Love In Dubai

Love In Dubai
Chapter 52 | Tangis bahagia sekaligus sedih



Hari hari berlalu, semenjak kejadian waktu itu Selena tak kunjung menunjukkan sikap hangatnya. Felix selalu berusaha membujuk wanita itu agar mau berbicara padanya, namun Selena menolak. Hatinya terlanjur kecewa dengan apa yang Felix lakukan meskipun ia sendiri tidak yakin dengan hal itu.


“Baby, aku berangkat dulu. Istirahatlah, makan siang nanti aku akan pulang” ucap Felix mengecup bibir Selena sekilas seraya mengusap surai panjangnya, namun Selena hanya diam tak merespon.


Felix hanya tersenyum dan berbalik pergi meninggalkan ruang makan.


Dalam diamnya, Selena meenitikkan airmata memandang punggung kekar itu mulai menjauh dari hadapannya.


“Kenapa? Apa susahnya menjelaskan padaku? Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, bahkan kamu pun seolah diam membenarkan apa yang wanita itu katakan” ucap Selena merasa kecewa teramat dalam.


Sedari tadi ia hanya sibuk mengaduk makanan di atas piringnya. Bahkan dirinya sudah tidak bernafsu makan hampir satu minggu karena pikirannya terlalu sibuk memikirkan kejadian tempo lalu.


Selama hampir dua minggu ini Selena tidak makan dengan baik, Felix bahkan tidak tahu jika istrinya itu sering sekali melewatkan jam makan siangnya. Karena selama satu minggu pula Selena tidak masuk kantor akibat stress.


Lama menangis di meja makan membuat perutnya mual apalagi dari semalam tidak ada asupan yang masuk ke dalam perutnya.


“Huekk!!! Huekk!!!”


Para maid yang mendengar suara itu berlari mendekati Selena.


“Nona! Anda kenapa?” Tanya salah satu maid itu mendekati Selena seraya memijat tengkuk wanita itu.


“Mari saya antar ke dalam toilet Nona” ucap maid itu memapah tubuh Selena.


“Hueekk!! Huekkk!!!”


Sampai di dalam toilet Selena memuntahkan cairan beningnya. Maklum saja, tidak ada satu makanan pun yang ada di dalam lambungnya.


Di rasa sudah mereda ia pun membasuh mukanya.


“Nona anda terlihat pucat sekali, sebaiknya saya antar ke rumah sakit agar kondisi Nona tidak semakin parah” ucap maid itu menawarkan.


“Tidak perlu, saya sudah lebih baik sekarang. Tolong antarkan roti dan segelas susu saja ke ruang tamu” pinta Selena menolak tawarannya.


“Sungguh Nona? Saya hanya takut terjadi sesuatu dengan Nona, apalagi Tuan sedang tidak ada di rumah” ucap maid itu khawatir.


“Saya baik-baik saja, mungkin karena saya belum sempat sarapan jadi mual begini. Tenang saja jangan khawatir” ucap Selena tersenyum.


“Baik kalau begitu saya buatkan susu untuk Nona” ucap maid itu berlalu ke arah dapur.


Selena mengusap perutnya pelan, rasanya tidak nyaman sekali. Ia sedikit menyesal karena beberapa hari ini jarang memperhatikan kesehatannya.


Ia pun berniat pergi ke ruang tamu. Belum sampai lima langkah tiba-tiba pandangannya kabur dan..


Brukk!!


“Nona…!!!!”


Maid itu buru-buru meletakkan nampan berisi roti tawar dan segelas susu ke atas meja.


“Pengawal!!!” Teriaknya memanggil para penjaga mansion yang berjaga di luar.


Dua orang pria berbadan kekar berlari masuk ke dalam mendengar teriakan maid tadi.


“Astaga! Kenapa dengan Nona?!!” Ucap pengawal itu panik.


“Angkat ke dalam mobil! Kita ke rumah sakit sekarang dan kau!” Tunjuk maid itu pada salah satu pengawal.


“Hubungi Tuan Felix sekarang juga!” Titah maid itu berjalan cepat menyusul pengawal yang menggendong Selena.


“Arggh! Kenapa tak kunjung di angkat!” Ucap pengawal itu frustasi.


Pilihan terakhirnya adalah menghubungi Dom.


Tak butuh waktu lama panggilan pun tersambung.


Di kantornya, Felix tengah di sibukkan dengan agenda meeting bersama client penting nya dari Jepang.


Pria itu terlihat fokus sekali hingga ia lupa mengabari istrinya jika dirinya akan pulang telat hari ini. Sejak pagi dirinya juga berada di ruang meeting untuk mempersiapkan semua berkas keperluan meetingnya.


Selama Selena bedrest Felix memang memforsir kegiatannya dan berusaha menghandle sendiri pekerjaannya. Ia sama sekali tidak berniat merekrut sekretaris baru. Alasannya akan menambah rumit karena harus memulai semuanya dari nol.


Alhasil sekarang dirinya merangkap dua jabatan, yakni seorang Presdir dan Sekretaris.


Di dalam ruangannya ponselnya terus berbunyi. Pria itu lupa membawa ponselnya karena saking sibuknya dengan pekerjaan.


Selena yang sudah di bawa ke rumah sakit sejak tadi kini berada di ruang perawatan kelas VIP.


Wanita cantik itu baru sadar dari pingsannya, ia membuka kelopak matanya menelisik ke semua sudut ruangan. Tidak ada siapapun yang menemaninya. Hatinya mendadak tercubit, bahkan di saat seperti ini Felix tidak ada di sampingnya.


Ia kembali meneteskan air matanya.


‘Ya tuhan.. kenapa sakit sekali?’ Ucapnya dalam hati.


Tangisnya semakin sesegukkan dengan airmata yang meluncur begitu saja tanpa permisi.


Entah kenapa perasaannya sangat sensitif akhir-akhir ini. Mudah lelah, emosi, mudah menangis terlebih lagi daya tahan tubuhnya menurun tidak se-energik sebelumnya.


Di luar ruangannya terdapat beberapa orang penjaga dan juga Dom yang baru saja tiba. Maid yang ikut mengantar Selena sudah pulang karena sudah ada yang menjaga Nona nya.


“Bagaimana keadaan Nona?” Tanya Dom pada pengawal


“Nona masih di dalam belum sadarkan diri Tuan, Dokter ingin berbicara dengan keluarga nya sementara Tuan Felix tidak bisa di hubungi” ucap pengawal itu menundukkan badannya. Mereka tidak berani masuk untuk sekedar memastikan keadaan Selena, sebab mereka takut jika Felix tahu pasti pria itu akan marah dengan alasan cemburu.


“Ya, Tuan Felix sedang meeting dengan client besar saat ini” ucap Dom mengingat perusahaan sedang memegang proyek terbesar sepanjang tahun ini. Itulah kenapa Felix begitu sibuk apalagi tidak adanya Selena yang biasanya sigap menghandle semuanya.


Sedetik kemudian Dom mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Halo, tolong sampaikan pada Tuan Felix. Saya ingin berbicara serius” titah Dom pada seorang wanita yang di yakini sebagai resepsionis.


Tak lama panggilan pun tersambung pada pria itu.


Felix yang sedang sibuk membahas rancangan desain bersama client nya tiba-tiba terkejut dengan kedatangan seorang karyawan.


“Apa kau tidak bisa melihat situasi?!” Ucapnya marah menatap nyalang resepsionis itu.


“Ma-maaf Tuan, saya mendapat telfon dari Tuan Dom. Beliau mengatakan ingin berbicara penting” ucap resepsionis itu gemetar ketakutan.


“Terimakasih atas kemurahan hati anda Tuan. Saya ijin menerima telfon sebentar” ucap Felix meraih ponsel resepsionis.


Client itu mengangguk tersenyum.


“Halo Dom?” Ucap Felix dengan wajah serius.


“Tuan! Saat ini Nona berada di rumah sakit. Nona terjatuh pingsan!” Terang Dom dari sambungan telpon.


“Apa?!! Bagaimana bisa?! Apa yang mereka kerjakan sampai-sampai istriku jatuh pingsan Dom?!!” Sentak Felix marah.


Client Felix seketika terkaget dengan teriakan pria itu. Mendengar nama istrinya yang sakit pria itu langsung mengeluarkan taringnya, membuat dirinya tersenyum bangga dengan rekan bisnisnya satu ini.


“Kami belum tahu penyebab pastinya Tuan, dokter menunggu anda sekarang untuk menjelaskan penyebab Nona pingsan” ucap Dom.


“Baik! Aku kesana sekarang!” Tukas Felix mematikan panggilannya dan menyerahkan ponsel itu pada resepsionis.


“Pergilah! Dan terimakasih” ucap Felix pada resepsionis itu.


“Tuan, bisakah kita tunda meeting ini lain waktu? Istri saya dalam keadaan genting sekarang” ucap Felix merasa tidak enak.


“Tidak masalah Tuan, saya masih disini untuk dua minggu kedepan. Saya rasa kita masih banyak memiliki waktu luang” ucap client itu mengerti posisi Felix.


“Terimakasih banyak Tuan, anda sangat baik. Saya janji akan secepatnya menyelesaikan proyek kita” ucap Felix seraya tersenyum.


Client itu menganggukkan kepalanya.


Setelah keluar dari gedung megah itu, Felix segera menancap gas menuju ke rumahsakit dengan kecepatan tinggi.


Dalam hatinya di penuhi rasa cemas mengingat keadaan Selena akhir-akhir ini memang sering murung bahkan tak jarang wanita itu diam-diam menangis. Felix tahu betul kesedihan istrinya, tapi dirinya masih butuh waktu untuk membuktikan bahwa semua tuduhan itu salah.


“Aku janji akan membongkar kebenarannya setelah ini Selena, aku mencintaimu” ucapnya menambah kecepatan mobilnya.


Sampai di rumahsakit Felix berlari menelusuri koridor tempat istrinya di rawat. Pria itu tergesa-gesa setelah melihat Dom dan beberapa pengawal yang menjaga kamar Selena.


“Bagaimana keadaan istriku?!” Tanya Felix tak sabaran.


“Sebaiknya anda segera menemui dokter terlebih dahulu Tuan. Beliau sudah menunggu anda di ruangannya” ucap Dom.


Felix mengangguk dan berlalu meninggalkan ruangan Selena.


“Bagaimana kondisi istri saya dok? Apakah ada sesuatu yang serius?” Tanya Felix yang kini duduk berhadapan dengan seorang dokter pria paruh baya seumuran dengan Papa nya.


“Tenangkan diri anda Tuan. Saya ingin mengabarkan berita penting” ucap Dokter itu menjeda kalimatnya.


“Istri anda mengalami dehidrasi karena kurangnya asupan sehingga daya tahan tubuhnya menurun drastis. Itulah yang menyebabkan Nona Selena pingsan tak sadarkan diri. Hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang janin yang ada dalam kandungan Nona, Tuan” terang dokter.


Felix yang mendengar kalimat terakhir sontak melebarkan bola matanya.


“Apa?? Janin? Maksud dokter istri saya hamil?” Tanya Felix memperjelas.


“Benar Tuan, Nona Selena sedang mengandung dan usia kehamilannya saat ini sudah memasuki 5 minggu” ucap dokter.


“Ya tuhan! Sebentar lagi aku akan menjadi ayah!” Ucap Felix penuh binar bahagia.


“Tapi saya sarankan agar menjaga pola makan dan asupan yang sehat, kandungan Nona sangat lemah Tuan, mungkin stresss adalah pemicu yang utama sehingga Nona kurang memperhatikan pola makannya. Saya harap Tuan memperhatikan asupan Nona Selena kedepannya” ucap Dokter memberi saran.


Felix pun mengangguk mendengar pernyataan dokter. Ia tak menampik hal itu karena memang akhir-akhir ini dirinya sering mendapat laporan dari maid jika Selena mogok makan saat dirinya berada di kantor.


“Baik Dok, saya akan memperhatikannya. Terimakasih sarannya. Kalau begitu saya permisi” ucap Felix pamit meninggalkan ruangan itu menuju kamar dimana istrinya di rawat.


Felix membuka handle pintu perlahan, hal yang pertama kali ia lihat adalah istrinya berbaring meringkuk di bawah selimut dengan punggung yang bergetar.


‘Dia menangis?’ Tanya nya dalam hati.


Perlahan langkahnya mendekati ranjang Selena.


“Baby..” panggil Felix mengusap punggung Selena lembut.


“Hai, kau sudah sadar rupanya? Sejak kapan?” Tanya Felix dengan nada lembutnya.


Selena seketika menghentikan tangisnya.


“Kenapa disini?” Pertanyaan itu lolos dari bibirnya membuat hati Felix tercubit.


Pria itu mengulas senyum manisnya seraya duduk di pinggir ranjang. Sepertinya ia harus lebih sabar menghadapi mood ibu hamil.


“Tentu saja menemani istriku, ibu dari anak anakku” ucap Felix memeluk Selena dari samping.


“Bukankah ibu dari anak-anakmu sudah jelas wanita itu” ucap Selena teesenyum getir.


“Stop baby, aku tidak ingin mendengar apapun mengenai wanita itu. Yang ada disini hanya aku, kamu dan anak kita” ucap Felix tegas.


Otak Selena mendadak blank.


“Anak kita? Siapa?” Tanya Selena mengerutkan alisnya tak mengerti.


“Kamu, kamu hamil anak kita baby” ucap Felix tersenyum merekah.


“Hah? Jangan bercanda Felix” ucap Selena tertawa sumbang.


“Aku serius. Dokter mengatakan kandungan mu memasuki usia lima minggu” ucap Felix mengusap perut rata Selena.


“Hai sayang, ini Daddy! Sehat-sehat di dalam perut Mommy, jangan membuat Mommy mu kesulitan ya” ucap Felix mengajak janin yang ada di dalam perut istrinya.


Seketika Selena tersenyum haru.


‘Ya tuhan! Apa ini benar?’ Ucapnya dalam hati merasa bahagia.


Akhirnya ia mendengar kabar gembira yang sejak lama ia nantikan.


Tapi bagaimana dengan anak yang ada di dalam perut Celline?


Tangis bahagia itu berubah dengan tangis kesedihan.