
Keesokan paginya Selena bangun lebih awal dari Felix. Pria itu belum ada tanda-tanda akan keluar.
Hal itu di manfaafkan oleh Selena membuatkan sandwich untuk sarapan mereka.
Memang hanya itu bahan yang ada di lemari es.
Dengan telaten tangannya menyusun sayuran dan selembar kornet sapi di atasnya.
Tak banyak sandwich yang Selena buat, ia hanya membuat dua saja karena ukuran roti nya lumayan besar.
“Oke selesai, sekarang tinggal menunggu Pak Felix keluar. Sebaiknya aku bersiap-siap dulu” ucap Selena meninggalkan dapur.
Lima menit kemudian Felix keluar dengan setelan kerjanya. Rupanya pria itu sudah bangun dan bersiap sejak tadi.
Pandangannya melirik ke arah kamar Selena, pria itu menghampiri kamar Selena berniat mengecek keadaan gadis itu. Sebab semalam Selena terlihat begitu sedih akibat ulahnya.
Felix mengetuk pintu namun tak ada sahutan. Wajar saja lha wong orangnya mandi. Oalah Felix Felix.
Ia pun memutuskan untuk membuka pintu kamar Selena, ia tidak melihat keberadaan gadis itu,dilihatnya selimut sudah terlipat rapi di atas kasur.
Ia menajamkan telinganya dan terdengar suara gemricik air dari bathroom.
Seketika Felix bernafas lega dan bergegas keluar dari kamar itu.
“Syukurlah dia sudah bangun. Semoga dia baik-baik saja” hara Felix cemas.
Langkahnya perlahan mengarah ke dapur, pandangannya tertuju pada hidangan breakfast dan dua gelas susu yang sudah siap di meja makan.
Felix mengerutkan keningnya heran, apa iya Selena yang menyiapkan ini semua? Itu tandanya dia baik-baik saja kan? Gumam Felix dalam hati.
Tak lama Selena pun keluar dengan setelan blouse nya. Menambah kesan feminim bagi tubuh Selena yang ideal.
“Selamat pagi Pak, selamat menikmati sarapannya. Semoga Bapak suka dengan sandwich buatan saya” ucap Selena tersenyum sumringah.
Felix pun tak percaya dengan apa yang dilihatnya, semalam saja nangis-nangis. Tapi sekarang? Gadis itu malah dengan ceria nya menebar senyum seperti tidak ada beban apapun.
Lama kelamaan Felix mulai hafal dengan sifat Selena. Gadis itu tidak akan lama berangsur larut dalam kesedihan.
Felix salut dengan sikap Selena.
“Tentu saja, apa yang kamu buat pasti saya suka. Termasuk membuat saya jatuh cinta pada mu” ucap Felix tiba-tiba membuat Selena melongo tak percaya.
“Ah Bapak jangan kebanyakan bercanda, ini masih pagi seharusnya saya makan makanan yang sehat bukannya makan gombalan dari Bapak” sahut Selena menganggap ucapan Felix hanya sebuah candaan.
Ini bukan candaan Selena, ini murni dari hati saya. Batin Felix ingin sekali mengatakan kalimat itu. Namun keberaniannya saat ini hanya seujung kuku.
Ia tidak mau di cap sebagai pria tidak tahu diri, mengingat saat ini status Selena sudah memiliki kekasih.
“Terserah apa katamu Selena. Cepat selesaikan makan mu” titah Felix pada gadis itu.
Selena pun mengangguk dan mulai menyuapkan sandwich ke dalam mulutnya, begitupun dengan Felix.
Baru habis setengah, tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk di ponsel Selena.
Gadis itu pun buru-buru mengecek ponselnya. Ternyata itu pesan dari Juan.
Juan
Sayang aku pulang, sekarang aku sudah ada di apartemen’
Seketika senyum Selena mengembang sempurna, ia segera mengirimkan balasan untuk kekasihnya. Selena sangat bahagia sampai-sampai ia mengabaikan sandwich yang ada di tangannya.
Hal itu tak luput dari perhatian Felix.
“Tidak bisakah kau menyelesaikan sarapan mu dahulu Selena?” Tegur Felix tak suka.
“Ah, iya Pak” ucap Selena mengimpan ponselnya di dalam tas.
“Biasakan kalau sedang berada di meja makan jangan main ponsel” ucap Felix datar.
“Baik Pak, maafkan saya” ucap Selena merasa bersalah.
Seketika Felix tersadar dirinya terlalu keras menegur Selena. Padahal kan bisa bicara dengan santai tanpa harus membuat Selena terintimidasi?
Astaga Felix hanya ponsel saja kau sampai jealous begini? Rutuk Felix dalam hati.
“Ya sudah, saya sudah selesai. Saya tunggu di depan” ucap Felix beranjak dari duduknya meninggalkan Selena di meja makan.
Selena hanya mengangguk karena mulutnya masih penuh dengan sandwich.
Sejujurnya selera makannya kali ini menguap begitu saja karena berita kepulangan Juan. Ia terlampau bahagia hari ini dia bisa bertemu dengan Juan.
Ia akan memikirkan cara bagaimana agar dia bisa meminta cuti untuk liburan bersama Juan nanti. Semoga saja Felix mengijinkan, doa Selena dalam hati.
Setelah selesai ia segera menyingkirkan peralatan makan nya ke wastafel. Ia kembali meraih ponselnya berniat ingin membalas pesan dari Juan.
Maaf sayang aku tidak bisa menjemputmu di bandara, tapi aku seneng banget kamu udah pulang.
Soal liburan aku harus minta ijin dulu dari atasan aku, sabar dulu ya. Nggak bisa langsung, kantor lagi sibuk-sibuknya dengan agenda akhir bulan.
Selena kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menyusul Felix yang sudah menunggu nya.
“Sudah siap?” Tanya Felix melihat kedatangan Selena.
“Sudah Pak” ucap Selena menampilkan senyum manis.
“Oke kita berangkat” ucap Felix berjalan keluar dari apartemen. Selena pun mengekori bosnya.
Sementara di apartemen nya Juan senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Selena. Tak di pungkiri pria itu juga sangat merindukan kekasihnya itu.
Namun rasa bersalah nya lebih besar di bandingkan rasa rindunya pada Selena. Ia tidak tau nasib hubungannya dengan Selena kedepannya seperti apa. Yang jelas Juan akan tetap mempertahankan Selena. Soal Elle biarlah itu menjadi urusannya nanti, yang terpenting hubungannya dengan Selena tetap baik-baik saja.
Egois? Ya itulah Juan. Ia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan kedua wanita itu yang sama-sama mencintai nya.
Tiba-tiba terdengar bel berbunyi. Juan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu apartemen.
Pria itu membukakan pintu karena penasaran siapa yang bertamu di saat kepulangannya yang mendadak.
“Hai sayang” sapa Elle dengan senyum sumringahnya.
“Elle? Kenapa kamu bisa ada disini?” Ucap Juan terkejut.
“Tentu saja bisa, aku tidak akan mungkin bisa jauh berhari hari tanpa mu Juan” ucap Elle dengan ekspresi sendu nya.
“Tapi Elle, ini bukan waktunya kita kangen-kangenan. Ada Selena yang harus aku perhatikan juga!” seru Juan tak habis pikir dengan wanita ini.
“I don’t care, aku hanya ingin berada dekat dengan mu tanpa berniat mengganggu kebersamaan mu dengan Selena” ucap Elle beralasan.
“What the.. astaga Elle apa yang ada di otak mu saat ini. Tentu saja Selena akan curiga jika kau terus-terusan mengikuti ku!” Ucap Juan merasa frustasi.
“Sudahlah Juan, aku kesini bukan ingin mengacaukan waktu liburan mu. Tapi selama Selena tidak bersama mu ijinkan aku berada di sampingmu” ucap Elle mengedipkan matanya genit.
Juan geleng-geleng kepala mendengar ucapan wanita itu.
“Terserah mu, aku tidak peduli!” Ketus Juan masuk meninggalkan Elle yang berdiri di ambang pintu dengan barang bawaannya yang lumayan banyak.
Wanita itu pun ikut masuk begitu saja. Padahal sang empu belum mempersilahkan dirinya masuk.
“Wah.. cukup nyaman juga berada disini” seru Elle mengedarkan pandangannya di sekeliling apartemen Juan.
“Aku tidak butuh kritik mu. Jika sudah tidak ada hal penting lagi tolong keluar dari sini” usir Juan pada wanita itu.
Bukannya marah Elle malah tersenyum manis mendekati Juan.
“Sayang, aku hanya singgah sebentar, tidak lama” ucap Elle dengan nada sensualnya.
“Singkirkan tangan mu Elle” ketus Juan menepis jari lentik Elle.
“Oke, aku ingin ke toilet. Bisa kau tunjukkan dimana tempatnya?” Tanya Elle
“Cari saja sendiri” ucap Juan dingin.
Wanita itupun mengedikkan bahunya lalu berjalan meninggalkan Juan yang fokus dengan game nya. Pria itu sengaja mengalihkan perhatiannya demi mengusir rasa jenuh karena kehadiran Elle.
Lima menit kemudian Elle keluar dengan baju dinasnya, entah apa Elle rencanakan kali ini. Wanita itu mengenakan lingerie berwarna merah maroon menampilkan lekuk tubuhnya yang sexy.
Ia berjalan melenggak lenggok mendekati Juan yang masih fokus dengan ponselnya. Pria itu tidak sadar dengan pemandangan di depan matanya.
“Juan” panggil Elle dengan nada sensual.
Juan hanya diam tak menggubris.
Tak kehabisan akal Elle pun merangkak ke atas tubuh Juan.
Sontak pria itupun terkejut dengan serangan tiba-tiba dari Elle.
“Apa yang kau lakukan Elle” ucap Juan menelan ludahnya kasar.
Pria itu nampaknya sedang on kali ini. Dan rencana Elle pun berhasil. Tidak sia-sia kali ini menggoda Juan dengan cara murahan seperti ini.
“Juan aku ingin..” bisik Elle meraba area privasi milik Juan yang kini sudah membengkak.
“Argh! Kau nakal Elle! Baiklah. Jangan salahkan aku jika kau tidak bisa berjalan setelah ini” ucap Juan mulai terpancing.
“Dengan senang hati aku akan menantikan hal itu sayang” bisik Elle menggigit bibir bawahnya.
Dan benar saja, hasrat Juan seketika naik dua kali lipat dari biasanya. Elle sampai limbung karena terkaman pria itu.
Kali ini Juan benar-benar seperti singa yang sedang mengincar santapannya.
Terbukti selama tiga jam mereka melakukan itu namun Juan masih saja belum ingin mengakhiri pertempurannya.
“Ah Juan milikku sangat perih! Kau benar-benar gila sayang” seru Elle kewalahan dengan tenaga pria itu. Tapi wanita itu justru senang, ia juga masih belum ingin mengakhirinya.
“Tidak akan ku lepaskan kau kali ini Elle. Nikmati saja buah dari kejahilan mu tadi” ucap Juan terus menghentakkan miliknya dengan kuat.
Elle sudah tidak sanggup lagi menjawab perkataan Juan. Wanita itu hanya bisa melenguh dan menjerit menikmati hentakan dari Juan.