
Di kantornya, Felix sedang di sibukkan dengan berkas-berkas laporan keuangan yang menurutnya semakin hari semakin janggal.
Ia tidak bisa membiarkan ini berangsur terus menerus, meskipun tidak akan membuat perusahaan itu bangkrut namun kerugian yang di tafsir mencapai 1 Milyar. Nominal itu bagi Felix sangatlah kecil, tapi ia tidak akan pernah membiarkan orang yang berlaku curang di perusahaan nya bebas begitu saja.
Sementara di luar ruangannya Selena sedang berbicara dengan seseorang.
“Maaf Tuan, apa sebelumnya Tuan sudah membuat janji dengan Pak Felix?” Tanya Selena pada pria pruh baya itu.
“Ah, saya Ayahnya Felix. Saya rasa tidak perlu seformal itu untuk membuat janji pada anak itu” ucap Dave menyunggingkan senyumnya pada Selena.
Kau tumbuh dengan baik rupanya. Ucap Dave dalam hati. Ia mengamati gadis yang ada di hadapannya itu dengan tatapan sendu.
“Oh maaf Tuan saya tidak tau. Sekali lagi maafkan saya” ucap Selena merasa bersalah sudah menghalangi kedatangan ayah dari bos nya.
“Tidak apa santai saja. Maklum jika kamu belum kenal saya sebab saya sendiri jarang sekali datang ke perusahaan semenjak saya menyerahkan semuanya pada Felix” ucap Dave tersenyum.
Selena tersenyum menunduk.
“Kalau begitu silahkan masuk Tuan, Pak Felix ada di dalam” tunjuk Selena membukakan pintu untuk Dave.
“Terimakasih” ucap Dave.
“Sama-sama Tuan” jawab Selena lalu ia kembali ke dalam ruangannya.
“Hufhhh.. kenapa juga aku sampai tidak tau siapa ayah dari bos ku sendiri. Dasar Kuper kamu Selena” ucap gadis itu merutuki kebodohannya.
Felix yang sedang fokus dengan kegiatannya terkejut dengan kedatangan Dave tiba tiba.
“Papa” sapa Felix beranjak dari duduknya.
Mereka berdua pun berpelukan sejenak.
“Kau sibuk?” Tanya Dave mengurai pelukannya.
“Lumayan, ada hal apa sampai Papa repot-repot datang kemari?” Tanya Felix duduk di sofa mengikuti ayahnya.
“Papa hanya ingin bertanya, apa benar kau mengutus sekretaris mu untuk menyelidiki kejanggalan dari manager keuangan?” Tanya Dave dengan sorot mata tajam.
“Darimana Papa tahu?” Tanya Felix menaikkan alisnya.
“Tidak penting Papa tahu darimana, jawab saja Felix” ucap Dave dingin.
Kini aura keduanya menyatu begitu mendominasi ruangan itu. Karakter dan sifat ayah dan anak itu sangat persis. Banyak sekali kesamaan antara keduanya.
“Ya, Felix memang menugaskan Selena agar dia mencari informasi dari pria keparat itu” ucap Felix tak kalah dinginnya.
Seketika raut wajah Dave berubah muram.
“Apa kau gila?! Kau sama saja membahayakan keselamatan nya Felix! Dimana akal sehat mu?!” Bentak Dave dengan emosi.
Felix seketika terbungkam.
“Kau pikir dengan menyuruh Selena menyelidiki kasus ini akan mudah mendapatkan informasi begitu? Kau salah Felix, justru tindakan mu hanya akan menjadikan Selena sebagai korban! Jangan kau ikuti jejak Papa! Sudah cukup kematian kedua orangtuanya jangan lagi kau korbankan Selena! Kita tidak tau apakah pria itu bergerak sendiri atau ada seseorang di balik semua ini, pikirkan itu Felix!” Ucap Dave menatap marah pada putranya.
Felix terdiam merenungi ucapan Papa nya. Awalnya dia juga ragu, tapi mengingat ia sendiri membutuhkan mata-mata di perusahaan jadilah Selena yang Felix utus. Sebab ia sendiri tidak percaya dengan orang-orang perusahaan, ia hanya mempercayai Selena yang selama ini bekerja dengan baik dan professional.
“Kenapa Felix? Kenapa harus Selena?! Banyak orang yang bisa kau suruh tanpa melibatkan Selena dalam persoalan genting ini” ucap Dave tak mengerti dengan jalan pikiran putranya.
“Pa, dengarkan Felix! Felix memberi tugas ini sebelum Felix tau kalau Selena anak dari detektif suruhan Papa, jika Felix tau tentu saja Felix tidak akan menugaskan Selena untuk menyelidiki kasus ini. Lagi pula selain Selena tidak ada seorangpun yang Felix percaya di perusahaan ini. Semua orang memasang topengnya masing-masing. Kita tidak tau mana kawan mana lawan” ucap Felix menjelaskan.
Dave terdiam dengan nafas naik turun. Pria paruh baya itu masih berusaha menstabilkan emosi nya.
“Papa tidak mau tau, jangan pernah libatkan Selena dalam urusan ini. Cari orang lain atau perlu sewa detektif termahal!” Ucap Dave menekankan kalimatnya.
“Oke Felix cabut tugas ini untuk Selena. Felix tidak akan melibatkan dia dalam hal apapun kecuali pekerjaannya” ujar Felix mengalah. Ia juga tidak ingin sesuatu terjadi pada Selena.
Felix bertekat akan melindungi Selena apapun yang terjadi.
“Bagus! Memang itu yang Papa inginkan. Bilang pada Selena sekarang juga” titah Dave
“Urusan Papa sudah selesai. Papa pergi dulu” ucap Dave beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Felix menghela nafasnya kasar.
Setelah otaknya kembali jernih, Ia pun menekan intercom yang terhubung pada Selena.
“Ke ruangan saya sekarang” ucap Felix.
Tak lama pintu ruangannya terbuka. Selena berjalan dengan anggun mendekati Felix yang kini duduk di kursi kebesarannya.
Selena menelisik ruangan itu, gadis itu celingak celinguk mencari sesuatu.
“Cari siapa? Ayah saya sudah pergi lima menit yang lalu” ucap Felix tau apa yang di pikirkan Selena.
“Ah iya Pak!” Ucap Selena gelagapan. Dia ini cenayang bukan sih? Batin Selena menatap atasannya itu heran.
“Ada apa Bapak memanggil saya?” Tanya Selena.
“Duduk Selena” titah Felix.
Gadis itu menuruti ucapan Felix.
“Kau sudah menjalankan rencanamu?” Tanya Felix pada gadis itu.
“Sudah, sejauh ini saya belum mencium gerak gerik aneh dari pria itu” ucap Selena.
Felix mengangguk pelan.
“Lebih baik hentikan pengintaian mu Selena. Tugas mu saya cabut” ucap Felix tiba-tiba.
Selena mengerutkan keningnya.
“Memangnya kenapa Pak? Apa saya membuat kesalahan? Atau saya terlalu lambat dalam menyelidiki masalah ini?” Cecar Selena dengan raut wajah khawatir jika Felix tidak puas dengan kinerja nya.
Felix menggeleng pelan.
“Tidak! Bukan itu. Saya rasa tidak seharusnya saya mengutus seorang perempuan untuk menyelidiki kasus ini. Terlalu beresiko Selena. Kamu paham kan maksud saya?” Jelas Felix memberi pengertian.
Selena mengangguk paham. Ia sendiri juga tak yakin jika kedepannya baik-baik saja. Lebih baik ia mengiyakan keputusan Felix.
“Baiklah, saya menyetujui keputusan Bapak. Dan terimakasih Bapak sudah mengerti” ucap Selena pada akhirnya. Tidak munafik satu persatu beban pikiran Selena luruh begitu saja.
“Ya, sama-sama” ucap Felix tersenyum tipis.
“Ehm Pak, sebelumnya saya ingin meminta ijin pada Bapak..” ucap Selena menggantungkan kalimatnya.
“Katakan” titah Felix tak ingin membuat gadis itu sungkan padanya.
“Boleh saya meminta izin cuti selama dua hari?” Tanya Selena takut-takut.
“Untuk apa? Memangnya kamu mau kemana?” Cecar Felix dengan ekspresi penuh tanya.
“Syaa hanya ingin liburan Pak, untuk merefresh otak saja” ucap Selena sekenanya.
“Bersama kekasih mu?” Tanya Felix to the point.
Tuh kan! Tebakannya bener lagi! Batin Selena merasa malu.
“Eh itu..”
“Saya tahu Selena. Hanya satu hari” ucap Felix datar.
“Satu hari?” Tanya Selena melebarkan matanya.
Felix mengangguk.
“Jika tidak mau ya sudah, tidak ada cuti” ucap Felix dengan entengnya.
“Tapi satu hari saja mana cukup Pak” ucap Selena lesu.
“Kantor sedang sibuk-sibuknya Selena, sementara kamu meminta cuti, sudah syukur saya beri waktu cuti satu hari” ucap Felix
“Hufftttt! Baiklah. Terimakasih Bapak sudah mengijinkan saya cuti walaupun hanya satu hari” ucap Selena mengulang kembali kalimat Felix.
Daripada tidak sama sekali kan? Ucap Selena dalam hati.