Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 11 | Diam atau saya cium kamu



Selesai jam kerja Felix langsung menghampiri Selena di ruangannya.


“Selena” panggil Felix.


Gadis itu pun terkejut dengan kehadiran Felix yang tiba-tiba.


“Astaga, sejak kapan Bapak masuk?” Tanya Selena kaget.


“Baru saja, kamu terlalu asyik dengan ponsel mu sampai-sampai tidak sadar” ucap Felix.


“Maaf kalau begitu, kita pulang sekarang Pak?” Tanya Selena kemudian.


“Ya, tapi saya antar kamu ke apartemen. Saya ingin pergi ke suatu tempat dulu” terang Felix.


“Baiklah” ucap Selena menurut, sebenarnya dirinya penasaran kemana pria itu akan pergi. Tapi ia sadar bahwa itu bukan urusannya.


“Ayo, tunggu apalagi!” seru Felix berjalan meninggalkan Selena.


“Ishh kebiasaan main tinggal aja!” Sungutnya.


“Eh tapi kenapa aku harus protes? Memangnya aku siapanya? Sadar Selena, kau selalu lupa dengan posisi mu” gerutu gadis itu.


Ia bergegas menyusul Felix sebelum pria itu mengeluarkan taringnya.


Sesampainya di basement Selena melirik kanan kiri, mencari dimana pria itu memarkirkan mobilnya. Nafasnya masih ngos-ngosan gara-gara mengejar Felix.


“Dimana sih? Masa iya aku ditinggal” ucap gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah.


Tiba-tiba terdengar suara klakson dari arah belakang.


Tin!


Sontak Selena pun berjingkat terkejut.


“Ish! Hampir saja jantung ku lepas dari tempatnya!” Sungutnya.


Felix yang sudah menunggu di dalam mobilnya pun menurunkan kaca nya.


“Mau pulang tidak?” Tanya pria itu dengan nada datarnya.


“Ya mau lah Pak” seru Selena dengan wajah masam nya.


Gadis itu pun segera masuk ke dalam mobil.


Seketika Felix tersenyum geli melihat wajah Selena yang terlihat kesal.


Mobil pun melaju meninggalkan area basement.


Pria itu membunyikan klakson ketika berpapasan dengan security. Para security yang berjaga pun memberi hormat atasannya yang hendak pulang.


Selena cukup kagum dengan sisi Felix yang baru ia ketahui akhir-akhir ini. Ternyata setelah mengenal lebih dekat sikap Felix tidak seburuk yang ia kira.


Kenapa aku terus memikirkannya sih, aargghh dasar oon kamu Selena!’ Rutuk nya dalam hati.


Setelah berada di luar gerbang pandangan Felix mengarah pada sosok orang asing yang tengah berdiri di trotoar sisi kanan gedung perusahaan.


Kenapa berhenti disana? Bukankah sudah ada papan larangan memberhentikan kendaraan di trotoar.


“Ck! Apa matanya buta” decak Felix merasa dongkol dengan orang-orang tidak taat aturan seperti itu.


“Siapa Pak?” Tanya Selena menatap raut kusut atasannya.


“Orang tak berakal” jawab Felix singkat.


Selena mengerutkan keningnya tak mengerti maksud pria itu.


Mungkin saja mood nya sedang buruk. Pikir Selena tak mau ambil pusing.


Ia menyandarkan punggungnya di jok mobil.


Sebenarnya kegiatan hari ini tidak begitu padat, namun tubuhnya terasa letih dan mudah mengantuk.


Selena sama sekali tidak sadar jika makanan yang ia makan hari ini sudah di bubuhi obat oleh Felix. Hal itu Felix lakukan agar gadis itu tidak protes. Jelas saja, Felix sangat tahu sifat Selena yang susah sekali menelan obat. Sejak awal menjadi sekretarisnya gadis itu pernah pingsan sekali karena anemianya kambuh, saat di suruh meminum vitamin yang terjadi adalah, Selena membuang pil itu dan menukarnya dengan permen.


Dasar Selena, ia pikir mudah mengelabuhi seorang Felix?


Sepuluh menit perjalanan akhirnya mobil yang di kendarai Felix sampai di depan gedung apartemen. Pria itu turun tanpa memarkirkan mobilnya di basemen karena jika hanya sebentar orang-orang akan paham kenapa Felix memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk.


“Katanya mau pergi? Kenapa turun?” Tanya Selena memandang Felix penuh tanya.


“Diam, jangan banyak tanya” ucap Felix menarik lengan Selena.


“Apa apaan sih Pak, memang saya kambing di tarik-tarik begini. Malu diliatin orang” bisik Selena


“Diam atau saya cium kamu di sini?” Ancam Felix saat berada di depan lift.


Felix tersenyum smirk menyaksikan tingkah konyol gadis itu. Ini yang Felix sukai dari Selena. Gadis itu terlihat apa adanya dan selalu bersikap jutek.


Felix tipe laki-laki yang tidak suka di goda ataupun di dekati. Ia lebih menyukai wanita yang cuek dibanding wanita yang agresif. Alasannya hanya satu, yaitu risih.


Sampai di depan pintu apartemen Felix membukakan pintu untuk Selena.


“Masuk Selena” titah Felix menyuruh gadis itu untuk segera masuk ke dalam.


“Bapak tidak ikut masuk?” Cicit Selena.


“Saya sudah bilang saya akan pergi ke suatu tempat. Kamu mau saya tidak jadi pergi dan menemani kamu di dalam?” Tanya Felix menggoda gadis itu.


Selena menggeleng cepat.


“Tidak, tidak perlu! Saya berani kok. Ya sudah silahkan Bapak pergi” ucap Selena mengibaskan tangannya.


“Kamu mengusir saya?” Tanya Felix menaikkan alisnya.


“Tidak! Bukan begitu, mana ada saya mengusir Bapak. Ini kan apartemen Bapak bukan milik saya” ucap Selena gelagapan.


“Oh jadi kamu mau apartemen ini jadi milik kamu? Ambil saja” ucap Felix membuat Selena semakin merasa serba salah.


“Bukan! Bukan begitu juga.. isshhh! Bapak kenapa sih hobi banget bikin saya kesel!” Sungut Selena menjambak rambutnya.


Seketika tawa Felix pecah begitu saja. Ia merasa menang sudah membuat Selena kesal setengah mati karena keusilannya.


“Ya sudah, saya pergi. Jangan keluar kemana pun tanpa seizin saya. Mengerti?” Ucap Felix memberi pesan.


“Iya” singkat Selena setengah linglung.


Felix pun menutup kembali pintu apartemennya dan berlalu pergi meninggalkan Selena.


Sepeninggal Felix, Selena langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk milik Felix.


“Dia kenapa sih? Seperti bukan Pak Felix yang aku kenal, sebentar-sebentar dingin. Sebentar-sebentar perhatian. Dan apa tadi? Dia tertawa dengan lantangnya? Baru kali ini aku melihatnya tertawa lepas seperti itu.. ternyata manis juga ya” puji Selena tanpa sadar mengakui jika dia memang sedang terpesona dengan bos nya sendiri.


“Tapi tunggu, kenapa dia harus ikut naik ke atas kalau dia saja mau pergi? Apa dia sengaja ingin mengantarku sampai ke dalam? Ah! Jangan terlalu pede kamu Selena” ucapnya menepis rasa narsis nya.


“Tapi kalau bukan mengantarku lalu apa? Dia saja tidak masuk ke dalam kan?”


“Aarghhhh! Memikirkan nya kepalaku jadi pusing” erang Selena frustasi.


Sementara saat ini Felix tengah dalam perjalanan menuju mansionnya.


Ralat, lebih tepatnya mansion kedua orangtuanya.


Mbil yang ia kendarai pun sampai di pelataran mansion keluarga Wilson.


“Selamat datang Tuan Muda” sapa penjaga mansion.


“Ya, Papa ada?” Tanya Felix pada penjaga itu.


“Ada Tuan, Nyonya juga berada di dalam bersama Tuan Besar” ucap penjaga itu.


“Ya terimakasih” ucap Felix datar.


Entah kenapa mendengar nama sang Mama membuat mood Felix menjadi buruk. Ia pun bergegas masuk ke dalam.


“Oh putraku kau datang!” Pekik Grace menyambut kedatangan putranya dengan gembira.


Dave menoleh ke arah Felix yang baru saja datang. Tak sia-sia ia membujuk Felix akhirnya anak itu menepati ucapannya. Felix memang lebih patuh pada Dave di banding Grace.


“Duduklah” titah Dave pada putranya.


Dengan sangat terpaksa akhirnya Felix duduk di hadapan keduanya.


“Bagaimana kabarmu nak?” Tanya Grace membuka obrolan.


“Seperti yang mama lihat” singkat Felix dengan nada dingin.


Grace menganggukkan kepalanya. “Syukurlah.. Mama berharap kau mau makan malam bersama kami malam ini” ucap Grace penuh harap.


“Iya, sekali-kali kita berkumpul. Sudah lama rasanya kita tidak makan bersama” ucap Dave menimpali. Felix hanya mengangguk singkat tanpa berniat menjawab.


“Felix ke atas dulu” pamitnya merasa tidak nyaman bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Lebih tepatnya sang Mama.


Grace dan Dave hanya bisa memandang punggung kekar putranya yang perlahan menjauh.


“Kau lihat didikan mu? Bahkan untuk berdekatan dengan kita saja dia enggan” ucap Grace dengan raut wajah muram.


“Aku rasa bukan kita, tapi dengan mu” sahut Dave santai.


Grace pun menatap wajah suaminya dengan tatapan jengkel. Seberapapun usahanya mencoba dekat dengan putranya nampaknya semua itu berakhir sia-sia.