Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 8 | Kecuali kamu



Malam harinya Selena yang merasa lapar akhirnya turun ke dapur untuk membuat makan malam.


Felix masih belum keluar dari tempat persembunyian nya, entah apa yang dilakukan pria workaholic itu.


Selena membuka semua isi kulkas yang ternyata isinya hanya ada kornet dan pasta.


Sisanya hanya vitamin dan minuman penambah stamina.


“Apa dia segila itu dengan kesehatan? Sampai-sampai lemari es di penuhi vitamin” ucap Selena menepuk jidatnya.


Pantas saja bos nya itu begitu terlihat segar dan bugar, ternyata pria itu menanamkan prinsip pola hidup sehat.


“Apa yang kau lakukan?” Suara bariton mengagetkan Selena.


“Astaga! Bikin kaget saja” ucap Selena mengelus dadanya.


“Di dalam tidak ada bahan makanan, lebih baik kita makan di luar atau pesan saja” ucap Felix duduk di meja dapur meraih jar berisi air mineral lalu pria itu menuangkan ke dalam gelas.


“Saya sedang tidak berminat keluar Pak, badan saya letih belum lagi lutut saya masih sakit” ucap Selena.


Felix memperhatikan Selena dari atas sampai bawah. Terlihat lutut yang lebam akibat benturan tadi. Sebab kali ini Selena hanya memakai dress rumahan sehingga kaki jenjang gadis itu terekspose.


“Kita pesan saja dari sini. Kau ingin makan apa?” Tanya Felix kemudian.


“Terserah Bapak saja” jawab gadis itu.


Felix menganggukkan kepalanya mengerti, sedetik kemudian ia meraih ponselnya.


“Ehm Pak” panggil Selena membuka obrolan.


“Hm?” Sahut Felix masih dengan kegiatannya.


“Kalau Bapak tinggal sendirian di sini lalu siapa yang memasak makanan untuk Bapak?” Tanya Selena


“Tidak ada. Biasanya jika masakan simple saya lakukan sendiri. Kalau tidak ya makan di luar atau pesan.” Jawab Felix


“Wow, benarkah.. tidak ada maid atau pelayan?” Tanya Selena mulai kepo.


“Ada, hanya pelayan panggilan. Tugasnya hanya membersihkan apartemen ini” sahut Felix sekenanya.


Selena mangut-mangut.


“Kenapa Bapak tidak tinggal saja dengan orang tua Bapak?” Tanya gadis itu.


“Malas” singkat Felix.


Selena terdiam membeo dengan jawaban bosnya.


“Bapak aneh ya, di saat orang lain banyak yang merindukan kasih sayang orang tuanya malah Bapak memilih berpisah dengan orang tua” cicit Selena mulai baper.


Felix menghembuskan nafasnya kasar.


“Dengar saya Selena, tidak semua rumah bisa jadi tempat ternyaman untuk pulang. Kau paham maksud ku kan?” Ujar Felix menatap gadis cantik itu.


Selena kembali terdiam. Sebegitu rumit kah hubungan keluarga bos nya ini? Hah.. entahlah, Selena malas memikirkan.


“Ya.. i know. Maaf sudah lancang masuk ke dalam topik kehidupan pribadi Bapak” ucap Selena merasa tak enak.


“No it's oke. Saya tidak pernah bercerita tentang kehidupan pribadi saya pada siapapun, kecuali kamu” terang Felix sungguh-sungguh.


Jujur saja ini pertama kalinya ia terbuka mengenai privasi nya. Entah rasa nyaman itu timbul tiba-tiba ketika berbicara dengan sekretarisnya.


“Bapak yakin hanya saya? Memang Bapak tidak memiliki teman atau saudara?” Tanya Selena dengan mulut ceriwis nya.


Felix menggeleng pelan.


“Saya anak tunggal. Teman banyak, tapi saya tidak pernah dekat dengan siapapun. Terlalu rumit jika berhubungan dekat dengan seseorang. Akan repot jadinya” sahut Felix dengan entengnya.


Selena mengangguk paham.


Sudah tidak kaget lagi, pasalnya selama menjadi bawahannya tidak ada satupun seseorang yang mendekati Felix ataupun agenda kumpul bersama. Kalaupun ada hanya sebatas hubungan rekan bisnis.


“Sepertinya pesanan sudah datang, saya cek dulu” ucap Felix pergi meninggalkan Selena di meja dapur.


“Astaga Selena! Seharusnya kau yang inisiatif untuk mengambil nya, bukan malah bos mu! Kenapa aku jadi lupa diri begini sih!” Gerutu nya kesal.


Tak lama Felix kembali menenteng tas kresek berisi makanan.


“Ini, makanlah sebelum cacing di perutmu demo” celetuk Felix.


“Terimakasih banyak Pak, maaf merepotkan” ucap Selena sungkan.


“Tak apa, besok jika kau ingin makan apapun katakan saja. Atau jika kau ingin memasak sendiri kita bisa berbelanja keperluan dapur” terang Felix kembali fokus ke makanannya.


“Lebih baik memasak sendiri saja, itu lebih hemat dan higienis” sahut Selena lalu gadis itu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Felix menganggukkan kepalanya mengerti.


Tak ada obrolan lagi antara mereka. Masing-masing fokus dengan makanan di hadapannya.


“Kau ada kegiatan lain setelah ini?” Tanya Felix sesaat setelah menghabiskan makan malamnya. Begitupun Selena.


“Tidak ada, sepertinya saya ingin beristirahat. Memangnya ada apa?” jawab Selena.


“Tidak ada, hanya bertanya saja” jawab Felix singkat.


Pria itu berlalu meninggalkan Selena yang masih duduk di meja dapur dengan gelas di tangannya.


“Aneh” gumam Selena memilih acuh.


Ia pun beranjak meninggalkan dapur.


Langkahnya terhenti di ruang santai dengan kondisi tv yang menyala.


“Dimana manusia es itu? Bisa-bisa nya tv hidup tapi orangnya hilang entah kemana” monolog Selena.


“Ah lebih baik nonton drakor saja” celetuk gadis itu mengotak atik remote.


Cukup lama Selena sibuk dengan kegiatannya, namun Felix tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


Sementara di ruang kerjanya, Felix tengah menerima telpon dari ayahnya.


“Ada apa Pa?”


“Bagaimana kabar mu? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Dave di balik sambungan telpon.


“Baik, Papa sendiri gimana?” Tanya Felix


“Sangat baik. Kapan kau akan pulang ke mansion? Mama mu selalu mendesak Papa agar kau mau pulang” ujar Dave dengan suara berat nya.


“Felix tidak tau. Saat ini Felix sedang di sibukkan dengan masalah kantor” ucap Felix


“Setidaknya pulanglah, agar Mama mu berhenti menghantui Papa. Ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan” terang Dave.


“Soal apa?” Tanya Felix mengerutkan alisnya.


“Pulanglah, nanti kau akan tau.” Jawab pria paruh baya itu.


“Baiklah, Felix akan meluangkan waktu. Sekalian ada hal yang Felix bicarakan juga” ucap Felix mengiyakan permintaan Papa nya.


“Bagus. Ya sudah Papa tutup telfon nya” pamit Dave.


Panggilan pun berakhir.


Felix memijat pelipisnya perlahan. Entah hal apa lagi yang akan dihadapi ketika berada di mansion itu.


Ia teringat dengan Selena, sedang apa gadis itu sekarang? Apa dia sudah tidur?


Seketika Felix pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.


Pria itu mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Tatapannya terhenti pada ruang santai dengan tv masih menyala. Ia sengaja menghidupkan tv agar Selena bisa leluasa mengusir rasa suntuknya.


Eh tunggu, kenapa jadi tayangan drama korea? Seingatnya ia tidak menyetel tayangan itu. Apa mungkin Selena?


Tapi dimana gadis itu? Apa mungkin dia sudah masuk ke dalam kamarnya.


Langkah Felix mendekat ke ruang santai berniat mematikan tv nya.


Ternyata Selena tertidur di bawah dengan posisi miring memeluk bantal.


Felix menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya gadis itu tidur dengan posisi seperti ini.


Ia pun berjongkok mendekati Selena yang tertidur pulas.


“Tidur saja cantik” gumam Felix menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis itu.


Lama memandangi Selena, akhirnya Felix pun berinisiatif untuk memindahkan Selena ke dalam kamarnya.


Tidak mungkin kan dirinya membiarkan sekretarisnya tidur di bawah beralaskan karpet. Akan sangat terkesan kejam menurutnya.


Perlahan pria itu mengangkat tubuh Selena. Sesampainya di dalam kamar ia meletakkan dengan hati-hati agar Selena tidak terbangun.


Netranya tiba-tiba terfokus pada luka lebab di lutut gadis itu.


Felix menyentuh luka lebam yang membiru itu hingga Selena mendesis dalam tidurnya.


“Apakah ini sangat sakit? Maaf saya membuatmu luka begini” gumam Felix pelan.


Ia bergegas merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya dan mendial nomor seseorang.


“Bisa kau datang kemari? Sekarang juga, saya tunggu!” titah Felix dengan nada datar lalu memutuskan panggilannya.


“Bersabarlah, sebentar lagi luka mu akan sembuh” ucap Felix mengusap kepala Selena dengan lembut.


Tak lama terdengar suara bel berbunyi. Felix bergegas membukakan pintu.


“Selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?” Tanya dokter pria itu.


“Silahkan masuk, tolong periksa sekretaris saya” ucap Felix berlalu menuju kamar Selena di ikuti dokter pria itu.


Sesampainya di kamar, dokter itu speechless dengan apa yang ia lihat. Tidak biasanya pasien pribadinya ini memasukkan seorang wanita ke dalam apartemen nya. Ini pertama kalinya dia melihat. Namun dokter itu tidak memiliki keberanian lebih untuk bertanya.


Ia segera mengecek luka yang ada di tubuh Selena.


“Sepertinya ini luka baru Tuan?” Tanya Dokter itu memastikan.


“Ya, dia baru saja terjatuh. Tolong berikan obat pereda rasa sakit agar lebam nya cepat hilang” ucap Felix pada dokter itu.


“Baik Tuan, akan saya siapkan” ucapnya.


Setelah selesai menaruh plester di lutut Selena, dokter itu pun mengeluarkan beberapa salep dan obat untuk Selena.


“Jika lebam dan memarnya sudah berkurang maka Nona boleh menghentikan konsumsi obatnya Tuan, cukup oleskan salep saja untuk menghilangkan bekas lukanya” ujar dokter itu memberi tahu.


Felix mengangguk faham.


“Baiklah, terimakasih banyak” ucap Felix kemudian.


“Sama-sama Tuan, kalau begitu saya pamit undur diri” ucap Dokter itu membungkukkan badannya.


Felix mengantarkan dokter itu sampai ke depan pintu.


Setelah kepergiannya, ia kembali masuk ke dalam kamar Selena.


“Selamat malam, selamat beristirahat. Semoga luka mu cepat pulih” ucap Felix, lalu ia menaikkan selimut pada Selena hingga sebatas dada.


Ia pun berjalan keluar meninggalkan kamar Selena.