Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 56 | Selena Hilang



Di tempatnya menunggu Hana dan para pengawal mengamati Selena yang hanya terlihat punggung nya saja, sebab posisi Johan berada tepat di belakang tiang lampu pemakaman.


Jarak pandang mereka juga cukup jauh, sehingga mereka tidak mengetahui keberadaan Johan.


Dering ponsel berbunyi membuat fokus Hana teralihkan.


Gadis itu segera merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya.


“Siapa?” Tanya salah satu pengawal


“Tuan Felix!” Ucap Hana dengan raut wajah tegang. Begitupun kedua pengawal itu merasakan degub jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Habislah mereka terkena bulan-bulanan Felix karena pergi tanpa sepengetahuan pria itu.


Hana buru-buru mengangkat panggilan itu.


“Halo Tuan” ucap Hana sedikit gugup.


“Apa yang sedang kau lakukan, kenapa lama sekali mengangkat telfon ku?! Dimana istriku?!” Tanya Felix mencecar sederet pertanyaan dengan nada tinggi. Kedua pengawal yang menyaksikan hal itu ikut berkeringat dingin.


“Maaf Tuan, kami sedang mengawasi Nona Selena, saat ini Nona berada di pemakaman mendiang kedua orangtuanya dan tidak ingin di ganggu siapapun” jawab Hana.


“Kenapa tidak bilang padaku?! Seharusnya aku yang mengantarnya kesana, terlalu beresiko bagi istriku keluar tanpa pengamanan yang ketat Hana! Kalian ini bodoh sekali!!” Maki Felix di balik sambungan telfon.


“Maafkan kami Tuan, Nona melarang kami untuk memberitahukan kepergiannya pada Tuan, Nona terlanjur kecewa dengan sikap Tuan” jawab gadis itu merasa bersalah.


“Terlepas apapun kesalahan ku seharusnya kau melakukan tugas mu dengan baik!! Jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku kau orang pertama yang akan aku hukum Hana!” Ucap Felix memberi peringatan padanya. Sedetik kemudian panggilan itu terputus.


Hana seketika terdiam kaku, ini memang salahnya terlalu menuruti permintaan konyol Selena yang sedang di landa kesedihan.


Sedangkan Felix yang kini tengah di landa cemas dan khawatir bergegas meluncur ke tempat dimana Selena berada. Hati dan pikirannya mendadak tidak tenang memikirkan istrinya yang pergi tanpa pamit.


Felix menginjak pedal gas nya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan padat pusat kota.


“Om janji akan mengantar pulang Selena kan?” Tanya Selena yang kini sudah berjalan menuju tempat mobil Johan terparkir, mobilnya berada di sisi utara pintu masuk pemakaman. Yang artinya sangat berlawanan dengan tempat pengawal Selena yang berjaga di sebelah selatan.


“Kau tenang saja, aku akan mengantarkan mu setelah kau mengetahui semuanya” ucap Johan tersenyum hangat ke arahnya.


Selena pun tersenyum membalas ucapan Johan. Ia yakin pria di sampingnya ini adalah sosok yang baik. Namun dalam hati Johan bersorak gembira, ternyata menghasut Selena tidak sesulit yang ia bayangkan. Bahkan dengan mudahnya Selena patuh terhadap apa yang pria itu katakan.


Entah kenapa tidak ada keraguan sedikitpun di hati Selena jika mengenai kedua orangtuanya. Wanita itu terlanjur antusias, mungkin karena masa kecilnya jarang sekali bercerita dengan Dominic dan Emily sebab pekerjaan keduanya memang benar-benar harus di rahasiakan dari siapapun termasuk Selena, putri semata wayangnya.


Mobil yang Selena tumpangi akhirnya melesat meninggalkan area pemakaman.


Tanpa Hana dan para pengawal sadari mereka mulai mendekati makam Dominic dan Emily. Berniat memanggil Selena karena sudah di pastikan Felix sebentar lagi akan tiba.


Namun yang mereka lihat makam itu kosong, tidak ada keberadaan Selena disana.


“Kemana perginya Nona?” Tanya kedua pengawal itu menoleh kanan kiri, hanya ada beberapa pengunjung yang jaraknya cukup jauh.


Hana ikut mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah.


“Tidak mungkin Nona tersesat kan? Tadi sebelum Tuan Felix menelfon Nona masih ada disini” ucap Hana merasa cemas tidak menemukan keberadaan Nona nya.


“Benar! Aku ingat betul Nona bersimpuh di depan makam. Atau jangan-jangan Nona di culik?!” Seru salah satu pengawal membuat yang lainnya panik termasuk Hana.


“Kalian jangan berbicara sembarangan! Sejak tadi tidak ada satu orang pun yang datang, bahkan Nona sendirian” elak Hana mencoba berpikir positif.


“Lalu kemana? Apa kita berpencar saja?” Usul salah satu pengawal.


“Sebaiknya begitu! Ayo!” Ucap Hana berjalan ke arah barat sedangkan dua pengawal lain berpencar ke arah timur dan selatan.


Bahkan mereka menanyakan ciri-ciri Selena pada para pengunjung yang bersimpangan. Namun nihil, tidak ada satupun yang mengetahui kemana Selena pergi.


Sekitar lima belas menit mereka menyisir area pemakaman dan hasilnya nihil, ketiga orang itu kembali berkumpul ke tempat dimana mobil mereka terparkir.


“Bagaimana ini?! Nona tidak di temukan, jangan-jangan memang benar ada yang menculiknya!” Ucap pengawal itu merasa kacau.


Felix keluar dengan membuka kasar pintu mobilnya menghampiri ketiganya.


“Dimana istriku?!” Tanya Felix dengan raut wajah datar.


“Ma-maafkan kami Tuan, Nona Selena tidak ada di tempatnya, kami sudah mencarinya ke semua tempat namun nihil” ucap Hana menunduk.


“Apa kamu bilang?! Selena tidak ada?!!” Tanya Felix menampakkan raut wajahnya yang memerah, jantungnya berhenti berdetak mendengar istrinya tidak ada di pemakaman. Lalu kemana perginya?


“Kami lalai Tuan, sebelum anda menelfon Nona masih duduk di tengah-tengah makam kedua orangtua Nona. Tapi setelah nya kami sudah tidak melihat keberadaan Nona lagi saat kami hendak menyusul Nona, maafkan kami Tuan” ucap Hana merasa bersalah.


Seketika darah Felix mendidih mendengar ucapan anak buahnya.


Plak!!


Plakk!!!


Plakk!!!


Ketiganya menerima tamparan keras dari Felix karena telah gagal melindungi istri dan calon anaknya.


“Sudah ku katakan berulang kali lakukan tugas kalian dengan baik!!! Tapi kalian seolah menganggap remeh perintah ku, hah?!!!” Sentak Felix menatap nyalang ketiganya bergantian.


Hana dan kedua pengawal itu hanya bisa pasrah dan menunduk. Mau bagaimanapun mereka tetap salah karena tidak mematuhi aturan yang Felix berikan. Mereka pasrah jika pada akhirnya akan di hukum.


“Bodohh!!” Umpat Felix berbalik meninggalkan mereka bertiga dan bergegas melajukan mobilnya meninggalkan pemakaman dengan kecepatan penuh.


“Kita ikuti mobil Tuan! Ayo cepat!!” Seru Hana masuk ke dalam mobil bersamaan dengan kedua pengawal.


Sedangkan Felix berhenti di sebuah pos yang berada di luar pintu masuk pemakaman.


“Permisi, bolehkah saya melihat rekaman Cctv? Istri saya hilang saat mengunjungi makam orang tuanya” ucap Felix meminta izin pada petugas yang berjaga.


“Boleh Tuan, mari ikut saya” ucap petugas itu mengajak Felix masuk ke dalam ruangan cctv.


Sampai di dalam Felix di persilahkan duduk di depan layar monitor sementara petugas itu menunjukkan rekaman Cctv.


“Pukul berapa istri anda hilang Tuan?” Tanya petugas itu menatap ke arah Felix.


“Sekitar satu jam yang lalu Pak,” ucap Felix di angguki oleh petugas.


“Sebentar saya cari” ucapnya.


Petugas itu pun memutar rekaman cctv yang ada area tempat Selena terakhir kali.


“Apa ini istri anda?” Tanya petugas itu menunjuk seorang wanita yang berjalan beriringan bersama laki-laki.


Rahang Felix mengeras menyaksikan hal itu.


“Coba di zoom wajah nya, saya ingin melihat wajah pria yang membawa kabur istri saya!” Pinta Felix.


Petugas itupun melakukan apa yang Felix minta.


“Johan?!!” Ucap Felix mengenali pria yang membawa Selena.


“Shit!!! Kenapa aku bisa kecolongan begini!” Umpat nya marah.


Tak butuh waktu lama Felix pun berpamitan dan meninggalkan area pemakaman.


Di dalam mobil, Hana bersama kedua pengawal mengintai gerak gerik Felix.


“Sebaiknya kita kembali ke markas dan memberitahukan ini ke yang lain!” Seru Hana di angguki oleh kedua pengawal itu.


Mobil yang mereka tumpangi pun pergi meninggalkan area pemakaman menuju ke markas.