
Pagi ini Robert menerima surat panggilan dari kepolisian.
Pria itu seketika murka membaca isi surat itu.
“Sial!!! Siapa yang berani bermain-main dengan ku?!” Umpat pria paruh baya itu.
Semua yang ada di dalam surat itu memang benar adanya, Robert lah pelakunya. Namun dia bertanya-tanya kenapa Dave kembali menguak kasus ini? Bukankah Dave sudah berdamai dengan masa lalunya?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Robert.
“Aarghhh!!! Belum selesai masalah ku dengan Gwen muncul lagi masalah baru!” Geram nya marah.
“Apa yang harus ku lakukan? Apa sebaiknya aku datang saja dan menyangkal semua tuduhan ini?” Ucapnya menimbang-nimbang.
“Ya! Sebaiknya aku datang saja dari pada aku di jemput paksa, akan sangat memalukan!” Putus Robert pada akhirnya.
Pria itu bergegas keluar menuju pintu utama, ketika hendak meraih handel pintu tiba-tiba Robert di kejutkan dengan suara putranya.
“Kesalahan apa lagi yang Papi lakukan? Tidak cukupkah merusak keluarga ini dan sekarang Papi berurusan kembali dengan pihak kepolisian” ucap Hans dengan suara bariton nya.
Tatapan pria itu begitu dingin pada Robert.
“Ini hanya kesalah pahaman Hans. Papi tidak melakukan semua tuduhan yang ada di dalam surat ini. Percayalah” ucap Robert mencoba meyakinkan putranya.
“Papi pikir aku percaya? Apa Papi tau dulu saat aku sedang duduk di bangku sekolah Papi berulang kali menyuruh orang untuk mencelakai teman Papi?! Apa Papi lupa?!” Sentak Hans marah. Ia jengah dengan kelakuan ayahnya yang sama sekali tidak memiliki hati.
“Kau masih kecil saat itu, tau apa kamu?! Sudahlah jangan terus mendebat Papi! Papi pergi” ucap Robert berlalu meninggalkan Hans yang masih emosi.
“Aku malu memiliki ayah seperti mu! Lihat saja apa yang akan kau tuai nanti. Ku pastikan di saat itu juga aku tidak akan sudi menoleh padamu” ucap Hans penuh dendam.
Keluarga nya memang utuh, tapi dia selama ini merasa tumbuh di lingkungan broken home. Tidak ada ketenangan di dalam rumahnya, hanya ada ego dan amarah.
Hans lelah dengan setiap perilaku Robert apalagi Pria paruh baya itu jarang mempedulikan Mami nya.
Sesaat setelah perginya Robert, Hans pun juga keluar entah kemana tujuan pria itu. Yang pasti dia harus menjernihkan pikirannya.
Saat ini Felix tengah berangkat ke kantor, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh sebab dirinya hanya sendiri. Dia tidak mengijinkan Selena untuk bekerja hari ini mengingat bahu gadis itu masih dalam masa pemulihan.
Tiba-tiba setelah lampu merah Felix hampir saja menabrak seorang pemuda yang berjalan tanpa menengok kanan kiri.
Felix langsung menginjak pedal rem mendadak. Beruntung dirinya hanya terbentur stir di bagian keningnya. Tidak ada tabrak menabrak karena Felix dengan sigap menghentikan laju mobilnya.
“Shitt!! Cari mati orang itu!” Umpatnya kesal.
Felix bergegas turun menghampiri pemuda yang hampir di tabrak olehnya tadi.
Terlihat raut wajah pemuda itu begitu datar tanpa ekspresi.
“Apa kau ingin mati?” Tanya Felix dengan tatapan emosi nya.
“Sorry, aku hanya ingin mencari angin segar saja” jawab pria itu sedatar mungkin.
“Kau bisa cari angin segar selain di tengah jalan. Di bawah pohon misalnya” sarkas Felix
“Aku bosan” jawabnya singkat.
Felix memperhatikan raut wajah pemuda itu, ia menelisik setiap bahasa tubuhnya. Sepertinya pemuda ini memiliki beban pikiran yang tidak mampu ia ungkapkan.
“Ikut aku” ucap Felix menarik bahu pemuda itu.
Dengan sangat terpaksa pemuda itu mengikuti kemana arah Felix berjalan.
Felix mengajaknya singgah di sebuah cafe tepi jalan dekat dengan dimana mobil Felix terparkir.
“Pelayan” panggil Felix pada salah satu karyawan.
Pelayan cafe itupun mendekati Felix.
“Silahkan Tuan, ingin pesan apa?” Tanya pelayan itu.
“Satu cappuccino dan..” Felix menatap pemuda itu bermaksud menanyakan padanya.
“Samakan saja” singkatnya dengan ekspresi flat.
“Dua” ucap Felix pada pelayan.
Setelah mencatat pesanan Felix, pelayan itu pun pergi.
“Kau ada masalah?” Tanya Felix sedikit ingin tahu. Entah kenapa ia begitu peduli kali ini. Seperti ada sesuatu yang menarik dirinya untuk berbincang dengan pemuda ini.
“Tidak” jawab pemuda itu singkat.
“Mulutmu bisa berkata tidak, tapi raut wajah mu mengatakan jika kau sedang memiliki masalah” ucap Felix
Sudut bibir Felix tersungging,
“Aku bukan psikolog, tapi aku berpengalaman membaca raut wajah dan ekspresi seseorang ketika berhadapan dengan para client” jawab Felix mencoba akrab dengan pemuda itu.
“Heh, cukup menarik” ucap pemuda itu tersenyum miring.
“Sekarang katakan padaku, kenapa kau sampai berada di tengah jalan padahal kau tahu betul traffic sudah hijau” ucap Felix penuh intimidasi.
Pemuda itu menghembuskan nafasnya kasar.
Sudah Felix tebak, pemuda ini memang mempunyai problem.
“Sebelumnya aku meminta maaf atas keteledoran ku tadi. Aku memang sedang frustasi dengan kondisi keluarga ku. Tepatnya ayahku” jawab pemuda itu yang akhirnya mau menceritakan bebannya pada Felix.
“Apa yang ayah mu lakukan sampai kau se frustasi ini?” Tanya Felix kepo.
“Entahlah. Banyak sekali kesalahan yang dia ciptakan. Sampai-sampai dia kembali berurusan dengan polisi lagi” terang Pemuda itu.
“Siapa nama mu?” Tanya Felix yang sedari tadi belum mengetahui namanya.
“Aku Hans Castello” ucapnya.
Ya, dia adalah Hans. Pria itu ternyata memiliki sisi rapuh tersendiri. Selama berada di dalam rumah ia memang terlihat baik-baik saja. Tapi tidak ketika sedang berada di luar.
“Sepertinya aku tidak asing mendengar nama terakhir mu. Perkenalkan, aku Felix Keith Wilson” ucap Felix merasa familiar seraya menyebutkan nama lengkapnya.
Hans langsung melebarkan matanya tak percaya. Dia bertemu dengan sosok pengusaha no 1 di negaranya.
“Felix Keith Wilson? Pewaris tunggal Wilson Corp?” Tanya Hans menganga lebar.
Felix menganggukkan kepalanya seraya tersenyum singkat.
“Oh my god aku tidak menyangka bisa bertatap muka secara langsung dengan anda Tuan” ucap Hans merubah gaya bicaranya sesopan mungkin.
“Ck! Kau ini bicara apa? Santai saja jangan terlalu sopan. Mungkin setelah ini kita bisa berteman” ucap Felix santai.
Hans semakin terkejut dengan penuturan Felix.
“Tapi Tuan..” ucap Hans elum selesai dengan kalimatnya.
“Panggil nama ku saja Hans” tekan Felix.
“Baiklah kak” ucap Hans pada akhirnya.
“Kak..?” Tanya Felix mengerutkan dahinya.
“Umur ku masih sangat muda, dua puluh lima tahun” ucap Hans yang mengerti maksud Felix.
“Oke, not bad” ucap Felix menganggukkan kepalanya.
Hans tersenyum singkat.
“Lanjutkan cerita mu. Barang kali suatu saat aku bisa membantu mu” ucap Felix menatap Hans.
Hans pun mengangguk.
“Saat ini kondisi rumah tangga ayah dan ibu ku sedang tidak baik-baik saja. Ayahku ketahuan selingkuh dengan wanita lain tapi dia sama sekali tidak mengakuinya” ucap Hans dengan raut wajah sendu.
“Mami mengancam ingin bercerai dan jika mereka bercerai maka seluruh harta kekayaan menjadi hak Mami” terang Juan.
“Kenapa begitu?” Tanya Felix penasaran.
“Itu karena sebelumnya mereka melakukan perjanjian pra nikah atas perintah mendiang kakek ku. Karena jabatan Papi saat ini adalah hasil dari usaha kakek ku dulu” jawab Hans.
“Memangnya apa jabatan Papi mu?” Tanya Felix semakin kepo.
“Jendral pajak” ucap Hans.
Felix seketika mengernyitkan dahinya, jika dipikir-pikir nama belakang Hans mirip dengan nama Robert.
Apa jangan-jangan…?
“Kau anak dari Robert Castello?” Tanya Felix to the point.
“Darimama kakak tahu??” Tanya Hans sedikit kaget.
Jedaarrrr!!!!
Felix seketika mengetatkan rahangnya.
Kebetulan macam apa ini?