Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 62 | Aksi Grace



“Aunty! Apa yang kau lakukan?!” Ucap Celline memekik seraya meringis menahan perih akibat tamparan Grace.


Grace tersenyum getir lalu maju selangkah mendekati wanita yang selama ini ia banggakan di hadapan publik. Dirinya begitu bodoh tidak menyelidiki latar belakang sosok Celline yang selama ini terlihat baik reputasinya di muka umum. Bisa-bisanya dia tertipu wajah polos penuh manipulatif wanita itu.


Tangan Grace mencengkeram kedua sisi wajah Celline kuat-kuat hingga membuat wanita itu mendongak menatap wajah Grace dengan tatapan yang tidak bersahabat.


“Aku salah menilai mu Celline, aku salah!” Ucap Grace penuh tekanan.


“Kau tahu hal apa yang membuatku menyesal seumur hidupku?” Tanya Grace dengan tatapan bengisnya.


“Aku menyesal pernah mengenal mu! Wanita ******!” Teriak Grace melemparkan wajah Celline sembarang arah.


“Awwsshh!” Ringisnya terhuyung ke belakang.


“Tunggu dulu! Apa yang aunty katakan?!” Tanya Celline berusaha mencerna segala ucapan Grace.


“Masih belum mengerti rupanya?!”


“Aku sungguh jijik melihat mu kali ini, lihat apa yang kau lakukan” tunjuk Grace menyerahkan ponsel di hadapan Celline hingga wanita malang itu memelotot lebar.


“Da-dari mana aunty mendapatkan itu?! Itu bukan aku aunty, semua yang ada di dalam foto itu hanya rekayasa!” Elak Celline.


“Cih! Kau pikir aku percaya padamu? Aku lebih mempercayai putraku dan orang-orang ku!” Seru Grace menatap benci ke arahnya membuat Celline mati kutu seketika.


Hilang sudah harapannya mendapatkan Felix, jangankan memiliki, untuk sekedar bebas dari hukuman saja rasanya mustahil. Di tambah lagi Grace sudah mengetahui segala akal busuknya yang selama ini ia susun bersama Robert.


“Aunty, ku mohon lepaskan aku. Mari kita singkirkan wanita itu dari sisi Felix. Aku yakin aunty masih sangat membenci wanita itu kan?” Bujuk Celline mencoba mencuci otak Grace, namun sayang, sepertinya Grace sudah kebal dengan rayuan Celline.


“Apa kau bilang? Setelah semua yang kau lakukan? Berkhianat di belakang ku padahal kau tahu Robert adalah musuh bebuyutan keluarga besarku! Kau masih bisa meracuni ku dengan otak busuk mu itu! Hah?!!!” Sentak Grace menatap nyalang wanita itu hingga ia terjingkat kaget.


“Aku memang tidak menyukai Selena, tapi bukan berarti aku membencinya! Dan aku tidak mungkin membenci wanita yang telah mengandung darah daging putraku sendiri!!!!” Ucap Grace marah.


“A-apa??!! Siapa yang aunty maksud? Bukan wanita itu kan?!” Tanya Celline berusaha menolak nalurinya.


“Ya! Wanita itu memang Selena! Dan kau!” Tunjuknya pada wajah pucat pasi itu.


“Kau sudah membunuh calon cucu ku!! Kau yang menyebabkan cucu ku pergi dan tidak selamat lagi!! Keparat kauu ******!!!” Raung Grace menjambak rambut Celline brutal. Dengan tenaga yang penuh Grace menyiksanya tanpa ampun hingga Celline tak berdaya menghadapi kekuatan Grace yang di ambang batas.


“Mati kau!! Matiiiii!!!” Grace berteriak seperti orang kesetanan, bahkan Celline tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perlawanan.


“Nyonya! Hentikan, anda bisa membunuhnya!” Ujar seorang pengawal menghampiri Grace yang hilang kendali.


“Biarkan saja! Dia sudah membuat cucu ku pergi! Dan kau harus membayarnya dengan nyawamu!” Teriak Grace enggan melepaskan tangannya dari rambut Celline, sampai rambut panjang nan tebal itu terlepas dari kulitnya.


“Aaakkhhh sakiiiitt!” Rintih Celline terdengar pilu.


“Rasakan!!” Ucap Grace semakin menguatkan tarikannya.


Pengawal yang mencoba memisahkan Grace dari Celline sampai berkeringat dingin. Baru kali ini melihat kekuatan Grace yang di luar batas, pria itu mengkode temannya untuk menghubungi Dave.


“Nyonya cukup!” Bentak pengawal itu, akhirnya pegangan tangan Grace pun mengendur.


“Kau berani membentak ku huh?!” Ucap Grace sengit.


“Maaf Nyonya, jika Nona Celline sampai meninggal sebelum sidang Robert di tetapkan maka kita akan kehilangan saksi kunci dalang kebusukan Robert, Tuan Besar yang mengatakan hal itu pada kami” terang pengawal itu dengan nafas ngos-ngosan.


Dave memang berhasil memukul telak Robert hingga terbukti dinyatakan bersalah di persidangan sebelumnya, namun Dave masih belum puas dengan tuntutan hukum yang menjerat pria itu. Dave ingin Robert di hukum mati agar dirinya tidak perlu repot-menyingkirkan Robert menggunakan tangannya. Ia tidak mau keluarga dan keturunannya di cap sebagai pembunuh mengingat semua kolega-koleganya saling mengenal siapa Robert. Itu akan berdampak besar pada citra bersih keluarga Wilson.


“Cih! Untuk apa memelihara seekor ****** disini! Mengotori tempat!” Ketus Grace pergi meninggalkan markas dengan hati dan perasaan yang dongkol. Belum puas rasanya menyiksa perempuan itu.


“Tak apalah, lain kali aku akan bermain-main lagi. Sepertinya ini akan menjadi hobi baru ku untuk melampiaskan semua kekesalan ku” ucap Grace menancapkan gas dengan kecepatan tinggi.


Entah kemana tujuan wanita paruh baya itu kali ini.


Di rumah sakit.


“Papa keluar dulu” pamitnya pada Felix dan Selena yang tengah asik berceloteh.


“Tuan, Nyonya Besar murka. Baru saja Nyonya menyiksa Nona Celline mmebabi buta, untung saja kami berhasil menghentikannya” adu pengawal yang menghubungi Dave.


“Tapi wanita itu masih hidup kan?” Tanya Dave


“Masih Tuan, hanya saja keadaannya kritis” jelasnya.


“Rawat sewajarnya, asal jangan mati dulu sampai tiga hari ke depan” ucap Dave terdengar absurd.


“Bisa-bisanya Tuan Besar menarik ulur nyawa sedeorang!” Gumam pengawal itu bergidik ngeri.


Dave memutuskan untuk kembali ke mansion guna menemui Grace.


“Tetap berjaga disini Mario, jangan pernah beranjak dari tempatmu meskipun Dom sudah kembali” ucap Dave memberi pesan pada Mario.


“Lalu bagaimana dengan anda Tuan?” Tanya Mario


“Jangan pikirkan aku, aku akan bersama pengawal lain” ucapnya.


“Dan satu lagi, jika Felix bertanya katakan aku pulang istirahat” imbuh Dave sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.


Mario pun mengangguk patuh.


“Hubby, bagaimana keadaan Uncle Charlos?” Tanya Selena mendongak menatap suaminya yang tengah memeluknya.


“Dia baik-baik saja, luka di bahunya sudah di tangani dokter. Tinggal masa pemulihannya saja” ucap Felix mengusap puncak kepala wanita itu penuh kasih sayang. Sekali lagi, Felix menyesal karena terlambat menunjukkan kebusukan Celline pada istrinya itu. Sehingga membuat Selena harus kehilangan janin yang baru tumbuh di rahimnya.


Selena menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Kau mau menjenguknya?” Tanya Felix menundukkan pandangannya.


“Untuk saat ini tidak, aku sedang ingin bermanja-manja dengan mu. Lagi pula tubuh ku rasanya lemas sekali hubby” rengek Selena pada pria itu membuatnya mengulum senyum gemas.


“Iya, baiklah aku akan menemani mu disini” ucap Felix semakin mengeratkan pelukannya.


Selena yang terlanjur nyaman pun menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. Rasanya ia merindukan momen-momen seperti ini setelah beberapa hari ia merajuk pada suaminya.


“Hubby..” panggil Selena.


“Hmm?”


“Kau tidak keberatan jika nantinya aku tidak bisa memberikan keturunan lagi?” Tanya Selena tiba-tiba membuat Felix mengerutkan keningnya.


“Apa maksud mu sayang? Kau masih bisa hamil lagi bahkan seberapa banyak yang kau inginkan. Tidak ada masalah pada kandungan mu” ucap Felix menyanggah ucapan Selena.


“Ya, aku tahu itu. Hanya seandainya saja” ucap Selena


“Tidak ada andai berandai. Tuhan tidak akan membiarkan itu terjadi, buktinya sekarang kau baik-baik saja. Sudahlah jangan berbicara melantur seperti itu, aku tidak suka honey” ucap Felix sedikit kesal.


“Ya, i'm sorry” ucap Selena terdengar lirih. Felix yang menyadari ucapannya sedikit kasar pun berusaha mencoba mencairkan suasana.


“Bagaimana kalau setelah kau sembuh kita bulan madu?” Usul Felix.


“Bulan madu? Kemana?” Tanya Selena mendongak.


“Hmm.. untuk tempatnya aku tidak bisa memberi tahu sekarang. Ini kejutan” ucap Felix membuat Selena mengerucutkan bibirnya sebal.


Cupp!! Cupp!!


Felix yang gemas tidak tahan untuk melahap bibir ranum itu. Lama kelamaan kecupan kecil itu menjadi *******-*******.


Cukup lama mereka melakukannya, jika saja Selena tidak kehabisan nafas maka Felix akan semakin gencar melakukan hal yang lebih.


“Hubby kau keterlaluan!” Seru Selena kesal karena bibirnya sedikit bengkak akibat serangan Felix.


Pria itu hanya terkekeh merasa tidak bersalah.