
Sore harinya Selena dan Juan memutuskan untuk pergi ke penginapan. Rencananya mereka akan kembali besok pagi dan Juan yang akan mengantarkan Selena untuk pergi ke kantor.
Pria itu kekeh ingin tahu dimana kantor kekasihnya. Karena selama ini memang Juan tidak pernah tahu dimana tempat kerja Selena.
Selena pun hanya pasrah saja, ia pikir tidak apa kan jika hanya sekali? Lagi pula Felix juga tidak melarangnya. Sebab pria itu tidak tahu.
Eh, kenapa harus memikirkan Felix?
Selena merutuki kebodohannya sendiri, jiwa nya sedang bersama Juan namun pikirannya tertuju pada Felix yang notabene adalah bosnya bukan siapa-siapanya.
“Loh kita satu kamar?” Tanya Selena mendapati Juan hanya memegang satu kunci kamar saja.
“Iya sayang, memangnya kenapa?” Tanya Juan menatap aneh pada Selena.
“Tapi Juan, tidak seharusnya kita berada di satu kamar, kita bukan pasangan suami istri” ungkap Selena.
“Tidak masalah Selena, banyak kok yang menginap satu kamar dengan kekasihnya. Tidak ada yang melarang” ucap Juan menimpali ucapan Selena.
“Astaga Juan, tetap saja tidak boleh” sahut Selena.
“Semua kamar sedang penuh Selena, hanya satu kamar ini saja yang kosong. Kita mau menginap dimana lagi? Penginapan lain cukup jauh dari sini” ucap Juan beralasan. Memang penginapan itu terlihat ramai, namun tidak semuanya penuh. Masih ada beberapa kamar yang kosong. Namun Juan sengaja ingin berada satu kamar dengan Selena.
“Benarkah begitu?” Tanya Selena ragu.
Juan pun menganggukkan kepalanya.
“Aku akan tidur di sofa saja, kamu di ranjang” ucap Juan paham dengan pikiran Selena.
“Baiklah” putus Selena mengiyakan ucapan kekasihnya.
Setelah pintu terbuka mereka berdua pun masuk ke dalam kamar itu.
“Kamu mandi lah dulu, setelah itu kita cari makan” titah Juan pada Selena.
“Oke” singkat gadis itu berjalan menuju ranselnya mencari baju ganti.
Selena pun melenggang masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Juan sejak tadi memperhatikan gerak gerik kekasihnya.
“Bodohnya aku selama ini tidak menyadari kalau kekasihku saja sudah sempurna, bahkan Elle masih kalah dengannya” gumam Juan merasa sedikit menyesal telah menghianati Selena sampai sejauh ini.
Tapi Juan masih mempertimbangkan hal itu, sebab ia tahu Selena tidak akan mau dia ajak untuk berhubungan. Itulah sebabnya Juan merasa dirinya perlu pelampiasan. Ya, Elle hanya dia jadikan sebagai pemuas nafsunya selama ini. Itu alasan Juan masih mempertahankan Elle hingga saat ini.
Benar-benar laki-laki serakah.
Saat ini Felix baru saja sampai apartemen, sepulang dari kantor pria itu memutuskan ingin langsung beristirahat. Ia merasa hari ini begitu lelah sebab tidak ada Selena yang membantunya menyelesaikan berkas-berkas menumpuk di meja nya.
Disisi lain pikiran nya terlalu kacau dengan permasalahan yang ia hadapi.
“Sudah hampir malam apa gadis itu tidak pulang?” Ucap Felix mengedarkan pandangannya tidak melihat tanda-tanda adanya Selena.
“Ah mungkin saja dia belum sampai” ucap Felix menepis pikirannya.
Felik bergegas masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah makan malam Juan dan Selena memutuskan kembali ke penginapan. Selena menolak ajakan Juan untuk keluar menjelajahi kota Qudra, ia merasa tubuhnya lelah seharian berjalan mengelilingi danau. Lagi pula besok pagi-pagi sekali mereka sudah harus bertolak menuju perusahaan.
“Aku ingin langsung tidur saja Juan, maaf aku tidak bisa menemani mu malam ini. Rasanya tubuhku lelah sekali” ucap Selena meregangkan otot-ototnya.
Gadis itu berjalan mendekati ranjang lalu merebahkan tubuhnya.
'Ah nyamannya’ gumam Selena sembari memejamkan kedua matanya.
“It's oke sayang. Tidurlah, aku tidak akan mengganggu mu” ucap Juan memahami keinginan kekasihnya itu.
“Hmm. Thanks” ucap Selena matanya mulai sayu. Gadis itupun tertidur pulas dengan posisi telentang memeluk guling.
Juan yang melihat itu tersenyum singkat.
“Aku tidak bisa kehilangan mu Selena” gumam Juan mengelimuti tubuh Selena hingga sebatas perut.
Pria itu berjalan menuju balkon dan menyalakan sebatang rokoknya.
Itu adalah salah satu cara Juan mengusir rasa bosannya ketika tidak ada kegiatan apapun.
Ya, hanya ketika tidak ada kegiatan.
Semenjak bersama Selena ia jarang sekali merokok karena Selena selalu memperingatinya agar tidak terlalu over.
Juan menurut saja, ia sangat suka dengan Selena yang over protektif.
Pria itu benar-benar menepati ucapannya, ia mengambil satu bantal di samping Selena dan memilih tidur di sofa. Ia tidak ingin merusak kepercayaan Selena meskipun ia tanpa sadar sudah melakukannya.
Juan mencoba memejamkan matanya namun pikirannya terus fokus pada Selena yang tidur dengan posisi membelakangi dirinya.
“Lekuk tubuhnya begitu sempurna” gumam Juan mengamati kekasihnya.
“Arghh pikiranku jadi kacau begini!” Gerutu Juan meraup wajahnya kasar.
Sepertinya hasrat pria itu sedang naik kali ini. Ia bingung harus bagaimana. Mencoba tidur pun tidak bisa karena kalah dengan nafsunya.
Beberapa detik kemudian terdengar suara ketukan pintu.
Juan beranjak dari duduknya mengecek siapa yang bertamu malam-malam begini sementara dirinya berada di tempat asing.
“Ya?” Ucap Juan membuka pintu.
“Hai sayang” sapa Elle tiba-tiba.
“Kau! Astaga kau mengikutiku?!” Bisik Juan marah pada Elle.
“Come on Juan, aku tahu apa yang kau butuhkan saat ini, tidak mungkin Selena mau memuaskan mu malam ini kan? Right?” Ucap Elle menaikkan alisnya genit.
“Oh my god! Please Elle, tidak bisakah kau enyah dariku sehari saja? Aku sedang bersama Selena!” Ucap Juan frustasi.
Elle pun terkekeh mendengar ucapan Juan.
“Ya i know. Tapi kamu juga membutuhkan ku saat ini Juan, aku tahu apa yang kau rasakan saat ini. Come on, aku datang untuk memuaskan mu babe” bisik Elle dengan nada sensualnya.
Tangan wanita itu dengan nakalnya menyingkap dressnya sendiri sampai ke atas hingga menampakkan cd nya berwarna abu-abu.
“I'm ready now babe” ucap Elle mengecup bibir Juan sekilas.
“Shitt!!!” Umpat Juan tidak tahan dengan godaan Elle yang terlalu liar.
Juan segera menutup pintu kamarnya dan menarik Elle menjauh.
Elle pun tersenyum kemenangan, sudah ia duga. Juan tidak akan mampu menolak pesonanya. Biarlah ia di anggap murah asal Juan tetap dalam genggamannya.
“Sebelah kiri nomor 13 babe” bisik Elle nakal. Ternyata Elle menyewa kamar bersebelahan dengan kamar Juan dan Selena. Wanita itu begitu matang menyusun rencana.
Juan pun mempercepat langkahnya karena dirinya benar-benar sudah on saat ini.
Sementara di apartemen nya Felix saat ini tengah di landa cemas karena Selena tak kunjung pulang. Pria itu mondar mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Selena.
“Apa dia tidak tau waktu? Sudah tengah malam begini dia belum sampai juga?!” Ucap Felix tak habis pikir.
“Awas saja jika kamu sampai tidak pulang Selena” ucap Felix mengatupkan rahangnya.
“Shit!! Pria itu benar-benar mencari masalah dengan ku!” Umpat Felix emosi.
Ia sendiri tidak sadar kalau Selena bukan hak nya, Juan lah yang lebih berhak atas Selena namun Felix tidak peduli dengan semua itu. Yang pasti Selena adalah miliknya, hanya miliknya.
Pria itu mengambil ponselnya lalu mendial nomor Selena.
Hanya ada suara operator sebab ponsel Selena ia matikan.
“Sial!!”
Felix mengumpat kasar bahkan nomor gadis itu tidak aktif?
“Apa yang mereka lakukan sampai selarut ini?!”
“Jangan-jangan..” ucap Felix menggantung.
Pikiran pria itu mulai negatif, ia tidak bisa membahangkan jika Selena dan pria itu melakukan hal yang lebih.
“Tidak! Tidak mungkin Selena serendah itukan? Ya, Selena gadis baik-baik” ucap Felix berusaha menepis pikiran buruknya.
“Apa aku susul saja? Tapi kemana bahkan aku tidak tau kemana perginya gadis itu?!” Ucap Felix frustasi. Dia saja tidak tau kemana perginya Selena, gadis itupun tidak memberi tahu akan kemana. Ingin melacak pun percuma saja karena ponsel gadis itu tidak aktif.
Felix menjambak kasar rambutnya sendiri.
Ia menyesal kenapa tidak bertanya tadi.
Tidak ada pilihan lain selain menunggu kepulangan gadis itu.