Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 21 | Tinggal menjawab iya, apa susahnya?



Felix berjalan tegap mendekati Selena dan Grace.


Pria itu membawakan makan siang Selena dan meletakkan nya di meja.


“Felix, benarkah yang dia katakan barusan? Dia kekasihmu?” Tanya Grace menatap tak percaya pada putranya.


“Mama sudah jelas mendengarnya, untuk apa lagi Mama tanyakan?” Ucap Felix dingin.


“Felix kamu tau kan Mama sudah menyiapkan wanita pendamping untuk mu, dia jauh lebih dari wanita ini” ucap Grace dengan kekehnya.


“Stop Ma! Felix tidak peduli! Felix akan tetap pada pilihan Felix! Jangan pernah lagi ikut campur dengan urusan pribadi ku!” Tekan Felix menatap nyalang Grace.


Grace menggeleng tak habis pikir.


“Apa kelebihan dia Felix? Mama sudah menyiapkan wanita karir yang baik untukmu kau malah memilih gadis yang tidak jelas asal usulnya” cecar Grace masih tak terima.


“Jaga ucapan Mama! Dia gadis yang baik! Felix mencintainya dan kita sepakat akan menikah setelah semua urusan di kantor selesai! Mama tidak punya hak mengatur kehidupan Felix” sentak Felix tak terima Selena di rendahkan.


Selena yang mendengar penuturan Felix pun terdiam menganga, ia tak percaya dengan ucapan Felix yang mengatakan pria itu mencintainya.


'Ya tuhan apakah ini hanya bagian dari akting atau benar kenyataan?’ Tanya Selena dalam hati.


“Baik? Dia saja tidak punya sopan santun terhadap Mama kau masih bisa mengatakan dia baik?! Oh my god Felix buka mata kamu?!!” Seru Grace menatap heran putranya.


“Bagian mana Selena tidak sopan? Sejak tadi Selena menjawab pertanyaan Mama dengan tutur kata yang baik! Bahkan Mama yang seolah menganggap remeh Selena! Jangan Mama fikir Felix tidak melihat semua kelakuan Mama” ucap Felix dengan sorot mata tajam.


Hal itu seketik membuat Grace bungkam.


Grace merasa Felix sudah jauh berubah dari yang sebelumnya.


‘Apa? Jadi ternyata Felix mendengar semua pembicaraan ku sejak tadi?! Oh astaga malu sekali!’ Pekik Selena dalam hati.


“Jika tidak ada lagi hal yang penting tolong Mama pergi” usir Felix dengan nada datar.


“Kau mengusir Mama Felix? Demi wanita ini?” Tunjuk Grace pada Selena.


Seketika membuat Selena merasa serba salah berada di antara kedua anak dan ibu itu.


“Turunkan tangan Mama! Felix minta tolong, tinggalkan apartemen Felix sekarang juga” tekan Felix.


“Cih! Puas kau!” Decih Grace pada Selena.


“Maaf Nyonya” ucap Selena menunduk sopan.


“Jangan pernah menundukkan pandangan mu Selena!” Tegur Felix


Grace yang mendengar hal itu pun merasa hatinya terbakar. Bisa-bisanya putranya lebih memilih wanita itu dibanding dirinya yang notabene adalah ibunya.


Grace menghentakkan kakinya keluar dari apartemen Felix. Mood nya sudah benar-benar hancur melihat keberadaan Selena di apartemen putranya.


“Lihat saja! Aku tidak akan membiarkan wanita itu menguasai putra ku!” Ucap Grace menggeram marah di setiap langkahnya.


Sepeninggal Grace, Felix pun mendekati Selena yang terdiam merenung.


“Kau tidak apa-apa Selena?” Tanya Felix memegang kedua bahu gadis itu.


Selena pun mendongakkan pandangannya. Tatapan matanya tertuju pada wajah tampan Felix.


“I'm fine. Saya hanya tidak menyangka saja kedatangan orang tua Bapak kemari” jawab Selena tersenyum singkat.


Jujur saja otaknya masih mencerna semua perkataan Felix.


“Ya, sebenarnya aku sendiri juga terkejut dengan kedatangan Mama ku tiba-tiba. Biasanya dia selalu mendatangi ku saat berada di kantor” ucap Felix


Selena hanya mengangguk tanpa menimpali ucapan Felix, karena dirinya juga tidak tahu apa alasan Grace sampai datang ke apartemen pria itu.


“Ini makan siang mu, aku sengaja membawanya sendiri karena aku ingin memastikan keadaan mu” ucap Felix meletakkan box makan siang di hadapan Selena.


“Terimakasih, seharusnya Bapak tidak perlu repot-repot. Ini terlalu berlebihan Pak” ucap Selena sungkan.


“Selena, boleh aku minta sesuatu padamu?” Tanya Felix menatap netra Selena.


“Apa?” Tanya Selena mengerutkan dahinya.


“Tolong jangan terlalu formal jika kita sedang berdua, sangat tidak nyaman sekali kedengarannya” ucap Felix dengan sungguh-sungguh.


“Lalu saya harus memanggil Bapak dengan sebutan apa?” Tanya Selena.


“Panggil nama saja” jawab Felix seraya mengunyah snack nya.


“Tapi itu terdengar sangat tidak sopan sekali” ucap Selena berpikir.


“Terserah, sayang,honey,atau beib pun boleh, sesuka hatimu” pancing Felix menatap Selena dengan senyuman miringnya.


“Jangan mengada-ada ya Pak, kita ini bos dan sekretaris bukan sepasang kekasih” sahut Selena mendelik.


Seketika Felix menyunggingkan senyumannya.


“Ide mu bagus juga. Bagaimana kalau kita menjadi pasangan kekasih?” Tanya Felix menaik turunkan alisnya.


Selena melongo tak percaya,


“Justru itu kalau kamu segera memutuskan hubungan mu dengan pria itu maka kita akan segera meresmikan hubungan ini” ucap Felix dengan santainya.


“Pak, tolong jangan ngelantur ah. Bercanda nya nggak lucu banget” jawab Selena tak habis fikir.


“Saya tidak sedang bercanda Selena, saya serius dengan ucapan saya,” ucap Felix menjeda kalimatnya.


“termasuk mengajak mu menikah” imbuh Felix menatap Selena dengan tatapan serius.


“A-apa? Jadi ucapan Bapak sejak tadi itu benar-benar niat dari hati?” Tanya Selena menganga lebar.


Felix mengangguk pasti.


“Tidak mungkin! Bapak bercanda kan? Iya pasti hanya bercanda hahaha” ucap Selena tertawa sumbang. Otaknya sulit menerima kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Felix.


“Selena lihat aku” ucap Felix menangkup kedua pipi gadis itu agar menatapnya.


“Apa aku terlihat bercanda?” Tanya Felix kemudian.


Selena mengedipkan matanya lucu, membuat Felix tidak tahan ingin menerkam gadis itu.


“Jawab Selena” geram Felix.


“T-tapi bagaimana mungkin kita menikah jika kita saja tidak saling mencintai” ucap Selena terbata.


“Bukan tidak! Tapi belum Selena, lebih tepatnya kamu yang belum mencintai saya” tekan Felix menatap netra Selena tanpa berkedip begitupun Selena.


“Maksud Bapak?” tanya Selena tak mengerti,


Felix menghembuskan nafasnya kasar. Sulit sekali menyadarkan perasaan gadis itu.


“Saya sudah lebih dulu mencintai kamu Selena” ungkap Felix dengan suara beratnya.


Selena membekap mulutnya tak percaya.


Ia menggeleng pelan seraya menepuk-nepuk pipinya.


“Apa aku sedang bermimpi?” Gumam Selena cengo membuat Felix menepuk jidatnya pelan.


“Tolong cubit saya Pak!” Pinta Selena.


“Ini nyata Selena, kamu tidak sedang tidur” seloroh Felix merasa heran dengan tingkah absurd gadis itu.


Selena yang tak percaya dengan ucapan Felix pun mencubit pipinya sendiri.


“Aww!! Sakit..” lirihnya.


“Jadi saya tidak sedang bermimpi? Ini nyata?!” Cecar Selena


Felix berdecak kesal mendengar ucapan Selena.


“Jadi bagaimana?” Tanya Felix menatap Selena penuh harap.


“Tunggu dulu Pak,..”


“Selena please! Call my name” potong Felix merasa jengah dengan sebutan itu.


“Oke, baik Fe-felix” ucap Selena sedikit ragu.


“Itu lebih enak di dengar” sahut Felix.


Selena memutar bola matanya malas.


“Tidak bisa secepat ini, kamu tahu bagaimana hubungan ku saat ini. Dan kamu sendiri sudah di jodohkan dengan wanita pilihan Mama kamu, situasi kita cukup rumit Felix” terang Selena merasa pusing.


“Mengenai hubungan mu itu soal gampang, tinggalkan saja pria itu, beres. Soal perjodohan aku tidak peduli, tidak ada yang bisa mengatur kehidupan ku kecuali aku sendiri Selena, kita bisa bersama kapanpun kita mau tanpa satupun orang yang bisa menghalangi, kamu mengerti kan?” Ucap Felix menatap serius gadis itu.


“Entahlah aku pusing memikirkannya” jawab Selena memijat pelipisnya.


“Kenapa pusing? Kamu tinggal menjawab iya saja apa susahnya sih?” Cecar Felix


“Felix, tidak semudah itu” ucap Selena menatap pria itu. Selena mulai nyaman dengan panggilan itu, terdengar tidak ada kecanggungan lagi.


“Serahkan semua padaku, maka apa yang kau pikir sulit maka semuanya menjadi mudah” ucap Felix dengan entengnya.


“Astaga” keluh Selena menyenderkan bahunya ke sofa.


“Tidak ada jawaban aku anggap kamu setuju” ujar Felix masa bodoh.


“Terserah, aku lapar” seru Selena membuka lunch box nya.


Senyum devil Felix terbit seketika mendengar ucapan Selena.


Hatinya berbunga bunga karena ia berhasil memgungkapkan semua perasaan yang ia pendam sendiri selama ini.


“Mau ku suapi?” Tawar Felix pada gadis itu.


“No, aku bukan anak kecil Felix” tolak Selena memasukkan makanannya ke dalam mulut.


Felix hanya tersenyum memandangi Selena yang tengah sibuk mengunyah.