
Sore hari di jam pulang kantor, Juan sudah sampai di depan gedung perusahaan Wilson Corp. Pria itu sengaja menunggu Selena ingin menjemput gadis itu karena rasa bersalah nya masih terus menggerogoti hatinya.
Semua karyawan satu persatu keluar dari area gedung megah itu, namun Juan masih belum saja melihat keberadaan Selena.
Pria itupun turun dari mobil dan mendekati pos penjaga.
“Selamat sore Pak, apakah salah satu staf bernama Selena sudah pulang?” Tanya Juan pada security berbadan besar tinggi tegap itu.
“Ibu Selena?” Tanya Security itu memastikan
“Ah iya benar” jawab Juan sekenanya.
“Anda siapanya?” Tanya Security
“Saya kekasihnya, kedatangan saya kemari ingin menjemput kekasih saya” ucap Juan.
Security itupun mengangguk paham.
“Maaf sejak tadi saya tidak melihat Ibu Selena, mungkin saja beliau sudah keluar duluan” ucap Security itu sekenanya, pasalnya dia sendiri tidak tau sebab biasanya Selena selalu bersama bos nya.
Dan Felix keluar kantor sejak jam makan siang, pria itu memang sengaja tidak kembali ke kantor.
Juan pun menengok ke dalam perusahaan memang tidak ada lagi staf yang keluar, area perusahaan itu nampak sepi.
“Kalau begitu terimakasih Pak, saya permisi” pamit Juan
Security itu hanya mengangguk tersenyum.
‘Bagaimana jika dia tahu kalau Bu Selena adalah wanita spesial Bos? Ckck, wanita cantik memang meresahkan’ ucap Security itu dalam hati.
Juan melajukan mobilnya meninggalkan gedung Wilson Corp.
“Dimana kamu Selena? Kenapa nomor mu tidak aktif dari kemarin” ucap Juan resah.
“Mungkin saja dia sudah pulang ke rumahnya kan?”
“Ya, sebaiknya aku kesana saja” ucap Juan menancapkan pedal gas menuju rumah Selena.
Sementara di dalam kamarnya Felix sedang berbicara dengan seseorang di balik sambungan telpon.
“Kau sudah mengetahui apa tujuan nya?” Tanya Felix
“Dia sengaja menaruh mata-mata di perusahaan anda Tuan Felix. Untuk tujuan pastinya yang jelas dia ingin membuat bangkrut perusahaan anda secara perlahan” terang Roy.
“Cih! Coba saja kalau bisa” decih Felix tersenyum remeh.
“Pantau terus gerak gerik nya, aku akan melumpuhkan kaki tangannya yang ada di dalam perusahaan ku besok!” Ucap Felix dengan sorot mata memancarkan dendam.
“Baik Tuan Felix” ucap Roy.
Tak lama panggilan pun terputus.
Felix melemparkan ponselnya ke atas ranjang.
“Sudah kedua kalinya kau mencari masalah dengan ku, kali ini akan ku pastikan kau hancur sehancur-hancurnya Robert!” Ucap Felix mengatupkan rahangnya dengan tangan terkepal.
Tok! Tok!
Seketika Felix menoleh ke arah pintu.
Pria itu berjalan meraih handle pintu,
Cklek!
“Selena? Kenapa?” Tanya Felix dengan nafas masih naik turun berusaha meredam emosi nya.
“Kau yang kenapa? Seperti habis di kejar hantu” celetuk Selena.
“Tidak apa-apa. Mau kemana rapi begini?” Tanya Felix menelisik penampilan Selena yang nampak cantik dengan kaos dan celana jeans.
“Aku ingin keluar sebentar membeli keperluan dapur dan yang lainnya” ucap Selena meminta izin.
“Tunggu dulu, aku ganti baju sebentar” ucap Felix hendak membalikkan badannya namun tangannya sudah di cekal oleh Selena.
“Tidak perlu, aku pergi sendiri saja” ucap Selena melarang Felix ikut.
“Kau mau naik apa? Aku tidak mengizinkan mu naik kendaraan umum. Terlalu beresiko” ucap Felix.
“Ayolah Felix, aku bukan anak kecil lagi yang setiap keluar harus kau khawatirkan” keluh Selena.
“Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu Selena, menurut atau tidak sama sekali?!” Tekan Felix dengan suara beratnya.
Selena mendesah pasrah. Padahal niatnya hanya ingin berbelanja saja, kenapa pria ini mendadak posesif?
“Terserahmu saja” ucap Selena berbalik badan hendak pergi namun tangan Selena di tarik oleh Felix hingga menabrak dada bidangnya.
Selena terkejut dengan aksi Felix yang tiba-tiba. Tangan kekar Felix merengkuh pinggang Selena merapatkan tubuhnya pada gadis itu.
‘Astaga aku gugup sekali’ batin Selena menatap wajah Felix.
“Selena listen to me!” ucap Felix dengan sorot mata tajamnya memandang Selena penuh perhatian.
“Situasi sekarang sedang tidak aman untukmu keluar tanpa di dampingi siapapun. Kau masih belum menemukan siapa dalang di balik kecelakaan orang tua mu. Dan saat ini mantan kekasih mu juga masih mencari keberadaan mu. Tolong mengerti itu Selena, ini demi kebaikan mu” ucap Felix menasehati.
“Dari mana kau tahu dia mencari ku?” Tanya Selena mengerutkan keningnya.
Selena mengangguk paham.
“Tapi kita belum putus, belum ada kata pisah Felix” ucap Selena menatap Felix gugup.
“Cup!”
“Aku tidak peduli, yang jelas kau adalah milikku saat ini dan sampai kapanpun milik seorang Felix Keith Wilson. Kau mengerti?” Tanya Felix menatap netra cantik wanitanya.
Selena mengangguk patuh. Ia begitu gugup saat merasakan sentuhan bibir lembut milik Felix mendarat di keningnya.
“Good girl” ucap Felix tersenyum hangat mengacak-acak rambut Selena.
“Tunggu aku sebentar” ucap Felix melepaskan pelukannya.
Selena pun bergegas keluar dari kamar Felix, jantungnya tidak normal saat ini karena lama-lama berdekatan dengan pria itu.
‘Astaga bisa copot jantung ku lama-lama di dekat Felix!’ Celetuknya.
Mobil Juan saat ini sudah terparkir di depan halaman rumah Selena, ia memaksa masuk dengan meminta security membukakan pintu gerbang rumah Selena.
“Apa Selena sudah ada di rumah? Tanya Juan pada security itu.
“Belum Tuan, kenapa Tuan tidak hubungi Nona saja” ucap Security itu.
“Nomornya tidak aktif dua hari ini” jawab Juan
“Apa kau tahu siapa sahabat atau teman yang sedang dekat dengan Selena saat ini?” Tanya Juan
“Tidak Tuan, Nona juga tidak pernah sekalipun membawa orang masuk ke dalam rumahnya” ucap Security itu.
“Lalu kemana dia? Apa dia tidak memberitahu mu sebelum dia meninggalkan rumah?” Cecar Juan mencoba mengorek informasi.
“Saya tidak tahu yang mulia, eh Tuan!” Ucap Security itu cengo karena terngiang-ngiang dengan video yang bersliweran di media sosial.
Juan meraup wajahnya kasar, “kemana kamu Selena!” Ucapnya frustasi.
Security itu hanya memandang Juan melas. Cinta memang bisa membutakan segalanya, batin pria itu.
“Ini kartu nama saya, tolong kabari saya segera jika Selena sudah pulang” ucap Juan menyerahkan kartu namanya oada security itu.
“Baik Tuan” jawab pria itu menganggukkan kepalanya.
Sedetik kemudian Juan masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Pria itu memutuskan untuk pulang dan memilih menunggu kabar Selena. Sebab dia sendiri tidak tahu kemana lagi harus mencari gadis itu.
Saat ini Selena bersama Felix tengah berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota Dubai.
Entah kenapa Felix memilih tempat itu di banding swalayan dekat apartemennya.
Membuat Selena mau tak mau harus mengikuti keinginan sang raja. Ya, Felix adalah seorang raja yang seenak nya memerintah.
“Ambil semua apa yang kamu butuhkan, jangan perhitungan Selena” tegur Felix yang melihat Selena selalu memilah-milah barang dan mengembalikannya pada tempat semula.
“Aku tidak ingin boros, itu tidak baik” sahut Selena terus berjalan menelusuri barang-barang itu.
Felix berjalan di samping Selena sambil mendorong troli, ia tidak mengizinkan wanitanya untuk memegang troli belanjaan. Dengan alasan berat.
Selena benar-benar merasa beruntung dan merasa di butuhkan bersama Felix, pria itu memperlakukan dirinya layaknya ratu yang selalu di layani.
“Mau kamu borong satu mall ini sekalipun tidak akan menguras rekening ku Sayang” ucap Felix menimpali perkataanya.
Blushh..
Selena merona dengan panggilan Felix.
Seketika Felix tersenyum geli melihat raut wajah Selena yang merona.
“Mulai saat ini biasakan dengan panggilan itu” titah Felix pada Selena.
Selena mengangguk patuh.
Setengah jam kemudian mereka selesai dengan belanjaan mereka. Felix memasukkan semua kantong plastik dan beberapa paper bag berisi pakaian Selena. Pria itu sengaja membelikannya sebagai bentuk tanggung jawabnya selama Selena tinggal di apartemennya. Entah sampai kapan, tapi Felix berharap selamanya Selena tinggal bersamanya.
“Sudah siap?” Tanya Felix pada Selena yang berdiri di samping pintu mobil,
“Seharusnya aku yang tanya begitu” gerutu Selena
Felix terkekeh pelan mendengar ucapan Selena.
“Ayo, tunggu apa lagi?” Ajak Felix membukakan pintu mobil untuk Selena.
Gadis itupun masuk , setelahnya Felix menyusul masuk ke dalam mobil.
“Bisakah kita mengunjungi rumahku sebentar?” Tanya Selena hati-hati.
“Untuk apa?” Tanya Felix balik.
“Tidak ada, aku hanya ingin memberikan gaji pada penjaga rumah” ucap Selena.
Felix pun mengangguk mengerti.
Mobilnya melaju ke alamat rumah Selena.