Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 35 | Pelajaran untuk Grace



Mobil Felix terparkir di halaman mansion keluarga Wilson.


Pria itu masuk ke dalam mansion itu dengan pancaran penuh kemarahan. Para pengawal dan maid menatap bingung dengan raut wajah tuan mudanya.


“Dimana Mama?” Tanya Felix pada pengawal.


“Nyonya belum kembali Tuan” jawab pengawal itu.


“Papa?”


“Tuan Besar ada di ruang kerjanya Tuan” ucap pengawal itu memberitahu.


Felix menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju lantai dua tempat dimana Dave berada.


Tok tok!


Tak lama pintu ruangan itu pun terbuka.


“Felix? Kau sendirian? Mana Selena?” Tanya Dave beruntun.


“Dia ada di apartemen. Felix tidak ingin membawa Selena ke rumah ini sebelum Mama bersikap baik padanya” jawab Felix dengan rahang mengeras.


Dave mengerutkam dahinya bingung dengan ucapan putranya.


“Apa maksud mu? Papa tidak mengerti?” Tanya Dave bingung.


“Mama mendatangi Selena di apartemen bersama wanita itu Pa!” Ucap Felix bersungut-sungut.


“Siapa? Celline maksud mu?” Tebak Dave.


“Ya! Dan Mama mencaci maki Selena dengan kasar, apa papa tahu? Mama bahkan menampar kekasih ku hingga wajahnya lebam! Felix tidak terima itu!” Ucap Felix meluapkan emosinya yang ia tahan sejak tadi.


Dave seketika membola.


“Apa?!! Lalu dimana Mama mu?!” Tanya Dave dengan tatapan tajam nya.


“Felix tidak tau. Dia belum kembali” jawab Felix dingin.


“Tolong Papa didik istri Papa dengan baik, jangan sampai tindakannya merugikan orang lain. Akan sangat memalukan jika seorang istri konglomerat berlaku kasar pada sesama wanita” sarkas Felix membuang tatapannya ke sembarang arah.


“Papa sendiri sampai berbusa menasehati Mama mu. Sepertinya otaknya sudah di cuci oleh teman-teman sosialita nya!” Geram Dave jengah dengan tingkah laku Grace.


“Papa akan menelfon nya sekarang” ucap Dave meraih ponselnya di atas meja kerjanya.


Tut..tut..tut


Sedetik kemudian Grace mengangkat panggilan dari Dave.


Felix menyandarkan tubuhnya di sofa,


“Halo Pa?” Ucap Grace.


“Dimana kamu?!” Tanya Dave ketus.


“Aku sedang berada di mall bersama calon menantu kita, Pa”


“Tidak ada calon menantu! Cepat pulang!” Sentak Dave muak dengan tingkah Grace.


“Tapi aku be..” belum sempat Grace melanjutkan kalimatnya tiba-tiba Dave memotong ucapannya.


“Pulang sekarang!!” Bentak Dave murka.


Tut!


Dave melemparkan ponselnya ke arah sofa seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing.


Ia pun duduk di kursi kebesarannya sambil menetralkan emosinya.


Sementara di dalam Mall Grace di buat jengkel dengan panggilan Dave barusan. Seketika moodnya rusak karena gagal cuci mata bersama Celline.


“Kenapa aunty?” Tanya Celline memilah-milah dress di salah satu butik ternama.


“Celline, aunty minta maaf sepertinya kita batal belanja. Uncle Dave tiba-tiba menelfon meminta aunty untuk pulang. Tidak apa-apa kan?” Tanya Grace merasa tidak enak.


“Oh! It’s oke aunty, tidak masalah. Kita bisa berbelanja lain waktu” jawab Celline dengan senyuman terpaksa.


“Ah kamu memang yang terbaik! Aunty janji lain kali aunty akan mentraktir mu berbelanja sepuasnya, okay?” Ucap Grace antusias.


“Iya aunty” jawab Celline tersenyum manis.


Sedetik kemudian wajahnya berubah masam.


‘Gagal sudah rencana hari ini! Padahal tangan ku sudah gatal ingin memakai barang-barang mewah itu!’ Ucap Celline mendengus dalam hati.


“Ayo kita pergi” ajak Grace menggandeng tangan Celline keluar dari mall itu.


Lima belas menit kemudian mobil yang di kendarai Celline tiba di halaman mansion keluarga Wilson.


Grace pun keluar dari mobil hingga tatapan matanya tertuju pada mobil milik Felix yang terparkir rapi di halaman.


“Wah sepertinya akan ada kejutan! Celline lihat siapa yang datang!” Seru Grace dengan tatapan berbinar.


Celline yang heran dengan tingkah Grace pun penasaran lalu ia keluar dari mobilnya.


“Ada apa aunty?” Tanya Celline kepo.


“Lihat! Itu mobil Felix! Sepertinya Uncle sengaja ingin membuat kejutan untuk mu” ucap Grace penuh binar.


Seketika Celline mengembangkan senyumnya.


“Benarkah aunty? Wahh aku tidak menyangka ternyata uncle orangnya penuh kejutan!” Timpal Celline merasa senang.


Tidak apa tidak jadi belanja, rasa kesalnya menguap begitu saja karena ucapan Grace.


“Iya. Ayo kita masuk ke dalam! Pasti mereka sudah menunggu sejak tadi!” Ajak Grace.


Celline mengangguk dan berjalan mengikuti Grace.


“Dimana Tuan dan Felix?” Tanya Grace sesampainya di dalam mansion.


“Ada di dalam ruang kerja Tuan Besar, Nyonya. Anda sudah di tunggu” jawab pengawal itu sopan.


“Baiklah” ucap Grace melanjutkan langkahnya di ikuti Celline menuju lantai dua.


“Sepertinya sangat serius sampai-sampai membicarakan di ruang kerja. Ah! Jangan-jangan ini urusan pertunangan kalian!” Seru Grace dengan percaya dirinya.


“Semoga saja ucapan aunty benar” sahut Celline tersenyum lebar.


Grace mengangguk gembira.


Sesampainya di depan ruangan Dave, Grace buru-buru membuka handel pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


“Hai Pa! Oh hai sayang, akhirnya kau datang! Mama tau pasti kalian sedang membuat kejutan kan? Iya kan Celline?” Ucap Grace penuh binar.


“Iya aunty” ucap Celline tersenyum anggun.


Sementara Dave dan Felix menatap datar keduanya. Kedua pria itu menampakkan ekspresi tak ramahnya melihat kedatangan Celline.


Apa-apaan ini? Kenapa malah membawa wanita itu? Pikir Felix kesal.


“Ya! Akan ada kejutan untukmu” sahut Dave dengan tatapan dinginnya.


“Dan kamu, tolong tinggalkan kami bertiga. Ini masalah keluarga, tidak sepantasnya orang lain masuk ke dalam urusan keluarga” ucap Dave pada Celline terdengar dingin.


“Loh? Kenapa Pa? Celline bukan orang lain! Dia calon menantu kita!” Seru Grace tidak terima.


“Berhenti membual! Aku muak mendengarnya!” Sentak Dave menatap tajam Grace.


Celline membeku di tempatnya,


‘Ternyata Papa nya Felix mengerikan sekali!’ Batin Celline dalam hati.


“Hei! Kau tidak tuli kan?!” Ucap Felix pada Celline ketus.


“Ah, baiklah. Aunty aku pulang dulu, lain kali kita bertemu lagi” ucap Celline berpamitan pada Grace.


“Celline tunggu..!” Ucap Grace berniat menahan kepergiannya namun tidak di gubris oleh Celline.


Wanita itu buru-buru keluar dari ruangan itu karena tidak tahan dengan tatapan intimidasi kedua pria berbeda usia itu.


Tinggal lah Grace sendirian, ia merasa hawa di ruangan itu begitu sesak.


“Duduk!” Titah Dave pada Grace agar duduk di kursi hadapannya.


“Sebenarnya ada apa?” Tanya Grace bingung.


“Ku bilang duduk!!” Tekan Dave menatap tajam Grace.


Wanita paruh baya itu akhirnya mau tak mau menuruti perintah suaminya.


“Katakan dengan jujur, darimana saja kamu?” Tanya Dave menginterogasi.


“Sudah ku katakan aku dari mall bersama Celline” jawab Grace sekenanya.


“Jangan berbohong padaku, sebelum itu kau kemana?!” Cecar Dave menahan amarahnya.


“Aku tidak pergi kemanapun! Aku hanya keluar makan dan berbelanja, tapi tidak jadi! Memang kenapa sih?! Kamu aneh banget deh Pa!” Ucap Grace merasa kesal dengan pertanyaan suaminya.


“Lebih baik Mama berkata jujur sebelum habis kesabaran ku” ucap Felix tiba-tiba.


Grace menoleh pada putranya,


“Apa maksud mu Felix? Mama sama sekali tidak mengerti?!” Tanya Grace mengernyitkan dahinya.


“Jangan banyak berkelit! Katakan padaku kenapa kau mendatangi apartemen Felix?!!” Sentak Dave mulai terpancing emosi.


Grace terjingkat kaget mendengar teriakan Dave.


Terlihat raut wajahnya sangat murka kali ini.


“Memangnya kenapa? Salah jika seorang ibu mengunjungi apartemen putranya sendiri?!” Ucap Grace membela diri.


“Tidak salah sama sekali! Tapi kesalahan Mama adalah masuk tanpa seizin ku dan membuat kekacauan di apartemen Felix!!” Bentak Felix menatap nyalang Grace.


Grace terkejut dengan penuturan Felix, ternyata Felix tau kedatangannya bersama Celline.


“Ohh jadi gadis tidak tahu diri itu sudah berani mengadu rupanya?!” Ucap Grace membalas perkataan Felix sengit.


“Jaga ucapan Mama! Mama yang seharusnya tahu diri! Bahkan Selena sama sekali tidak mengakui kalau ini seratus persen kesalahan Mama! Padahal Mama sudah berani menamparnya!” Teriak Felix emosi.


“Jangan Mama pikir aku tidak tahu! Semua yang Mama lakukan pada Selena Felix mengetahuinya! Mama sudah salah menganggap remeh peringatan ku selama ini.” Ucap Felix tersenyum miring.


“Berapa kali dia menyerahkan tubuhnya padamu sampai-sampai kau rela membela nyaa habis-habisan di depan Mama Felix?!!” Sentak Grace ikut terbawa emosi.


Felix yang mendengar hinaan dari mulut Grace mengetatkan rahangnya.


Sedetik kemudian..


Plakkk!!!!


Satu tamparan Dave mendarat di wajah Grace.


“Kau sudah benar-benar keterlaluan Grace! Mulut mu seperti tidak pernah di didik! Aku malu sebagai suami mu!” Bentak Dave yang sudah benar-benar kehabisan rasa sabarnya.


“Oh.. jadi Papa juga berpihak pada gadis sialan itu? Haha aku tidak menyangka seorang Dave rela melukai istrinya demi gadis tidak jelas asal usulnya itu!” Ucap Grace seraya memegang pipinya yang terasa panas dan perih akibat tamparan Dave.


“Masih berani kau berkata kotor? Baiklah! Akan ku tunjukkan siapa gadis itu sebenarnya. Dan apakah setelah ini kau masih bisa menghina nya setelah kau mengetahui asal usulnya” ucal Dave merasa di tantang.


Felix sejak tadi hanya bisa menyimak meskipun urat-uratnya hampir keluar karena kehabisan kesabaran. Walau bagaimanapun Grace menjadi urusan Papa nya. Ia tidak berhak berlaku kasar pada ibunya.


“Kau tahu? Selena adalah putri kandung Dominic dan Emily. Detektif yang aku sewa untuk menuntaskan kasus korupsi di perusahaan delapan tahun lalu” ucap Dave menatap tajam netra Grace. Ia ingin tahu bagaimana ekspresi wanita itu.


Grace sempat terkejut dengan penuturan Dave,


‘Jadi dia anak dari Dominic? Apa aku tidak salah dengar?’ Tanya Grace dalam hati.


“Dia adalah putri dari penolong keluarga kita! Tapi kau seenaknya saja memperlakukan dia tanpa belas kasih! Seharusnya kau mengenalinya lebih jauh agar kau paham jika tidak seharusnya kau berbuat kasar padanya!! Dia menjadi gadis sebatang kara karena keluarga kita Grace!!” Sentak Dave emosi.


“Lalu apa peduli ku?! Itu sudah konsekuensi dan sebanding dengan profesi nya?! Untuk apa menyesali? Dia juga menerima bayaran yang tidak sedikit dari misi itu!” Ucap Grace masih tidak peduli dengan fakta sebenarnya.


Dave menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan otak Grace.


“Dimana rasa empati mu?! Dimana otak mu? Hah?!!! Tidak pantas kau berbicara seperti itu! Menjijikkan!!” Maki Dave pada Grace.


Grace menatap sengit suaminya yang tengah terbakar emosi itu. Wanita itu sama seperti batu, susah di hancurkan ego nya.


“Sudah lah Pa, percuma mau kepala Papa sampai meledak pun tidak akan berubah isi otak nya. Neri saja pelajaran. Aku tidak mau kejadian ini terulang kembali. Dan aku akan segera pindah dari apartemen itu. Sudah tidak aman lagi untuk aku dan Selena tinggali. Aku pergi” ucap Felix berlalu keluar dari ruangan itu.


Dave hanya memandangi kepergian Felix dengan tatapan nanar.


Pandangannya beralih pada Grace yang enggan menatap dirinya.


“Mulai hari ini semua akses kartu debit mu aku blokir! Tidak ada fasilitas dan kemewahan lagi sampai kau berubah dan menyadari perbuatan mu” ucap Dave dingin.


Grace memelototkan bola matanya terkejut.


“Apa apaan ini?!! Tidak!! Tidak bisa begini Pa!!!” Teriak Grace tidak terima.


Dave tidak mempedulikan teriakan istrinya. Pria itu beranjak dari kursinya berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Grace sendirian.