliki magnet yang besar bagi semua pria, tak heran jika dirinya bisa jatuh cinta pada gadis seperti Selena.
Di ruangan Selena, Celline celingak celinguk mencari keberadaan Selena. Langkahnya menyisir semua sudut ruangan Selena namun dirinya tak menemukan tanda-tanda Selena ada di ruangan itu.
“Kemana sih? Kenapa sepi sekali?” Gumam Celline merasa heran.
“Apa jangan-jangan dia ada di ruangan Felix? Sial! Aku harus berhadapan dengan dua insan bucin itu!” Umpatnya kesal. Hatinya mendadak jika melihat kebersamaan pasangan suami istri itu.
Dari arah koridor tiba-tiba ada seorang OB yang akan membersihkan ruangan Felix. Celline buru-buru menghentikan orang itu.
“Tunggu!” Cegah Celline pada OB itu yang akan memasuki ruangan Felix.
“Ya Nona, ada yang bisa saya bantu?” Tanya OB
“Ah ya, dimana semua orang? Kenapa ruangan sekretaris juga sepi, bukankah ini masih jam kantor?” Tanya Celline melirik jam tangannya masih pukul 10 pagi.
“Oh itu, Pak Felix dan ibu Selena berserta para petinggi sedang mengadakan rapat tahunan Nona, mungkin sekitar tiga puluh menit lagi selesai” jawab OB.
“Oh begitu, ya sudah kau boleh pergi” usir Celline tanpa beban.
OB itu menggerutu sebal karena sikap angkuh Celline, untuk sekedar mengucap kata terimakasih saja tidak.
“Ck! Masa iya aku harus menunggu selama itu. Yang ada malah aku di curigai Felix nantinya” ucap Celline menyangga dagu nya dengan sebelah tangannya. Otaknya berpikir bagaimana cara menemui Selena tanpa harus di ketahui oleh Felix.
Jelas saja akan susah, mereka sudah suami-istri mana mungkin keduanya berjauhan. Yang pasti Felix akan selalu menempel pada Selena di manapun dan kapan pun.
Celline tampak berfikir keras saat ini, hingga sesuatu ide brilian muncul di kepala nya membuat wanita itu mengembangkan senyumnya lebar.
“Jika begini kenapa aku harus repot-repot datang kemari? Membuang waktu saja!” Ucapnya mendengus sebal.
Ia membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan lantai 12 dimana ruangan Felix dan Selena berada.
Sesampainya di lobi wanita itu berjalan mendekati resepsionis.
“Permisi, bisakah saya meminta nomor sekretaris Presdir?” Tanya Celline pada resepsionis.
“Maaf Nona, itu privasi. Untuk keperluan apa ya kalau boleh tau? Kita tidak akan sembarangan memberikan nomor ponsel sekretaris di luar hubungan pekerjaan” ucap Resepsionis itu.
“Oh ini memang soal pekerjaan kok, anda tenang saja saya bukan orang iseng” ucap Celline kekeh.
“Baiklah, tunggu sebentar Nona” ucapnya lalu mencari daftar kontak nomor hp Selena.
“Ini Nona, kami harap setelah ini Nona menjaga privasi ibu Selena” ucap resepsionis ramah.
“Ya, tenang saja” ketus Celline berjalan meninggalkan area kantor.
Di dalam mobilnya Celline bergegas memasukkan nomor ponsel Selena ke dalam kontak nya.
Wanita itu pun langsung mengetikkan sesuatu dan mengirim pesan itu pada Selena.
Ceklis dua, tandanya pesan itu terkirim.
Celline menyeringai lebar, ia yakin usahanya kali ini akan berhasil.
Mobil yang ia kendarai melaju meninggalkan gedung perusahaan megah itu.
Setelah rapat selesai Felix dan Selena pergi ke ruangan masing-masing karena Felix saat ini tengah menerima tamu dari client luar kota.
Di ruangannya Selena meletakkan berkas-berkas dan mulai meregangkan otot-otot jarinya yang terasa kaku.
“Huhhh… akhirnya selesai juga” keluh Selena memijat tengkuknya yang terasa pegal karena selama setengah jam berdiri.
Ia meraih ponselnya yang ada di dalam laci.
Selena mulai menghidupkan ponselnya, hingga matanya menangkap satu notif pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Temui aku di cafe Valei Casa satu jam dari sekarang, ada sesuatu hal penting yang harus kau ketahui. Jangan sampai kau tidak datang atau kau akan menyesal!
Tulis pesan itu pada ponselnya.
Sontak ia mengerutkan keningnya heran, apa maksud dari pesan itu? Dan siapa pengirimnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Selena.
“Ah! Lebih baik aku kesana dari pada terus di landa penasaran. Tapi ijin Felix tidak ya?” Ucap Selena menimbang-nimbang.
“Lebih baik tidak, dia sedang ada client penting” ucapnya tak ingin mengganggu kegiatan suaminya.
Ia bergegas memasukkan ponselnya ke dalam tas dan keluar dari ruangannya menuju lobi.
Sesampainya di lantai bawah ia menghentikan taksi untuk ia tumpangi menuju cafe yang di sebutkan pengirim misterius tadi.
“Ke Valei Casa ya pak!” Ucap Selena memberitahukan alamat tujuannya.
“Siap Nona” ucap supir taksi.
Sedetik kemudian taksi itu pun melaju meninggalkan area perusahaan.
“Maafkan saya atas kedatangan yang tiba-tiba ini Tuan Felix, saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik” ucap Client itu pada Felix.
“Tidak masalah Mr. Lagi pula saya juga baru selesai rapat, jadi tidak menganggu waktu saya sama sekali. Semoga kerja sama kita tetap terjalin dengan baik” ucap Felix membalas ucapan client nya.
“Ya Tuan, saya harap juga begitu. Kalau begitu saya permisi Tuan Felix, maaf sudah mengganggu waktu anda”
“Silahkan Tuan. Santai saja tidak perlu sungkan” jawab Felix beranjak menghantarkan kepergian client nya sampai depan pintu ruangannya.
Setelah kepergian client itu Felix mengarahkan langkahnya menuju ruangan istrinya.
Sejak tadi dirinya belum sempat meminta vitamin pada wanita itu.
Di bukanya pintu ruangan Selena, kosong. Tidak ada tanda kehadiran Selena di sana.
“Kemana perginya?” Tanya Felix mengernyitkan dahi.
“Ah mungkin ke pastry” ucapnya.
Sambil menunggu kedatangan istrinya Felix pun merebahkan dirinya di atas sofa yang berada di sudut ruangan Selena.
Sekitar lima menit dirinya menunggu tidak melihat tanda-tanda Selena akan datang.
Ia pun bangkit dan meraih ponselnya.
Satu,dua panggilan tidak terjawab oleh sang empu.
Tiba-tiba matanya menangkap di atas meja kerja tidak ada tas maupun barang-barang pribadi milik Selena. Itu artinya Selena keluar?
“Shit! Kemana perginya? Tidak biasanya dia pergi tanpa pamit begini” umpat Felix merasa kesal.
Felix mencoba menghubungi Selena kembali, namun yang terjadi ponsel Selena tidak aktif. Padahal semula panggilan masih tersambung.
“Dimana kamu sayang? Kenapa tidak bilang padaku?” Ucap Felix mengusap wajahnya kasar.
Ia segera kembali ke ruangannya untuk memastikan sesuatu.
Felix membuka kasar pintu ruangannya, belum sampai mendekati meja kerjanya tiba-tiba ponselnya berbunyi. Berharap yang menghubunginya itu Selena namun ternyata suara bariton pria.
“Ya hallo?” Ucap Felix sedikit meninggikan suaranya karena di landa gusar.
“Hallo Tuan, Nona Selena sedang bersama Nona Celline di cafe Valei Casa!” Ucap Dom di balik sambungan telpon.
“Apa?! Apa yang terjadi Dom? Istriku baik-baik saja?!” Tanya Felix panik.
“Kami belum tahu Tuan, Nona Muda bersama Nona Celline memesan ruangan privat sehingga kami kesulitan mengawasinya. Saat ini kami masih mengawasi dari dalam cafe” terang Dom.
“Terus pantau mereka Dom! Jangan sampai istriku kenapa-kenapa. Aku akan kesana sekarang juga!” Ucap Felix mematikan panggilannya sepihak. Pria itu langsung menyambar kunci mobilnya dan berlari tergesa-gesa meninggalkan ruangannya.
Sesampainya di basement Felix langsung masuk ke dalam mobilnya. Ia menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi meninggalkan area perusahaan.
“Kau akan tahu akibatnya jika kau sampai melukai istriku, Celline!!” Geram Felix menambah kecepatannya.