
Hari ini Robert memenuhi panggilan kepolisian yang kedua kalinya atas dugaan kasus korupsi sekaligus pembunuhan.
Pria itu kini duduk tepat di depan Dave.
“Apa kabar Tuan Dave, lama sekali tidak bertemu ternyata takdir mempertemukan kita disini” ucap Robert basa-basi.
“Ya, saya juga tidak menyangka kita bertemu kembali dengan posisi sebagai korban dan pelaku” jawab Dave dengan sindiran menohok.
Robert mengetatkan rahangnya mendengar penuturan Dave.
Dave membalas tatapan Robert penuh intimidasi.
“Hehe.. anda bisa saja. Baiklah, kita buktikan apakah tuduhan yang anda maksud benar atau tidak. Jika terbukti tidak maka saya berhak menuntut balik” ucap Robert penuh percaya dirinya.
Dave tersenyum smirk mendengar ucapan Robert,
“Tentu saja, kita sama-sama laki-laki sudah seharusnya bersikap gentle menghadapi masalah. Bukan begitu Tuan Robert?” Ucap Dave menatap jengah lawannya.
Robert mengangguk singkat.
Sedetik kemudian seorang polisi datang membawa beberapa berkas.
“Selamat siang Tuan Robert, berdasarkan laporan dan bukti-bukti dari pelapor anda dinyatakan telah bersalah dan untuk sementara anda akan di tahan sampai kasus ini naik ke meja hijau” ucap salah satu anggota polisi.
Robert seketika membelalak lebar, bagaimana mungkin dirinya dinyatakan bersalah? Dari mana Dave mendapatkan bukti-bukti itu? Pikiran Robert melangkang buana kali ini.
“Tidak mungkin, pasti bukti-bukti itu palsu! Saya tidak pernah melakukan semua tuduhan yang dia sebutkan” ucap Robert berusaha mengelak.
Dave menyunggingkan senyumnya licik.
“Semua bukti ini sudah jelas mengarah pada anda Tuan. Mohon mematuhi hukum yang ada di negara ini” ucap polisi itu tegas.
Robert terdiam seketika tidak berani menjawab.
“Antarkan dia ke dalam tahanan!” Titah nya pada salah satu bawahannya.
Polisi itu pun memborgol Robert dan membawanya masuk ke dalam tahanan.
Robert hanya bisa menggertak menahan amarahnya. Tidak mungkin dia mengamuk saat ini juga karena itu akan membuat dirinya semakin terlihat bersalah.
‘Aku akan berusaha mencari cara untuk membuat Dave menggagalkan tuntutan ini!’ Ucap Robert dalam hati.
“Terimakasih atas bantuannya Sir, kalau begitu kami permisi” pamit Dave berdiri menjabat tangan polisi itu.
“Baik Tuan, terimakasih atas kerja samanya. Semoga kasus ini segera menemukan titik terang” ucap polisi itu menerima uluran tangan Dave.
Pria paruh baya itu mengangguk tersenyum lalu berjalan meninggalkan tempat itu di ikuti beberapa pengawal nya.
“Setelah ini tolong perketat keamanan anak dan menantu ku. Jika perlu lumpuhkan saja anak buah Robert. Aku yakin pria itu akan mencoba mengagalkan kasus ini lewat orang-orang terdekat ku” ucap Dave pada pengawalnya.
“Baik Tuan” ucap pengawal itu mengangguk.
Saat ini Felix dan Selena bersiap kembali ke apartemen untuk mengambil barang-barangnya yang akan mereka bawa ke mansion baru yang sudah Felix siapkan.
Semua ini atas perintah Dave karena tidak mungkin mereka terus tinggal di apartemen, itu akan semakin membahayakan Selena.
“Sayang, tolong kancing kan kemeja ku” pinta Felix yang kesusahan mengancingkan lengannya.
Selena berjalan mendekati suaminya lalu membantu mengancingkan kedua lengan kemeja Felix.
“Oke selesai” ucap Selena merapikan krah pria itu.
“Terimakasih istriku” ucapnya mendaratkan kecupan singkat di bibir wanita itu.
Selena tersenyum mengangguk mendengar ucapan manis yang keluar dari bibir pria itu.
“Kamu semakin cantik, aku jadi tidak ingin kecantikan mu di nikmati banyak orang” keluh Felix menyandarkan kepalanya di ceruk leher Selena.
“Ck! Jangan mulai deh” decak Selena.
“Aku serius” sahut Felix.
“Lalu aku harus apa? Sembunyi terus menerus begitu? Yang benar saja” protes Selena.
Apa-apaan? Baru sehari menikah sifat kekanakan nya sudah kumat begini. Keluh Selena dalam hati.
“Sudahlah, ayo kita pulang. Matahari semakin terik aku tidak mau nantinya gosong” ajak Selena menjauh dari suaminya yang sedang dalam mode manja.
“Hufhh baiklah” ucap Felix pasrah.
Pasangan suami istri itu berjalan keluar dengan membawa bawaan masing masing. Satu tangan mereka yang kosong mereka gunakan untuk saling bergandengan tangan.
Sesampainya di depan kamar para pengawal meraih koper mereka dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di lantai dasar Felix membukakan pintu mobil untuk istrinya.
“Masuklah dulu honey” titah Felix dan Selena pun menurut.
Felix kembali menutup pintu mobilnya.
“Apakah ada masalah Dom” tanya Felix pada tangan kanannya itu.
“Tidak ada Tuan. Sejauh ini Tuan besar sudah berhasil menjebloskan Robert ke dalam sel tahanan sampai keputusan sidang di tetapkan” terang Dom.
“Baiklah, ikuti terus oerkembangannya” ucap Felix hendak masuk ke dalam mobil.
“Tapi ada satu lagi Tuan” ucap Dom membuat Felix mengurungkan niatnya.
“Apa?” Tanya Felix
“Nona Celline tinggal di apartemen satu unit dengan anda, sepertinya wanita itu sengaja dan ingin mendekati Tuan. Tadi pagi saja dia memaksa masuk ke dalam apartemen, untung saja anak buah kita berhasil mengusirnya” ucap Dom.
“Wanita itu sudah gila! Bisa-bisanya Mama tertarik menjodohkan ku dengan wanita tidak punya malu sepertinya” geram Felix merasa jijik di kejar Celline.
“Setelah ini kita langsung ke mansion baru saja Dom! Aku tidak ingin istriku bertemu dengan wanita itu. Akan semakin rumit jadinya” titah Felix pada Dom.
“Lalu bagaimana dengan barang-barang Nona Muda Tuan? Kami tidak tahu barang mana yang penting untuk Nona bawa” ucap Dom.
“Biarkan saja, lain waktu aku akan mencari cara agar bisa membawa barang itu ke mansion. Yang terpenting untuk saat ini istriku aman dari gangguan siapapun” ucap Felix yang mengerti dengan kondisi Selena.
Ia merasa kasihan karena istrinya itu pasti lelah sudah semalaman penuh melayani nya, tidak mungkin Selena harus meladeni kegilaan Celline nantinya.
Dom mengangguk paham, sedetik kemudian ia membukakan pintu mobil untuk Felix.
Felix bergegas masuk tidak ingin istrinya menunggu lama.
“Apa yang kalian bicarakan?” Tanya Selena menatap Felix penuh tanya.
“Tidak ada, hanya urusan kantor” jawab Felix tidak ingin Selena terbebani.
Wanita itu mengangguk mengerti.
Mobil pun melaju meninggalkan gedung megah tertinggi di dunia itu.
“Honey” panggil Felix.
“Hm?” Ucap Selena menoleh menatap suaminya.
“Untuk sementara barang-barangmu biar di apartemen dulu. Sekarang kita langsung ke mansion baru. Akan sangat memakan waktu jika kita harus singgah ke apartemen dulu” ucap Felix
“Memangnya kenapa? Kan sekalian kita membereskan tempat itu, biar tidak bolak balik kedepannya” ucap Selena
“No, lain kali saja honey. Memangnya kamu tidak lelah setelah melayani suami mu ini semalaman penuh” ucap Felix mulai menggoda istrinya.
“Ck! Bisa tidak jangan membicarakan itu di depan Dom. Tidak tahu malu” gerutu Selena mengerucutkan bibirnya.
“Why? Kita sudah sah menjadi suami istri kenapa harus malu? Bukan kah begitu Dom?” Ucapan Felix membuat Selena semakin memelotot kesal.
“I-iya Tuan, anda benar” sahut Dom terbata merasa terjepit di situasi ini.
“Kau dengar honey?” Tanya Felix menatap raut wajah kesal istrinya.
“Ck! Terserah!” Decak Selena malas menanggapi kelakuan absurd suaminya itu.
Felix terkekeh pelan karena berhasil menggoda Selena.